Sabtu, 17 Agustus 2013

Utsman bin Affan

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 19.50
Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf bin Qushai al-Qurasyi al-Umawi. Menurut pendapat yang benar, beliau dilahirkan di Thaif 6 tahun setelah tahun gajah sekitar tahun 576 M. Beliau diangkat menjadi khalifah 3 hari setelah jenazah ‘Umar bin al-Khaththab dimakamkan.
Beliau berkunyah (gelar) “Abu Abdillah,” beristrikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum putri Rasulullah, oleh karena itu beliau digelari “Dzunnurain”. Beliau mempunyai 16 anak, 9 laki-laki dan 7 perempuan. (Tarikh al-Umam wal-Muluk, ath-Thabari Juz 2, hal. 692, Taarikh al-Khulafa, as Suyuthi, hal.119 )
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh khalifah Utsman. Beliau adalah sosok yang suka sekali berderma dan berinfak untuk kepentingan kaum muslimin dalam jihad fii sabilillah (di jalan Allah). Kisah kedermawanan beliau sangat banyak. Berikut kami sebutkan sebagian saja, yaitu;
1. Membeli Sumur Rumah
Tatkala rombongan kaum Muhajirin sampai di Madinah, mereka sangat membutuhkan air. Di sana terdapat mata air yang disebut sumur rumah milik seorang laki-laki dari bani Ghifar. Laki-laki itu biasa menjual satu qirbah (kantong dari kulit) air dengan satu mud makanan. Melihat hal ini, Rasulullah bertanya kepadanya, “Sudikah kamu menjualnya dengan ganti satu mata air di Surga?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya apa-apa lagi selain sumber air ini. Dan aku tidak bisa menjualnya memenuhi permintaan Anda.”
Pembicaraan tersebut didengar Utsman bin Affan. Tidak lama kemudian, ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham. Selanjutnya, dia menemui Nabi dan bertanya, “Akankah aku mendapatkan mata air di Surga seperti yang engkau janjikan kepada laki-laki dari bani Ghifar tadi?” Beliau menjawab, “Tentu” Utsman pun berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang membelinya, dan aku mewakafkan untuk kaum muslimin” (Siyar A’lamin Nubala, II/569)
2. Mendanai pasukan al-Usrah (Pasukan al-Usrah adalah pasukan kaum muslimin yang dipersiapkan Rasulullah untuk menyerang pasukan Romawi di Tabuk-red)
“Abdurrahman bin Samurah bercerita, suatu ketika Utsman bin Affan menemui Nabi dengan mambawa seribu dinar di dalam baju, dan saat itu beliau sedang mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Perang Tabuk, lalu ia meletakkan uang dinar tersebut di pangkuan Rasulullah. Beliau lantas membolak-balikkan dinar-dinar itu dengan tangannya, seraya bersabda, “Setelah hari ini, apa pun yang dilakukan Utsman tidak membahayakan dirinya (di akhirat)” (HR. at-Tirmidzi, no. 3701)
Khalid bin Sufwan menuturkan dari al-Hasan al Bashri, ia menyatakan, “Utsman bin Affan menyiapkan 750 ekor unta dan 50 ekor kuda guna menghadapi Perang tabuk.” (Siyar A’lamin Nubala, II/569)
3. Membebaskan dan memerdekakan hamba Sahaya
Dari Abu Tsaur al-Fahmi, ia pernah menemui Utsman bin Affan pada suatu hari. Utsman berkata, “Aku mengharapkan Rabbku; (1) Aku adalah orang keempat dari empat orang pertama yang masuk Islam ; (2) Aku tidak pernah berdusta (3) Aku tidak mengharapkan dunia dan mendambakannya (4) Setelah berbaiat di hadapan Rasulullah, aku tidak pernah meletakkan tangan kananku di kemaluanku (5) Sejak memeluk Islam, aku tidak pernah melewatkan satu jum’at pun tanpa membebaskan seorang budak (hamba sahaya) (6) Jika pada hari Jum’at itu aku tidak mempunyai budak, maka aku memerdekakannya pada hari berikutnya (7) Aku tidak pernah berzina, baik itu pada masa Jahiliyah maupun pada masa Islam (8) Aku ikut menyediakan perbekalan pasukan Islam dalam menghadapi Perang Tabuk (9) Nabi menikahkanku dengan putrinya (Ruqayyah) hingga dia meninggal dunia, kemudian beliau menikahkanku dengan putri beliau yang lain (Ummu Kultsum) dan (10) Aku tidak pernah mencuri semasa Jahiliyah maupun semasa Islam.” (Tarikh ath-Thabari, IV/390)
Beliau juga seorang yang zuhud dan tawadhu’. Mubarak bin Fadhalah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, ia bercerita, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur di dalam Masjid dengan selendang yang terbentang di bawah kepalanya. Kemudian, seorang laki-laki datang dan duduk di atas selendang itu. Lalu, laki-laki yang lain datang dan duduk pula di atas selendang itu. Seolah-olah kedudukan Utsman (Sebagai Khalifah ummat) sama dengan mereka.”(Siyar A’lamin Nubala, II/572)
Yunus bin ‘Ubaid mengisahkan bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang para sahabat yang tidur qailulah (istirahat di pertengahan siang) di dalam masjid. al-Hasan menjawab, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur Qailulah di Masjid, padahal saat itu dia sudah menjadi Khalifah. Setelah bangkit, bekas kerikil terlihat menempel di pinggulnya. Kami pun berkata, Lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin; lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin.” (HR. Ahmad)
Walaupun demikian, khalifah kaum muslimin yang zuhud dan tawadhu’ ini tak luput dari tuduhan dusta atau batil yang dilontarkan oleh para tukang fitnah yang menjelek-jelekan khalifah yang shalih. Banyak tuduhan terhadap beliau, salah satunya yaitu: Bahwa beliau dituduh mempekerjakan anak-anak muda sebagai pejabat pemerintah; dan dia dituduh telah mengangkat kerabat-kerabat sendiri, bahkan mengutamakan mereka daripada orang lain. (Abdullah bin Saba’ wa Atsaruh fi Ahdatsil Fitnah fi Shadril Islam, hal.199)
Tuduhan ini tidak benar dan sang Khalifah menegaskan, “Aku hanya mempekerjakan seorang yang sudah dewasa, yang kuat mengemban jabatan, dan yang diridhai (kaum muslimin). Para pemimpin yang terpilih benar-benar kompeten dalam pekerjaan, silakan kalian selidiki sendiri; mereka penduduk asli wilayah yang dipimpinnya. Bahkan, Khalifah sebelumku pernah mengangkat pemimpin yang usianya lebih muda daripada orang-orang yang aku angkat. Sungguh, komentar orang-orang terhadap Rasulullah dalam hal ini lebih keras dari komentar mereka terhadap diriku, yaitu ketika beliau mengangkat Usamah bin Zaid (sebagai panglima perang pasukan muslim, padahal usianya belum mencapai 20 tahun).”
Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Utsman selalu mengangkat orang yang punya sifat adil. Rasulullah sendiri mengangkat ‘Attab bin Usaid menjadi pejabat di Makkah, padahal ketika itu umur ‘Attab baru 20 tahun.”
Utsman tidak layak dikritik dalam pengangkatan orang-orang tertentu tanpa ada bukti kefasikan mereka dan pengakuan Khalifah tentang mereka. Akan tetapi, hal tersebut mungkin terjadi, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki keberanian dan integritas yang kuat, mengetahui masalah pemerintahan dengan baik dan mampu mengemban amanah.
Selama kekhalifahan Utsman, beliau melaksanakan program-program yang mulia sebagai bentuk sumbangsih kepada Islam dan kaum muslimin. Di antara hasil kerja yang utama dan bermanfaat bagi ummat adalah; Memperluas areal Masjidil Haram(th.26 H), memperluas Masjid Nabawi dan dengan dinding-dinding dan tiang-tiangnya dari batu ukir, atapnya dari kayu jati, serta menjadikan panjang masjid 160 hasta dan lebarnya 150 hasta. (Tarikhur Rusul, ath-Thabari, IV/251 danTarikhul Khulafa, hal. 249), melipatgandakan jumlah pemberian yang jangkauannya sampai kepada kaum muslimin dengan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, menghidupkan kembali tanah yang mati, dan mengizinkan orang-orang untuk memanfaatkan dan mengolah tanah-tanah yang telah dibebaskan kaum muslimin, membangun Darul Qadha atau kantor pengadilan, menyatukan kaum muslimin dalam program satu mushaf.
Khalifah Utsman terbunuh pada bulan Haram pada 18 Dzulhijjah tahun 35 H, di Tanah Haram (Madinah). Saat terbunuh, beliau berusia 82 tahun. Beliau wafat terbunuh karena persekongkolan keji yang didalangi seorang Yahudi bernama ‘Abdullah bin Saba.
Semoga Allah membalas Utsman bin Affan dengan balasan terbaik atas perhatiannya terhadap kitabullah dan keteguhannya dalam menjaga persatuan umat Islam.
Itulah sekelumit kisah hidup tentang Khalifah kaum muslimin yang ke-3, ‘Utsman bin Affan. Umar bin al-Khatthab pernah berkata, “Rasulullah wafat sedang beliau ridha kepadanya.”(HR.al-Bukhari). Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa meneladaninya, amin. Wallahu a’lam (Redaksi)
[Sumber:
 Al-‘Asyarah al-Mubasysyaruna bil Jannah, Muhammad Ahmad ‘Isa. Edisi Indonesia, 10 Sahabat Nabi Dijamin Surga, Pustaka Imam Syafi’i, dengan sedikit gubahan/ Alsofwah]

Abu Qatadah

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 19.43
Qatada bin al-Nu'man (Arab:قتدة بن النعمان) adalah Sahabat Nabi Muhammad. Abu Qatadah yang bernama asli Abdul Khatib merupakan penduduk Madinah, sehingga disebut golongan Anshar. Dalam Pertempuran Uhud, mata beliau terluka hingga lepas dari rongga mata, kemudian Nabi Muhammad dengan didahului dengan doa mengembalikan bola mata Abu Qatadah seperti sedia kala. Ia dijuluki sebagai "Ksatria rasulallah" (فارس رسول الله Faaris rasulullah).[1] Meninggal di kota Madinah tahun 54 H. Qatadah menurut sebuah situs memiliki arti "pohon kayu keras."[2]

Abu Ayub Al-Anshari

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 19.36
Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, unta yang beliau tunggangi bersimpuh di depan rumah Bani Malik bin Najjar. Maka beliau pun turun dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan.

Salah seorang Muslim tampil dengan wajah berseri-seri karena kegembiraan yang membuncah. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya, kemudian mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam ruma. Nabi SAW pun mengikuti sang pemilik rumah.

Siapakah orang beruntung yang dipilih sebagai tempat persinggahan Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah ini, di saat semua penduduk mengharapkan Nabi mampir dan singgah di rumah-rumah mereka? Dialah Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Pertemuan ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, sewaktu utusan Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat dalam baiat Aqabah Kedua, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Dan kini, ketika Rasulullah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah terlimpahkan kepada Abu Ayub, karena rumahnya dijadikan tempat pertama yang didiami Rasulullah. Beliau akan tinggal di rumah itu hingga selesainya pembangunan masjid dan bilik beliau di sampingnya.

Sejak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Pendek kata, hampir di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT, "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41).

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Demikianlah, ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera memegang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan.

Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Dan sungguh, wasiat Abu Ayub itu telah dilaksanakan oleh Yazid. Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pekuburan laki-laki besar.

Hingga sebelum tempat itu dikuasai orang-orang Islam, orang Romawi dan penduduk Konstantinopel memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan."

Jasad Abu Ayub Al-Anshari masih terkubur di sana, namun ringkikan kuda dan gemerincing pedang tak terdengar lagi. Waktu telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat tujuan. Abu Ayub telah menghadap Ilahi di tempat yang ia dambakan.

Abdullah Bin Yazid

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 19.00

Abdullah bin Yazeid bin Zaid bin Hishn bin 'Amr bin Al-Harts bin Khathmah bin Jusym bin Malik bin Aus Al-Khathmi Al-Anshari r.a adalah salah seorang di antara sahabat Rasulullah SAW. Nama panggilannya ialah Abu Musa,
Oleh kerana orang tuanya Yazeid bin Zaid juga seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, maka Abdullah tidak ada yang menghalangi pertumbuhan dan perkembangan iman dan ilmu pengetahuannya, kerana itu ia terhitung pemuda sahabat yang ahli ibadah dan wara'. Abu Musa banyak sekali melakukan solat apalagi shalatul-lail. Sedang dalam hal puasa, dirinya sangat tekun melakukan puasa 'Asyura'.
Perang yang pertama dan kedua yaitu perang Badar dan Uhud tak dapat diikutinya. Sebab pada waktu itu ia masih kecil dan belum memenuhi syarat. Namun begitu, ia bangga sekali dapat ikut serta dalam Bai'atus-Syajarah/Bai'atur-Ridhwan, meskipun terhitung masih kanak-kanak. Dan sejak itu beliau tidak pernah ketinggalan dalam mengikuti perjuangan Nabi Muhammad SAW hingga wafatnya.
Dalam Zaman Khilafa' Rasyidin, menurut Ibnu Abdil-bar, usianya ketika mengikuti bai'atur-Ridhwan di atas tujuh belas tahun. Maka Abu Musa pun mengikuti perjuangan menumpas kaum murtaddien dan orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dalam zaman khalifah Abu Bakar, ikut pula perjuangan mengembangkan sayap Islam ke daerah-daerah Timur Tengah lainnya dalam zaman Umar dan Usman.
Sedang dalam zaman khalifah Ali, ia sepenuhnya memihak kepada Ali termasuk peristiwa 'Shiffien', sehingga Abu Musa juga pernah menjadi Wali Kota Kufah dari pihak khalifah Ali, sedang pembantunya Sya'bi seorang tabi'ien yang terkenal, hal mana menunjukan bahwa ia mendapat kepercayaan dan dukungan dari kalangan masyarakat masanya.
Keadaan politik pada waktu itu berubah dengan pengunduran diri yang dilakukan oleh khalifah Hasan bin Ali dan menyerahkannya kepada Mu'awiah, menyebabkan Abdullah ini untuk sementara berdiam diri di rumahnya di kota Kufah sambil mengajar agama tentunya kepada masyarakat.
Demikian ketika khalifah Mu'awiah berkuasa, Abdullah hanya muncul sesekali dalam pengajian-pengajian. Namun setelah khalifah Mu'awiah wafat dalam tahun 60 H, ia mulai menampakan diri di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar. Sebab Yazid bin Mu'awiah yang ditunjuk ayahnya sebagai penggantinya menjadi khalifah, ternyata seorang yang tidak memenuhi syarat.
Abu Musa mengadakan surat menyurat dengan Abdullah bin Zubair yang telah berhasil menguasai daerah Hijaz, Mekah dan sekitarnya yang juga tidak setuju dengan Yazid di atas. Ia berangkat ke Mekah dan ikut berjuang bersama-sama dengan rakannya, Abdullah bin Zubair. Demikianlah hingga pernah ia menjadi Wali Kota Mekah sebentar dari pihak khalifah Abdullah bin Zubair, tapi karena dorongan taqwa dan wara'nya, Abu Musa mengundurkan diri dan bermukim beberapa waktu di Mekah untuk melakukan ibadah.
Setelah puas beribadah di Mekah, Abu Musa pulang kembali ke Kufah dan jatuh sakit hingga membawa mautnya. Ia wafat dalam masa kekuasaan khalifah Abdullah bin Zubair yang wafat dalam tahun 73 H.


Anas Bin Malik

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 18.56
Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi al-Islam Muhammad bin Abdullah.

Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut, hanya mendengar kisah beliau sebatas dari orang ke orang.
Tidak mengherankan, karena terkadang telinga lebih dulu merindukan sesuatu daripada mata.
Betapa seringnya Anas kecil berangan bisa berkelana menemui Nabinya di Mekah atau beliau bisa dating kepada mereka di Yatsrib sehingga dia bisa berbahagia karena bisa melihatnya dan tenteram karena berjumpa dengannya.
Angan-angan itu dalam waktu dekat ternyata telah berubah menjadi kenyataan, Yatsrib yang membanggakan dan berbahagia mendengar bahwa Nabi dan shahabatnya, ash-Shiddiq, sedang dalam perjalanan ke arahnya. Maka keceriaan menaungi setiap rumah dan kebahagiaan menyelimuti semua hati.
Mata dan hati bergayut dengan jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa langkah nabi dan shahabbatnya ke Yatsrib.
Anak-anak muda bergumam setiap cahaya pagi bersinar, Muhammad telah datang.
Maka Anas bersama anak-anak kecil lainnya berlari-lari hendak menyambutnya, namun dia pun pulang dengan sedih lagi kecewa.
Di suatu pagi yang indah yang penuh asa dan keceriaannya yang semerbak, orang-orang Yatsrib pun saling berbisik satu sama lain, “Muhammad dan shahabatnya telah berjalan mendekati Madinah.”
Maka orang banyak pun berhamburan ke jalan-jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa Nabi petunjuk dan kebaikan kepada mereka.
Mereka berondong-bondong menyambut kedatangan beliau secara bergelombang, kelompok demi kelompok, disela-sela mereka ada sekumpulan anak-anak yang tak kalah bersemangat, wajah-wajah mereka dihiasi kebahagiaan dan menyatu dengan hati kecil mereka serta yang penuh suka cita memenuhi jiwa mereka yang jernih.
Di barisan depan anak-anak tersebut adalah Anas bin Malik al-Anshari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya ash-Shiddiq datang, keduanya berjalan di antara kumpulan orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rombongan yang besar.
Adapun kaum wanita dan gadis-gadis remaja yang biasa tinggal di rumah, mereka naik ke atap-atap rumah, mereka ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bergumam, “Yang Mana dia? Yang mana dia?”.
Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan. Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.
Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak, anak laki-laki itu berlarian di depan ibunya dengan ujung rambut yang jatuh di keningnya.
Al-Ghumaisha mengucapkan salam kepada Nabi dan dia berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang engkau inginkan.”
Nabi berbahagia, beliau memandang anak muda ini dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga.
Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil), begitu terkadang mereka memanggilnya sebagai ungkapan sayang kepadanya, berumur sepuluh tahun manakala dia berbahagia bisa berkhidmat untuk Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.
Selama itu Anas memperoleh bimbingan dari Nabi yang dengannya dia menyucikan jiwanya, mwmahami hadits beliau yang memenuhi dadanya, mengenal akhlak beliau yang agung, rahasia-rahasia dan sifat-sifat terpuji beliau yang tidak dikenal oleh orang lain.
Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah diperoleh oleh seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan keangungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.
Biarkanlah Anas sendiri yang menyampaikan sebagian lembaran cemerlang dari perlakuan mulia yang dia dapatkan di bawah naungan seorang nabi yang pemurah dan berhati mulia, karena Anas lebih tahu tentangnya dan lebih berhak untuk menceritakannya.
Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”
Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang, dan di lain waktu Nabi memanggilnya, Wahai anakku.
Nabi memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya.
Di antara nasihat-nasihat itu adalah sabda Nabi kepadanya:
Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mecintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”
Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.
Selama itu Anas menghidupkan hati umat dengan petunjuk Nabi yang dia sebarkan diantara para sahabat dan tabiin, dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia yang dia tebarkan di antara manusia.
Dengan umurnya yang panjang, Anas menjadi rujukan bagi kaum muslimin di masa hidupnya, mereka bertanya kepada Anas tentang hal itu, Anas pun berkata, “Aku tidak pernah menyangka akan bisa hidup sehingga aku melihat orang-orang seperti kalian yang berdebat dalam perkara telaga Nabi, sungguh aku telah meninggalkan wanita-wanita tua di belakangku, setiap dari mereka tidak melakukan shalat terkecuali dia memohon kepada Allah agar memberinya minum dari telaga Nabi.
Anas bin Malik terus hidup bersama kenangannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamselama kehidupan berlangsung.
Dia sangat berbahagia pada hari pertemuannya dengan beliau, sangat bersedih di hari perpisahannya dengan beliau, sangat sering mengulang-ulang sabda beliau.
Dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, mecintai apa yang beliau cintai, membenci apa yang beliau benci. Dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya: Hari pertama kali pertemuannya dengan Nabi dan hari perpisahannya dengan beliau untuk terakhir kali.
Bila Anas teringat hari pertama, maka dia berbahagia dan bersuka cita, namun jika hari kedua terlintas di benaknya maka dia menangis berduka, membuat orang-orang yang di sekelilingnya ikut menangis.
Anas sering berkata, “Sungguh aku telah melihat hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdatang kepada kami dan aku juga melihat hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeninggalkan kami. Aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya. Hari kedatangan belau di Madinah, segala sesuatu di sana bercahaya. Tetapi di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamhampir menghadap kepada Rabbya, segala sesuatu terasa gelap gulita.
Pandangan terakhirku kepada beliau terjadi di hari Senin, ketika kain penutup kamar beliau dibuka, aku melihat wajah beliau seperti kertas mushaf, pada saat itu banyak orang berdiri di belakang, Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada di tempat.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pagi hari itu. Kami tidak pernah melihat suatu pemandangan yang paling kami kagumi daripada wajah beliau manakala kami memasukkan tanah ke kubur beliau.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Anas bin Malik lebih dari sekali.
Di antara doa Nabi untuknya:
Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya.”
Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi. Anas menjadi orang Anshar yang palik banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.
Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.
Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi di hari Kiamat, Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, “Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”
Ketika Anas sakit, sebelum wafatnya, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullaah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.
Anas mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersamanya, maka tongkat itu diletakkan disampingnya.
Selamat untuk Anas bin Malik al-Anshari yang telah mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah. Dia hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung selama sepuluh tahun sempurna.
Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga Allah membalasnya dan membalas ibunya atas apa yang dia berikan untuk Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan.

Abu Hurairah

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 18.32
Tidak diragukan lagi, hampir semua kaum Muslimin pasti mengenal sahabat Nabi yang satu ini. Ia mempunyai bakat yang luar biasa dalam hal kemampuan dan kekuatan ingatan.
Dia pun mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya. Sedangkan daya ingatnya mempunyai keistimewaan dalam menghapal dan menyimpan.
Hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari semua yang pernah didengarnya. Ia telah mewakafkan hampir seluruh hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang paling banyak menerima dan menghapal hadis, serta meriwayatkannya.
Pada zaman Jahiliyah, orang memanggilnya Abu Syams. Ketika hendak memeluk Islam, Rasulullah bertanya kepadanya, "Siapa namamu?""Abdu Syams," jawabnya singkat.
"Bukannya Abdurrahman (Hamba Allah)?" tanya Rasulullah. "Demi Allah, benar. Abdurrahman, ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah setuju.
Diberi gelar Abu Hurairah, karena waktu kecil dia mempunyai seekor anak kucing betina dan selalu bermain-main dengannya. Maka gelar masa kecilnya lebih populer daripada nama aslinya.
Setelah Rasulullah mengetahui gelar dan asal-usul namanya, maka beliau selalu memanggilnya "Abu Hirr" sebagai panggilan akrab. Dan Abu Hurairah lebih terkesan dengan panggilan "Abu Hirr" daripada "Abu Hurairah".
Abu Hurairah masuk Islam dengan perantaraan Thufail bin Amr Ad-Dausi. Islam masuk ke negeri Daus kira-kira awal tahun ke-7 Hijriyah, yaitu ketika dia menjadi utusan kaumnya menemui Rasulullah SAW di Madinah.
Setelah bertemu Rasulullah, pemuda Daus ini memutuskan untuk berkhidmat (menjadi pelayan) Nabi dan menemani beliau. Oleh karena itu, ia tinggal di masjid, di mana Rasulullah mengajar dan menjadi imam. Selama Rasulullah hidup, Abu Hurairah tidak menikah dan belum punya anak.
Namun ia mempunyai ibu yang sudah lanjut usia, dan masih tetap musyrik. Abu Hurairah tidak berhenti mengajak ibunya masuk Islam, karena dia sangat menyayanginya dan ingin berbakti. Tetapi ibunya malah menjauh dan menolak ajakannya. Ia pun meninggalkan ibunya dengan perasaan kacau dan hati yang terkoyak.
Dia pernah mengajak ibunya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun sang ibu menolak sambil mencela Rasulullah dengan kata-kata yang menyedihkan dan menyakitkan hati. Ia pun pergi menemui Nabi SAW."Mengapa kau menangis, wahai Abu Hurairah?" tanya Rasulullah.
"Aku tidak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Tetapi ia selalu menolak. Hari ini ia kuajak masuk Islam, tapi ia malah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas mengenai dirimu, wahai Rasulullah, yang tak sudi kudengar. Tolonglah doakan, ya Rasulullah, semoga ibuku tergugah masuk Islam," katanya.
Rasulullah pun mendoakan semoga hati ibu Abu Hurairah terbuka untuk masuk Islam. Pada suatu hari, ketika pulang ke rumahnya, Abu Hurairah mendapati pintu dalam keadaan tertutup. Di dalam terdengar bunyi gemercik air. Tatkala hendak masuk ke dalam, terdengar suara ibunya, "Tunggu di tempat!"
Agaknya sang ibu tengah berpakaian. Tak lama kemudian. "Masuklah!" kata ibunya. Begitu masuk ke dalam, ibunya berkata, "Aku bersaki bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Abu Hurairah kembali kepada Rasulullah sambil menangis gembira, sebagaimana sebelumnya ia menangis karena sedih. "Bergembiralah wahai Rasulullah, Allah mengabulkan doa anda. Ibuku telah masuk Islam," ujarnya.
Abu Hurairah mencintai Rasulullah hingga mendarah daging. Dia tak pernah bosan memandang wajah Rasul. "Bagiku tidak ada yang lebih indah dan cemerlang selain wajah Rasulullah SAW. Dalam penglihatanku, seolah-olah matahari sedang memancar di wajah beliau," katanya suatu ketika.
Sebagaimana besar cintanya kepada Rasulullah SAW, maka begitu pula besar cintanya kepada ilmu. Sehingga ilmu menjadi kegiatan dan puncak cita-citanya.
Ketika kaum Muslimin memperoleh kesejahteraan dari limpahan rampasan perang. Abu Hurairah mendapat bagian, berupa sebuah rumah dan harta. Walaupun begitu, semua kenikmatan yang diperolehnya tidak sedikit pun merubah kepribadiannya yang mulia. Dia tidak pernah melupakan masa lalunya.
Dia kerap bercerita, "Aku dibesarkan ibuku dalam keadaan yatim. Kemudian aku hijrah dalam keadaan miskin. Aku pernah mengambil upah di perkebunan Binti Ghazwan, hanya untuk mendapatkan sesuap makanan. Aku juga pernah menjadi pelayan (khadam), menurunkan dan menaikkan keluarga itu dari dan ke atas kendaraannya. Kemudian aku dinikahkan Allah dengan anak perempuan mereka."
Abu Hurairah pernah menjadi Walikota Madinah lebih dari satu kali. Dia diangkat menjadi walikota oleh Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Kelembutan dan keluwesan pemerintahannya tidak ada yang menandingi.
Dalam pribadi Abu Hurairah terkumpul kekayaan akan ilmu, ketakwaan dan kewara'an. Siang hari dia puasa, malam dia beribadah. Kemudian dibangunkannya istrinya. Istrinya beribadah sepertiga malam, setelah itu membangunkan anak perempuannya. Maka anak gadis itu beribadah juga sepertiga malam terakhir. Karena itu dalam rumah tanggal Abu Hurairah tidak putus-putusnya orang beribadah sepanjang malam.
Sepanjang hidupnya, Abu Hurairah senantiasa bersikap dan berbuat baik terhadap ibunya. Bila dia keluar rumah, dia berdiri lebih dahulu di muka pintu kamar ibunya, untuk mengucapkan salam. Ia juga giat mengajak orang bersikap dan berbuat baik terhadap orang tua mereka, serta menyayangi mereka.
Ketika Abu Hurairah sakit dan akan meninggal dunia, dia menangis. Orang-orang bertanya padanya, "Mengapa anda menangis, wahai Abu Hurairah?"
Ia menjawab, "Aku menangis bukan karena sedih berpisah dengan dunia ini, bukan! Aku menangis karena perjalanan masih jauh, sedangkan perbekalanku hanya sedikit. Aku telah berada di ujung jalan yang akan membawaku ke surga atau neraka. Sedangkan aku tidak tahu di jalan mana aku berada."
Marwan bin Hakam datang berkunjung menengoknya. Kata Marwan, "Semoga Allah segera menyembuhkanmu, wahai Abu Hurairah!"
Mendengar doa Marwan tersebut, Abu Hurairah justru berdoa sebaliknya. "Ya Allah, aku sudah rindu bertemu dengan-Mu. Semoga Engkau juga begitu terhadapku. Segerakanlah bagiku pertemuan itu!"
Tidak lama setelah Marwan tiba di rumahnya, Abu Hurairah meninggal dunia dengan tenang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Ia telah menghapal tidak kurang dari 1.609 hadits Rasulullah SAW untuk kaum Muslimin.

10 Syawal 1434 H

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.13

Sabtu, 17 Agustus 2013

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf bin Qushai al-Qurasyi al-Umawi. Menurut pendapat yang benar, beliau dilahirkan di Thaif 6 tahun setelah tahun gajah sekitar tahun 576 M. Beliau diangkat menjadi khalifah 3 hari setelah jenazah ‘Umar bin al-Khaththab dimakamkan.
Beliau berkunyah (gelar) “Abu Abdillah,” beristrikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum putri Rasulullah, oleh karena itu beliau digelari “Dzunnurain”. Beliau mempunyai 16 anak, 9 laki-laki dan 7 perempuan. (Tarikh al-Umam wal-Muluk, ath-Thabari Juz 2, hal. 692, Taarikh al-Khulafa, as Suyuthi, hal.119 )
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh khalifah Utsman. Beliau adalah sosok yang suka sekali berderma dan berinfak untuk kepentingan kaum muslimin dalam jihad fii sabilillah (di jalan Allah). Kisah kedermawanan beliau sangat banyak. Berikut kami sebutkan sebagian saja, yaitu;
1. Membeli Sumur Rumah
Tatkala rombongan kaum Muhajirin sampai di Madinah, mereka sangat membutuhkan air. Di sana terdapat mata air yang disebut sumur rumah milik seorang laki-laki dari bani Ghifar. Laki-laki itu biasa menjual satu qirbah (kantong dari kulit) air dengan satu mud makanan. Melihat hal ini, Rasulullah bertanya kepadanya, “Sudikah kamu menjualnya dengan ganti satu mata air di Surga?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya apa-apa lagi selain sumber air ini. Dan aku tidak bisa menjualnya memenuhi permintaan Anda.”
Pembicaraan tersebut didengar Utsman bin Affan. Tidak lama kemudian, ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham. Selanjutnya, dia menemui Nabi dan bertanya, “Akankah aku mendapatkan mata air di Surga seperti yang engkau janjikan kepada laki-laki dari bani Ghifar tadi?” Beliau menjawab, “Tentu” Utsman pun berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang membelinya, dan aku mewakafkan untuk kaum muslimin” (Siyar A’lamin Nubala, II/569)
2. Mendanai pasukan al-Usrah (Pasukan al-Usrah adalah pasukan kaum muslimin yang dipersiapkan Rasulullah untuk menyerang pasukan Romawi di Tabuk-red)
“Abdurrahman bin Samurah bercerita, suatu ketika Utsman bin Affan menemui Nabi dengan mambawa seribu dinar di dalam baju, dan saat itu beliau sedang mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Perang Tabuk, lalu ia meletakkan uang dinar tersebut di pangkuan Rasulullah. Beliau lantas membolak-balikkan dinar-dinar itu dengan tangannya, seraya bersabda, “Setelah hari ini, apa pun yang dilakukan Utsman tidak membahayakan dirinya (di akhirat)” (HR. at-Tirmidzi, no. 3701)
Khalid bin Sufwan menuturkan dari al-Hasan al Bashri, ia menyatakan, “Utsman bin Affan menyiapkan 750 ekor unta dan 50 ekor kuda guna menghadapi Perang tabuk.” (Siyar A’lamin Nubala, II/569)
3. Membebaskan dan memerdekakan hamba Sahaya
Dari Abu Tsaur al-Fahmi, ia pernah menemui Utsman bin Affan pada suatu hari. Utsman berkata, “Aku mengharapkan Rabbku; (1) Aku adalah orang keempat dari empat orang pertama yang masuk Islam ; (2) Aku tidak pernah berdusta (3) Aku tidak mengharapkan dunia dan mendambakannya (4) Setelah berbaiat di hadapan Rasulullah, aku tidak pernah meletakkan tangan kananku di kemaluanku (5) Sejak memeluk Islam, aku tidak pernah melewatkan satu jum’at pun tanpa membebaskan seorang budak (hamba sahaya) (6) Jika pada hari Jum’at itu aku tidak mempunyai budak, maka aku memerdekakannya pada hari berikutnya (7) Aku tidak pernah berzina, baik itu pada masa Jahiliyah maupun pada masa Islam (8) Aku ikut menyediakan perbekalan pasukan Islam dalam menghadapi Perang Tabuk (9) Nabi menikahkanku dengan putrinya (Ruqayyah) hingga dia meninggal dunia, kemudian beliau menikahkanku dengan putri beliau yang lain (Ummu Kultsum) dan (10) Aku tidak pernah mencuri semasa Jahiliyah maupun semasa Islam.” (Tarikh ath-Thabari, IV/390)
Beliau juga seorang yang zuhud dan tawadhu’. Mubarak bin Fadhalah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, ia bercerita, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur di dalam Masjid dengan selendang yang terbentang di bawah kepalanya. Kemudian, seorang laki-laki datang dan duduk di atas selendang itu. Lalu, laki-laki yang lain datang dan duduk pula di atas selendang itu. Seolah-olah kedudukan Utsman (Sebagai Khalifah ummat) sama dengan mereka.”(Siyar A’lamin Nubala, II/572)
Yunus bin ‘Ubaid mengisahkan bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang para sahabat yang tidur qailulah (istirahat di pertengahan siang) di dalam masjid. al-Hasan menjawab, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur Qailulah di Masjid, padahal saat itu dia sudah menjadi Khalifah. Setelah bangkit, bekas kerikil terlihat menempel di pinggulnya. Kami pun berkata, Lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin; lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin.” (HR. Ahmad)
Walaupun demikian, khalifah kaum muslimin yang zuhud dan tawadhu’ ini tak luput dari tuduhan dusta atau batil yang dilontarkan oleh para tukang fitnah yang menjelek-jelekan khalifah yang shalih. Banyak tuduhan terhadap beliau, salah satunya yaitu: Bahwa beliau dituduh mempekerjakan anak-anak muda sebagai pejabat pemerintah; dan dia dituduh telah mengangkat kerabat-kerabat sendiri, bahkan mengutamakan mereka daripada orang lain. (Abdullah bin Saba’ wa Atsaruh fi Ahdatsil Fitnah fi Shadril Islam, hal.199)
Tuduhan ini tidak benar dan sang Khalifah menegaskan, “Aku hanya mempekerjakan seorang yang sudah dewasa, yang kuat mengemban jabatan, dan yang diridhai (kaum muslimin). Para pemimpin yang terpilih benar-benar kompeten dalam pekerjaan, silakan kalian selidiki sendiri; mereka penduduk asli wilayah yang dipimpinnya. Bahkan, Khalifah sebelumku pernah mengangkat pemimpin yang usianya lebih muda daripada orang-orang yang aku angkat. Sungguh, komentar orang-orang terhadap Rasulullah dalam hal ini lebih keras dari komentar mereka terhadap diriku, yaitu ketika beliau mengangkat Usamah bin Zaid (sebagai panglima perang pasukan muslim, padahal usianya belum mencapai 20 tahun).”
Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Utsman selalu mengangkat orang yang punya sifat adil. Rasulullah sendiri mengangkat ‘Attab bin Usaid menjadi pejabat di Makkah, padahal ketika itu umur ‘Attab baru 20 tahun.”
Utsman tidak layak dikritik dalam pengangkatan orang-orang tertentu tanpa ada bukti kefasikan mereka dan pengakuan Khalifah tentang mereka. Akan tetapi, hal tersebut mungkin terjadi, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki keberanian dan integritas yang kuat, mengetahui masalah pemerintahan dengan baik dan mampu mengemban amanah.
Selama kekhalifahan Utsman, beliau melaksanakan program-program yang mulia sebagai bentuk sumbangsih kepada Islam dan kaum muslimin. Di antara hasil kerja yang utama dan bermanfaat bagi ummat adalah; Memperluas areal Masjidil Haram(th.26 H), memperluas Masjid Nabawi dan dengan dinding-dinding dan tiang-tiangnya dari batu ukir, atapnya dari kayu jati, serta menjadikan panjang masjid 160 hasta dan lebarnya 150 hasta. (Tarikhur Rusul, ath-Thabari, IV/251 danTarikhul Khulafa, hal. 249), melipatgandakan jumlah pemberian yang jangkauannya sampai kepada kaum muslimin dengan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, menghidupkan kembali tanah yang mati, dan mengizinkan orang-orang untuk memanfaatkan dan mengolah tanah-tanah yang telah dibebaskan kaum muslimin, membangun Darul Qadha atau kantor pengadilan, menyatukan kaum muslimin dalam program satu mushaf.
Khalifah Utsman terbunuh pada bulan Haram pada 18 Dzulhijjah tahun 35 H, di Tanah Haram (Madinah). Saat terbunuh, beliau berusia 82 tahun. Beliau wafat terbunuh karena persekongkolan keji yang didalangi seorang Yahudi bernama ‘Abdullah bin Saba.
Semoga Allah membalas Utsman bin Affan dengan balasan terbaik atas perhatiannya terhadap kitabullah dan keteguhannya dalam menjaga persatuan umat Islam.
Itulah sekelumit kisah hidup tentang Khalifah kaum muslimin yang ke-3, ‘Utsman bin Affan. Umar bin al-Khatthab pernah berkata, “Rasulullah wafat sedang beliau ridha kepadanya.”(HR.al-Bukhari). Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa meneladaninya, amin. Wallahu a’lam (Redaksi)
[Sumber:
 Al-‘Asyarah al-Mubasysyaruna bil Jannah, Muhammad Ahmad ‘Isa. Edisi Indonesia, 10 Sahabat Nabi Dijamin Surga, Pustaka Imam Syafi’i, dengan sedikit gubahan/ Alsofwah]

Abu Qatadah

Qatada bin al-Nu'man (Arab:قتدة بن النعمان) adalah Sahabat Nabi Muhammad. Abu Qatadah yang bernama asli Abdul Khatib merupakan penduduk Madinah, sehingga disebut golongan Anshar. Dalam Pertempuran Uhud, mata beliau terluka hingga lepas dari rongga mata, kemudian Nabi Muhammad dengan didahului dengan doa mengembalikan bola mata Abu Qatadah seperti sedia kala. Ia dijuluki sebagai "Ksatria rasulallah" (فارس رسول الله Faaris rasulullah).[1] Meninggal di kota Madinah tahun 54 H. Qatadah menurut sebuah situs memiliki arti "pohon kayu keras."[2]

Abu Ayub Al-Anshari

Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, unta yang beliau tunggangi bersimpuh di depan rumah Bani Malik bin Najjar. Maka beliau pun turun dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan.

Salah seorang Muslim tampil dengan wajah berseri-seri karena kegembiraan yang membuncah. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya, kemudian mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam ruma. Nabi SAW pun mengikuti sang pemilik rumah.

Siapakah orang beruntung yang dipilih sebagai tempat persinggahan Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah ini, di saat semua penduduk mengharapkan Nabi mampir dan singgah di rumah-rumah mereka? Dialah Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Pertemuan ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, sewaktu utusan Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat dalam baiat Aqabah Kedua, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Dan kini, ketika Rasulullah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besarnya telah terlimpahkan kepada Abu Ayub, karena rumahnya dijadikan tempat pertama yang didiami Rasulullah. Beliau akan tinggal di rumah itu hingga selesainya pembangunan masjid dan bilik beliau di sampingnya.

Sejak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Pendek kata, hampir di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT, "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41).

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Demikianlah, ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera memegang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan.

Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Dan sungguh, wasiat Abu Ayub itu telah dilaksanakan oleh Yazid. Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pekuburan laki-laki besar.

Hingga sebelum tempat itu dikuasai orang-orang Islam, orang Romawi dan penduduk Konstantinopel memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan."

Jasad Abu Ayub Al-Anshari masih terkubur di sana, namun ringkikan kuda dan gemerincing pedang tak terdengar lagi. Waktu telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat tujuan. Abu Ayub telah menghadap Ilahi di tempat yang ia dambakan.

Abdullah Bin Yazid


Abdullah bin Yazeid bin Zaid bin Hishn bin 'Amr bin Al-Harts bin Khathmah bin Jusym bin Malik bin Aus Al-Khathmi Al-Anshari r.a adalah salah seorang di antara sahabat Rasulullah SAW. Nama panggilannya ialah Abu Musa,
Oleh kerana orang tuanya Yazeid bin Zaid juga seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, maka Abdullah tidak ada yang menghalangi pertumbuhan dan perkembangan iman dan ilmu pengetahuannya, kerana itu ia terhitung pemuda sahabat yang ahli ibadah dan wara'. Abu Musa banyak sekali melakukan solat apalagi shalatul-lail. Sedang dalam hal puasa, dirinya sangat tekun melakukan puasa 'Asyura'.
Perang yang pertama dan kedua yaitu perang Badar dan Uhud tak dapat diikutinya. Sebab pada waktu itu ia masih kecil dan belum memenuhi syarat. Namun begitu, ia bangga sekali dapat ikut serta dalam Bai'atus-Syajarah/Bai'atur-Ridhwan, meskipun terhitung masih kanak-kanak. Dan sejak itu beliau tidak pernah ketinggalan dalam mengikuti perjuangan Nabi Muhammad SAW hingga wafatnya.
Dalam Zaman Khilafa' Rasyidin, menurut Ibnu Abdil-bar, usianya ketika mengikuti bai'atur-Ridhwan di atas tujuh belas tahun. Maka Abu Musa pun mengikuti perjuangan menumpas kaum murtaddien dan orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dalam zaman khalifah Abu Bakar, ikut pula perjuangan mengembangkan sayap Islam ke daerah-daerah Timur Tengah lainnya dalam zaman Umar dan Usman.
Sedang dalam zaman khalifah Ali, ia sepenuhnya memihak kepada Ali termasuk peristiwa 'Shiffien', sehingga Abu Musa juga pernah menjadi Wali Kota Kufah dari pihak khalifah Ali, sedang pembantunya Sya'bi seorang tabi'ien yang terkenal, hal mana menunjukan bahwa ia mendapat kepercayaan dan dukungan dari kalangan masyarakat masanya.
Keadaan politik pada waktu itu berubah dengan pengunduran diri yang dilakukan oleh khalifah Hasan bin Ali dan menyerahkannya kepada Mu'awiah, menyebabkan Abdullah ini untuk sementara berdiam diri di rumahnya di kota Kufah sambil mengajar agama tentunya kepada masyarakat.
Demikian ketika khalifah Mu'awiah berkuasa, Abdullah hanya muncul sesekali dalam pengajian-pengajian. Namun setelah khalifah Mu'awiah wafat dalam tahun 60 H, ia mulai menampakan diri di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar. Sebab Yazid bin Mu'awiah yang ditunjuk ayahnya sebagai penggantinya menjadi khalifah, ternyata seorang yang tidak memenuhi syarat.
Abu Musa mengadakan surat menyurat dengan Abdullah bin Zubair yang telah berhasil menguasai daerah Hijaz, Mekah dan sekitarnya yang juga tidak setuju dengan Yazid di atas. Ia berangkat ke Mekah dan ikut berjuang bersama-sama dengan rakannya, Abdullah bin Zubair. Demikianlah hingga pernah ia menjadi Wali Kota Mekah sebentar dari pihak khalifah Abdullah bin Zubair, tapi karena dorongan taqwa dan wara'nya, Abu Musa mengundurkan diri dan bermukim beberapa waktu di Mekah untuk melakukan ibadah.
Setelah puas beribadah di Mekah, Abu Musa pulang kembali ke Kufah dan jatuh sakit hingga membawa mautnya. Ia wafat dalam masa kekuasaan khalifah Abdullah bin Zubair yang wafat dalam tahun 73 H.


Anas Bin Malik

Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi al-Islam Muhammad bin Abdullah.

Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut, hanya mendengar kisah beliau sebatas dari orang ke orang.
Tidak mengherankan, karena terkadang telinga lebih dulu merindukan sesuatu daripada mata.
Betapa seringnya Anas kecil berangan bisa berkelana menemui Nabinya di Mekah atau beliau bisa dating kepada mereka di Yatsrib sehingga dia bisa berbahagia karena bisa melihatnya dan tenteram karena berjumpa dengannya.
Angan-angan itu dalam waktu dekat ternyata telah berubah menjadi kenyataan, Yatsrib yang membanggakan dan berbahagia mendengar bahwa Nabi dan shahabatnya, ash-Shiddiq, sedang dalam perjalanan ke arahnya. Maka keceriaan menaungi setiap rumah dan kebahagiaan menyelimuti semua hati.
Mata dan hati bergayut dengan jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa langkah nabi dan shahabbatnya ke Yatsrib.
Anak-anak muda bergumam setiap cahaya pagi bersinar, Muhammad telah datang.
Maka Anas bersama anak-anak kecil lainnya berlari-lari hendak menyambutnya, namun dia pun pulang dengan sedih lagi kecewa.
Di suatu pagi yang indah yang penuh asa dan keceriaannya yang semerbak, orang-orang Yatsrib pun saling berbisik satu sama lain, “Muhammad dan shahabatnya telah berjalan mendekati Madinah.”
Maka orang banyak pun berhamburan ke jalan-jalan yang penuh berkah, jalan yang membawa Nabi petunjuk dan kebaikan kepada mereka.
Mereka berondong-bondong menyambut kedatangan beliau secara bergelombang, kelompok demi kelompok, disela-sela mereka ada sekumpulan anak-anak yang tak kalah bersemangat, wajah-wajah mereka dihiasi kebahagiaan dan menyatu dengan hati kecil mereka serta yang penuh suka cita memenuhi jiwa mereka yang jernih.
Di barisan depan anak-anak tersebut adalah Anas bin Malik al-Anshari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabatnya ash-Shiddiq datang, keduanya berjalan di antara kumpulan orang-orang dewasa dan anak-anak dalam rombongan yang besar.
Adapun kaum wanita dan gadis-gadis remaja yang biasa tinggal di rumah, mereka naik ke atap-atap rumah, mereka ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bergumam, “Yang Mana dia? Yang mana dia?”.
Hari itu adalah hari yang tidak terlupakan. Anas bin Malik senantiasa mengingatnya sampai dia berumur seratus tahun lebih.
Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak, anak laki-laki itu berlarian di depan ibunya dengan ujung rambut yang jatuh di keningnya.
Al-Ghumaisha mengucapkan salam kepada Nabi dan dia berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua laki-laki dan wanita dari Anshar telah memberimu hadiah, tetapi aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak laki-lakiku ini. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai dengan apa yang engkau inginkan.”
Nabi berbahagia, beliau memandang anak muda ini dengan wajah berseri-seri, beliau mengusap kepalanya dengan tangan beliau yang mulia, menyentuh ujung rambutya dengan jari-jemari beliau yang lembut dan beliau menganggapnya sebagai keluarga.
Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil), begitu terkadang mereka memanggilnya sebagai ungkapan sayang kepadanya, berumur sepuluh tahun manakala dia berbahagia bisa berkhidmat untuk Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.
Selama itu Anas memperoleh bimbingan dari Nabi yang dengannya dia menyucikan jiwanya, mwmahami hadits beliau yang memenuhi dadanya, mengenal akhlak beliau yang agung, rahasia-rahasia dan sifat-sifat terpuji beliau yang tidak dikenal oleh orang lain.
Anas bin Malik mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah diperoleh oleh seorang anak dari bapaknya. Mengenyam keluhuran perangai Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan keangungan sifat-sifatnya yang membuat dunia patut untuk iri kepadanya.
Biarkanlah Anas sendiri yang menyampaikan sebagian lembaran cemerlang dari perlakuan mulia yang dia dapatkan di bawah naungan seorang nabi yang pemurah dan berhati mulia, karena Anas lebih tahu tentangnya dan lebih berhak untuk menceritakannya.
Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”
Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang, dan di lain waktu Nabi memanggilnya, Wahai anakku.
Nabi memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah beliau yang memenuhi hati dan jiwanya.
Di antara nasihat-nasihat itu adalah sabda Nabi kepadanya:
Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mecintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”
Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat selama delapan puluh tahun lebih, selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.
Selama itu Anas menghidupkan hati umat dengan petunjuk Nabi yang dia sebarkan diantara para sahabat dan tabiin, dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berharga dan perbuatan-perbuatan beliau yang mulia yang dia tebarkan di antara manusia.
Dengan umurnya yang panjang, Anas menjadi rujukan bagi kaum muslimin di masa hidupnya, mereka bertanya kepada Anas tentang hal itu, Anas pun berkata, “Aku tidak pernah menyangka akan bisa hidup sehingga aku melihat orang-orang seperti kalian yang berdebat dalam perkara telaga Nabi, sungguh aku telah meninggalkan wanita-wanita tua di belakangku, setiap dari mereka tidak melakukan shalat terkecuali dia memohon kepada Allah agar memberinya minum dari telaga Nabi.
Anas bin Malik terus hidup bersama kenangannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamselama kehidupan berlangsung.
Dia sangat berbahagia pada hari pertemuannya dengan beliau, sangat bersedih di hari perpisahannya dengan beliau, sangat sering mengulang-ulang sabda beliau.
Dia sangat bersungguh-sungguh untuk mengikuti beliau dalam sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, mecintai apa yang beliau cintai, membenci apa yang beliau benci. Dua hari yang paling diingat oleh Anas dalam hidupnya: Hari pertama kali pertemuannya dengan Nabi dan hari perpisahannya dengan beliau untuk terakhir kali.
Bila Anas teringat hari pertama, maka dia berbahagia dan bersuka cita, namun jika hari kedua terlintas di benaknya maka dia menangis berduka, membuat orang-orang yang di sekelilingnya ikut menangis.
Anas sering berkata, “Sungguh aku telah melihat hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdatang kepada kami dan aku juga melihat hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeninggalkan kami. Aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya. Hari kedatangan belau di Madinah, segala sesuatu di sana bercahaya. Tetapi di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamhampir menghadap kepada Rabbya, segala sesuatu terasa gelap gulita.
Pandangan terakhirku kepada beliau terjadi di hari Senin, ketika kain penutup kamar beliau dibuka, aku melihat wajah beliau seperti kertas mushaf, pada saat itu banyak orang berdiri di belakang, Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada di tempat.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pagi hari itu. Kami tidak pernah melihat suatu pemandangan yang paling kami kagumi daripada wajah beliau manakala kami memasukkan tanah ke kubur beliau.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Anas bin Malik lebih dari sekali.
Di antara doa Nabi untuknya:
Ya Allah, limpahkanlah harta dan anak kepadanya, berkahilah dia padanya.”
Allah Ta’ala mengabulkan doa Nabi. Anas menjadi orang Anshar yang palik banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.
Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.
Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi di hari Kiamat, Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, “Aku adalah pelayan kecilmu, Unais.”
Ketika Anas sakit, sebelum wafatnya, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullaah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.
Anas mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersamanya, maka tongkat itu diletakkan disampingnya.
Selamat untuk Anas bin Malik al-Anshari yang telah mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah. Dia hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung selama sepuluh tahun sempurna.
Dia adalah orang ketiga setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga Allah membalasnya dan membalas ibunya atas apa yang dia berikan untuk Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baiknya balasan.

Abu Hurairah

Tidak diragukan lagi, hampir semua kaum Muslimin pasti mengenal sahabat Nabi yang satu ini. Ia mempunyai bakat yang luar biasa dalam hal kemampuan dan kekuatan ingatan.
Dia pun mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya. Sedangkan daya ingatnya mempunyai keistimewaan dalam menghapal dan menyimpan.
Hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari semua yang pernah didengarnya. Ia telah mewakafkan hampir seluruh hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang paling banyak menerima dan menghapal hadis, serta meriwayatkannya.
Pada zaman Jahiliyah, orang memanggilnya Abu Syams. Ketika hendak memeluk Islam, Rasulullah bertanya kepadanya, "Siapa namamu?""Abdu Syams," jawabnya singkat.
"Bukannya Abdurrahman (Hamba Allah)?" tanya Rasulullah. "Demi Allah, benar. Abdurrahman, ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah setuju.
Diberi gelar Abu Hurairah, karena waktu kecil dia mempunyai seekor anak kucing betina dan selalu bermain-main dengannya. Maka gelar masa kecilnya lebih populer daripada nama aslinya.
Setelah Rasulullah mengetahui gelar dan asal-usul namanya, maka beliau selalu memanggilnya "Abu Hirr" sebagai panggilan akrab. Dan Abu Hurairah lebih terkesan dengan panggilan "Abu Hirr" daripada "Abu Hurairah".
Abu Hurairah masuk Islam dengan perantaraan Thufail bin Amr Ad-Dausi. Islam masuk ke negeri Daus kira-kira awal tahun ke-7 Hijriyah, yaitu ketika dia menjadi utusan kaumnya menemui Rasulullah SAW di Madinah.
Setelah bertemu Rasulullah, pemuda Daus ini memutuskan untuk berkhidmat (menjadi pelayan) Nabi dan menemani beliau. Oleh karena itu, ia tinggal di masjid, di mana Rasulullah mengajar dan menjadi imam. Selama Rasulullah hidup, Abu Hurairah tidak menikah dan belum punya anak.
Namun ia mempunyai ibu yang sudah lanjut usia, dan masih tetap musyrik. Abu Hurairah tidak berhenti mengajak ibunya masuk Islam, karena dia sangat menyayanginya dan ingin berbakti. Tetapi ibunya malah menjauh dan menolak ajakannya. Ia pun meninggalkan ibunya dengan perasaan kacau dan hati yang terkoyak.
Dia pernah mengajak ibunya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun sang ibu menolak sambil mencela Rasulullah dengan kata-kata yang menyedihkan dan menyakitkan hati. Ia pun pergi menemui Nabi SAW."Mengapa kau menangis, wahai Abu Hurairah?" tanya Rasulullah.
"Aku tidak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Tetapi ia selalu menolak. Hari ini ia kuajak masuk Islam, tapi ia malah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas mengenai dirimu, wahai Rasulullah, yang tak sudi kudengar. Tolonglah doakan, ya Rasulullah, semoga ibuku tergugah masuk Islam," katanya.
Rasulullah pun mendoakan semoga hati ibu Abu Hurairah terbuka untuk masuk Islam. Pada suatu hari, ketika pulang ke rumahnya, Abu Hurairah mendapati pintu dalam keadaan tertutup. Di dalam terdengar bunyi gemercik air. Tatkala hendak masuk ke dalam, terdengar suara ibunya, "Tunggu di tempat!"
Agaknya sang ibu tengah berpakaian. Tak lama kemudian. "Masuklah!" kata ibunya. Begitu masuk ke dalam, ibunya berkata, "Aku bersaki bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Abu Hurairah kembali kepada Rasulullah sambil menangis gembira, sebagaimana sebelumnya ia menangis karena sedih. "Bergembiralah wahai Rasulullah, Allah mengabulkan doa anda. Ibuku telah masuk Islam," ujarnya.
Abu Hurairah mencintai Rasulullah hingga mendarah daging. Dia tak pernah bosan memandang wajah Rasul. "Bagiku tidak ada yang lebih indah dan cemerlang selain wajah Rasulullah SAW. Dalam penglihatanku, seolah-olah matahari sedang memancar di wajah beliau," katanya suatu ketika.
Sebagaimana besar cintanya kepada Rasulullah SAW, maka begitu pula besar cintanya kepada ilmu. Sehingga ilmu menjadi kegiatan dan puncak cita-citanya.
Ketika kaum Muslimin memperoleh kesejahteraan dari limpahan rampasan perang. Abu Hurairah mendapat bagian, berupa sebuah rumah dan harta. Walaupun begitu, semua kenikmatan yang diperolehnya tidak sedikit pun merubah kepribadiannya yang mulia. Dia tidak pernah melupakan masa lalunya.
Dia kerap bercerita, "Aku dibesarkan ibuku dalam keadaan yatim. Kemudian aku hijrah dalam keadaan miskin. Aku pernah mengambil upah di perkebunan Binti Ghazwan, hanya untuk mendapatkan sesuap makanan. Aku juga pernah menjadi pelayan (khadam), menurunkan dan menaikkan keluarga itu dari dan ke atas kendaraannya. Kemudian aku dinikahkan Allah dengan anak perempuan mereka."
Abu Hurairah pernah menjadi Walikota Madinah lebih dari satu kali. Dia diangkat menjadi walikota oleh Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Kelembutan dan keluwesan pemerintahannya tidak ada yang menandingi.
Dalam pribadi Abu Hurairah terkumpul kekayaan akan ilmu, ketakwaan dan kewara'an. Siang hari dia puasa, malam dia beribadah. Kemudian dibangunkannya istrinya. Istrinya beribadah sepertiga malam, setelah itu membangunkan anak perempuannya. Maka anak gadis itu beribadah juga sepertiga malam terakhir. Karena itu dalam rumah tanggal Abu Hurairah tidak putus-putusnya orang beribadah sepanjang malam.
Sepanjang hidupnya, Abu Hurairah senantiasa bersikap dan berbuat baik terhadap ibunya. Bila dia keluar rumah, dia berdiri lebih dahulu di muka pintu kamar ibunya, untuk mengucapkan salam. Ia juga giat mengajak orang bersikap dan berbuat baik terhadap orang tua mereka, serta menyayangi mereka.
Ketika Abu Hurairah sakit dan akan meninggal dunia, dia menangis. Orang-orang bertanya padanya, "Mengapa anda menangis, wahai Abu Hurairah?"
Ia menjawab, "Aku menangis bukan karena sedih berpisah dengan dunia ini, bukan! Aku menangis karena perjalanan masih jauh, sedangkan perbekalanku hanya sedikit. Aku telah berada di ujung jalan yang akan membawaku ke surga atau neraka. Sedangkan aku tidak tahu di jalan mana aku berada."
Marwan bin Hakam datang berkunjung menengoknya. Kata Marwan, "Semoga Allah segera menyembuhkanmu, wahai Abu Hurairah!"
Mendengar doa Marwan tersebut, Abu Hurairah justru berdoa sebaliknya. "Ya Allah, aku sudah rindu bertemu dengan-Mu. Semoga Engkau juga begitu terhadapku. Segerakanlah bagiku pertemuan itu!"
Tidak lama setelah Marwan tiba di rumahnya, Abu Hurairah meninggal dunia dengan tenang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Ia telah menghapal tidak kurang dari 1.609 hadits Rasulullah SAW untuk kaum Muslimin.

10 Syawal 1434 H

 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez