Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

Semua indah pada waktunya

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 15.07

Namaku Zahra. Aku masih duduk di bangku SMA. Karena seringnya membaca dan mengikuti training motivasi pikirankupun selalu dipenuhi dengan daftar impian dan target tercapainya. Di dalam otakku ini berderet tulisan dan gambar semua hal yang aku inginkan. Mulai dari daftar belanjaan sampai aku ingin menjadi inilah itulah. Yang pastinya semuanya indah.

Memang hal tersebut berdampak baik kepada pikiran dan semangatku. Karena dengan motivasi-motivasi itu kemalasan dan pikiran negative dapat kuredam. Tapi aku lupa pada jati diriku yang sesungguhnya. Aku lupa bahwa aku adalah seorang muslimah. Impian-impian itu membuatku lupa akan kuasa Allah. Impian-impian itu membuatku lupa akan hari kekal nanti yaitu akhirat. Di dalam pikiranku hanya nikmatnya dunia saja dan melupakan hari pertemuan dengan Allah nanti.

Aku baru menyadari semua itu ketika aku telah menjadi seorang mahasiswi. Aku disadarkan akan kata-kata dari seorang ustadz yang memberikan kajian di mesjid di kampus. Seketika saat itu hanya istigfar yang terucap dalam hatiku.

Langkahku yang selama ini begitu cepat untuk mencapai suatu tujuan adalah sebuah kesalahan. Aku hanya terus berusaha namun tak pernah percaya akan kuasa Allah. Aku seakan-akan berTuhankan pikiran positif dan motivasi. Padahal Allahlah Tuhanku dan tak pantas aku menduakanNya.

“Ya Allah, aku mohon ampun. Aku terhipnotis. Aku lalai.”

Mulai hari itu aku mengubah jalan hidupku. Kutempatkan pikiran positif dan motivasi itu sebagai ikhtiar dan di dalam ikhtiar itu kusematkan ibadah sehingga ikhtiar itu menjadi ibadah.  Kuniatkan semua yang kulakukan semata-mata ibadah kepadaNya. Kini kutak memikirkan lagi target-target impanku itu. Kini aku memegang sebuah kalimat dari ustadz itu “usahaku ibadahku, hasilnya kubertawakal kepada Allah. Aku yakin Allah tahu yang terbaik untukku.  Belum tentu yang aku inginkan itu baik untukku, ku serahkan padaMu Ya Allah”

Aku ingin sukses dunia tapi tak melupakan akhirat.
Aku ingin sukses akhirat tapi tak melupakan dunia.
Aku ingin keduanya seimbang.


         Sebulan telah berlalu dengan segala kegiatan yang menyeimbangkan keduanya.  Tak percaya rasanya yang terjadi. Hari demi hari tanpa target impian itu, hal-hal indahpun terjadi dalam hidupku. Subhanallah, kuasa Allah. Ada-ada saja cara Allah menuntunku.

1.       Aku ingin menjadi seorang pengajar
Inilah doaku beberapa bulan yang lalu, aku ingin menjadi pengajar karena hal itu bisa menjadi bekalku di akhirat pula. Aku ingin walaupun jasadku sudah tak ada lagi di dunia namun aliran pahala tetap terus mengalir kepadaku. Amal jariyah lewat ilmu yang pernah kusampaikan.

Dalam doaku saat itu, aku berkata dalam hatiku “Ya Allah, aku ingin menjadi seperti pengajar-pengajar itu. Bermanfaat bagi orang lain dan menjadi amal jariyahku kelak.”. Setelah berdoa aku berikhtiar dengan terus menuntut ilmu.

Sebulan kemudian, ada panggilan menjadi pengajar dari seorang temanku. “subhanallah, jalan Allah memang indah pada waktunya.” Itulah ucapan yang terucap dari bibirku. Tak percaya tapi itulah Kuasa Allah. “KunFayakun”

2.       Aku ingin berubah menjadi lebih baik dari kemarin. Aku ingin tobab nasuha Ya Allah.

Bagian ini sangat banyak cabangnya. Maklum aku hanyalah manusia biasa. Dipenuhi dengan dosa. Hari itu, hatiku menangis. Menangisi dosa-dosa yang kian hari bertambah seperti air dalam lautan. Saat it aku berdoa “Ya Allah, ampuni hambaMu ini. Bantu hamba keluar dari dosa-dosa. Tuntun hamba menuju jalanMu”.

Dan apakah yang terjadi??

Doa itu terus kuucap dalam shalatku. Sampai ketika scenario Allah terjadi. Hari itu, entah bagaimana bisa aku ikut pada seorang teman yang tidak terlalu dekat denganku sebelumnya. Aku hanya sekedar mengikutinya karena saat itu tak ada yang menemaniku, dan ternyata kecantol pada aktivitas dia pula. Hari itu aku mulai ikut kajian-kajian dan atas jasanya lah aku bisa sedikit demi sedikit keluar dari kehidupanku sebelumnya. Dia mengenalkanku tentang apa it Islam, bagaimana itu Islam. 
“subhanallah, Allah menyayangi kita semua. Kita berusaha dekat denganNya dengan merangkak Allah akan berjalan menuju kita. Kita berjalan, Allah berlari menuju kita”


Dan sekarang aku memegang sebuah prinsip kehidupan yang terucap dari lisan ayahku “JIKA ALLAH BERSAMAMU TAK ADA YANG DAPAT MENGALAHKANMU,*SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU (KERJAKAN PERINTAHNYA, JAUHI LARANGANNYA)”


1 lagi, semua indah pada waktunya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Jangan paksakan keinginan-keinginanmu, karena itu akan membuatmu menjadikannya sebagai  Tuhanmu. Nikmati prosesnya sebagai sebuah ibadah untuk Allah SWT. Hasilnya kita tawakal kepadaNya.




Kamis, 28 Juni 2012

Mencintai dalam diam

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 16.13
Duhai gadis,
maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu.

Maka dengarlah..


Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..

Aku tahu, cinta adalah fitrah..
sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun..
Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun. Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.

Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula, Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa.. Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.

Maka gadis,
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening. Dalam diam.. Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari. Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu. Jangan kau tumpahkan segala sukamu..

Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..

Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas... Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi....,
apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..

Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

Gadis...,
kita tak tahu dan tak akan pernah tahu.. Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar... Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Gadis,
Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar.. Begitu mulia untuk di tampakkan.. Begitu sakral untuk di tumpahkan..

Dan sadarilah gadis,
fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis,
jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan.. Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh.. Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..

Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..

Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..
Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu...
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..

Gadis...
yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu, Lalu..Arahkan pd Nya.. Dan cintailah dalam diam.. Dalam hening.. Itu jauh lebih indah..

Jauh lebih suci


Kamis, 07 Juni 2012

Ketika Allah menjagamu (1)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 12.17






Subuh itu, aku terbangun dengan keringat yang berucuran di badanku. Entahlah apa yang terjadi dalam mimpiku semalaman tadi. Untuk memperbaiki perasaanku itu aku segera mandi dan mendirikan shalat subuh seperti biasanya.

Waktu menunjukkan pukul 07.30. Akupun segera bersiap-siap menuju kampus karena hari ini aku ada kuliah pagi. Dalam perjalanan itu ada hal aneh yang kurasakan. Kejadian demi kejadian yang kusaksikan dalam perjalanan menuju kampus seakan-akan aku pernah melihatnya. Tapi bedanya kejadian yang kusaksikan pada orang-orang di sekelilingku itu akulah yang menjadi peran utamanya.

Kejadian pertama : seorang gadis dan pria sedang bertengkar di tengah jalan. Sepertinya mereka berpacaran. Gadis itu menangis dan pergi dari hadapan pria itu.

Kejadian kedua : seorang anak yang sedang merengek-rengek kepada Ibunya untuk dibelikan mainan sedangkan ibunya tersebut tidak mempunyai uang untuk membelinya.

Kejadian ketiga : kumpulan gadis remaja yang duduk alias nongkrong di sebuah cafe dan disana membahas tentang infotaiment yang mereka saksikan di tv

sesampaiku di kampus, aku baru menyadari kejadian-kejadian itu. Ternyata yang membuat keringatanku bercucuran semalaman adalah mimpi-mimpi yang isinya persis sama dengan kejadian yang baru kusaksikan. Namun dalam mimpi akulah yang berada disana.

Mimpi itu terus terbayang dalam ingatanku. Aku dibuat risau karenanya.

Ketika aku sedang makan di kantin kampus tiba-tiba seorang pria mendatangiku yang tidak lain adalah pacarku saat itu.
K Brian : sendiri aja neng,,,
aku hanya terkejut dan berkata iya saat itu padanya
k Brian : ngelamunin siapa atuh siang bolong gini?
aku : g' ngelamunin siapa2 kok
wajah brian mulai bingung melihat sikapku yang tak seperti biasanya. Akupun bingung dengan diriku. Hal yang kurasakan saat itu adalah takut. Takut entah apa sebabnya.
K Brian : aku ganggu kamu yah,,, maaf deh.. Selamat makan aja klo gitu dek...

kak brianpun meninggalkanku di kantin itu. namun aku tak berucap apapun untuk menghentikan langkahnya. Ketika ia pergi, entah kenapa perasaanmu yang tadinya risau berubah menjadi senang.

Aku berkata pada diriku : kenapa aku seperti ini, kenapa aku damai ditinggalkan kak brian. Padahal biasanya aku senang ketika dia datang.

"ada sms" terdengar bunyi dari handphoneku
ternyata sms itu dari kak brian yang isinya "dek, besok kita jalan yuk. G ada kuliahkan?"

risau itu kembali lagi setelah ada sms dari kak brian.
Kemudian kugerakkan jemariku membalas smsnya "maaf k, besok aku ada tambahan kuliah"

aku tahu pasti kak brian disana kecewa karena sikap dan tingkahku hari ini. Malam harinya aku mulai menyadari sesuatu. Kak brian memang baik tapi cara ini salah. Kenapa aku berpacaran. Sedangkan dalam agamaku tak ada istilah pacaran. Dan sudah jelas keharamannya.

Dan sedikit semi sedikit otakku mulai mengkoneksikan kejadian diriku ini dengan mimpi semalam. Astagfirullah, hatiku telah mati. Allah telah memperingatkanku.

Semakin risaulah hatiku, aku ingin mengakhiri semuanya tapi aku tak tega membuat sedih kak brian. Malam itu tak kuputuskan apapun hingga akhirnya aku tertidur.

Pukul 03;00 aku terbangun. Karena kehausan akupun melangkahkan kaki ke dapur. Ketika di dapur aku mendengar lantunan ayat suci yang terdengar dari mushala di rumahku. Kucoba melihat siapa gerangan disana dan ternyata adalah ayahku.

Setelah ayah mengaji, tanpa ia tahu aku ada di sana ia mulai melantunkan doa-doanya dan dalam doanya ada yang membuatku bergetar.
"Ya Allah lindungi keluargaku dari godaan syetan. Dari hal-hal yang Engkau larang. Bukalah mata hatinya agar mereka slalu berjalan di jalan lurusMu. Sulitkanlah mereka dari hal-hal yang salah sehingga mereka tidak mengerjakannya"

aku segera bergegas ke kamar dan dalam kamar aku kembali mendengar lantunan ayat suci dari balik kamarku. Kucoba melihat ternyata suara itu dari kamar nenek.
Yang membuatku kembali bergetar adalah doa yang diucapkan nenek.
"Ya Allah, kami semua makhlukMu yang lemah. Godaan syetan masih sering berhasil pada kami. Tapi dengan izinMu kami bisa bertahan jikalau Engkau menabur iman dalam hati kaki. Taburkanlah iman itu kepada keluargaku. Jadikanlah hati kami sakit ketika berada di jalan yang salah"

aku baru menyadari semuanya. Allah menyayangi keluargaku. Allah mengabulkan doa ayah dan nenek. kejadian hari ini adalah bukanlah suatu kebetulan tapi ini adalah pertanda dari Allah. Allah menjagaku. Allah menjaga keluargaku.

segera kubasuh tubuhku dengan air wudhu untuk mendirikan pula qiyamulail seperti ayah dan nenekku.
dalam doa kuucapkan "Ya Allah, aku tahu sikapku dengan berpacaran salah. Tolong aku agar aku bisa keluar dari hal yang Engkau larang ini. pertegas langkahku menuju jalan lurusMu. Dan meninggalkan jalan yang salah."

setelah mendirikan qiyamulail akupun kembali ke tempat tidurku. Ketika subuhnya aku terbangun dengan kekuatan yang dahsyat. Tubuhku terasa fresh seakan tak ada beban dalam hidupku. Seperti biasanya aku mandi dan shalat subuh. Kemudia bersiap-siap ke kampus lagi untuk kuliah tambahan.

Perjalanan ke kampus aku melihat gadis yang kemarin bertengkar dengan pacarnya itu. Ada yang beda  dari dia. Hari itu ia mengenakan jilbab dan ia hanya berjalan sendirian. kucoba memulai percakapan dengannya.
assalamu alaikum mbak
waalaikum salam jawabnya
subhanallah cantik skali mbak dengan jilbab itu
makasih dek, alhamdulillah baru menangkap hidayah Allah kemarin
bagi tipsnya donk mbak biar bisa nangkap dengan tepat hidayah itu. Hehe (ucapku sambil bercanda)
panjang dek ceritanya. Mau cerita sekarang tapi mbak lagi buru-buru ada urusan. Kita tukeran nomor aja kalo gitu. Ntar sore kita smsa yah.


Tambah kenalan lagi deh. Alhamdulillah ucapku. Kulanjutkan langkahku ke kampus. Dan di depan kelas tambahanku itu kak brian sudah berdiri disana.
Dalam hatiku "aduh gmn nih. Ya Allah tuntunlah aku"
kemudian kak brian menghampiriku "dek, sore ini kakak akan ke kampung. Sepertinya bakal lama soalnya ibu dan ayah minta seperti itu. Disana juga tidak mungkin kita bisa berkomunikasi karena disana sinyal sangat sulit. Kalau memang kita berjodoh tak akan lari kemana. Kalau Allah izinkan, setelah kamu lulus nanti kakak akan datang melamarmu.... (tiba-tiba dosenku pun datang)

zahra, kelas akan dimulai. Masuk sekarang sebelum bapak tutup pintunya.
Kutinggalkan kak brian dengan sepenggal kalimat yaitu "atas izin Allah k, smoga sampai dengan selamat"

tabjuk akan kuasa Allah yang kurasakan saat itu. Allah begitu memudahkan jalan hambaNya yang memohon tuntunanNya. Hanya dengan berbekal niat dan doa, Allahlah yang mengeksekusinya.

Terima kasih Ya Allah, hari ini aku bisa lepas dari sesuatu yang tidak Engkau sukai. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, belum tentu aku bisa bertahan dalam godaan syetan yang selanjutnya.








Rabu, 14 Maret 2012

Cahaya ayah menyilaukanku

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.57
semua orang tahu jika aku adalah anak laki-laki yang super bandel dalam keluargaku. akupun bingung dengan hal itu. Mereka pasti juga berpikir seperti itu. Ayahku maupun ibuku semuanya sosok yang baik di mata orang tapi entah kenapa anaknya yang bungsu ini seperti aku.

memang aku menyadari kenakalanku dan kadang pula aku merasa bersalah dengan kenakalanku itu. Namun kesadaran itu hanya berlangsung sebentar. Setelah aku bersama dengan teman-teman sekolahku aku pasti melupakan hal itu dan kembali menjadi budi super bandel.

Suatu hari, setelah pulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah melainkan aku sempatkan nongkrong di rumah temanku. Di sanalah awalnya aku mencoba merokok. Teman-temanku saat itu memaksaku dan mengatakan kalau aku tidak merokok aku bukan anak gaul. Bahkan ada yang bilang jika tidak merokok aku hanya sok suci.

malam harinyapun aku pulang ke rumah. Aku tahu jika malam itu aku pasti akan dimarahi lagi. Ketika aku masuk ke rumah, ayah dan ibu sudah menungguku di ruang tamu dan meminta penjelasan dari mana saja aku setelah pulang sekolah.

"maaf ibu, ayah. Tadi ada pr. Jadi aku dan teman-teman pulang sekolah langsung mengerjakannnya di rumah Bino"
"shalat tadi di mesjidkan??"
"iyah pak, kan di samping rumah Bino langsung mesjid"

aku sadar betul dosaku semakin bertambah karena kebohongan yang terus kuucap kepada orang tuaku. dalam kamar aku terus terbayang hal itu.
"bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sementara dosaku begitu menumpuk?" ucap batinku ini

malam itu, aku terbangun. karena kehausan aku turun ke dapur untuk mengambil secangkir air minum. ketika aku melewati mushala kecil di rumahku, aku melihat di sana ada sosok bayangan yang sedang berdiri dan membaca lantunan ayat suci Al Quran dengan suara merdu. Aku terdiam saat itu dan memperhatikan sosok itu. aku mendekati dan aku melihat kalau itu adalah ayahku. dengan diam-diam aku terus memperhatikan kekhusyukan ayahku itu. Bahkan sesekali suaranya terdengar menangis ketika membaca beberapa ayat Al Quran.

Saat mendengar ayah menangis, hatiku terketuk. Aku langsung menuju ke kamarku dan mencoba membasahi diriku dengan air wudhu kemudian aku mendirikan shalat tahajud. Dalam doaku aku meminta Allah memberikan hidayahNya kepadaku. Agar aku bisa betul-betul melakukan tobatan nasuha.

Seusai shalat dan berdoa, aku melanjutkan tidurku. Dan setelah aku membuka mata aku merasa begitu energik. Seakan ada sesuatu yang masuk dalam diriku.

Betapa kagetnya keluargaku, mereka tak menyangka aku bangun sebelum adzan subuh sendiri. Tak seperti biasanya aku dibangunkan dengan cepritan air dari ayahku untuk mendirikan shalat subuh di mesjid bersama-sama.

Setelah pulang sekolahpun, aku tidak ingin lagi melakukan hal-hal sia-sia dengan teman-temanku. Aku langsung kembali ke rumah dan membantu ibu di usahanya sambil menunggu waktu dhuhur.

Kebiasaan ini alhamdulillah kulakukan terus sampai tak terasa telah berlalu sebulan.

Sekrang kedamaianlah yang kurasakan. Baru aku menyadari begitu berharganya iman pada diri setiap manusia. Aku sangat bersyukur karena Allah memberiku hidayah dan telah menganugerahkanku Ayah dan Ibu seperti mereka.

Minggu, 11 Maret 2012

Senyum manis itu

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.55
sosok makhluk ciptaan Allah yang disebut manusia itu tersenyum padaku. Seakan senyumnya itu pertanda jika dia sangat bahagia melihatku. Matanya yang berbinar-binar seakan akan menjatuhkan beberapa tetes air mata ikhlas untukku. Walaupun hal itu dilakukannya setiap hari tapi tak pernah ada kata bosan dan jenuh pada dirinya memandangku.

Itulah ibu dan ayahku. terima kasih atas semua pengorbanan kalian. Aku tahu walaupun kuberikan dunia ini untuk mereka tak akan pernah sebanding dengan yang kalian berikan kepadaku.

semoga di hari kemudian, Allah mempersatukan kita lagi dalam ikatan keluarga.

Jumat, 09 Maret 2012

Hadiah untuk kakak

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.42
air mataku tak terbendung ketika kejadian itu terjadi di mataku. Aku seakan tak percaya tapi inilah yang kulihat. kakakku yang satu-satunya kumiliki sekarang harus masuk ke dalam buih karena menggunakan narkoba.

Aku tak percaya, kakak yang kukenal paham agama dapat melakukan hal itu. sekarang aku hanya tinggal sendiri dalam rumah peninggalan kedua orangtua kami.

apa gunanya rumah sebesar ini jika aku hanya sendiri? Apa yang bisa kulakukan tanpa kakak? Ucap batinku

aku adalah seorang adik yang manja kepada kakaknya semenjak ditinggal kedua orang tua. Kakakku selalu mendampingiku dimanapun. Kakakku pulalah yang mencari nafkah untukku.

Bagaimana aku bisa hidup? setiap hari kakak yang menyediakan makananku, setiap hari kakak yang mengingatkanku untuk shalat, setiap hari kakak yang memberiku uang jajan. Batinku lagi-lagi berteriak seperti itu


entahlah apa yang harus kulakukan sekarang. Aku hanya terus menangisi takdirku dalam kamarku. Tiba-tiba aku mendengar suara adzan shalat dhuhur. suara itu seakan masuk ke batinku. Kulangkahkan kakiku untuk berwudhu dan melaksanakan shalat Dhuhur. setelah shalat aku berdoa dan curhat kepada sang pemilik Nyawa. Ku meminta petunjuk dan pencerahan untuk diriku. Setelah itu aku bergegas ke tempat tidur dan tidur siang.

dalam tidur itu aku bermimpi bertemu dengan ayah dan ibu. Mereka kemudian mengatakan kepadaku "nak, bangkitlah. kamu pasti bisa. Walaupun hanya sendiri. Tapi ingatlah selama dihatimu selalu mengingat Allah insya Allah Allah akan selalu bersamamu. Jika pemilik Alam ini sudah bersamamu apalagi yang tidak mungkin"

Ya Allah, inikah jawaban dari doaku tadi.
Aku pertegas diriku untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini. Sekarang aku berusaha hidup mandiri. Mencoba mencari nafkah sendiri, masak sendiri, dan semuanya mengurus diri sendiri.

Alhamdulillah, aku diterima di salah satu kantor di Jakarta ini. Walaupun hanya  sebagai receptionis. Tapi setidaknya aku bisa bertahan hidup. Setiap hari aku datang ke kantor dengan bersemangat. Aku selalu teringat akan mimpi di siang itu.

Sebulan telah berlalu, alhamdulillah hari ini aku gajian. Setelah mendapat gaji itu akupun bergegas ke supermaket dan membeli bahan-bahan makanan yang akan aku masak untuk kakakku tercinta.

Hari ini aku ingin mengunjungi kakakku dan memasakkannya makanan yang lezat yang aku buat sendiri. Saatnya aku membalas jasa-jasa kakakku.

Sesampaiku di sana, kakak sangat terkejut melihat penampilanku yang sekarang. Kemudian kuceritakan pekerjaanku sekarang dan segala aktivitasku.

Kakak : kakak bangga sama kamu dek
aku : ini juga karena kakak
kakak : maafkan kakak yah
aku : minta maaf sama Allah kak, sebentar lagi hukuman kakak akan berakhir. Aku berharap kakak benar-benar bertobat setelah itu.
Kakak : iyah dek

percakapan kamipun selesai dan selanjutnya kakak menyatap masakan yang special kubuat untuknya.

Setelah itu aku pulang ke rumah. sampai di rumah pikiranku terus berucap : rumah ini terlalu besar untuk aku yang seorang diri. Bahkan untuk aku dan kakak sudah sangat besar. kadang aku ingin menjualnya namun hanya inilah satu-satunya peninggalan orang tuaku untuk aku dan kakak. Karena itu kuputuskan untuk menjadikannya kos-kosan wanita. Kebetulan lokasi rumahku dekat dengan kampus di jakarta ini.

Rumah itupun kubagi 2, satunya untuk kos-kosan dan satunya lagi untuk tempat tinggalku dengan kakak nantinya.

Alhamdulillah, kos-kosannya sudah terisi. walaupun dipisahkan oleh tembok antara tempat tinggalku dengan kos-kosan itu tapi aku sudah merasa nyaman karena sekarang rumahku tidak sunyi lagi, setiap hari selalu ku mendengar suara penghuni kosan itu. Dan yang paling menakjubkan batinku ketika suatu malam aku terbangun dan aku medengar lantunan ayat suci yang begitu merdu dari kos-kosanku.

"subhanallah, siapakah yang memiliki suara merdu ini? Di keheningan malam ia bertahajjud kepada Allah"
karena penasaran kucari dikamar mana suara itu bersumber dan sudah tidak asing lagi untukku itu dari kamar zahra. Zahra memang anak yang terkenal dengan kealimannya. sejenak kuberpikir untuk menjodohkannya dengan kakakku yang keesokan harinya akan kembali ke rumah.

setelah shalat subuhpun aku mendatangi zahra dan kemudian membahas niat baikku itu. Zahra memang muslimah, dia hanya berkata "orang tuaku yang berhak menjawabnya kak".

Setelah itu aku menuju ke kamar. Aku berpikir mungkinkan orang tua zahra mau menerima seorang laki-laki yang pernah menggunakan narkoba.

Entahlah. Sekarang aku hanya bisa berdoa kepada Allah. Setelah mendirikan shalat dhuha akupun bergegas menjemput kakakku. Setelah itu kami kembali ke rumah. Dan tak pernah kusangkah ternyata kakak dan Zahra adalah kakak dan adik kelas sewaktu SMA dulu.

Kemudian kuceritakan kepada kakak ideku untuk menjodohkannya dengan Zahra. Dan aku mengajaknya menuju ke rumah orang tua Zahra.

Kamipun kesana dan alhamdulillah lamaran kakak diterima. Ternyata orang tua Zahra adalah pekerja di kantor kakak dahulunya. Dan dulunya mereka sudah begitu dekat.

Akhirnya merekapun menikah. Dan rumah kamipun beberapa tahun kemudian dipenuhi dengan keponakan-keponakanku yang cantik dan ganteng.

Kamis, 08 Maret 2012

Hati-hati dengan lidah

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.56
lidah itu tidak bertulang makanya seenaknya saja mengeluarkan statement. Hati-hatilah kawan. Jangan pernah berkata ini itu sebelum kita merasakannya sendiri. Selalu positif thinking dengan lidah ini agar tidak sembarang mengeluarkan kata-kata.

Rabu, 07 Maret 2012

arti persahabatan

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.48
awalnya aku merasa sendiri disini. Awalnya aku merasa begitu sepi. Hanya duduk termenung di dalam kamar. Aku takut keluar dari kamar ini. Aku takut dengan udara bebas di sana.

Namun, begitu kurasakan sangat sepi ketika aku sakit dan hanya seorang diri di kamar. Aku mencoba berusaha sendiri untuk bangkit dari sakitku ini. Aku takut jika aku merepotkan orang lain dan aku juga takut jika aku menjadi gadis manja.

Sakit itu semakin tak terkendali. Namun tiba-tiba seorang sahabatku datang. Dia merawatku, memberiku obat, memberiku bubur, memijatku. Sakit itu terasa ringan karenanya. Semoga aku bisa membalas jasa-jasamu. Semoga aku tak menjadi congkak dan melupakan kebaikanmu kepadaku.

Aku adalah gadis perantau di ibu kota. Di kampung aku gadis manja ayah ibu. Karena itu di rantauan ini aku berusaha agar menghilangkan kemanjaanku. Aku takut jika aku selalu merepotkan orang lain. Tapi sangat sulit untukku merubahnya.

sampai sekarang baru sedikit yang bisa kuubah seperti tumbuk obat sendiri, masak sendiri, mencuci sendiri. Namun ketika aku sakit, ibu selalu merawatku dengan tulus. Tak pernah meninggalkanku sendirian. Adikku dengan ikhlas memijatku. Ayahku dengan lisannya tak putus mendoakanku. Nah sekarang disini aku sakit. Aku sangat rindu keluargaku tercinta.

Walaupun mereka jauh dari aku, namun hati aku dan mereka sangat dekat. Ketika aku sakit, mereka menelponku dan dari jauh mendoakanku.

Ya Allah, sembuhkanlah penyakit-penyakit yang hamba derita. Jangan sampai hamba menjadi beban untuk orang lain. Hanya engkaulah penyembuh segala penyakit.

Kamar ini bisu, kamar ini kaku. Hanya aku sendiri. Ingin rasanya dalam keadaan seperti sekarang ini aku menggunakan pintu kemana saja doraemon. Dan aku menuju ke kampungku tercinta.

Aku masih ingat ketika itu aku sakit. Begitu besarnya kasih sayang keluargaku di sana. Baik keluarga jauh maupun dekat. Hari itu, mereka semua datang ke rumah dan menginap di rumah guna merawatku. Aku malu sampai sekarang pada mereka. Pada saat itu mereka melihat begitu sulitnya aku meminum obat tablet. Sampai-sampai 5 kali aku memuntahkan obat itu.

Yah inilah aku. Aku tidak bisa minum obat tablet. Ketika aku berkunjung di rumah mereka. Mereka pasti selalu bilang "inikan yang g bisa minum obat". Aku jadi malu. Sampai sekarangpun aku belum bisa. Mungkin karena terlalu dimanja sama ibu. Dulu dari kecil sampai remaja ibu selalu menumbuk obatku dan kebiasaan itulah yang tidak bisa hilang sampai sekarang.

Berapa kali kucoba untuk memakan obat tablet tapi tidak bisa. Sangat sulit aku telan. Pasti ujung-ujungnya keluar lagi. Entahlah ada apa dengan lidahku ini.

Sekarang di daerah rantauan ini, aku menumbuk sendiri obat yang kumakan. Kalau di kampung ada ibu kalau disini ngurus diri sendiri. Tapi inilah perjuanganku. Ini juga untuk ayah dan ibu. Semoga suatu hari nanti aku bisa membahagiakan mereka dan membuat mereka bangga memiliki anak seperti diriku.

Ayah Ibu, walaupun kita jauh aku mohon jangan khawatirkan aku. Aku hanya butuh doa dan dukungan ibu. Insya Allah disini Allah akan selalu menjagaku. Aku juga akan berusaha menjaga akhlak dan akidahku.

Aku rindu kalian. Namun rindu ini aku ingin bayar dengan keberhasilanku. Amin. Semoga Allah mengizinkan. Amin.

Selasa, 06 Maret 2012

Miracle from Allah

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.27

namaku Khadijah. hari ini aku sangat takut keluar dari kamarku ini. Banyak hal yang kutakutkan di luar sana seperti terpengaruh pergaulan yang salah, aku juga takut dicemoh orang.

Tapi dalam ketakutan ini aku sangat senang, dalam keadaan seperti ini aku merasa sangat dekat dengan Allah. Dari kemarin aku menghabiskan waktuku dalam kamar. Dan dalam keadaan kurang sehat ini aku terkejut dengan shalat yang kudirikan. Biasanya dalam keadaan kurang fit, aku sulit untuk konsen dalam shalatku tapi dalam keadaan sendiri seperti ini dan dalam keadaan sakit aku bisa fokus dalam mendirikan shalat.

Mungkin benar kata orang, ketika diri kita hanya memasrahkan semuanya kepada Allah kita akan merasa sangat dekat. Hanya Allah semata penolong kita, teman curhat kita, dan segala-segalanya.

Di saat seperti ini, aku menyadari kekuasaan Allah. Dan sekarang aku menunggu sebuah keajaiban Allah untukku untuk kesembuhan penyakit-penyakitku ini dan keajaiban pada jiwaku agar aku kuat menghadapi udara di luar sana. Dengan banyak orang dan berharap aku mampu bertahan dalam jalan yang benar tanpa berbelok ke arah yang salah.

Detik-detik aku menunggu, tak ingin rasanya waktuku sia-sia tanpa ada Allah dalam setiap denyut nadiku. Aku harap di luar sanapun nama Allah selalu ada dalam ingatanku sehingga aku mampu menjauhi kesalahan-kesalahan yang tidak disukai Allah.

Doaku dalam setiap detiknya "Ya Allah, Hanya Engkau Penolongku. Sembuhkanlah segala penyakit-penyakit hamba ini. Ya Allah, Engkaulah Pelindungku, lindungilah aku dari godaan syetan dimanapun aku berada. Ingat selalu hatiku agar selalu membasahi bibir ini dengan namaMu"

hari ini aku baru merasakan seperti yang pernah diceritakan oleh ayahku yaitu kita akan sangat dekat dengan Allah dalam keadaan sempit. Aku bangga pada ayahku. Dia berusaha untuk tidak bersenang-senang dengan segala tipu daya dunia agar senantiasa dekat dengan Allah.

ayah, semoga aku bisa sepertimu. Dan semoga ketika keajaiban Allah datang kepadaku aku tetap tidak terperdaya oleh pesona dunia ini.

Ya Allah, dalam Al quran engkau berkata. Aku dekat pada Hambaku. Jika hambaku merangkak menujuku aku akan berjalan menujunya, jika hambaku berjalan kepadaku aku akan berlari menujunya.

Ya Allah, sekarang aku berlari sangat kencang menujuMu. Berikanlah keajaibanMu untuk hamba.

Bismillahir rahmanir rahim. Kumulai hari ini dengan basmalah. Berkahilah segala kegiatan hamba hari ini Ya Allah.

Semoga hamba bisa menjadi hambaMu yang selalu dekat denganMu. Semoga hamba bisa membanggakan untuk kedua orang tua hamba dengan akhlak dan prestasi hamba. Dan hamba yakin Hanya Engkaulah yang mampu mengabulkan permohonan hamba.

Hamba hanya manusia lemah dan sangat bergantung kepadaMu.

Senin, 05 Maret 2012

matikah kejujuran dan keadilan negeriku??

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.15
aku sedih melihat negeriku seperti ini. Aku ingin berbuat sesuatu namun aku hanyalah gadis biasa. Tak mungkin pendapatku dipandang.

namaku zahra. Aku selalu ingin menangis melihat dunia yang sekarang ini. semua yang benar sekarang dianggap salah dan semua yang salah dianggap benar.

ketika aku selesai di tingkat SMA aku berniat untuk melanjutkannya di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal dan terpandang di negeriku ini.

Hari itu aku datang lebih awal dari calon mahasiswa lainnya. Dengan penuh semangat aku melangkahkan kaki ke ruang ujian. aku sudah berusaha dan berikhtiar kepada Allah. Hasilnya kuserahkan pada yang maha kuasa.

Semangatku tiba-tiba turun ketika ujian berlangsung dan aku mendengar percakapan calon mahasiswa dengan seorang pengawas.
pengawas : "kenapa dihapus terus jawabannya? Nanti kotor dan tidak terbaca"
calon mahasiswa : "bingung nih pak"
pengawas : "tenang aja, nanti di ruang sana di ganti jawaban yang benar. Yang penting jangan sampai kotor kertas ujiannya"

selesai ujian aku termenung. Begitu berharganya uang di zaman sekarang ini. Orang kaya enak punya uang. Sedangkan orang miskin?? Kejujuran dan keadilan dengan murahnya dibeli dengan uang.

Karena hal ini pula, aku berusaha bangkit. Aku tak ingin membiarkan ajaran agama yang dibawa Rasulullah dihapuskan. Walaupun aku tak mungkin bisa melaporkan hal itu namun aku mulai dari diriku sendiri. insya Allah hari ini kubangkitkan kembali ajaran Rasulullah. Dari diriku, kemudian kuajarkan kepada keluargaku dan teman-temanku.

dunia ini selain memandang uang juga memandang jabatan. Entah itu jabatan ayahnya atau sanak saudaranya.

Suatu hari aku ingin mengurus ktp. beberapa syarat telah kupenuhi sekarang tinggal menunggu di kantor kelurahan untuk di proses. Antrian masih banyak. Aku sabar menunggu. Kemudian aku melihat teman 1 kampusku yang ternyata ayahnya adalah pejabat terkenal di kota ini. Dengan mudahnya dia bisa mendapatkan ktp tanpa antri bersama kami yang dari tadi menunggu. Negeriku-negeriku.

Walaupun ku melihat hal seperti itu aku berusaha meyakinkan diriku kalau itu tidak benar. jangan sampai suatu hari aku melakukannya.

dunia sekarang terbalik. Aurat dimana-mana dibuka. pembunuhan kini merajalela, kemana hati nurani para pembunuh itu?. manusia kian hari kian berlomba-lomba mendapat nikmatnya dunia walau dengan cara apapun.

Teman-temanku, keluargaku, mari kita kembali ke jalan yang benar. Jalan yang dibawa oleh Rasulullah. Dunia ini hanya sementara. Setelah dunia akan ada akhirat. mari kita berjalan di bumi ini dengan hanya semata-mata mencari ridho Allah.

Minggu, 04 Maret 2012

Ayahku hebat

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 09.22
"ayahku hebat" itulah sandangan yang tepat untuk seorang ayah seperti beliau. Aku bangga padanya. Kali ini aku akan bercerita beberapa episode dalam hidup ayahku yang kusaksikan sendiri. terima kasih Ya Allah Engkau berikan kepadaku ayah hebat. Semoga dengan menjadikannya inspirasiku aku bisa menjadi lebih baik dan lebih dekat lagi denganMu,

episode 1. Ketika aku mendapat cobaan, hal yang pertama terus diingatkan kepadaku adalah hal utama dalam agama yaitu tauhidku kepada Allah. Ayahku selalu berkata "cerita sama Allah nak, minta sama Allah nak, cukup Allah saja". Namun ketika aku jauh dari ayah dan di telingaku selalu dibisikkan kata-kata "ceritalah pada orang yang kau percaya agar bebanmu lebih ringan". Dan orang yang satu-satunya yang kupercaya adalah ayahku. Kuceritakan padanya. Dan kembali ia mengingatkanku "nak, sama Allah dulu yah baru sama bapak. bapak juga ujung-ujungnya ke Allah meminta".

Episode 2. Ayah sangat sungguh-sungguh mencintai Rasulullah. Aku bisa berkata demikian karena beliau sangat berusaha mengikuti sunnahnya. Dimulai dari puasa senin-kamis, shalat dhuha, dan shalat malam. bahkan pada shalat malamnya, pernah aku melihat ia berdiri sangat lama. Keesokan harinya aku bertanya kepadanya, katanya Allah sangat menyukai seseorang yang shalat dan waktu berdirinya lama. Begitupun yang dilakukan oleh Rasulullah.

Episode 3. ayah berpesan "belajar di usia tua sangat sulit nak, jangan sia-siakan usia mudamu untuk menuntut ilmu". Aku kagum pada ayah. Walaupun umurnya telah lanjut dia tetap berusaha menghapal Al Quran. katanya ketika dia menghapal bisa diumpamakan menulis di atas batu. Begitu sulitnya namun ia terus berusaha.

Episode 4. ayah juga berpesan padaku agar menjauhi hal-hal yang membuatku lalai dari ALLAH. Misalnya tidak menonton sinetron. Karena zaman sekarang sinetronnya tidak memperhatikan syariat-syariat islam dan lebih mengangkat kehidupan orang-orang barat. Aku akui jika menonton sinetron pula setelah itu aku biasanya galau. Semoga pesan ayah bisa aku lakukan.

Masih banyak lagi episode yang ingin kuceritakan namun tak dapat ku tulis dalam tulisanku ini. 

Jumat, 02 Maret 2012

guruku

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.43
aku sangat sayang padanya. Dialah guruku. Dia menjadikan dirinya sebagai orangtuaku selama aku dalam lingkungan sekolah. Dia sangat perhatian dan selalu memberiku pelajaran penting yang bermanfaat untuk hidupku.

Sebut saja nama beliau adalah ibu Fatimah. Umurnya hampir sama dengan ibuku. Sekitar 40 tahunan. Dia mengajar pendidikan agama di tingkat sma. Dan dia juga wali kelasku. Aku sangat dekat dengannya. Bahkan ketika di luar lingkungan sekolahpun demikian.

Suatu pagi di hari senin, aku terlambat bangun karena semalaman tidak bisa tertidur. Ke sekolahpun terlambat, dan akhirnya aku di hukum berdiri di halaman depan sekolah sampai upacara selesai.

Ketika masuk di kelas, ternyata ibu fatimah tahu kalau pagi itu aku terlambat bangun. Jam istirahatpun dia mengajakku ngobrol. Dia tidak marah karena hal itu, itulah yang aku rasakan karena nada bicaranya selalu lembut kepada siapa saja. dia bertanya kepadaku kenapa pagi itu aku terlambat setelah itu dia memberikan saran kepadaku agar kejadian itu tidak terulang lagi.
"Rasulullah tidak menyukai orang yang begadang karena sesuatu hal yang sia-sia. Selain itu dari segi kesehatan juga tidak dianjurkan loh" ucapnya kepadaku

inilah yang aku sangat kagumi pada ibu guru yang satu ini. Bukan cuman pada diriku dia seperti ini tapi pada semua murid-muridnya. Dia tidak mau satupun muridnya mengalami masalah. Dia selalu memberikan solusi kepada kami dan yang pastinya dengan cara yang santun.

suatu hari, entah ada apa yang terjadi ibu Fatimah tidak masuk mengajar. Tidak biasanya dia seperti ini. Kamipun berusaha menghubunginya namun telponnya tidak di angkat. Karena khawatir kami semua menanyakan alamat rumah Ibu Fatimah pada sekertariat sekolah. Segera kami menuju ke tempat itu.

Tak pernah kami duga, rumah tempat tinggal Ibu Fatimah seperti ini. Sangat jauh dari kata layak. Kami sangat bersedih melihat rumah ibu guru kesayangan kami seperti ini. Kamipun mengetuk pintu rumah itu namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Tiba-tiba seorang lelaki tua datang menghampiri kami.
"cari siapa nak?"
"ini rumah ibu fatimahkan?"
"iyah betul"
"kalau boleh tahu ibu fatimah kemana?"
"kemarin dia di bawa ke puskesmas oleh anaknya, tapi entah kenapa sampai sekarang belum kembali"
"kalau boleh tahu puskesmasnya dimana pak?"
"depan gang ini nak"
"terima kasih kalau begitu pak"
"sama-sama nak"

kamipun segera ke puskesmas itu tapi disana ibu fatimah tidak ada. Perawat di puskesmas cuman mengatakan kalau kemarin kami sarankan ibu fatimah ke rumah sakit untuk memeriksakan diri karena peralatan disini tidak memadai. Namun dia tidak tahu rumah sakit mana ibu fatimah dan anaknya datangi.

Tidak mungkin kami mendatangi setiap rumah sakit di jakarta ini. Sangat banyak, oleh karena itu kamipun kembali ke rumah ibu fatimah dan menunggu sampai ibu fatimah datang.


Sudah 2 jam kami disini beliau tak kunjung datang. Tiba-tiba datang mobil ambulance. Mobil itu berhenti di depan rumah ibu fatimah. Keluarlah anaknya dengan air mata berlinangan kemudian sesosok ibu fatimahpun yang tidak bernyawa lagi dibawa masuk ke dalam rumah.

Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Tak pernah kami sangka kedatangan kami untuk melihat ibu fatimah hari itu menjadi kedatangan melayat ibu fatimah.

tak ada yang dapat kami lakukan dan kami ucapkan selain limpahan kesedihan atas kepergian guru kami tercinta itu. hanya doa yang terus kami lantunkan kepada beliau agar beliau dimudahkan dalam perjalanannya selanjutnya.

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian beliau namun doa terus terucap untuk pahlawan tanpa tanda jasa kami itu.

Aku tahu bahwa Ibu fatimah hanya tinggal di rumah itu berdua dengan anaknya yang sekarang seumur pula dengan kami. Kucoba mendatangi rumah ibu fatimah untuk melihat keadaan anaknya itu yang sekarang hanya sendiri.

"assalamu alaikum"
"waalaikum salam"
setelah dia membukakan pintu dan mempersilahkanku duduk kamipun melanjutkan berbicara banyak hal.

hatiku mulai bergetar kembali mengingat ibu fatimah setelah anaknya menceritakan pengorbanannya. Ingin rasanya menangis tapi ibu fatimah pernah memberitahuku jika kita tidak boleh terlalu bersedih karena kehilangan seseorang. Itu hanya akan menyiksa mayit tersebut.

"ibuku adalah malaikat dari Allah. Ayahku meninggal ketika aku masih bayi. Semenjak itu ibu membesarkanku sendiri. beliau menjadi seorang guru bukan karena semata-mata ingin mencari penghasilan untuk hidup kami tapi hatinya tergerak agar dapat menjadi pembimbing anak muda zaman sekarang dengan memberikan modal iman dan takwa. Gajinya memang tidak cukup untuk menghidupiku. Belum lagi rumah yang kami kontrak, kehidupan sehari-hari, dan biaya sekolahku. Karena itu pula, setelah pulang sekolah dia melanjutkan bekerja di sebuah toko menjaga di sana sampai tengah malam. Aku sangat ingin membantu beliau namun ibu melarangku untuk bekerja. Beliau hanya terus berkata kalau aku berkewajiban untuk menuntut ilmu dan berbakti sementara orang tua adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Beliau selalu berkata kalau suatu hari nanti setelah kewajiban ibu selesai menyekolahkanku, tiba giliran anak itu yang menafkahkan orang tuanya. Sampai suatu hari dia kelelahan karena bekerja hampir 24 jam. Hari itu, aku baru melihat ibu selelah itu, awalnya ia tidak mau aku bawa ke rumah sakit namun akhirnya ia setuju. Di rumah sakit aku tak pernah menyangka dokter berkata seperti itu. Ibu ternyata sudah dari dulu sakit. Sakitnya diperparah karena kelelahan sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit itu. 3 hari setelah ibu meninggal, datang ketua RT di kampung ini. Dia datang membawa buku tabanas ibu. pak RT mengatakan kalau buku tabanas ini harus bapak berikan kepadamu ketika 3 hari selah beliau meninggal. ternyata dari dulu dia juga telah menabung mempersiapkan biaya hidupku kelak setelah dia pergi. ibuku adalah seorang wonderwoman untukku."

Ya Allah, tak pernah hamba bosan-bosannya mengirimkan doa untuk ibu Fatimah. Beliau adalah sosok inspirasi hidupku. Semoga kerja keras beliau dan sikap lembut beliau tumbuh pada murid-muridnya pula. Semoga kami semua bisa menjadi seperti beliau.

@rahmisyam

Sabtu, 25 Februari 2012

jatuh bangun = bangkit

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 08.09
"aku prihatin dengan bumi ini. Allah memberikan kita amanah untuk menjaganya namun kita malah merusaknya."

namaku Dijah. sekarang aku duduk di bangku SMP kelas 1. Itulah sebabnya aku masih sering dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa oleh semua orang di lingkunganku.

Aku sekolah di salah satu sekolah menengah negeri di Jakarta yang tidak jauh dari rumahku. Aku berasal dari sebuah desa terpencil di Indonesia. Ibu dan ayahku ke jakarta mengajakku mengadu nasib mencari uang untuk kehidupan kami sekeluarga. Walaupun kami miskin tapi kami bahagia dengan hidup kami.

Di Jakarta kami mengontrak sebuah rumah kecil yang terdapat di sebuah gang kecil. Tak kupingkiri kalau daerah tempat kami ini dipenuhi dengan sampah bahkan kali di depan jalan raya dekat kontrakan kami warnanya sudah berubah menjadi hitam dipenuhi pula dengan sampah.

Aku tak tahu siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Yang perlu diketahui adalah untuk menanggulangi adalah berawal dari kesadaran kita sendiri. Jangan sampai kita hanya menyalahkan orang lain sedangkan kita sendiri belum bisa.

Tak kunjung ayah mendapatkan pekerjaan kantoran. Walaupun setiap hari berangkat pagi-pagi berpakaian rapi untuk melamar pekerjaan di Jakarta. sambil menunggu ayah mendapat pekerjaan ibu berinisiatif menjadi penyapu jalanan. Aku tak mungkin tega melihat ibuku sendiri menanggung beban keluarga. Aku putuskan pula untuk ikut menjadi penyapu jalanan setelah aku pulang sekolah.

Aku dan ibu mulai bekerja di siang hari sampai waktu magrib. Di jalan itu, aku kadang merasa jengkel melihat orang-orang yang dengan seenaknya saja membuang sampah sembarangan.
"bu, orang itu buang sampah sembarangan"
"nanti kita aja yang memungut sampahnya nak"

ibu selalu begitu. Sabar dalam segala hal. Tapi kalau begini terus bisa-bisa jumlah sampah akan terus bertambah di jalanan.

Keesokan harinya di sekolahku sedang diadakan kerja bakti dan kita juga diberikan pengarahan mengelola sampah organik dan anorganik. siang hari itu juga aku memberitahu kepada ibu tentang pengarahan yang diberikan di sekolah.

Tanpa takut lagi ketika ada orang yang membuang sampahnya di jalanan aku langsung memberitahunya dengan baik-baik
"maaf mas, sampah ini sebaiknya di buang di tempatnya. Kalau di buang sembarangankan kota tercinta kita inikan jadi kotor."
alhamdulillah, masnya tidak marah karena aku memberitahukannya seperti itu.

Keesokan harinya di saat aku sedang memisahkan sampah basah dan sampah kering tiba-tiba ada yang menghampiriku.
"nak, kenapa mesti dipisahkan sampah-sampah ini!"
"di sekolah saya diajarkan untuk memisahkannya, sampah inikan berlainan jenis. Ini juga agar mempermudah proses pemanfaatannya."
"emank sampah ini masih bisa dimanfaatkan nak?"
"iyah, sampah keringkan seperti bungkus indomie ini bisa dijadikan barang brguna seperti tas belanja, dompet, dan lain-lain. Sedangkan sampah basah bisa jadi kompos"
"eh bisnya udah datang, makasih yah nak informasinya"
"sama-sama pak"


beberapa menit kemudian kamipun selesai menyapu jalanan dan segera kembali ke rumah. Sampai di rumah ayah membawa sebuah kejutan.
"kejutan, sekarang ayah dapat kerjaan"
"alhamdulillah, kerja dimana ayah?"
"ayah bekerja di bengkel nak"
"selamat ayah"

keesokan harinya, ayah sudah mulai bekerja. Sebelum berangkat ke bengkel ayah mengantarku ke sekolah. Sebulan rutinitas itu kami jalani setiap paginya.

Sampai suatu hari, ayah tak pulang-pulang. Terpaksa aku harus sendiri berangkat ke sekolah. malam hari ayah baru pulang, dan ayah sepertinya sedang mabuk. Mulutnya bau alkohol dan kelakuannya sangat mengerikan.
Keesokan harinya ketika ayah sudah bangun, aku beranikan diri bertanya
"ayah, lagi sibuk yah di bengkel? Kok kemarin tidak pulang ke rumah"
"iyah, bengkel lagi sibuk" dijawabnya dengan sangat singkat.
Tak seperti biasanya ayah.

"ibu, kok ayah gitu sih?"
"sabar nak, mungkin ayah lagi sibuk"
kesekian kalinya ibu selalu bersabar atas takdir kehidupan kami.

malam harinya ayah pulang dengan bau alkohol di mulutnya. Aku pura-pura tidur di kamar namun sebenarnya aku ingin tahu ada apa yang terjadi. Kudengar ibu dengan sabar menghadapi ayah namun ayah telah berubah. Ayah terus memarahi ibu karena banyak bertanya.

Keesokan harinya, ketika ayah berangkat kerja aku mengikutinya tanpa ayah sadari. Aku melihat ayah bekerja di bengkel seperti yang dikatakannya. aku heran apa yang mengubah ayah makanya aku tetap mengikutinya. sebentar lagi istirahat makan siang. ayahpun makan siang bersama-sama temannya. Dan apa yang kulihat saat itu adalah teman-teman ayah merokok kemudian memberikan rokok itu kepada ayah. Ayah yang kutau tak pernah menyentuh rokok tapi sekarang?. Setelah makan siang mereka kembali kerja. Dan pulang kerja ayah tak langsung pulang ke rumah. Dia ke sebuah tempat bersama teman-temannya. Aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya. Kucoba mengintip dan ternyata ayah minum-minuman keras  sambil bermain judi. aku langsung pulang setelah melihat itu. Dalam perjalanan aku menangis, kenapa ayahku menjadi seperti itu.

"darimana nak? Kok baru pulang"
"dari rumah teman bu" ucapku pada ibu yang begitu sabar menghadapi aku dan ayah

tiba-tiba ayah datang, masih dalam keadaan mabuk. Ketika ibu sedang masak di dapur aku menghampiri ayah di kamar.
"ayah kenapa begini" airmatakupun berlinang seiiring ku berbicara pada ayah
"ayah tak usah bohong, aku tahu apa yang ayah lakukan ketika makan siang dan setelah pulang kerja"
aku sangat tidak menyangka, ayahku seketika menamparku dan berkata kalau aku anak tak tahu diri.

Ternyata ibu daritadi berdiri di depan pintu kamar. Ibu menangis karena kelakuan ayah yang seperti itu. Ibu kemudian menghiburku dan mengajakku makan di luar.

"nak, kamu benar tadi melihat ayah seperti itu"
"maaf bu, aku sudah berbohong tadi. Apa yang harus kita lakukan pada ayah bu?"
"entahlah nak, kita bersabar saja"

selesai makan, aku dan ibu kembali ke rumah dan di rumah sudah tidak ada lagi ayah. Barang-barang ayah semuanya di bawa. Ayah meninggalkan kami. Mulai saat itu aku berjanji untuk membahagiakan ibuku. Aku tak ingin ada lagi yang menyakiti ibu.

Pulang sekolah aku bekerja di sebuah toko. Aku bekerja paruh waktu dan ibu kembali bekerja menjadi penyapu jalanan. Walaupun kami hidup seperti itu tapi kami bahagia karena kami saling mencintai. Ibu selalu berusaha mengerti aku dan akupun demikian.

Setahun kemudian, aku membuka uang tabunganku hasil jerih payah yang selama ini kusisihkan. alhamdulillah cukup untuk kujadikan modal usaha sepatu unik dan tas unik. aku juga bekerja sama dengan beberapa toko di mall untuk memasarkan produkku. Penghasilan tambahanku lumayan.

Sekarang ibu tidak bekerja lagi sebagai penyapu jalanan. Aku mencoba ibu untuk menjadi pengusaha kue pula. Alhamdulillah masyarakat sekitar suka dengan kue ibu.

Dari cerita hidupku ini, aku hanya ingin berbagi kepada kalian bahwa dibalik keterpurukan kita masih bisa bangkit. Dengan kerja keras dan ridho Allah, insya Allah semuanya akan indah.

@rahmisyam
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

Semua indah pada waktunya


Namaku Zahra. Aku masih duduk di bangku SMA. Karena seringnya membaca dan mengikuti training motivasi pikirankupun selalu dipenuhi dengan daftar impian dan target tercapainya. Di dalam otakku ini berderet tulisan dan gambar semua hal yang aku inginkan. Mulai dari daftar belanjaan sampai aku ingin menjadi inilah itulah. Yang pastinya semuanya indah.

Memang hal tersebut berdampak baik kepada pikiran dan semangatku. Karena dengan motivasi-motivasi itu kemalasan dan pikiran negative dapat kuredam. Tapi aku lupa pada jati diriku yang sesungguhnya. Aku lupa bahwa aku adalah seorang muslimah. Impian-impian itu membuatku lupa akan kuasa Allah. Impian-impian itu membuatku lupa akan hari kekal nanti yaitu akhirat. Di dalam pikiranku hanya nikmatnya dunia saja dan melupakan hari pertemuan dengan Allah nanti.

Aku baru menyadari semua itu ketika aku telah menjadi seorang mahasiswi. Aku disadarkan akan kata-kata dari seorang ustadz yang memberikan kajian di mesjid di kampus. Seketika saat itu hanya istigfar yang terucap dalam hatiku.

Langkahku yang selama ini begitu cepat untuk mencapai suatu tujuan adalah sebuah kesalahan. Aku hanya terus berusaha namun tak pernah percaya akan kuasa Allah. Aku seakan-akan berTuhankan pikiran positif dan motivasi. Padahal Allahlah Tuhanku dan tak pantas aku menduakanNya.

“Ya Allah, aku mohon ampun. Aku terhipnotis. Aku lalai.”

Mulai hari itu aku mengubah jalan hidupku. Kutempatkan pikiran positif dan motivasi itu sebagai ikhtiar dan di dalam ikhtiar itu kusematkan ibadah sehingga ikhtiar itu menjadi ibadah.  Kuniatkan semua yang kulakukan semata-mata ibadah kepadaNya. Kini kutak memikirkan lagi target-target impanku itu. Kini aku memegang sebuah kalimat dari ustadz itu “usahaku ibadahku, hasilnya kubertawakal kepada Allah. Aku yakin Allah tahu yang terbaik untukku.  Belum tentu yang aku inginkan itu baik untukku, ku serahkan padaMu Ya Allah”

Aku ingin sukses dunia tapi tak melupakan akhirat.
Aku ingin sukses akhirat tapi tak melupakan dunia.
Aku ingin keduanya seimbang.


         Sebulan telah berlalu dengan segala kegiatan yang menyeimbangkan keduanya.  Tak percaya rasanya yang terjadi. Hari demi hari tanpa target impian itu, hal-hal indahpun terjadi dalam hidupku. Subhanallah, kuasa Allah. Ada-ada saja cara Allah menuntunku.

1.       Aku ingin menjadi seorang pengajar
Inilah doaku beberapa bulan yang lalu, aku ingin menjadi pengajar karena hal itu bisa menjadi bekalku di akhirat pula. Aku ingin walaupun jasadku sudah tak ada lagi di dunia namun aliran pahala tetap terus mengalir kepadaku. Amal jariyah lewat ilmu yang pernah kusampaikan.

Dalam doaku saat itu, aku berkata dalam hatiku “Ya Allah, aku ingin menjadi seperti pengajar-pengajar itu. Bermanfaat bagi orang lain dan menjadi amal jariyahku kelak.”. Setelah berdoa aku berikhtiar dengan terus menuntut ilmu.

Sebulan kemudian, ada panggilan menjadi pengajar dari seorang temanku. “subhanallah, jalan Allah memang indah pada waktunya.” Itulah ucapan yang terucap dari bibirku. Tak percaya tapi itulah Kuasa Allah. “KunFayakun”

2.       Aku ingin berubah menjadi lebih baik dari kemarin. Aku ingin tobab nasuha Ya Allah.

Bagian ini sangat banyak cabangnya. Maklum aku hanyalah manusia biasa. Dipenuhi dengan dosa. Hari itu, hatiku menangis. Menangisi dosa-dosa yang kian hari bertambah seperti air dalam lautan. Saat it aku berdoa “Ya Allah, ampuni hambaMu ini. Bantu hamba keluar dari dosa-dosa. Tuntun hamba menuju jalanMu”.

Dan apakah yang terjadi??

Doa itu terus kuucap dalam shalatku. Sampai ketika scenario Allah terjadi. Hari itu, entah bagaimana bisa aku ikut pada seorang teman yang tidak terlalu dekat denganku sebelumnya. Aku hanya sekedar mengikutinya karena saat itu tak ada yang menemaniku, dan ternyata kecantol pada aktivitas dia pula. Hari itu aku mulai ikut kajian-kajian dan atas jasanya lah aku bisa sedikit demi sedikit keluar dari kehidupanku sebelumnya. Dia mengenalkanku tentang apa it Islam, bagaimana itu Islam. 
“subhanallah, Allah menyayangi kita semua. Kita berusaha dekat denganNya dengan merangkak Allah akan berjalan menuju kita. Kita berjalan, Allah berlari menuju kita”


Dan sekarang aku memegang sebuah prinsip kehidupan yang terucap dari lisan ayahku “JIKA ALLAH BERSAMAMU TAK ADA YANG DAPAT MENGALAHKANMU,*SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU (KERJAKAN PERINTAHNYA, JAUHI LARANGANNYA)”


1 lagi, semua indah pada waktunya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Jangan paksakan keinginan-keinginanmu, karena itu akan membuatmu menjadikannya sebagai  Tuhanmu. Nikmati prosesnya sebagai sebuah ibadah untuk Allah SWT. Hasilnya kita tawakal kepadaNya.




Kamis, 28 Juni 2012

Mencintai dalam diam

Duhai gadis,
maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu.

Maka dengarlah..


Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..

Aku tahu, cinta adalah fitrah..
sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun..
Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun. Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.

Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula, Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa.. Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.

Maka gadis,
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening. Dalam diam.. Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari. Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu. Jangan kau tumpahkan segala sukamu..

Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..

Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas... Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi....,
apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..

Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

Gadis...,
kita tak tahu dan tak akan pernah tahu.. Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar... Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Gadis,
Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar.. Begitu mulia untuk di tampakkan.. Begitu sakral untuk di tumpahkan..

Dan sadarilah gadis,
fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis,
jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan.. Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh.. Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..

Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..

Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..
Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu...
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..

Gadis...
yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu, Lalu..Arahkan pd Nya.. Dan cintailah dalam diam.. Dalam hening.. Itu jauh lebih indah..

Jauh lebih suci


Kamis, 07 Juni 2012

Ketika Allah menjagamu (1)







Subuh itu, aku terbangun dengan keringat yang berucuran di badanku. Entahlah apa yang terjadi dalam mimpiku semalaman tadi. Untuk memperbaiki perasaanku itu aku segera mandi dan mendirikan shalat subuh seperti biasanya.

Waktu menunjukkan pukul 07.30. Akupun segera bersiap-siap menuju kampus karena hari ini aku ada kuliah pagi. Dalam perjalanan itu ada hal aneh yang kurasakan. Kejadian demi kejadian yang kusaksikan dalam perjalanan menuju kampus seakan-akan aku pernah melihatnya. Tapi bedanya kejadian yang kusaksikan pada orang-orang di sekelilingku itu akulah yang menjadi peran utamanya.

Kejadian pertama : seorang gadis dan pria sedang bertengkar di tengah jalan. Sepertinya mereka berpacaran. Gadis itu menangis dan pergi dari hadapan pria itu.

Kejadian kedua : seorang anak yang sedang merengek-rengek kepada Ibunya untuk dibelikan mainan sedangkan ibunya tersebut tidak mempunyai uang untuk membelinya.

Kejadian ketiga : kumpulan gadis remaja yang duduk alias nongkrong di sebuah cafe dan disana membahas tentang infotaiment yang mereka saksikan di tv

sesampaiku di kampus, aku baru menyadari kejadian-kejadian itu. Ternyata yang membuat keringatanku bercucuran semalaman adalah mimpi-mimpi yang isinya persis sama dengan kejadian yang baru kusaksikan. Namun dalam mimpi akulah yang berada disana.

Mimpi itu terus terbayang dalam ingatanku. Aku dibuat risau karenanya.

Ketika aku sedang makan di kantin kampus tiba-tiba seorang pria mendatangiku yang tidak lain adalah pacarku saat itu.
K Brian : sendiri aja neng,,,
aku hanya terkejut dan berkata iya saat itu padanya
k Brian : ngelamunin siapa atuh siang bolong gini?
aku : g' ngelamunin siapa2 kok
wajah brian mulai bingung melihat sikapku yang tak seperti biasanya. Akupun bingung dengan diriku. Hal yang kurasakan saat itu adalah takut. Takut entah apa sebabnya.
K Brian : aku ganggu kamu yah,,, maaf deh.. Selamat makan aja klo gitu dek...

kak brianpun meninggalkanku di kantin itu. namun aku tak berucap apapun untuk menghentikan langkahnya. Ketika ia pergi, entah kenapa perasaanmu yang tadinya risau berubah menjadi senang.

Aku berkata pada diriku : kenapa aku seperti ini, kenapa aku damai ditinggalkan kak brian. Padahal biasanya aku senang ketika dia datang.

"ada sms" terdengar bunyi dari handphoneku
ternyata sms itu dari kak brian yang isinya "dek, besok kita jalan yuk. G ada kuliahkan?"

risau itu kembali lagi setelah ada sms dari kak brian.
Kemudian kugerakkan jemariku membalas smsnya "maaf k, besok aku ada tambahan kuliah"

aku tahu pasti kak brian disana kecewa karena sikap dan tingkahku hari ini. Malam harinya aku mulai menyadari sesuatu. Kak brian memang baik tapi cara ini salah. Kenapa aku berpacaran. Sedangkan dalam agamaku tak ada istilah pacaran. Dan sudah jelas keharamannya.

Dan sedikit semi sedikit otakku mulai mengkoneksikan kejadian diriku ini dengan mimpi semalam. Astagfirullah, hatiku telah mati. Allah telah memperingatkanku.

Semakin risaulah hatiku, aku ingin mengakhiri semuanya tapi aku tak tega membuat sedih kak brian. Malam itu tak kuputuskan apapun hingga akhirnya aku tertidur.

Pukul 03;00 aku terbangun. Karena kehausan akupun melangkahkan kaki ke dapur. Ketika di dapur aku mendengar lantunan ayat suci yang terdengar dari mushala di rumahku. Kucoba melihat siapa gerangan disana dan ternyata adalah ayahku.

Setelah ayah mengaji, tanpa ia tahu aku ada di sana ia mulai melantunkan doa-doanya dan dalam doanya ada yang membuatku bergetar.
"Ya Allah lindungi keluargaku dari godaan syetan. Dari hal-hal yang Engkau larang. Bukalah mata hatinya agar mereka slalu berjalan di jalan lurusMu. Sulitkanlah mereka dari hal-hal yang salah sehingga mereka tidak mengerjakannya"

aku segera bergegas ke kamar dan dalam kamar aku kembali mendengar lantunan ayat suci dari balik kamarku. Kucoba melihat ternyata suara itu dari kamar nenek.
Yang membuatku kembali bergetar adalah doa yang diucapkan nenek.
"Ya Allah, kami semua makhlukMu yang lemah. Godaan syetan masih sering berhasil pada kami. Tapi dengan izinMu kami bisa bertahan jikalau Engkau menabur iman dalam hati kaki. Taburkanlah iman itu kepada keluargaku. Jadikanlah hati kami sakit ketika berada di jalan yang salah"

aku baru menyadari semuanya. Allah menyayangi keluargaku. Allah mengabulkan doa ayah dan nenek. kejadian hari ini adalah bukanlah suatu kebetulan tapi ini adalah pertanda dari Allah. Allah menjagaku. Allah menjaga keluargaku.

segera kubasuh tubuhku dengan air wudhu untuk mendirikan pula qiyamulail seperti ayah dan nenekku.
dalam doa kuucapkan "Ya Allah, aku tahu sikapku dengan berpacaran salah. Tolong aku agar aku bisa keluar dari hal yang Engkau larang ini. pertegas langkahku menuju jalan lurusMu. Dan meninggalkan jalan yang salah."

setelah mendirikan qiyamulail akupun kembali ke tempat tidurku. Ketika subuhnya aku terbangun dengan kekuatan yang dahsyat. Tubuhku terasa fresh seakan tak ada beban dalam hidupku. Seperti biasanya aku mandi dan shalat subuh. Kemudia bersiap-siap ke kampus lagi untuk kuliah tambahan.

Perjalanan ke kampus aku melihat gadis yang kemarin bertengkar dengan pacarnya itu. Ada yang beda  dari dia. Hari itu ia mengenakan jilbab dan ia hanya berjalan sendirian. kucoba memulai percakapan dengannya.
assalamu alaikum mbak
waalaikum salam jawabnya
subhanallah cantik skali mbak dengan jilbab itu
makasih dek, alhamdulillah baru menangkap hidayah Allah kemarin
bagi tipsnya donk mbak biar bisa nangkap dengan tepat hidayah itu. Hehe (ucapku sambil bercanda)
panjang dek ceritanya. Mau cerita sekarang tapi mbak lagi buru-buru ada urusan. Kita tukeran nomor aja kalo gitu. Ntar sore kita smsa yah.


Tambah kenalan lagi deh. Alhamdulillah ucapku. Kulanjutkan langkahku ke kampus. Dan di depan kelas tambahanku itu kak brian sudah berdiri disana.
Dalam hatiku "aduh gmn nih. Ya Allah tuntunlah aku"
kemudian kak brian menghampiriku "dek, sore ini kakak akan ke kampung. Sepertinya bakal lama soalnya ibu dan ayah minta seperti itu. Disana juga tidak mungkin kita bisa berkomunikasi karena disana sinyal sangat sulit. Kalau memang kita berjodoh tak akan lari kemana. Kalau Allah izinkan, setelah kamu lulus nanti kakak akan datang melamarmu.... (tiba-tiba dosenku pun datang)

zahra, kelas akan dimulai. Masuk sekarang sebelum bapak tutup pintunya.
Kutinggalkan kak brian dengan sepenggal kalimat yaitu "atas izin Allah k, smoga sampai dengan selamat"

tabjuk akan kuasa Allah yang kurasakan saat itu. Allah begitu memudahkan jalan hambaNya yang memohon tuntunanNya. Hanya dengan berbekal niat dan doa, Allahlah yang mengeksekusinya.

Terima kasih Ya Allah, hari ini aku bisa lepas dari sesuatu yang tidak Engkau sukai. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, belum tentu aku bisa bertahan dalam godaan syetan yang selanjutnya.








Rabu, 14 Maret 2012

Cahaya ayah menyilaukanku

semua orang tahu jika aku adalah anak laki-laki yang super bandel dalam keluargaku. akupun bingung dengan hal itu. Mereka pasti juga berpikir seperti itu. Ayahku maupun ibuku semuanya sosok yang baik di mata orang tapi entah kenapa anaknya yang bungsu ini seperti aku.

memang aku menyadari kenakalanku dan kadang pula aku merasa bersalah dengan kenakalanku itu. Namun kesadaran itu hanya berlangsung sebentar. Setelah aku bersama dengan teman-teman sekolahku aku pasti melupakan hal itu dan kembali menjadi budi super bandel.

Suatu hari, setelah pulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah melainkan aku sempatkan nongkrong di rumah temanku. Di sanalah awalnya aku mencoba merokok. Teman-temanku saat itu memaksaku dan mengatakan kalau aku tidak merokok aku bukan anak gaul. Bahkan ada yang bilang jika tidak merokok aku hanya sok suci.

malam harinyapun aku pulang ke rumah. Aku tahu jika malam itu aku pasti akan dimarahi lagi. Ketika aku masuk ke rumah, ayah dan ibu sudah menungguku di ruang tamu dan meminta penjelasan dari mana saja aku setelah pulang sekolah.

"maaf ibu, ayah. Tadi ada pr. Jadi aku dan teman-teman pulang sekolah langsung mengerjakannnya di rumah Bino"
"shalat tadi di mesjidkan??"
"iyah pak, kan di samping rumah Bino langsung mesjid"

aku sadar betul dosaku semakin bertambah karena kebohongan yang terus kuucap kepada orang tuaku. dalam kamar aku terus terbayang hal itu.
"bagaimana jika Allah mencabut nyawaku sementara dosaku begitu menumpuk?" ucap batinku ini

malam itu, aku terbangun. karena kehausan aku turun ke dapur untuk mengambil secangkir air minum. ketika aku melewati mushala kecil di rumahku, aku melihat di sana ada sosok bayangan yang sedang berdiri dan membaca lantunan ayat suci Al Quran dengan suara merdu. Aku terdiam saat itu dan memperhatikan sosok itu. aku mendekati dan aku melihat kalau itu adalah ayahku. dengan diam-diam aku terus memperhatikan kekhusyukan ayahku itu. Bahkan sesekali suaranya terdengar menangis ketika membaca beberapa ayat Al Quran.

Saat mendengar ayah menangis, hatiku terketuk. Aku langsung menuju ke kamarku dan mencoba membasahi diriku dengan air wudhu kemudian aku mendirikan shalat tahajud. Dalam doaku aku meminta Allah memberikan hidayahNya kepadaku. Agar aku bisa betul-betul melakukan tobatan nasuha.

Seusai shalat dan berdoa, aku melanjutkan tidurku. Dan setelah aku membuka mata aku merasa begitu energik. Seakan ada sesuatu yang masuk dalam diriku.

Betapa kagetnya keluargaku, mereka tak menyangka aku bangun sebelum adzan subuh sendiri. Tak seperti biasanya aku dibangunkan dengan cepritan air dari ayahku untuk mendirikan shalat subuh di mesjid bersama-sama.

Setelah pulang sekolahpun, aku tidak ingin lagi melakukan hal-hal sia-sia dengan teman-temanku. Aku langsung kembali ke rumah dan membantu ibu di usahanya sambil menunggu waktu dhuhur.

Kebiasaan ini alhamdulillah kulakukan terus sampai tak terasa telah berlalu sebulan.

Sekrang kedamaianlah yang kurasakan. Baru aku menyadari begitu berharganya iman pada diri setiap manusia. Aku sangat bersyukur karena Allah memberiku hidayah dan telah menganugerahkanku Ayah dan Ibu seperti mereka.

Minggu, 11 Maret 2012

Senyum manis itu

sosok makhluk ciptaan Allah yang disebut manusia itu tersenyum padaku. Seakan senyumnya itu pertanda jika dia sangat bahagia melihatku. Matanya yang berbinar-binar seakan akan menjatuhkan beberapa tetes air mata ikhlas untukku. Walaupun hal itu dilakukannya setiap hari tapi tak pernah ada kata bosan dan jenuh pada dirinya memandangku.

Itulah ibu dan ayahku. terima kasih atas semua pengorbanan kalian. Aku tahu walaupun kuberikan dunia ini untuk mereka tak akan pernah sebanding dengan yang kalian berikan kepadaku.

semoga di hari kemudian, Allah mempersatukan kita lagi dalam ikatan keluarga.

Jumat, 09 Maret 2012

Hadiah untuk kakak

air mataku tak terbendung ketika kejadian itu terjadi di mataku. Aku seakan tak percaya tapi inilah yang kulihat. kakakku yang satu-satunya kumiliki sekarang harus masuk ke dalam buih karena menggunakan narkoba.

Aku tak percaya, kakak yang kukenal paham agama dapat melakukan hal itu. sekarang aku hanya tinggal sendiri dalam rumah peninggalan kedua orangtua kami.

apa gunanya rumah sebesar ini jika aku hanya sendiri? Apa yang bisa kulakukan tanpa kakak? Ucap batinku

aku adalah seorang adik yang manja kepada kakaknya semenjak ditinggal kedua orang tua. Kakakku selalu mendampingiku dimanapun. Kakakku pulalah yang mencari nafkah untukku.

Bagaimana aku bisa hidup? setiap hari kakak yang menyediakan makananku, setiap hari kakak yang mengingatkanku untuk shalat, setiap hari kakak yang memberiku uang jajan. Batinku lagi-lagi berteriak seperti itu


entahlah apa yang harus kulakukan sekarang. Aku hanya terus menangisi takdirku dalam kamarku. Tiba-tiba aku mendengar suara adzan shalat dhuhur. suara itu seakan masuk ke batinku. Kulangkahkan kakiku untuk berwudhu dan melaksanakan shalat Dhuhur. setelah shalat aku berdoa dan curhat kepada sang pemilik Nyawa. Ku meminta petunjuk dan pencerahan untuk diriku. Setelah itu aku bergegas ke tempat tidur dan tidur siang.

dalam tidur itu aku bermimpi bertemu dengan ayah dan ibu. Mereka kemudian mengatakan kepadaku "nak, bangkitlah. kamu pasti bisa. Walaupun hanya sendiri. Tapi ingatlah selama dihatimu selalu mengingat Allah insya Allah Allah akan selalu bersamamu. Jika pemilik Alam ini sudah bersamamu apalagi yang tidak mungkin"

Ya Allah, inikah jawaban dari doaku tadi.
Aku pertegas diriku untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini. Sekarang aku berusaha hidup mandiri. Mencoba mencari nafkah sendiri, masak sendiri, dan semuanya mengurus diri sendiri.

Alhamdulillah, aku diterima di salah satu kantor di Jakarta ini. Walaupun hanya  sebagai receptionis. Tapi setidaknya aku bisa bertahan hidup. Setiap hari aku datang ke kantor dengan bersemangat. Aku selalu teringat akan mimpi di siang itu.

Sebulan telah berlalu, alhamdulillah hari ini aku gajian. Setelah mendapat gaji itu akupun bergegas ke supermaket dan membeli bahan-bahan makanan yang akan aku masak untuk kakakku tercinta.

Hari ini aku ingin mengunjungi kakakku dan memasakkannya makanan yang lezat yang aku buat sendiri. Saatnya aku membalas jasa-jasa kakakku.

Sesampaiku di sana, kakak sangat terkejut melihat penampilanku yang sekarang. Kemudian kuceritakan pekerjaanku sekarang dan segala aktivitasku.

Kakak : kakak bangga sama kamu dek
aku : ini juga karena kakak
kakak : maafkan kakak yah
aku : minta maaf sama Allah kak, sebentar lagi hukuman kakak akan berakhir. Aku berharap kakak benar-benar bertobat setelah itu.
Kakak : iyah dek

percakapan kamipun selesai dan selanjutnya kakak menyatap masakan yang special kubuat untuknya.

Setelah itu aku pulang ke rumah. sampai di rumah pikiranku terus berucap : rumah ini terlalu besar untuk aku yang seorang diri. Bahkan untuk aku dan kakak sudah sangat besar. kadang aku ingin menjualnya namun hanya inilah satu-satunya peninggalan orang tuaku untuk aku dan kakak. Karena itu kuputuskan untuk menjadikannya kos-kosan wanita. Kebetulan lokasi rumahku dekat dengan kampus di jakarta ini.

Rumah itupun kubagi 2, satunya untuk kos-kosan dan satunya lagi untuk tempat tinggalku dengan kakak nantinya.

Alhamdulillah, kos-kosannya sudah terisi. walaupun dipisahkan oleh tembok antara tempat tinggalku dengan kos-kosan itu tapi aku sudah merasa nyaman karena sekarang rumahku tidak sunyi lagi, setiap hari selalu ku mendengar suara penghuni kosan itu. Dan yang paling menakjubkan batinku ketika suatu malam aku terbangun dan aku medengar lantunan ayat suci yang begitu merdu dari kos-kosanku.

"subhanallah, siapakah yang memiliki suara merdu ini? Di keheningan malam ia bertahajjud kepada Allah"
karena penasaran kucari dikamar mana suara itu bersumber dan sudah tidak asing lagi untukku itu dari kamar zahra. Zahra memang anak yang terkenal dengan kealimannya. sejenak kuberpikir untuk menjodohkannya dengan kakakku yang keesokan harinya akan kembali ke rumah.

setelah shalat subuhpun aku mendatangi zahra dan kemudian membahas niat baikku itu. Zahra memang muslimah, dia hanya berkata "orang tuaku yang berhak menjawabnya kak".

Setelah itu aku menuju ke kamar. Aku berpikir mungkinkan orang tua zahra mau menerima seorang laki-laki yang pernah menggunakan narkoba.

Entahlah. Sekarang aku hanya bisa berdoa kepada Allah. Setelah mendirikan shalat dhuha akupun bergegas menjemput kakakku. Setelah itu kami kembali ke rumah. Dan tak pernah kusangkah ternyata kakak dan Zahra adalah kakak dan adik kelas sewaktu SMA dulu.

Kemudian kuceritakan kepada kakak ideku untuk menjodohkannya dengan Zahra. Dan aku mengajaknya menuju ke rumah orang tua Zahra.

Kamipun kesana dan alhamdulillah lamaran kakak diterima. Ternyata orang tua Zahra adalah pekerja di kantor kakak dahulunya. Dan dulunya mereka sudah begitu dekat.

Akhirnya merekapun menikah. Dan rumah kamipun beberapa tahun kemudian dipenuhi dengan keponakan-keponakanku yang cantik dan ganteng.

Kamis, 08 Maret 2012

Hati-hati dengan lidah

lidah itu tidak bertulang makanya seenaknya saja mengeluarkan statement. Hati-hatilah kawan. Jangan pernah berkata ini itu sebelum kita merasakannya sendiri. Selalu positif thinking dengan lidah ini agar tidak sembarang mengeluarkan kata-kata.

Rabu, 07 Maret 2012

arti persahabatan

awalnya aku merasa sendiri disini. Awalnya aku merasa begitu sepi. Hanya duduk termenung di dalam kamar. Aku takut keluar dari kamar ini. Aku takut dengan udara bebas di sana.

Namun, begitu kurasakan sangat sepi ketika aku sakit dan hanya seorang diri di kamar. Aku mencoba berusaha sendiri untuk bangkit dari sakitku ini. Aku takut jika aku merepotkan orang lain dan aku juga takut jika aku menjadi gadis manja.

Sakit itu semakin tak terkendali. Namun tiba-tiba seorang sahabatku datang. Dia merawatku, memberiku obat, memberiku bubur, memijatku. Sakit itu terasa ringan karenanya. Semoga aku bisa membalas jasa-jasamu. Semoga aku tak menjadi congkak dan melupakan kebaikanmu kepadaku.

Aku adalah gadis perantau di ibu kota. Di kampung aku gadis manja ayah ibu. Karena itu di rantauan ini aku berusaha agar menghilangkan kemanjaanku. Aku takut jika aku selalu merepotkan orang lain. Tapi sangat sulit untukku merubahnya.

sampai sekarang baru sedikit yang bisa kuubah seperti tumbuk obat sendiri, masak sendiri, mencuci sendiri. Namun ketika aku sakit, ibu selalu merawatku dengan tulus. Tak pernah meninggalkanku sendirian. Adikku dengan ikhlas memijatku. Ayahku dengan lisannya tak putus mendoakanku. Nah sekarang disini aku sakit. Aku sangat rindu keluargaku tercinta.

Walaupun mereka jauh dari aku, namun hati aku dan mereka sangat dekat. Ketika aku sakit, mereka menelponku dan dari jauh mendoakanku.

Ya Allah, sembuhkanlah penyakit-penyakit yang hamba derita. Jangan sampai hamba menjadi beban untuk orang lain. Hanya engkaulah penyembuh segala penyakit.

Kamar ini bisu, kamar ini kaku. Hanya aku sendiri. Ingin rasanya dalam keadaan seperti sekarang ini aku menggunakan pintu kemana saja doraemon. Dan aku menuju ke kampungku tercinta.

Aku masih ingat ketika itu aku sakit. Begitu besarnya kasih sayang keluargaku di sana. Baik keluarga jauh maupun dekat. Hari itu, mereka semua datang ke rumah dan menginap di rumah guna merawatku. Aku malu sampai sekarang pada mereka. Pada saat itu mereka melihat begitu sulitnya aku meminum obat tablet. Sampai-sampai 5 kali aku memuntahkan obat itu.

Yah inilah aku. Aku tidak bisa minum obat tablet. Ketika aku berkunjung di rumah mereka. Mereka pasti selalu bilang "inikan yang g bisa minum obat". Aku jadi malu. Sampai sekarangpun aku belum bisa. Mungkin karena terlalu dimanja sama ibu. Dulu dari kecil sampai remaja ibu selalu menumbuk obatku dan kebiasaan itulah yang tidak bisa hilang sampai sekarang.

Berapa kali kucoba untuk memakan obat tablet tapi tidak bisa. Sangat sulit aku telan. Pasti ujung-ujungnya keluar lagi. Entahlah ada apa dengan lidahku ini.

Sekarang di daerah rantauan ini, aku menumbuk sendiri obat yang kumakan. Kalau di kampung ada ibu kalau disini ngurus diri sendiri. Tapi inilah perjuanganku. Ini juga untuk ayah dan ibu. Semoga suatu hari nanti aku bisa membahagiakan mereka dan membuat mereka bangga memiliki anak seperti diriku.

Ayah Ibu, walaupun kita jauh aku mohon jangan khawatirkan aku. Aku hanya butuh doa dan dukungan ibu. Insya Allah disini Allah akan selalu menjagaku. Aku juga akan berusaha menjaga akhlak dan akidahku.

Aku rindu kalian. Namun rindu ini aku ingin bayar dengan keberhasilanku. Amin. Semoga Allah mengizinkan. Amin.

Selasa, 06 Maret 2012

Miracle from Allah


namaku Khadijah. hari ini aku sangat takut keluar dari kamarku ini. Banyak hal yang kutakutkan di luar sana seperti terpengaruh pergaulan yang salah, aku juga takut dicemoh orang.

Tapi dalam ketakutan ini aku sangat senang, dalam keadaan seperti ini aku merasa sangat dekat dengan Allah. Dari kemarin aku menghabiskan waktuku dalam kamar. Dan dalam keadaan kurang sehat ini aku terkejut dengan shalat yang kudirikan. Biasanya dalam keadaan kurang fit, aku sulit untuk konsen dalam shalatku tapi dalam keadaan sendiri seperti ini dan dalam keadaan sakit aku bisa fokus dalam mendirikan shalat.

Mungkin benar kata orang, ketika diri kita hanya memasrahkan semuanya kepada Allah kita akan merasa sangat dekat. Hanya Allah semata penolong kita, teman curhat kita, dan segala-segalanya.

Di saat seperti ini, aku menyadari kekuasaan Allah. Dan sekarang aku menunggu sebuah keajaiban Allah untukku untuk kesembuhan penyakit-penyakitku ini dan keajaiban pada jiwaku agar aku kuat menghadapi udara di luar sana. Dengan banyak orang dan berharap aku mampu bertahan dalam jalan yang benar tanpa berbelok ke arah yang salah.

Detik-detik aku menunggu, tak ingin rasanya waktuku sia-sia tanpa ada Allah dalam setiap denyut nadiku. Aku harap di luar sanapun nama Allah selalu ada dalam ingatanku sehingga aku mampu menjauhi kesalahan-kesalahan yang tidak disukai Allah.

Doaku dalam setiap detiknya "Ya Allah, Hanya Engkau Penolongku. Sembuhkanlah segala penyakit-penyakit hamba ini. Ya Allah, Engkaulah Pelindungku, lindungilah aku dari godaan syetan dimanapun aku berada. Ingat selalu hatiku agar selalu membasahi bibir ini dengan namaMu"

hari ini aku baru merasakan seperti yang pernah diceritakan oleh ayahku yaitu kita akan sangat dekat dengan Allah dalam keadaan sempit. Aku bangga pada ayahku. Dia berusaha untuk tidak bersenang-senang dengan segala tipu daya dunia agar senantiasa dekat dengan Allah.

ayah, semoga aku bisa sepertimu. Dan semoga ketika keajaiban Allah datang kepadaku aku tetap tidak terperdaya oleh pesona dunia ini.

Ya Allah, dalam Al quran engkau berkata. Aku dekat pada Hambaku. Jika hambaku merangkak menujuku aku akan berjalan menujunya, jika hambaku berjalan kepadaku aku akan berlari menujunya.

Ya Allah, sekarang aku berlari sangat kencang menujuMu. Berikanlah keajaibanMu untuk hamba.

Bismillahir rahmanir rahim. Kumulai hari ini dengan basmalah. Berkahilah segala kegiatan hamba hari ini Ya Allah.

Semoga hamba bisa menjadi hambaMu yang selalu dekat denganMu. Semoga hamba bisa membanggakan untuk kedua orang tua hamba dengan akhlak dan prestasi hamba. Dan hamba yakin Hanya Engkaulah yang mampu mengabulkan permohonan hamba.

Hamba hanya manusia lemah dan sangat bergantung kepadaMu.

Senin, 05 Maret 2012

matikah kejujuran dan keadilan negeriku??

aku sedih melihat negeriku seperti ini. Aku ingin berbuat sesuatu namun aku hanyalah gadis biasa. Tak mungkin pendapatku dipandang.

namaku zahra. Aku selalu ingin menangis melihat dunia yang sekarang ini. semua yang benar sekarang dianggap salah dan semua yang salah dianggap benar.

ketika aku selesai di tingkat SMA aku berniat untuk melanjutkannya di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal dan terpandang di negeriku ini.

Hari itu aku datang lebih awal dari calon mahasiswa lainnya. Dengan penuh semangat aku melangkahkan kaki ke ruang ujian. aku sudah berusaha dan berikhtiar kepada Allah. Hasilnya kuserahkan pada yang maha kuasa.

Semangatku tiba-tiba turun ketika ujian berlangsung dan aku mendengar percakapan calon mahasiswa dengan seorang pengawas.
pengawas : "kenapa dihapus terus jawabannya? Nanti kotor dan tidak terbaca"
calon mahasiswa : "bingung nih pak"
pengawas : "tenang aja, nanti di ruang sana di ganti jawaban yang benar. Yang penting jangan sampai kotor kertas ujiannya"

selesai ujian aku termenung. Begitu berharganya uang di zaman sekarang ini. Orang kaya enak punya uang. Sedangkan orang miskin?? Kejujuran dan keadilan dengan murahnya dibeli dengan uang.

Karena hal ini pula, aku berusaha bangkit. Aku tak ingin membiarkan ajaran agama yang dibawa Rasulullah dihapuskan. Walaupun aku tak mungkin bisa melaporkan hal itu namun aku mulai dari diriku sendiri. insya Allah hari ini kubangkitkan kembali ajaran Rasulullah. Dari diriku, kemudian kuajarkan kepada keluargaku dan teman-temanku.

dunia ini selain memandang uang juga memandang jabatan. Entah itu jabatan ayahnya atau sanak saudaranya.

Suatu hari aku ingin mengurus ktp. beberapa syarat telah kupenuhi sekarang tinggal menunggu di kantor kelurahan untuk di proses. Antrian masih banyak. Aku sabar menunggu. Kemudian aku melihat teman 1 kampusku yang ternyata ayahnya adalah pejabat terkenal di kota ini. Dengan mudahnya dia bisa mendapatkan ktp tanpa antri bersama kami yang dari tadi menunggu. Negeriku-negeriku.

Walaupun ku melihat hal seperti itu aku berusaha meyakinkan diriku kalau itu tidak benar. jangan sampai suatu hari aku melakukannya.

dunia sekarang terbalik. Aurat dimana-mana dibuka. pembunuhan kini merajalela, kemana hati nurani para pembunuh itu?. manusia kian hari kian berlomba-lomba mendapat nikmatnya dunia walau dengan cara apapun.

Teman-temanku, keluargaku, mari kita kembali ke jalan yang benar. Jalan yang dibawa oleh Rasulullah. Dunia ini hanya sementara. Setelah dunia akan ada akhirat. mari kita berjalan di bumi ini dengan hanya semata-mata mencari ridho Allah.

Minggu, 04 Maret 2012

Ayahku hebat

"ayahku hebat" itulah sandangan yang tepat untuk seorang ayah seperti beliau. Aku bangga padanya. Kali ini aku akan bercerita beberapa episode dalam hidup ayahku yang kusaksikan sendiri. terima kasih Ya Allah Engkau berikan kepadaku ayah hebat. Semoga dengan menjadikannya inspirasiku aku bisa menjadi lebih baik dan lebih dekat lagi denganMu,

episode 1. Ketika aku mendapat cobaan, hal yang pertama terus diingatkan kepadaku adalah hal utama dalam agama yaitu tauhidku kepada Allah. Ayahku selalu berkata "cerita sama Allah nak, minta sama Allah nak, cukup Allah saja". Namun ketika aku jauh dari ayah dan di telingaku selalu dibisikkan kata-kata "ceritalah pada orang yang kau percaya agar bebanmu lebih ringan". Dan orang yang satu-satunya yang kupercaya adalah ayahku. Kuceritakan padanya. Dan kembali ia mengingatkanku "nak, sama Allah dulu yah baru sama bapak. bapak juga ujung-ujungnya ke Allah meminta".

Episode 2. Ayah sangat sungguh-sungguh mencintai Rasulullah. Aku bisa berkata demikian karena beliau sangat berusaha mengikuti sunnahnya. Dimulai dari puasa senin-kamis, shalat dhuha, dan shalat malam. bahkan pada shalat malamnya, pernah aku melihat ia berdiri sangat lama. Keesokan harinya aku bertanya kepadanya, katanya Allah sangat menyukai seseorang yang shalat dan waktu berdirinya lama. Begitupun yang dilakukan oleh Rasulullah.

Episode 3. ayah berpesan "belajar di usia tua sangat sulit nak, jangan sia-siakan usia mudamu untuk menuntut ilmu". Aku kagum pada ayah. Walaupun umurnya telah lanjut dia tetap berusaha menghapal Al Quran. katanya ketika dia menghapal bisa diumpamakan menulis di atas batu. Begitu sulitnya namun ia terus berusaha.

Episode 4. ayah juga berpesan padaku agar menjauhi hal-hal yang membuatku lalai dari ALLAH. Misalnya tidak menonton sinetron. Karena zaman sekarang sinetronnya tidak memperhatikan syariat-syariat islam dan lebih mengangkat kehidupan orang-orang barat. Aku akui jika menonton sinetron pula setelah itu aku biasanya galau. Semoga pesan ayah bisa aku lakukan.

Masih banyak lagi episode yang ingin kuceritakan namun tak dapat ku tulis dalam tulisanku ini. 

Jumat, 02 Maret 2012

guruku

aku sangat sayang padanya. Dialah guruku. Dia menjadikan dirinya sebagai orangtuaku selama aku dalam lingkungan sekolah. Dia sangat perhatian dan selalu memberiku pelajaran penting yang bermanfaat untuk hidupku.

Sebut saja nama beliau adalah ibu Fatimah. Umurnya hampir sama dengan ibuku. Sekitar 40 tahunan. Dia mengajar pendidikan agama di tingkat sma. Dan dia juga wali kelasku. Aku sangat dekat dengannya. Bahkan ketika di luar lingkungan sekolahpun demikian.

Suatu pagi di hari senin, aku terlambat bangun karena semalaman tidak bisa tertidur. Ke sekolahpun terlambat, dan akhirnya aku di hukum berdiri di halaman depan sekolah sampai upacara selesai.

Ketika masuk di kelas, ternyata ibu fatimah tahu kalau pagi itu aku terlambat bangun. Jam istirahatpun dia mengajakku ngobrol. Dia tidak marah karena hal itu, itulah yang aku rasakan karena nada bicaranya selalu lembut kepada siapa saja. dia bertanya kepadaku kenapa pagi itu aku terlambat setelah itu dia memberikan saran kepadaku agar kejadian itu tidak terulang lagi.
"Rasulullah tidak menyukai orang yang begadang karena sesuatu hal yang sia-sia. Selain itu dari segi kesehatan juga tidak dianjurkan loh" ucapnya kepadaku

inilah yang aku sangat kagumi pada ibu guru yang satu ini. Bukan cuman pada diriku dia seperti ini tapi pada semua murid-muridnya. Dia tidak mau satupun muridnya mengalami masalah. Dia selalu memberikan solusi kepada kami dan yang pastinya dengan cara yang santun.

suatu hari, entah ada apa yang terjadi ibu Fatimah tidak masuk mengajar. Tidak biasanya dia seperti ini. Kamipun berusaha menghubunginya namun telponnya tidak di angkat. Karena khawatir kami semua menanyakan alamat rumah Ibu Fatimah pada sekertariat sekolah. Segera kami menuju ke tempat itu.

Tak pernah kami duga, rumah tempat tinggal Ibu Fatimah seperti ini. Sangat jauh dari kata layak. Kami sangat bersedih melihat rumah ibu guru kesayangan kami seperti ini. Kamipun mengetuk pintu rumah itu namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Tiba-tiba seorang lelaki tua datang menghampiri kami.
"cari siapa nak?"
"ini rumah ibu fatimahkan?"
"iyah betul"
"kalau boleh tahu ibu fatimah kemana?"
"kemarin dia di bawa ke puskesmas oleh anaknya, tapi entah kenapa sampai sekarang belum kembali"
"kalau boleh tahu puskesmasnya dimana pak?"
"depan gang ini nak"
"terima kasih kalau begitu pak"
"sama-sama nak"

kamipun segera ke puskesmas itu tapi disana ibu fatimah tidak ada. Perawat di puskesmas cuman mengatakan kalau kemarin kami sarankan ibu fatimah ke rumah sakit untuk memeriksakan diri karena peralatan disini tidak memadai. Namun dia tidak tahu rumah sakit mana ibu fatimah dan anaknya datangi.

Tidak mungkin kami mendatangi setiap rumah sakit di jakarta ini. Sangat banyak, oleh karena itu kamipun kembali ke rumah ibu fatimah dan menunggu sampai ibu fatimah datang.


Sudah 2 jam kami disini beliau tak kunjung datang. Tiba-tiba datang mobil ambulance. Mobil itu berhenti di depan rumah ibu fatimah. Keluarlah anaknya dengan air mata berlinangan kemudian sesosok ibu fatimahpun yang tidak bernyawa lagi dibawa masuk ke dalam rumah.

Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Tak pernah kami sangka kedatangan kami untuk melihat ibu fatimah hari itu menjadi kedatangan melayat ibu fatimah.

tak ada yang dapat kami lakukan dan kami ucapkan selain limpahan kesedihan atas kepergian guru kami tercinta itu. hanya doa yang terus kami lantunkan kepada beliau agar beliau dimudahkan dalam perjalanannya selanjutnya.

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian beliau namun doa terus terucap untuk pahlawan tanpa tanda jasa kami itu.

Aku tahu bahwa Ibu fatimah hanya tinggal di rumah itu berdua dengan anaknya yang sekarang seumur pula dengan kami. Kucoba mendatangi rumah ibu fatimah untuk melihat keadaan anaknya itu yang sekarang hanya sendiri.

"assalamu alaikum"
"waalaikum salam"
setelah dia membukakan pintu dan mempersilahkanku duduk kamipun melanjutkan berbicara banyak hal.

hatiku mulai bergetar kembali mengingat ibu fatimah setelah anaknya menceritakan pengorbanannya. Ingin rasanya menangis tapi ibu fatimah pernah memberitahuku jika kita tidak boleh terlalu bersedih karena kehilangan seseorang. Itu hanya akan menyiksa mayit tersebut.

"ibuku adalah malaikat dari Allah. Ayahku meninggal ketika aku masih bayi. Semenjak itu ibu membesarkanku sendiri. beliau menjadi seorang guru bukan karena semata-mata ingin mencari penghasilan untuk hidup kami tapi hatinya tergerak agar dapat menjadi pembimbing anak muda zaman sekarang dengan memberikan modal iman dan takwa. Gajinya memang tidak cukup untuk menghidupiku. Belum lagi rumah yang kami kontrak, kehidupan sehari-hari, dan biaya sekolahku. Karena itu pula, setelah pulang sekolah dia melanjutkan bekerja di sebuah toko menjaga di sana sampai tengah malam. Aku sangat ingin membantu beliau namun ibu melarangku untuk bekerja. Beliau hanya terus berkata kalau aku berkewajiban untuk menuntut ilmu dan berbakti sementara orang tua adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Beliau selalu berkata kalau suatu hari nanti setelah kewajiban ibu selesai menyekolahkanku, tiba giliran anak itu yang menafkahkan orang tuanya. Sampai suatu hari dia kelelahan karena bekerja hampir 24 jam. Hari itu, aku baru melihat ibu selelah itu, awalnya ia tidak mau aku bawa ke rumah sakit namun akhirnya ia setuju. Di rumah sakit aku tak pernah menyangka dokter berkata seperti itu. Ibu ternyata sudah dari dulu sakit. Sakitnya diperparah karena kelelahan sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit itu. 3 hari setelah ibu meninggal, datang ketua RT di kampung ini. Dia datang membawa buku tabanas ibu. pak RT mengatakan kalau buku tabanas ini harus bapak berikan kepadamu ketika 3 hari selah beliau meninggal. ternyata dari dulu dia juga telah menabung mempersiapkan biaya hidupku kelak setelah dia pergi. ibuku adalah seorang wonderwoman untukku."

Ya Allah, tak pernah hamba bosan-bosannya mengirimkan doa untuk ibu Fatimah. Beliau adalah sosok inspirasi hidupku. Semoga kerja keras beliau dan sikap lembut beliau tumbuh pada murid-muridnya pula. Semoga kami semua bisa menjadi seperti beliau.

@rahmisyam

Sabtu, 25 Februari 2012

jatuh bangun = bangkit

"aku prihatin dengan bumi ini. Allah memberikan kita amanah untuk menjaganya namun kita malah merusaknya."

namaku Dijah. sekarang aku duduk di bangku SMP kelas 1. Itulah sebabnya aku masih sering dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa oleh semua orang di lingkunganku.

Aku sekolah di salah satu sekolah menengah negeri di Jakarta yang tidak jauh dari rumahku. Aku berasal dari sebuah desa terpencil di Indonesia. Ibu dan ayahku ke jakarta mengajakku mengadu nasib mencari uang untuk kehidupan kami sekeluarga. Walaupun kami miskin tapi kami bahagia dengan hidup kami.

Di Jakarta kami mengontrak sebuah rumah kecil yang terdapat di sebuah gang kecil. Tak kupingkiri kalau daerah tempat kami ini dipenuhi dengan sampah bahkan kali di depan jalan raya dekat kontrakan kami warnanya sudah berubah menjadi hitam dipenuhi pula dengan sampah.

Aku tak tahu siapa yang harus disalahkan dalam hal ini. Yang perlu diketahui adalah untuk menanggulangi adalah berawal dari kesadaran kita sendiri. Jangan sampai kita hanya menyalahkan orang lain sedangkan kita sendiri belum bisa.

Tak kunjung ayah mendapatkan pekerjaan kantoran. Walaupun setiap hari berangkat pagi-pagi berpakaian rapi untuk melamar pekerjaan di Jakarta. sambil menunggu ayah mendapat pekerjaan ibu berinisiatif menjadi penyapu jalanan. Aku tak mungkin tega melihat ibuku sendiri menanggung beban keluarga. Aku putuskan pula untuk ikut menjadi penyapu jalanan setelah aku pulang sekolah.

Aku dan ibu mulai bekerja di siang hari sampai waktu magrib. Di jalan itu, aku kadang merasa jengkel melihat orang-orang yang dengan seenaknya saja membuang sampah sembarangan.
"bu, orang itu buang sampah sembarangan"
"nanti kita aja yang memungut sampahnya nak"

ibu selalu begitu. Sabar dalam segala hal. Tapi kalau begini terus bisa-bisa jumlah sampah akan terus bertambah di jalanan.

Keesokan harinya di sekolahku sedang diadakan kerja bakti dan kita juga diberikan pengarahan mengelola sampah organik dan anorganik. siang hari itu juga aku memberitahu kepada ibu tentang pengarahan yang diberikan di sekolah.

Tanpa takut lagi ketika ada orang yang membuang sampahnya di jalanan aku langsung memberitahunya dengan baik-baik
"maaf mas, sampah ini sebaiknya di buang di tempatnya. Kalau di buang sembarangankan kota tercinta kita inikan jadi kotor."
alhamdulillah, masnya tidak marah karena aku memberitahukannya seperti itu.

Keesokan harinya di saat aku sedang memisahkan sampah basah dan sampah kering tiba-tiba ada yang menghampiriku.
"nak, kenapa mesti dipisahkan sampah-sampah ini!"
"di sekolah saya diajarkan untuk memisahkannya, sampah inikan berlainan jenis. Ini juga agar mempermudah proses pemanfaatannya."
"emank sampah ini masih bisa dimanfaatkan nak?"
"iyah, sampah keringkan seperti bungkus indomie ini bisa dijadikan barang brguna seperti tas belanja, dompet, dan lain-lain. Sedangkan sampah basah bisa jadi kompos"
"eh bisnya udah datang, makasih yah nak informasinya"
"sama-sama pak"


beberapa menit kemudian kamipun selesai menyapu jalanan dan segera kembali ke rumah. Sampai di rumah ayah membawa sebuah kejutan.
"kejutan, sekarang ayah dapat kerjaan"
"alhamdulillah, kerja dimana ayah?"
"ayah bekerja di bengkel nak"
"selamat ayah"

keesokan harinya, ayah sudah mulai bekerja. Sebelum berangkat ke bengkel ayah mengantarku ke sekolah. Sebulan rutinitas itu kami jalani setiap paginya.

Sampai suatu hari, ayah tak pulang-pulang. Terpaksa aku harus sendiri berangkat ke sekolah. malam hari ayah baru pulang, dan ayah sepertinya sedang mabuk. Mulutnya bau alkohol dan kelakuannya sangat mengerikan.
Keesokan harinya ketika ayah sudah bangun, aku beranikan diri bertanya
"ayah, lagi sibuk yah di bengkel? Kok kemarin tidak pulang ke rumah"
"iyah, bengkel lagi sibuk" dijawabnya dengan sangat singkat.
Tak seperti biasanya ayah.

"ibu, kok ayah gitu sih?"
"sabar nak, mungkin ayah lagi sibuk"
kesekian kalinya ibu selalu bersabar atas takdir kehidupan kami.

malam harinya ayah pulang dengan bau alkohol di mulutnya. Aku pura-pura tidur di kamar namun sebenarnya aku ingin tahu ada apa yang terjadi. Kudengar ibu dengan sabar menghadapi ayah namun ayah telah berubah. Ayah terus memarahi ibu karena banyak bertanya.

Keesokan harinya, ketika ayah berangkat kerja aku mengikutinya tanpa ayah sadari. Aku melihat ayah bekerja di bengkel seperti yang dikatakannya. aku heran apa yang mengubah ayah makanya aku tetap mengikutinya. sebentar lagi istirahat makan siang. ayahpun makan siang bersama-sama temannya. Dan apa yang kulihat saat itu adalah teman-teman ayah merokok kemudian memberikan rokok itu kepada ayah. Ayah yang kutau tak pernah menyentuh rokok tapi sekarang?. Setelah makan siang mereka kembali kerja. Dan pulang kerja ayah tak langsung pulang ke rumah. Dia ke sebuah tempat bersama teman-temannya. Aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya. Kucoba mengintip dan ternyata ayah minum-minuman keras  sambil bermain judi. aku langsung pulang setelah melihat itu. Dalam perjalanan aku menangis, kenapa ayahku menjadi seperti itu.

"darimana nak? Kok baru pulang"
"dari rumah teman bu" ucapku pada ibu yang begitu sabar menghadapi aku dan ayah

tiba-tiba ayah datang, masih dalam keadaan mabuk. Ketika ibu sedang masak di dapur aku menghampiri ayah di kamar.
"ayah kenapa begini" airmatakupun berlinang seiiring ku berbicara pada ayah
"ayah tak usah bohong, aku tahu apa yang ayah lakukan ketika makan siang dan setelah pulang kerja"
aku sangat tidak menyangka, ayahku seketika menamparku dan berkata kalau aku anak tak tahu diri.

Ternyata ibu daritadi berdiri di depan pintu kamar. Ibu menangis karena kelakuan ayah yang seperti itu. Ibu kemudian menghiburku dan mengajakku makan di luar.

"nak, kamu benar tadi melihat ayah seperti itu"
"maaf bu, aku sudah berbohong tadi. Apa yang harus kita lakukan pada ayah bu?"
"entahlah nak, kita bersabar saja"

selesai makan, aku dan ibu kembali ke rumah dan di rumah sudah tidak ada lagi ayah. Barang-barang ayah semuanya di bawa. Ayah meninggalkan kami. Mulai saat itu aku berjanji untuk membahagiakan ibuku. Aku tak ingin ada lagi yang menyakiti ibu.

Pulang sekolah aku bekerja di sebuah toko. Aku bekerja paruh waktu dan ibu kembali bekerja menjadi penyapu jalanan. Walaupun kami hidup seperti itu tapi kami bahagia karena kami saling mencintai. Ibu selalu berusaha mengerti aku dan akupun demikian.

Setahun kemudian, aku membuka uang tabunganku hasil jerih payah yang selama ini kusisihkan. alhamdulillah cukup untuk kujadikan modal usaha sepatu unik dan tas unik. aku juga bekerja sama dengan beberapa toko di mall untuk memasarkan produkku. Penghasilan tambahanku lumayan.

Sekarang ibu tidak bekerja lagi sebagai penyapu jalanan. Aku mencoba ibu untuk menjadi pengusaha kue pula. Alhamdulillah masyarakat sekitar suka dengan kue ibu.

Dari cerita hidupku ini, aku hanya ingin berbagi kepada kalian bahwa dibalik keterpurukan kita masih bisa bangkit. Dengan kerja keras dan ridho Allah, insya Allah semuanya akan indah.

@rahmisyam
 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez