Kamis, 22 Agustus 2013
Rabu, 21 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Sabtu, 17 Agustus 2013
Umar bin Khattab
Sebagai seorang Khalifah, Umar bin Khattab terkenal sangat tegas dan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran. Dia menghukum semua pelaku pelanggaran tanpa pandang bulu, termasuk putranya sendiri, Abdurrahman.
Abdurrahman merupakan salah satu putra Umar yang tinggal di Mesir. Dia telah melakukan pelanggaran dengan meminum khamr bersama dengan temannya hingga mabuk.
Abdurrahman kemudian menghadap ke Gubernur Mesir waktu itu, Amr bin Ash, meminta agar dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. Amr bin Ash pun menghukum Abdurahman dan temannya dengan hukuman cambuk.
Tetapi, Amr bin Ash ternyata memberikan perlakuan yang berbeda. Jika teman Abdurrahman dihukum di hadapan umum, maka si putra Khalifah ini dihukum di ruang tengah rumahnya.
Umar bin Khattab pun mendengar kabar itu. Dia kemudian mengirim surat kepada Amr bin Ash agar memerintahkan Abdurrahman kembali ke Madinah dengan membungkuk, dengan maksud agar si anak dapat merasakan bagaimana menempuh perjalanan dengan kondisi yang sulit.
Amr bin Ash kemudian melaksanakan isi surat itu dan mengirim kembali surat balasan yang berisi permohonan maaf karena telah menghukum Abdurrahman tidak di hadapan umum. Umar tidak mau menerima cara itu.
Mendapat perintah itu, Abdurrahman kemudian kembali ke Madinah sesuai perintah, yaitu dengan berjalan membungkuk. Dia begitu kelelahan ketika sampai di Madinah.
Tanpa memperhatikan kondisi putranya, Umar bin Khattab langsung menyuruh algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk kepada putranya. Seorang sahabat sepuh, Abdurrahman bin Auf pun mengingatkan agar Umar tak melakukan hal itu.
"Wahai Amirul Mukminin, Abdurrahman telah menjalani hukumannya di Mesir. Apakah perlu diulangi lagi?" kata Abdurrahman bin Auf.
Umar pun tidak mau menghiraukan perkataan Abdurrahman bin Auf. Dia meminta Algojo segera melaksanakan penghukuman itu.
Kemudian, Umar mengingatkan kepada seluruh kaum muslim akan hadis Rasulullah tentang kewajiban menegakkan hukum, "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena apabila di antara mereka ada orang besar bersalah, dibiarkannya, tetapi jika orang kecil yang bersalah, dia dijatuhi hukuman seberat-beratnya."
Abdurrahman lalu dicambuk berkali-kali di hadapan Umar. Dia pun meronta-ronta meminta tolong agar ayahnya mengurangi hukuman itu, tetapi Umar sama sekali tidak menghiraukan.
Bahkan, teriakan Abdurrahman semakin menjadi, dan mengatakan, "Ayah membunuh saya." Sekali lagi, Umar tidak menghiraukan perkataan anaknya.
Hukuman itu terus dijalankan sampai Abdurrahman dalam kondisi sangat kritis. Melihat hal itu, Umar hanya berkata, "Jika kau bertemu Rasulullah SAW, beritahukan bahwa ayahmu melaksanakan hukuman."
Akhirnya, Abdurrahman pun meninggal dalam hukuman. Umar sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Usai hukuman terhadap Abdurrahman dijalankan, Umar melakukan pelacakan terhadap siapa saja penyebar khamr. Tidak hanya peminum, bahkan sampai penjual khamr pun mendapat hukuman yang berat.
Abdurrahman merupakan salah satu putra Umar yang tinggal di Mesir. Dia telah melakukan pelanggaran dengan meminum khamr bersama dengan temannya hingga mabuk.
Abdurrahman kemudian menghadap ke Gubernur Mesir waktu itu, Amr bin Ash, meminta agar dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. Amr bin Ash pun menghukum Abdurahman dan temannya dengan hukuman cambuk.
Tetapi, Amr bin Ash ternyata memberikan perlakuan yang berbeda. Jika teman Abdurrahman dihukum di hadapan umum, maka si putra Khalifah ini dihukum di ruang tengah rumahnya.
Umar bin Khattab pun mendengar kabar itu. Dia kemudian mengirim surat kepada Amr bin Ash agar memerintahkan Abdurrahman kembali ke Madinah dengan membungkuk, dengan maksud agar si anak dapat merasakan bagaimana menempuh perjalanan dengan kondisi yang sulit.
Amr bin Ash kemudian melaksanakan isi surat itu dan mengirim kembali surat balasan yang berisi permohonan maaf karena telah menghukum Abdurrahman tidak di hadapan umum. Umar tidak mau menerima cara itu.
Mendapat perintah itu, Abdurrahman kemudian kembali ke Madinah sesuai perintah, yaitu dengan berjalan membungkuk. Dia begitu kelelahan ketika sampai di Madinah.
Tanpa memperhatikan kondisi putranya, Umar bin Khattab langsung menyuruh algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk kepada putranya. Seorang sahabat sepuh, Abdurrahman bin Auf pun mengingatkan agar Umar tak melakukan hal itu.
"Wahai Amirul Mukminin, Abdurrahman telah menjalani hukumannya di Mesir. Apakah perlu diulangi lagi?" kata Abdurrahman bin Auf.
Umar pun tidak mau menghiraukan perkataan Abdurrahman bin Auf. Dia meminta Algojo segera melaksanakan penghukuman itu.
Kemudian, Umar mengingatkan kepada seluruh kaum muslim akan hadis Rasulullah tentang kewajiban menegakkan hukum, "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena apabila di antara mereka ada orang besar bersalah, dibiarkannya, tetapi jika orang kecil yang bersalah, dia dijatuhi hukuman seberat-beratnya."
Abdurrahman lalu dicambuk berkali-kali di hadapan Umar. Dia pun meronta-ronta meminta tolong agar ayahnya mengurangi hukuman itu, tetapi Umar sama sekali tidak menghiraukan.
Bahkan, teriakan Abdurrahman semakin menjadi, dan mengatakan, "Ayah membunuh saya." Sekali lagi, Umar tidak menghiraukan perkataan anaknya.
Hukuman itu terus dijalankan sampai Abdurrahman dalam kondisi sangat kritis. Melihat hal itu, Umar hanya berkata, "Jika kau bertemu Rasulullah SAW, beritahukan bahwa ayahmu melaksanakan hukuman."
Akhirnya, Abdurrahman pun meninggal dalam hukuman. Umar sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Usai hukuman terhadap Abdurrahman dijalankan, Umar melakukan pelacakan terhadap siapa saja penyebar khamr. Tidak hanya peminum, bahkan sampai penjual khamr pun mendapat hukuman yang berat.
(Disarikan dari buku 'Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam' Nasiruddin)
Al-Barra bin Azib Al-Ausi Al-Anshari
Al-Barra masuk Islam tatkala masih anak-anak, ketika Nabi SAW belum melak-sanakan hijrah ke Madinah. Makanya, Nabi menolaknya ketika ia mengajukan diri untuk ikut maju dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Ya, walau masih kecil, Al-Barra sudah memiliki nyali yang besar dan berjiwa pemberani. Ia baru diizinkan ikut maju dalam perang, yakni dalam Perang Khandaq, setelah dewasa. Perang Khandaq (Perang Parit) terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah.
Al-Barra dibesarkan dalam keluarga Azib, yang sudah menjadi sahabat Nabi, sehingga ia terbentuk dalam didikan keislaman yang kuat.
Dalam lima tahun, Al-Barra sempat ikut dalam 15 pertempuran di bawah pimpinan Rasulullah langsung.
Al-Barra dikaruniai umur panjang. Kiprahnya di masa Abu Bakar Shiddiq juga sangat memukau. Di bawah komando khalifah pertama itu, ia ikut bertempur menghadapi kaum murtadin, yang banyak bermunculan sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Ketika itu juga banyak orang mengaku sebagai nabi, sehingga harus diperangi, karena dapat memurtadkan kaum muslimin yang tingkat keimanannya masih labil.
Selanjutnya Al-Barra juga ikut dalam penaklukan Irak dan Syam, yang menjadi bagian imperium Romawi Timur, dengan ibu kotanya Bizantium. Ia pun ikut dalam penaklukan kota Tustur, yang tergolong kota terbesar di wilayah Balukhistan, di bawah komando Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Barra juga memimpin perang dalam penaklukan Dasbuti Ar-Razi, sebuah wilayah besar yang mencakup hampir 90 desa.
Kariernya terus meningkat, ia ditunjuk memimpin wilayah Qazwin ketika Al-Mughirah bin Syu’bah menjadi gubernur di Kufah. Penghuni Qazwin tidak melakukan perlawanan sama sekali ketika tentara yang dipimpinnya memasuki kota itu. Mereka mengajak berdamai.
Qazwin memang dijadikan sasaran utama kaum muslimin, karena di sana ada benteng pertahanan yang kokoh. Namun sebelum mencapai Qazwin, tentara yang dipimpin Al-Barra harus melewati Dailam, terus ke kota Abhar, sehingga pertempuran pun tak terelakkan.
Tanpa dinyana, musuh di Dailam minta berdamai dan jaminan keamanan. Tentu saja hal itu diterima oleh Al-Barra. Ditambah lagi, ia masih harus memusatkan perhatiannya kepada Qazwin.
Ketika tiba waktunya untuk menyerang Qazwin, Al-Barra, yang berencana akan mengepung benteng Qazwin, mendapat informasi bahwa penguasa di sana minta bantuan kepada Persia. Rupanya nyali mereka sudah ciut menghadapi pasukan Islam, sehingga ketika bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang, meski telah disepakati, dan tentara Islam ternyata telah berada di depan mata, tanpa pikir panjang lagi mereka mengajukan permintaan damai.
Al-Barra menyambut baik permintaan damai itu, karena itu berarti kemenangan dan penghematan tenaga yang sangat berarti. Tugas tentara Islam masih akan terus berdatangan, meski dengan komandan yang berbeda.
Medan pertempuran yang dihadapi kali itu lain sama sekali, yaitu pegunungan dan ngarai yang belum pernah mereka kenal. Namun demikian tentara yang dipimpin Al-Barra mampu menaklukkan wilayah Khabilan dan Zanjan, meski dengan kekerasan.
Setelah itu Al-Barra memutuskan membawa keluarganya menetap di Kufah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab.
Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ia ikut terlibat dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin, memerangi kelompok Khawarij, yang membangkang kepada Khalifah.
Al-Barra meriwayatkan 305 hadits Nabi SAW. Ia menerima riwayat dari ayahnya, dari Khalifah Abu Bakar dan Umar, serta dari sahabat senior dan yunior.
Selain kuat imannya, ia juga dikenal amat dermawan, bijak, jujur, dan terpercaya. Ia hidup dalam naungan Islam yang agung.
Walau wafat tidak di medan pertempuran, perjuangan hidupnya meninggalkan keteladanan seorang mujahid yang penuh keberanian.
Semoga Allah meridhai perjuangannya. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamis, 22 Agustus 2013
Rabu, 21 Agustus 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Sabtu, 17 Agustus 2013
Umar bin Khattab
Sebagai seorang Khalifah, Umar bin Khattab terkenal sangat tegas dan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran. Dia menghukum semua pelaku pelanggaran tanpa pandang bulu, termasuk putranya sendiri, Abdurrahman.
Abdurrahman merupakan salah satu putra Umar yang tinggal di Mesir. Dia telah melakukan pelanggaran dengan meminum khamr bersama dengan temannya hingga mabuk.
Abdurrahman kemudian menghadap ke Gubernur Mesir waktu itu, Amr bin Ash, meminta agar dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. Amr bin Ash pun menghukum Abdurahman dan temannya dengan hukuman cambuk.
Tetapi, Amr bin Ash ternyata memberikan perlakuan yang berbeda. Jika teman Abdurrahman dihukum di hadapan umum, maka si putra Khalifah ini dihukum di ruang tengah rumahnya.
Umar bin Khattab pun mendengar kabar itu. Dia kemudian mengirim surat kepada Amr bin Ash agar memerintahkan Abdurrahman kembali ke Madinah dengan membungkuk, dengan maksud agar si anak dapat merasakan bagaimana menempuh perjalanan dengan kondisi yang sulit.
Amr bin Ash kemudian melaksanakan isi surat itu dan mengirim kembali surat balasan yang berisi permohonan maaf karena telah menghukum Abdurrahman tidak di hadapan umum. Umar tidak mau menerima cara itu.
Mendapat perintah itu, Abdurrahman kemudian kembali ke Madinah sesuai perintah, yaitu dengan berjalan membungkuk. Dia begitu kelelahan ketika sampai di Madinah.
Tanpa memperhatikan kondisi putranya, Umar bin Khattab langsung menyuruh algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk kepada putranya. Seorang sahabat sepuh, Abdurrahman bin Auf pun mengingatkan agar Umar tak melakukan hal itu.
"Wahai Amirul Mukminin, Abdurrahman telah menjalani hukumannya di Mesir. Apakah perlu diulangi lagi?" kata Abdurrahman bin Auf.
Umar pun tidak mau menghiraukan perkataan Abdurrahman bin Auf. Dia meminta Algojo segera melaksanakan penghukuman itu.
Kemudian, Umar mengingatkan kepada seluruh kaum muslim akan hadis Rasulullah tentang kewajiban menegakkan hukum, "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena apabila di antara mereka ada orang besar bersalah, dibiarkannya, tetapi jika orang kecil yang bersalah, dia dijatuhi hukuman seberat-beratnya."
Abdurrahman lalu dicambuk berkali-kali di hadapan Umar. Dia pun meronta-ronta meminta tolong agar ayahnya mengurangi hukuman itu, tetapi Umar sama sekali tidak menghiraukan.
Bahkan, teriakan Abdurrahman semakin menjadi, dan mengatakan, "Ayah membunuh saya." Sekali lagi, Umar tidak menghiraukan perkataan anaknya.
Hukuman itu terus dijalankan sampai Abdurrahman dalam kondisi sangat kritis. Melihat hal itu, Umar hanya berkata, "Jika kau bertemu Rasulullah SAW, beritahukan bahwa ayahmu melaksanakan hukuman."
Akhirnya, Abdurrahman pun meninggal dalam hukuman. Umar sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Usai hukuman terhadap Abdurrahman dijalankan, Umar melakukan pelacakan terhadap siapa saja penyebar khamr. Tidak hanya peminum, bahkan sampai penjual khamr pun mendapat hukuman yang berat.
Abdurrahman merupakan salah satu putra Umar yang tinggal di Mesir. Dia telah melakukan pelanggaran dengan meminum khamr bersama dengan temannya hingga mabuk.
Abdurrahman kemudian menghadap ke Gubernur Mesir waktu itu, Amr bin Ash, meminta agar dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. Amr bin Ash pun menghukum Abdurahman dan temannya dengan hukuman cambuk.
Tetapi, Amr bin Ash ternyata memberikan perlakuan yang berbeda. Jika teman Abdurrahman dihukum di hadapan umum, maka si putra Khalifah ini dihukum di ruang tengah rumahnya.
Umar bin Khattab pun mendengar kabar itu. Dia kemudian mengirim surat kepada Amr bin Ash agar memerintahkan Abdurrahman kembali ke Madinah dengan membungkuk, dengan maksud agar si anak dapat merasakan bagaimana menempuh perjalanan dengan kondisi yang sulit.
Amr bin Ash kemudian melaksanakan isi surat itu dan mengirim kembali surat balasan yang berisi permohonan maaf karena telah menghukum Abdurrahman tidak di hadapan umum. Umar tidak mau menerima cara itu.
Mendapat perintah itu, Abdurrahman kemudian kembali ke Madinah sesuai perintah, yaitu dengan berjalan membungkuk. Dia begitu kelelahan ketika sampai di Madinah.
Tanpa memperhatikan kondisi putranya, Umar bin Khattab langsung menyuruh algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk kepada putranya. Seorang sahabat sepuh, Abdurrahman bin Auf pun mengingatkan agar Umar tak melakukan hal itu.
"Wahai Amirul Mukminin, Abdurrahman telah menjalani hukumannya di Mesir. Apakah perlu diulangi lagi?" kata Abdurrahman bin Auf.
Umar pun tidak mau menghiraukan perkataan Abdurrahman bin Auf. Dia meminta Algojo segera melaksanakan penghukuman itu.
Kemudian, Umar mengingatkan kepada seluruh kaum muslim akan hadis Rasulullah tentang kewajiban menegakkan hukum, "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena apabila di antara mereka ada orang besar bersalah, dibiarkannya, tetapi jika orang kecil yang bersalah, dia dijatuhi hukuman seberat-beratnya."
Abdurrahman lalu dicambuk berkali-kali di hadapan Umar. Dia pun meronta-ronta meminta tolong agar ayahnya mengurangi hukuman itu, tetapi Umar sama sekali tidak menghiraukan.
Bahkan, teriakan Abdurrahman semakin menjadi, dan mengatakan, "Ayah membunuh saya." Sekali lagi, Umar tidak menghiraukan perkataan anaknya.
Hukuman itu terus dijalankan sampai Abdurrahman dalam kondisi sangat kritis. Melihat hal itu, Umar hanya berkata, "Jika kau bertemu Rasulullah SAW, beritahukan bahwa ayahmu melaksanakan hukuman."
Akhirnya, Abdurrahman pun meninggal dalam hukuman. Umar sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Usai hukuman terhadap Abdurrahman dijalankan, Umar melakukan pelacakan terhadap siapa saja penyebar khamr. Tidak hanya peminum, bahkan sampai penjual khamr pun mendapat hukuman yang berat.
(Disarikan dari buku 'Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam' Nasiruddin)
Al-Barra bin Azib Al-Ausi Al-Anshari
Al-Barra masuk Islam tatkala masih anak-anak, ketika Nabi SAW belum melak-sanakan hijrah ke Madinah. Makanya, Nabi menolaknya ketika ia mengajukan diri untuk ikut maju dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Ya, walau masih kecil, Al-Barra sudah memiliki nyali yang besar dan berjiwa pemberani. Ia baru diizinkan ikut maju dalam perang, yakni dalam Perang Khandaq, setelah dewasa. Perang Khandaq (Perang Parit) terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah.
Al-Barra dibesarkan dalam keluarga Azib, yang sudah menjadi sahabat Nabi, sehingga ia terbentuk dalam didikan keislaman yang kuat.
Dalam lima tahun, Al-Barra sempat ikut dalam 15 pertempuran di bawah pimpinan Rasulullah langsung.
Al-Barra dikaruniai umur panjang. Kiprahnya di masa Abu Bakar Shiddiq juga sangat memukau. Di bawah komando khalifah pertama itu, ia ikut bertempur menghadapi kaum murtadin, yang banyak bermunculan sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Ketika itu juga banyak orang mengaku sebagai nabi, sehingga harus diperangi, karena dapat memurtadkan kaum muslimin yang tingkat keimanannya masih labil.
Selanjutnya Al-Barra juga ikut dalam penaklukan Irak dan Syam, yang menjadi bagian imperium Romawi Timur, dengan ibu kotanya Bizantium. Ia pun ikut dalam penaklukan kota Tustur, yang tergolong kota terbesar di wilayah Balukhistan, di bawah komando Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Barra juga memimpin perang dalam penaklukan Dasbuti Ar-Razi, sebuah wilayah besar yang mencakup hampir 90 desa.
Kariernya terus meningkat, ia ditunjuk memimpin wilayah Qazwin ketika Al-Mughirah bin Syu’bah menjadi gubernur di Kufah. Penghuni Qazwin tidak melakukan perlawanan sama sekali ketika tentara yang dipimpinnya memasuki kota itu. Mereka mengajak berdamai.
Qazwin memang dijadikan sasaran utama kaum muslimin, karena di sana ada benteng pertahanan yang kokoh. Namun sebelum mencapai Qazwin, tentara yang dipimpin Al-Barra harus melewati Dailam, terus ke kota Abhar, sehingga pertempuran pun tak terelakkan.
Tanpa dinyana, musuh di Dailam minta berdamai dan jaminan keamanan. Tentu saja hal itu diterima oleh Al-Barra. Ditambah lagi, ia masih harus memusatkan perhatiannya kepada Qazwin.
Ketika tiba waktunya untuk menyerang Qazwin, Al-Barra, yang berencana akan mengepung benteng Qazwin, mendapat informasi bahwa penguasa di sana minta bantuan kepada Persia. Rupanya nyali mereka sudah ciut menghadapi pasukan Islam, sehingga ketika bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang, meski telah disepakati, dan tentara Islam ternyata telah berada di depan mata, tanpa pikir panjang lagi mereka mengajukan permintaan damai.
Al-Barra menyambut baik permintaan damai itu, karena itu berarti kemenangan dan penghematan tenaga yang sangat berarti. Tugas tentara Islam masih akan terus berdatangan, meski dengan komandan yang berbeda.
Medan pertempuran yang dihadapi kali itu lain sama sekali, yaitu pegunungan dan ngarai yang belum pernah mereka kenal. Namun demikian tentara yang dipimpin Al-Barra mampu menaklukkan wilayah Khabilan dan Zanjan, meski dengan kekerasan.
Setelah itu Al-Barra memutuskan membawa keluarganya menetap di Kufah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab.
Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ia ikut terlibat dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin, memerangi kelompok Khawarij, yang membangkang kepada Khalifah.
Al-Barra meriwayatkan 305 hadits Nabi SAW. Ia menerima riwayat dari ayahnya, dari Khalifah Abu Bakar dan Umar, serta dari sahabat senior dan yunior.
Selain kuat imannya, ia juga dikenal amat dermawan, bijak, jujur, dan terpercaya. Ia hidup dalam naungan Islam yang agung.
Walau wafat tidak di medan pertempuran, perjuangan hidupnya meninggalkan keteladanan seorang mujahid yang penuh keberanian.
Semoga Allah meridhai perjuangannya. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)





