Jumat, 02 Maret 2012

Mush’ab Bin Umair

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.04
Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kit, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan
Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan
, dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tetapi corak pribadi manakah?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.
Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.
Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.
Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.
Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.
Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …
Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.
Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.
Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.
Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.
Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.
Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.
Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.
Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.
Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.
la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….
Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.
Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-r\jya.
Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”
Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme·ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….
Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.
Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.
Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.
Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …
Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .
Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:
Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “
Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”
Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:
“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”
Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)
Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan mem balasnya.
Salam atasmu wahai Mush’ab ….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
sumber : al-sofwa

Sejarah Hidup Muhammad (26)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.40
Serentak  pihak  Muslimin menyerbu kedepan, masih dalam jumlah
yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah
penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi
yang membunuh musuh, sudah  bukan  mereka  lagi  yang  menawan
tawanan  perang.  Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang
tertanam  dalam  jiwa  mereka  itu   kekuatan   moril   mereka
bertambah,  sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula.
Dalam hal ini firman Allah turun:
 
"Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para  malaikat:  'Aku
bersama  kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu.
Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam  hati  orang-orang  kafir
itu.  Pukullah  bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap
ujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12)
 
"Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka,  melainkan  Allah
juga  yang  telah  membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan,
sebenarnya bukan engkau yang melakukan  itu,  melainkan  Tuhan
juga." (Qur'an, 8: 17)
 
Tatkala  Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNya
dan  setelah  ternyata  pula  kemenangan   berada   di   pihak
orang-orang   Islam,  ia  kembali  ke  pondoknya.  Orang-orang
Quraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang  tidak
terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
 
Inilah perang Badr, yang kemudian telah memberikan tempat yang
stabil kepada umat Islam  di  seluruh  tanah  Arab,  dan  yang
merupakan   suatu   pendahuluan   lahirnya  persatuan  seluruh
semenanjung  di  bawah  naungan  Islam,  juga  sebagai   suatu
pendahuluan  adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luas
sekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar  di  dunia,
yang  sampai  sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh
yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.
 
Bukan tidak  mungkin  orang  akan  merasa  kagum  sekali  bila
mengetahui,  bahwa, meskipun Muhammad sudah begitu mengerahkan
sahabat-sahabatnya dan mengharapkan  terkikisnya  musuh  Tuhan
dan musuhnya itu, namun sejak semula terjadinya pertempuran ia
sudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh  Banu  Hasyim
dan   tidak   membunuh   orang-orang  tertentu  dari  kalangan
pembesar-pembesar Quraisy, sekalipun pada dasarnya mereka akan
membunuh  setiap  orang  dari  pihak  Islam  yang dapat mereka
bunuh. Dan jangan pula orang mengira, bahwa ia berbuat  begitu
karena  ia  mau membela keluarganya atau siapa saja yang punya
pertalian keluarga dengan dia. Jiwa Muhammad jauh lebih  besar
daripada  akan  terpengaruh  oleh hal-hal serupa itu. Apa yang
menjadi pertimbangannya ialah, ia masih ingat Banu Hasyim dulu
yang telah berusaha melindunginya selama tigabelas tahun sejak
mula masa kerasulannya hingga  masa  hijrahnya,  sampai-sampai
Abbas  pamannya  ikut  menyertainya  pada malam diadakan ikrar
'Aqaba. Juga jasa orang lain  yang  masih  kafir  di  kalangan
Quraisy di luar Banu Hasyim yang menuntut dibatalkannya piagam
pemboikotan, yang  oleh  Quraisy  dia  dan  sahabat-sahabatnya
dipaksa  tinggal di celah-celah gunung, setelah semua hubungan
oleh  mereka  itu  diputuskan.  Segala  kebaikan  yang   telah
diberikan  oleh  mereka  masing-masing  oleh Muhammad dianggap
sebagai suatu jasa yang harus mendapat balasan setimpal, harus
mendapat  balasan  sepuluh  kali  lipat.  Oleh karena itu oleh
Muslimin   ia   dianggap   sebagai   perantara   bagi   mereka
masing-masing selama terjadi pertempuran, meskipun di kalangan
Quraisy sendiri masih ada yang menolak  pemberian  pengampunan
itu seperti yang dilakukan oleh Abu'l-Bakhtari - salah seorang
yang ikut  melaksanakan  dicabutnya  piagam.  Ia  menolak  dan
terbunuh.
 
Dengan perasaan dongkol penduduk Mekah lari tunggang langgang.
Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata  mereka
tertumbuk  pada  salah  seorang  kawan  sendiri,  karena  rasa
malunya ia segera membuang muka, mengingat  nasib  buruk  yang
telah menimpa mereka semua.
 
Sampai sore itu pihak Muslimin masih tinggal di Badr. Kemudian
mayat-mayat Quraisy itu mereka kumpulkan dan setelah dibuatkan
sebuah  perigi  besar  mereka  semua dikuburkan. Malam harinya
Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya   sibuk   di   garis   depan
menyelesaikan barang-barang rampasan perang serta berjaga-jaga
terhadap  orang-orang  tawanan.  Tatkala  malam  sudah   gelap
Muhammad  mulai  merenungkan  pertolongan yang diberikan Tuhan
kepada Muslimin yang dengan jumlah  yang  begitu  kecil  telah
dapat  menghancurkan kaum musyrik yang tidak mempunyai perisai
kekuatan iman selain membanggakan jumlah besarnya saja.  Dalam
ia   merenungkan   hal   ini,   pada  waktu  larut  malam  itu
sahabat-sahabatnya mendengar ia berkata:
 
"Wahai penghuni perigi!  Wahai  'Utba  b.  Rabi'a!  Syaiba  b.
Rabi'a!  Umayya  b.  Khalaf!  Wahai Abu Jahl b. Hisyam! ..." -
Seterusnya ia menyebutkan nama orang-orang yang  dalam  perigi
itu  satu satu. "Wahai penghuni perigi! Adakah yang dijanjikan
tuhanmu itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengan apa yang
telah dijanjikan Tuhanku."
 
"Rasulullah,  kenapa  bicara  dengan  orang-orang  yang  sudah
bangar?" kata kaum Muslimim kemudian bertanya.
 
"Apa yang saya katakan mereka lebih mendengar daripada  kamu,"
jawab Rasul. "Tetapi mereka tidak dapat menjawab."
 
Ketika  itu Rasulullah melihat ke dalam wajah Abu Hudhaifa ibn
'Utba. Ia tampak sedih dan mukanya berubah.
 
"Barangkali ada sesuatu  dalam  hatimu  mengenai  ayahmu,  Abu
Hudhaifa"? tanyanya.
 
"Sekali-kali  tidak, Rasulullah," jawab Abu Hudhaifa. "Tentang
ayah, saya tidak sangsi lagi, juga tentang kematiannya.  Hanya
saja yang saya ketahui pikirannya baik, bijaksana dan berjasa.
Jadi saya harapkan sekali ia akan  mendapat  petunjuk  menjadi
seorang Islam. Tetapi sesudah saya lihat apa yang teriadi, dan
teringat pula hidupnya dulu  dalam  kekafiran,  sesudah  makin
jauh apa yang saya harapkan dari dia, itulah yang membuat saya
sedih."
 
Tetapi Rasulullah menyebutkan  yang  baik  tentang  dia  serta
mendoakan kebaikan baginya.
 
Keesokan harinya pagi-pagi, bila Muslimin sudah siap-siap akan
berangkat pulang menuju Medinah,  mulailah  timbul  pertanyaan
sekitar  masalah  harta  rampasan, buat siapa seharusnya. Kata
mereka yang melakukan  serangan:  kami  yang  mengumpulkannya;
jadi  itu buat kami. Lalu kata yang mengejar musuh sampai pada
waktu mereka mengalami kehancuran  kalau  tidak  karena  kami,
kamu  tidak akan mendapatkannya. Dan kata mereka yang mengawal
Muhammad karena kuatir akan diserang musuh dari belakang: kamu
sekalian  tak ada yang lebih berhak dari kami. Sebenarnya kami
dapat memerangi musuh dan mengambil harta mereka,  ketika  tak
ada  suatu  pihakpun  yang akan melindungi mereka. Tetapi kami
kuatir adanya serangan musuh kepada  Rasulullah.  Oleh  karena
itu kami lalu menjaganya.
 
Tetapi  kemudian  Muhammad  menyuruh mengembalikan semua harta
rampasan yang ada ditangan mereka itu, dan  dimintanya  supaya
dibawa  agar  ia  dapat  memberikan  pendapat  atau  akan  ada
ketentuan Tuhan yang akan menjadi keputusan.
 
Muhammad mengutus Abdullah b. Rawaha dan Zaid  b.  Haritha  ke
Medinah  guna  menyampaikan  berita  gembira  kepada  penduduk
tentang kemenangan yang telah dicapai  kaum  Muslimin.  Sedang
dia  sendiri  dengan  sahabat-sahabatnya berangkat pula menuju
Medinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang  telah
diperolehnya  dari  kaum  musyrik,  dan diserahkan pimpinannya
kepada Abdullah b. Ka'b.
 
Mereka berangkat. Sesudah  menyeberangi  selat  Shafra',  pada
sebuah  bukit  pasir Muhammad berhenti. Di tempat ini rampasan
perang yang sudah ditentukan Allah bagi  Muslimin  itu  dibagi
rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, bahwa pembagian kepada
mereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firman
Allah:
 
"Dan  hendaklah  kamu ketahui, bahwa rampasan perang yang kamu
peroleh, seperlimanya untuk Tuhan,  untuk  Rasul,  untuk  para
kerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang
terlantar dalam perjalanan,  kalau  kamu  benar-benar  beriman
kepada Allah dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
pada hari yang menentukan itu, hari, ketika dua  golongan  itu
saling  berhadapan. Dan atas segala sesuatu Allah Maha Kuasa."
(Qur'an, 8: 41)
 
Sebahagian besar  penulis-penulis  sejarah  Nabi  berpendapat,
terutama  angkatan lamanya - bahwa ayat tersebut turun sesudah
peristiwa Badr dan sesudah rampasan perang dibagi,  dan  bahwa
Muhammad  membaginya  secara  merata di kalangan Muslimin, dan
bahwa  untuk  kuda  disamakannya  dengan  apa  yang  ada  pada
penunggangnya,  bagian  mereka  yang  gugur  di Badr diberikan
kepada ahli warisnya, mereka yang tinggal di Medinah dan tidak
ikut  ke Badr karena bertugas mengurus keperluan Muslimin, dan
mereka yang dikerahkan berangkat ke Badr  tapi  tertinggal  di
belakang karena sesuatu alasan yang dapat diterima oleh Rasul,
juga mendapat bagian.  Dengan  demikian  rampasan  perang  itu
dibagi  secara  adil.  Yang  ikut  bersama  dalam  perang  dan
mendapat kemenangan bukan hanya yang bertempur saja, melainkan
yang  ikut  bersama-sama  dalam perang dan mendapat kemenangan
itu ialah siapa saja yang ikut bekerja kearah itu,  baik  yang
di garis depan atau yang jauh dari sana.
 
Sementara  kaum  Muslimin dalam perjalanan ke Medinah itu, dua
orang tawanan telah mati terbunuh, yakni seorang bernama Nadzr
bin'l-Harith  dan  yang  seorang  lagi  bernama  'Uqba  b. Abi
Mu'ait.   Sampai   pada   waktu   itu   baik   Muhammad   atau
sahabat-sahabatnya belum lagi membuat suatu peraturan tertentu
dalam menghadapi  para  tawanan  itu  yang  akan  mengharuskan
mereka dibunuh, ditebus atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan
'Uqba ini keduanya  merupakan  bahaya  yang  selalu  mengancam
Muslimin  selama  di  Mekah  dulu. Setiap ada kesempatan kedua
orang ini selalu mengganggu mereka.
 
Terbunuhnya Nadzr ini ialah tatkala mereka  sampai  di  Uthail
para  tawanan  itu  diperlihatkan  kepada Nabi a.s. Ditatapnya
Nadzr ini dengan pandangan mata yang demikian  rupa,  sehingga
tawanan  ini  gemetar  seraya  berkata  kepada  seseorang yang
berada di sampingnya:
 
"Muhammad pasti akan membunuh  aku,"  katanya.  "Ia  menatapku
dengan pandangan mata yang mengandung maut."
 
"Ini  hanya karena kau merasa takut saja," jawab orang yang di
sebelahnya.
 
Sekarang Nadzr berkata kepada Mushiab b. 'Umair -  orang  yang
paling banyak punya rasa belas-kasihan di tempat itu.
 
"Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salah
seorang sahabatnya. Kalau ini tidak kaulakukan pasti dia  akan
membunuh aku."
 
"Tetapi   dulu   kau  mengatakan  begini  dan  begitu  tentang
Kitabullah dan tentang diri Nabi,"  kata  Mushiab.  "Dulu  kau
menyiksa sahabat-sahabatnya."
 
"Sekiranya  engkau  yang  ditawan  oleh  Quraisy,  kau  takkan
dibunuh selama aku masih hidup," kata Nadzr lagi.
 
"Engkau tak dapat dipercaya,"  kata  Mush'ab.  "Dan  lagi  aku
tidak seperti engkau. Janji Islam dengan kau sudah terputus."
 
Sebenarnya  Nadzr adalah tawanan Miqdad, yang dalam hal ini ia
ingin memperoleh tebusan yang  cukup  besar  dan  keluarganya.
Mendengar  percakapan  tentang  akan  dibunuhnya itu ia segera
berkata:
 
"Nadzr tawananku," teriaknya.
 
"Pukul lehernya," kata Nabi  a.s.  "Ya  Allah.  Semoga  Miqdad
mendapat karuniaMu."
 
Dengan  pukulan  pedang  kemudian  ia  dibunuh oleh Ali b. Abi
Talib.
 
Pada   waktu   mereka   dalam   perjalanan   ke   'Irq'z-Zubya
diperintahkan  oleh  Nabi  supaya  'Uqba  b.  Abi  Mu'ait juga
dibunuh.
 
"Muhammad," katanya, "siapa yang akan mengurus anak-anak?"
 
"Api," jawabnya.
 
Lalu iapun dibunuh oleh Ali b. Abi Talib atau oleh  'Ashim  b.
Thabit, sumbernya berlain-lain.

Sehari  sebelum  Nabi  dan  Muslimin  sampai  di Medinah kedua
utusannya Zaid b. Haritha dan Abdullah b. Rawaha  sudah  lebih
dulu  sampai.  Mereka masing-masing memasuki kota dari jurusan
yang berlain-lainan. Dan  atas  unta  yang  dikendarainya  itu
Abdullah  mengumumkan  dan  memberikan  kabar  gembira  kepada
Anshar  tentang  kemenangan  Rasulullah  dan  sahabat-sahabat,
sambil   menyebutkan   siapa-siapa   dan  pihak  musyrik  yang
terbunuh. Begitu juga Zaid b. Haritha melakukan hal yang  sama
sambil  ia  menunggang  Al-Qashwa',  unta kendaraan Nabi. Kaum
Muslimin bergembira ria. Mereka  berkumpul,  dan  mereka  yang
masih   berada   dalam  rumah  pun  keluar  beramai-ramai  dan
berangkat menyambut berita kemenangan besar ini.
 
Sebaliknya orang-orang musyrik dan orang-orang  Yahudi  merasa
terpukul  sekali  dengan  berita  itu.  Mereka  berusaha  akan
meyakinkan diri  mereka  sendiri  dan  meyakinkan  orang-orang
Islam yang tinggal di Medinah, bahwa berita itu tidak benar.
 
"Muhammad    sudah    terbunuh    dan   teman-temannya   sudah
ditaklukkan,"  tenak  mereka.  "Ini  untanya   seperti   sudah
sama-sama  kita kenal. Kalau dia yang menang, niscaya unta ini
masih di sana. Apa yang dikatakan  Zaid  hanya  mengigau  saja
dia, karena sudah gugup dan ketakutan."
 
Tetapi  pihak  Muslimin  setelah mendapat kepastian benar dari
kedua utusan itu dan yakin sekali akan kebenaran  berita  itu,
sebenarnya  mereka  malah  makin  gembira,  kalau  tidak  lalu
terjadi suatu penstiwa yang mengurangi rasa kegembiraan mereka
itu,  yakni  penstiwa  kematian  Ruqayya  puteri Nabi. Tatkala
ditinggalkan  pergi  ke  Badr  ia  dalam  keadaan  sakit,  dan
suaminya,   Usman   b.   'Affan,   juga   ditinggalkan  supaya
merawatnya.
 
Apabila kemudian temyata bahwa Muhammad  yang  menang,  mereka
merasa  sangat  terkejut. Posisi mereka terhadap Muslimin jadi
lebih rendah dan hina sekali, sampai-sampai ada salah  seorang
pembesar Yahudi yang mengatakan:
 
"Bari  kita  sekarang  lebih  baik  berkalang  tanah  daripada
tinggal   di   atas   bumi   ini   sesudah   kaum   bangsawan,
pemimpinpemimpin  dan  pemuka-pemuka Arab serta penduduk tanah
suci itu mendapat bencana."
 
Kaum Muslimin memasuki Medinah sehari sebelum  tawanan-tawanan
perang  sampai.  Setelah  mereka  dibawa  dan  Sauda bt. Zam'a
isteri Nabi  baru  saja  pulang  melawati11  orang  mati  pada
kabilah  Banu  'Afra',  tempat  asalnya,  dilihatnya Abu Yazid
Suhail b.  'Amr,  salah  seorang  tawanan,  yang  kedua  belah
tangannya  diikat dengan tali ke tengkuk, ia tak dapat menahan
diri. Dihampirinya orang itu seraya katanya:
 
"Oh Abu Yazid! Kamu sudah menyerahkan diri.  Lebih  baik  mati
sajalah dengan terhormat!."
 
"Sauda!"   Muhammad   memanggilnya   dan   dalam  rumah.  "Kau
membangkitkan semangatnya melawan Allah dan RasulNya!"
 
"Rasulullah,"  katanya.  "Demi  Allah  Yang  telah  mengutusmu
dengan  segala  kebenaran.  Saya  sudah tak dapat menahan diri
ketika melihat Abu Yazid dengan tangannya terikat  di  tengkuk
sehingga saya berkata begitu."
 
Sesudah  itu  kemudian  Muhammad memisah-misahkan para tawanan
itu  di  antara  sahabat-sahabatnya,  sambil  berkata   kepada
mereka:
 
"Perlakukanlah mereka sebaik-baiknya."
 
Hal  ini  kemudian  menjadi  pikiran  baginya,  apa yang harus
dilakukannya terhadap mereka  itu.  Dibunuh  saja  atau  harus
meminta tebusan dari mereka? Mereka itu orang-orang yang keras
dalam perang, orang yang kuat  bertempur.  Hati  mereka  penuh
rasa  dengki dan dendam setelah mereka mengalami kehancuran di
Badr, serta  akibatnya  yang  telah  membawa  keaiban  sebagai
tawanan  perang.  Apabila ia mau menerima tebusan, ini berarti
mereka akan berkomplot dan  akan  kembali  memeranginya  lagi;
kalau  dibunuh saja mereka itu, akan menimbulkan sesuatu dalam
hati  keluarga-keluarga  Quraisy,  yang  bila  dapat   ditebus
barangkali akan jadi tenang.
 
Ia  menyerahkan  masalah  ini  ketangan  sahabat-sahabat  kaum
Muslimin. Diajaknya mereka bermusyawarah dan pilihan  terserah
kepada    mereka.    Kalangan    Muslimin    sendiri   melihat
tawanan-tawanan  ini  ternyata  masih  ingin  hidup  dan  akan
bersedia membayar tebusan dengan harga tinggi.
 
"Lebih baik kita mengirim orang kepada Abu Bakr," kata mereka.
"Dari kerabat kita ia orang Quraisy  yang  pertama,  dan  yang
paling  lembut dan banyak punya rasa belas-kasihan. Kita tidak
melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia."
 
Lalu mereka mengutus orang menemui Abu Bakr.
 
"Abu Bakr," kata mereka. "Di antara kita ada yang masih pernah
ayah,  saudara,  paman  atau  mamak  kita serta saudara sepupu
kita.  Orang  yang  jauh  dari  kitapun  masih  kerabat  kita.
Bicarakanlah  dengan sahabatmu itu supaya bermurah hati kepada
kami atau menerima penebusan kami."
 
Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha.  Tetapi  mereka
kuatir  Umar ibn'l-Khattab akan mempersulit urusan mereka ini.
Maka mereka mengutus beberapa  orang  lagi  kepadanya,  dengan
menyatakan seperti yang dikatakan kepada Abu Bakr. Tetapi Umar
menatap mereka penuh  curiga.  Kemudian  kedua  sahabat  besar
Muhammad   ini   berangkat   menemuinya.   Abu  Bakr  berusaha
melunakkan dan meredakan kemarahannya.
 
"Rasulullah," katanya. "Demi ayah dan ibuku. Mereka itu  masih
keluarga  kita; ada ayah, ada anak atau paman, ada sepupu atau
saudara-saudara. Orang yang jauh dari  kitapun  masih  kerabat
kita.  Bermurah  hatilah  kita kepada mereka itu. Semoga Tuhan
memberi kemurahan kepada kita.  Atau  kita  terimalah  tebusan
dari  mereka,  semoga Tuhan akan menyelamatkan mereka dari api
neraka. Maka apa yang kita ambil dari mereka  akan  memperkuat
kaum  Muslimin  juga.  Semoga  Allah  kelak  membalikkan  hati
mereka."
 
Muhammad diam, tidak menjawab. Kemudian ia berdiri  dan  pergi
menyendiri. Oleh Umar ia didekati dan duduk di sebelahnya.
 
"Rasulullah,"   katanya.   "Mereka   itu   musuh-musuh  Tuhan.
Mendustakan tuan, memerangi tuan dan  mengusir  tuan.  Penggal
sajalah leher mereka. Mereka inilah kepala-kepala orang kafir,
pemuka-pemuka orang yang sesat. Orang-orang musyrik itu adalah
orang-orang yang sudah dihinakan Tuhan."
 
Juga Muhammad tidak menjawab.
 
Sekarang  Abu  Bakr  kembali ke tempat duduknya semula. Begitu
lemah-lembut ia bersikap sambil mengharapkan sikap yang  lebih
lunak.  Disebutnya  adanya  pertalian  famili dan kerabat, dan
kalau  para  tawanan  itu  masih  hidup,  diharapkannya   akan
mendapat  petunjuk  Tuhan.  Sedang Umar kembali memperlihatkan
sikapnya  yang  adil  dan  keras.  Baginya  lemah-lembut  atau
kasihan tidak ada.
 
Selesai Abu Bakr dan Umar bicara, Muhammad berdiri. Ia kembali
ke kamarnya. Ia tinggal sejenak di sana. Kemudian  ia  kembali
keluar.  Orang  ramai  segera  melibatkan diri dalam persoalan
ini. Satu pihak mendukung pendapat Abu Bakr, yang lain memihak
kepada  Umar.  Nabi  mengajak mereka berunding, apa yang harus
dilakukannya. Lalu dibuatnya  suatu  perumpamaan  tentang  Abu
Bakr  dan  Umar.  Abu  Bakr  adalah seperti Mikail, diturunkan
Tuhan dengan membawa sifat pemaaf kepada  hambaNya.  Dan  dari
kalangan  nabi-nabi  seperti  Ibrahim.  Ia sangat lemah-lembut
terhadap masyarakatnya. Oleh masyarakatnya sendiri  ia  dibawa
dan  dicampakkan  ke  dalam  api.  Tapi  tidak  lebih ia hanya
berkata:
 
"Cih! Kenapa kamu menyembah  sesuatu  selain  Allah?  Tidakkah
kamu berakal?" (Qur'an, 21: 67)
 
Atau seperti katanya:
 
"Yang ikut aku, dia itulah yang di pihakku. Tapi terhadap yang
membangkang kepadaku, Engkau Maha  Pengampun  dan  Penyayang."
(Qur'an. 14: 36)
                                    
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penyakit Kanker Payudara

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 05.51
Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (Breast Cancer/Carcinoma mammae) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomer lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati dan kanker usus.


  • Penyebab Penyakit Kanker Payudara


  • Penyakit kanker payudara terbilang penyakit kanker yang paling umum menyerang kaum wanita, meski demikian pria pun memiliki kemungkinan mengalami penyakit ini dengan perbandingan 1 di antara 1000. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kanker ini terjadi, namun beberapa faktor kemungkinannya adalah :

    1. Usia, Penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja keatas.

    2. Genetik, Ada 2 jenis gen (BRCA1 dan BRCA2) yang sagat mungkin sebagai resiko. Jika ibu atau saudara wanita mengidap penyakit kanker payudara, maka anda kemungkinan memiliki resiko kanker payudara 2 kali lipat dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada penderita satupun.

    3. Pemakaian obat-obatan, Misalnya seorang wanita yang menggunakan therapy obat hormon pengganti {hormone replacement therapy (HRT)} seperti Hormon eksogen akan bisa menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit kanker payudara.

    4. Faktor lain yang diduga sebagai penyebab kanker payudara adalah; tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.

    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress (goncangan jiwa) dan juga bagi wanita yang sebelumnya mengalami menstruasi dibawah usia 11 tahun.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Kanker Payudara


  • Bagi anda yang merasakan adanya benjolan aneh disekitar jaringan payudara atau bahkan salah satu payudara tampak lebih besar, Sebaiknya cepat berkonsultasi kepada dokter. Benjolan ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, mulai dari ukuran kecil yang kemudian menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit. Beberapa kasus terjadi perubahan kulit payudara sekitar benjolan atau perubahan pada putingnya.


    Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat ditekan. Jika dirasakan nyeri pada payudara dan puting susu yang tidak kunjung hilang, sebaiknya segera memeriksakan diri kedokter. Puting susu yang mengkerut kedalam, yang tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecoklatan bahkan adanya oedema (bengkak) sekitar puting merupakan salah satu tanda kuat adanya kanker payudara. Hal lain adalah seringnya keluar cairan dari puting susu ketika tidak lagi menyusui bayi anda.

  • Diagnosa Penyakit Kanker Payudara


  • Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).

  • Type Penyakit Kanker Payudara


  • Melalui pemeriksaan yang di sebut dengan mammograms, maka typekanker payudara ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu :


    1. Kanker payudara non invasive, kanker yang terjadi pada kantung (tube) susu {penghubung antara alveolus (kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara}. Dalam bahasa kedokteran disebut 'ductal carcinoma in situ' (DCIS), yang mana kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.

    2. Kanker payudara invasive, kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.

  • Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kanker Payudara


  • Penanganan dan pengobatan penyakit kanker payudara tergantung dari type dan stadium yang dialami penderita. Umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit kanker payudara setelah menginjak stadiun lanjut yang cukup parah, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau rasa malu sehingga terlambat untuk diperiksakan kedokter atas kelainan yang dihadapinya.

    1. Pembedahan, Pada kanker payudara yang diketahui sejak dini maka pembedahan adalah tindakan yang tepat. Dokter akan mengangkat benjolan serta area kecil sekitarnya yang lalu menggantikannya dengan jaringan otot lain (lumpectomy). Secara garis besar, ada 3 tindakan pembedahan atau operasi kanker payudara diantaranya ;

    - Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara (lumpectomy). Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
    - Total Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
    - Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

    2. Radiotherapy (Penyinaran/radiasi), yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.

    3. Therapy Hormon, Hal ini dikenal sebagai 'Therapy anti-estrogen' yang system kerjanya memblock kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan kanker pada payudara.

    4. Chemotherapy, Ini merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Sistem ini diharapkan mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan telah menyebar kebagian tubuh lainnya. Dampak dari kemoterapy adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.

    5. Pengobatan Herceptin, adalah therapy biological yang dikenal efektif melawan HER2-positive pada wanita yang mengalami kanker payudara stadium II, III dan IV dengan penyebaran sel cancernya.

  • Pencegahan Penyakit Kanker Payudara


  • Bagi anda yang merasakan ada hal yang tampak berbeda pada payudara, segeralah memeriksakannya ke dokter jangan sampai terlambat. Misalnya adanya pembesaran sebelah, adanya benjolan disekitar payudara, nyeri terus menerus pada puting susu dan sebagainya seperti pada keterangan tanda dan gejala payudara diatas.

    Tindakan lain yang bisa anda lakukan adalah Hindari kegemukan, Kurangi makan lemak, Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap, Olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.

    Perbaikan Tanda Penyeberangan Hewan

    Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 05.45
    Seorang awak pekerja pemeliharaan jalan raya telah dikirim untuk memperbaiki beberapa tanda-tanda jalan di daerah berhutan yang dirusak oleh pengacau. Yang pertama mereka perbaiki kembali adalah peringatan simbol dari penyeberangan sapi.

    Ketika mereka pindah ke jalan untuk memperbaiki tanda berikutnya, salah satu anggota kru melihat ke belakang dan melihat seekor sapi berlari di jalan raya.

    Sambil menoleh ke seorang rekan kerjanya dia berkata, "Aku ingin tahu berapa lama dia telah menunggu untuk menyeberang ya?"

    Kamis, 01 Maret 2012

    focus

    Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.44
    I trying to focus and come off again
    I always pray to Allah to give me force for istiqomah in this way

    I claim that someday I feel tired
    but althought become, I can ease
    so I am be bogged down to something careless

    amin
    @rahmisyam

    Bpk Ancu Say 10

    Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.43
    Jangan pernah putuskan silaturahmi

    Syuhada

    Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.34
    1. Para syuhada di lembah (tepi) sungai dekat pintu surga dalam bangunan berkubah berwarna hijau. Rezeki mereka datang dari surga setiap pagi dan petang. (HR. Al Hakim dan Ahmad)

    2. Seorang yang mati syahid diberi enam perkara pada saat tetesan darah pertama mengalir dari tubuhnya: semua dosanya diampuni (tertebus), diperlihatkan tempatnya di surga, dikawinkan dengan bidadari, diamankan dari kesusahan kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), diselamatkan dari siksa kubur dan dihiasi dengan pakaian keimanan. (HR. Bukhari)
     
    3. Barangsiapa tewas membela Ad Dien-Nya (maka) matinya syahid. (HR. Asysyihaab)

    4. Orang yang tewas melindungi keselamatan hartanya mati syahid dan yang membela (kehormatan) keluarganya mati syahid dan membela dirinya (kehormatan dan jiwanya) juga mati syahid. (HR. Ahmad)
     
    5. Bagi Allah ada hamba-hamba yang dipelihara dari pembunuhan. Umur mereka diperpanjang dengan amalan kebaikan-kebaikari. Rezeki mereka ditingkatkan dan hidup mereka serba selamat. Nyawa mereka direnggut dengan selamat di atas tempat tidurnya dan mereka diberi kedudukan sebagai syuhada. (HR. Ath-Thabrani)
     
    6. Barangsiapa mencari mati syahid dengan sungguh-sungguh maka akan Aku berikan kepadanya meskipun dia mati di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)
     
    7. Seorang yang mati syahid dapat memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    8. Apa yang dirasakan seorang syahid yang terbunuh adalah seperti yang dirasakan seorang dari cubitan (gigitan serangga). (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
     
    9. Pahlawan syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib dan orang yang menghadap penguasa yang zalim dan kejam untuk menyuruhnya berlaku baik dan mencegahnya berbuat kejahatan lalu dia dibunuh oleh penguasa. (HR. Al Hakim)

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

    Jumat, 02 Maret 2012

    Mush’ab Bin Umair

    Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kit, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan
    Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·
    Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan
    , dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.
    Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Tetapi corak pribadi manakah?
    Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
    Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
    Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.
    Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
    Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
    Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
    Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.
    Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
    Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.
    Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.
    Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
    Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.
    Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
    Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
    Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.
    Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
    Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
    Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …
    Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.
    Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
    Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.
    Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
    Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.
    Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.
    Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
    Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
    Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.
    Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
    Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …
    Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.
    Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.
    Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.
    Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
    Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.
    Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.
    Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.
    Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.
    la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….
    Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.
    Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.
    Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
    Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-r\jya.
    Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
    Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
    Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
    Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”
    Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
    “Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.
    Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme·ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….
    Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
    Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”
    Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.
    Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.
    Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.
    Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
    Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …
    Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .
    Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
    Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:
    Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
    Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “
    Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”
    Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
    Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
    Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
    Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
    Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
    Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:
    “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”
    Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
    Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)
    Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
    Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
    Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
    Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
    Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
    Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan mem balasnya.
    Salam atasmu wahai Mush’ab ….
    Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    sumber : al-sofwa

    Sejarah Hidup Muhammad (26)

    Serentak  pihak  Muslimin menyerbu kedepan, masih dalam jumlah
    yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah
    penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi
    yang membunuh musuh, sudah  bukan  mereka  lagi  yang  menawan
    tawanan  perang.  Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang
    tertanam  dalam  jiwa  mereka  itu   kekuatan   moril   mereka
    bertambah,  sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula.
    Dalam hal ini firman Allah turun:
     
    "Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para  malaikat:  'Aku
    bersama  kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu.
    Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam  hati  orang-orang  kafir
    itu.  Pukullah  bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap
    ujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12)
     
    "Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka,  melainkan  Allah
    juga  yang  telah  membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan,
    sebenarnya bukan engkau yang melakukan  itu,  melainkan  Tuhan
    juga." (Qur'an, 8: 17)
     
    Tatkala  Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNya
    dan  setelah  ternyata  pula  kemenangan   berada   di   pihak
    orang-orang   Islam,  ia  kembali  ke  pondoknya.  Orang-orang
    Quraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang  tidak
    terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
     
    Inilah perang Badr, yang kemudian telah memberikan tempat yang
    stabil kepada umat Islam  di  seluruh  tanah  Arab,  dan  yang
    merupakan   suatu   pendahuluan   lahirnya  persatuan  seluruh
    semenanjung  di  bawah  naungan  Islam,  juga  sebagai   suatu
    pendahuluan  adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luas
    sekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar  di  dunia,
    yang  sampai  sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh
    yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.
     
    Bukan tidak  mungkin  orang  akan  merasa  kagum  sekali  bila
    mengetahui,  bahwa, meskipun Muhammad sudah begitu mengerahkan
    sahabat-sahabatnya dan mengharapkan  terkikisnya  musuh  Tuhan
    dan musuhnya itu, namun sejak semula terjadinya pertempuran ia
    sudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh  Banu  Hasyim
    dan   tidak   membunuh   orang-orang  tertentu  dari  kalangan
    pembesar-pembesar Quraisy, sekalipun pada dasarnya mereka akan
    membunuh  setiap  orang  dari  pihak  Islam  yang dapat mereka
    bunuh. Dan jangan pula orang mengira, bahwa ia berbuat  begitu
    karena  ia  mau membela keluarganya atau siapa saja yang punya
    pertalian keluarga dengan dia. Jiwa Muhammad jauh lebih  besar
    daripada  akan  terpengaruh  oleh hal-hal serupa itu. Apa yang
    menjadi pertimbangannya ialah, ia masih ingat Banu Hasyim dulu
    yang telah berusaha melindunginya selama tigabelas tahun sejak
    mula masa kerasulannya hingga  masa  hijrahnya,  sampai-sampai
    Abbas  pamannya  ikut  menyertainya  pada malam diadakan ikrar
    'Aqaba. Juga jasa orang lain  yang  masih  kafir  di  kalangan
    Quraisy di luar Banu Hasyim yang menuntut dibatalkannya piagam
    pemboikotan, yang  oleh  Quraisy  dia  dan  sahabat-sahabatnya
    dipaksa  tinggal di celah-celah gunung, setelah semua hubungan
    oleh  mereka  itu  diputuskan.  Segala  kebaikan  yang   telah
    diberikan  oleh  mereka  masing-masing  oleh Muhammad dianggap
    sebagai suatu jasa yang harus mendapat balasan setimpal, harus
    mendapat  balasan  sepuluh  kali  lipat.  Oleh karena itu oleh
    Muslimin   ia   dianggap   sebagai   perantara   bagi   mereka
    masing-masing selama terjadi pertempuran, meskipun di kalangan
    Quraisy sendiri masih ada yang menolak  pemberian  pengampunan
    itu seperti yang dilakukan oleh Abu'l-Bakhtari - salah seorang
    yang ikut  melaksanakan  dicabutnya  piagam.  Ia  menolak  dan
    terbunuh.
     
    Dengan perasaan dongkol penduduk Mekah lari tunggang langgang.
    Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata  mereka
    tertumbuk  pada  salah  seorang  kawan  sendiri,  karena  rasa
    malunya ia segera membuang muka, mengingat  nasib  buruk  yang
    telah menimpa mereka semua.
     
    Sampai sore itu pihak Muslimin masih tinggal di Badr. Kemudian
    mayat-mayat Quraisy itu mereka kumpulkan dan setelah dibuatkan
    sebuah  perigi  besar  mereka  semua dikuburkan. Malam harinya
    Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya   sibuk   di   garis   depan
    menyelesaikan barang-barang rampasan perang serta berjaga-jaga
    terhadap  orang-orang  tawanan.  Tatkala  malam  sudah   gelap
    Muhammad  mulai  merenungkan  pertolongan yang diberikan Tuhan
    kepada Muslimin yang dengan jumlah  yang  begitu  kecil  telah
    dapat  menghancurkan kaum musyrik yang tidak mempunyai perisai
    kekuatan iman selain membanggakan jumlah besarnya saja.  Dalam
    ia   merenungkan   hal   ini,   pada  waktu  larut  malam  itu
    sahabat-sahabatnya mendengar ia berkata:
     
    "Wahai penghuni perigi!  Wahai  'Utba  b.  Rabi'a!  Syaiba  b.
    Rabi'a!  Umayya  b.  Khalaf!  Wahai Abu Jahl b. Hisyam! ..." -
    Seterusnya ia menyebutkan nama orang-orang yang  dalam  perigi
    itu  satu satu. "Wahai penghuni perigi! Adakah yang dijanjikan
    tuhanmu itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengan apa yang
    telah dijanjikan Tuhanku."
     
    "Rasulullah,  kenapa  bicara  dengan  orang-orang  yang  sudah
    bangar?" kata kaum Muslimim kemudian bertanya.
     
    "Apa yang saya katakan mereka lebih mendengar daripada  kamu,"
    jawab Rasul. "Tetapi mereka tidak dapat menjawab."
     
    Ketika  itu Rasulullah melihat ke dalam wajah Abu Hudhaifa ibn
    'Utba. Ia tampak sedih dan mukanya berubah.
     
    "Barangkali ada sesuatu  dalam  hatimu  mengenai  ayahmu,  Abu
    Hudhaifa"? tanyanya.
     
    "Sekali-kali  tidak, Rasulullah," jawab Abu Hudhaifa. "Tentang
    ayah, saya tidak sangsi lagi, juga tentang kematiannya.  Hanya
    saja yang saya ketahui pikirannya baik, bijaksana dan berjasa.
    Jadi saya harapkan sekali ia akan  mendapat  petunjuk  menjadi
    seorang Islam. Tetapi sesudah saya lihat apa yang teriadi, dan
    teringat pula hidupnya dulu  dalam  kekafiran,  sesudah  makin
    jauh apa yang saya harapkan dari dia, itulah yang membuat saya
    sedih."
     
    Tetapi Rasulullah menyebutkan  yang  baik  tentang  dia  serta
    mendoakan kebaikan baginya.
     
    Keesokan harinya pagi-pagi, bila Muslimin sudah siap-siap akan
    berangkat pulang menuju Medinah,  mulailah  timbul  pertanyaan
    sekitar  masalah  harta  rampasan, buat siapa seharusnya. Kata
    mereka yang melakukan  serangan:  kami  yang  mengumpulkannya;
    jadi  itu buat kami. Lalu kata yang mengejar musuh sampai pada
    waktu mereka mengalami kehancuran  kalau  tidak  karena  kami,
    kamu  tidak akan mendapatkannya. Dan kata mereka yang mengawal
    Muhammad karena kuatir akan diserang musuh dari belakang: kamu
    sekalian  tak ada yang lebih berhak dari kami. Sebenarnya kami
    dapat memerangi musuh dan mengambil harta mereka,  ketika  tak
    ada  suatu  pihakpun  yang akan melindungi mereka. Tetapi kami
    kuatir adanya serangan musuh kepada  Rasulullah.  Oleh  karena
    itu kami lalu menjaganya.
     
    Tetapi  kemudian  Muhammad  menyuruh mengembalikan semua harta
    rampasan yang ada ditangan mereka itu, dan  dimintanya  supaya
    dibawa  agar  ia  dapat  memberikan  pendapat  atau  akan  ada
    ketentuan Tuhan yang akan menjadi keputusan.
     
    Muhammad mengutus Abdullah b. Rawaha dan Zaid  b.  Haritha  ke
    Medinah  guna  menyampaikan  berita  gembira  kepada  penduduk
    tentang kemenangan yang telah dicapai  kaum  Muslimin.  Sedang
    dia  sendiri  dengan  sahabat-sahabatnya berangkat pula menuju
    Medinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang  telah
    diperolehnya  dari  kaum  musyrik,  dan diserahkan pimpinannya
    kepada Abdullah b. Ka'b.
     
    Mereka berangkat. Sesudah  menyeberangi  selat  Shafra',  pada
    sebuah  bukit  pasir Muhammad berhenti. Di tempat ini rampasan
    perang yang sudah ditentukan Allah bagi  Muslimin  itu  dibagi
    rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, bahwa pembagian kepada
    mereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firman
    Allah:
     
    "Dan  hendaklah  kamu ketahui, bahwa rampasan perang yang kamu
    peroleh, seperlimanya untuk Tuhan,  untuk  Rasul,  untuk  para
    kerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang
    terlantar dalam perjalanan,  kalau  kamu  benar-benar  beriman
    kepada Allah dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
    pada hari yang menentukan itu, hari, ketika dua  golongan  itu
    saling  berhadapan. Dan atas segala sesuatu Allah Maha Kuasa."
    (Qur'an, 8: 41)
     
    Sebahagian besar  penulis-penulis  sejarah  Nabi  berpendapat,
    terutama  angkatan lamanya - bahwa ayat tersebut turun sesudah
    peristiwa Badr dan sesudah rampasan perang dibagi,  dan  bahwa
    Muhammad  membaginya  secara  merata di kalangan Muslimin, dan
    bahwa  untuk  kuda  disamakannya  dengan  apa  yang  ada  pada
    penunggangnya,  bagian  mereka  yang  gugur  di Badr diberikan
    kepada ahli warisnya, mereka yang tinggal di Medinah dan tidak
    ikut  ke Badr karena bertugas mengurus keperluan Muslimin, dan
    mereka yang dikerahkan berangkat ke Badr  tapi  tertinggal  di
    belakang karena sesuatu alasan yang dapat diterima oleh Rasul,
    juga mendapat bagian.  Dengan  demikian  rampasan  perang  itu
    dibagi  secara  adil.  Yang  ikut  bersama  dalam  perang  dan
    mendapat kemenangan bukan hanya yang bertempur saja, melainkan
    yang  ikut  bersama-sama  dalam perang dan mendapat kemenangan
    itu ialah siapa saja yang ikut bekerja kearah itu,  baik  yang
    di garis depan atau yang jauh dari sana.
     
    Sementara  kaum  Muslimin dalam perjalanan ke Medinah itu, dua
    orang tawanan telah mati terbunuh, yakni seorang bernama Nadzr
    bin'l-Harith  dan  yang  seorang  lagi  bernama  'Uqba  b. Abi
    Mu'ait.   Sampai   pada   waktu   itu   baik   Muhammad   atau
    sahabat-sahabatnya belum lagi membuat suatu peraturan tertentu
    dalam menghadapi  para  tawanan  itu  yang  akan  mengharuskan
    mereka dibunuh, ditebus atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan
    'Uqba ini keduanya  merupakan  bahaya  yang  selalu  mengancam
    Muslimin  selama  di  Mekah  dulu. Setiap ada kesempatan kedua
    orang ini selalu mengganggu mereka.
     
    Terbunuhnya Nadzr ini ialah tatkala mereka  sampai  di  Uthail
    para  tawanan  itu  diperlihatkan  kepada Nabi a.s. Ditatapnya
    Nadzr ini dengan pandangan mata yang demikian  rupa,  sehingga
    tawanan  ini  gemetar  seraya  berkata  kepada  seseorang yang
    berada di sampingnya:
     
    "Muhammad pasti akan membunuh  aku,"  katanya.  "Ia  menatapku
    dengan pandangan mata yang mengandung maut."
     
    "Ini  hanya karena kau merasa takut saja," jawab orang yang di
    sebelahnya.
     
    Sekarang Nadzr berkata kepada Mushiab b. 'Umair -  orang  yang
    paling banyak punya rasa belas-kasihan di tempat itu.
     
    "Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salah
    seorang sahabatnya. Kalau ini tidak kaulakukan pasti dia  akan
    membunuh aku."
     
    "Tetapi   dulu   kau  mengatakan  begini  dan  begitu  tentang
    Kitabullah dan tentang diri Nabi,"  kata  Mushiab.  "Dulu  kau
    menyiksa sahabat-sahabatnya."
     
    "Sekiranya  engkau  yang  ditawan  oleh  Quraisy,  kau  takkan
    dibunuh selama aku masih hidup," kata Nadzr lagi.
     
    "Engkau tak dapat dipercaya,"  kata  Mush'ab.  "Dan  lagi  aku
    tidak seperti engkau. Janji Islam dengan kau sudah terputus."
     
    Sebenarnya  Nadzr adalah tawanan Miqdad, yang dalam hal ini ia
    ingin memperoleh tebusan yang  cukup  besar  dan  keluarganya.
    Mendengar  percakapan  tentang  akan  dibunuhnya itu ia segera
    berkata:
     
    "Nadzr tawananku," teriaknya.
     
    "Pukul lehernya," kata Nabi  a.s.  "Ya  Allah.  Semoga  Miqdad
    mendapat karuniaMu."
     
    Dengan  pukulan  pedang  kemudian  ia  dibunuh oleh Ali b. Abi
    Talib.
     
    Pada   waktu   mereka   dalam   perjalanan   ke   'Irq'z-Zubya
    diperintahkan  oleh  Nabi  supaya  'Uqba  b.  Abi  Mu'ait juga
    dibunuh.
     
    "Muhammad," katanya, "siapa yang akan mengurus anak-anak?"
     
    "Api," jawabnya.
     
    Lalu iapun dibunuh oleh Ali b. Abi Talib atau oleh  'Ashim  b.
    Thabit, sumbernya berlain-lain.
    
    Sehari  sebelum  Nabi  dan  Muslimin  sampai  di Medinah kedua
    utusannya Zaid b. Haritha dan Abdullah b. Rawaha  sudah  lebih
    dulu  sampai.  Mereka masing-masing memasuki kota dari jurusan
    yang berlain-lainan. Dan  atas  unta  yang  dikendarainya  itu
    Abdullah  mengumumkan  dan  memberikan  kabar  gembira  kepada
    Anshar  tentang  kemenangan  Rasulullah  dan  sahabat-sahabat,
    sambil   menyebutkan   siapa-siapa   dan  pihak  musyrik  yang
    terbunuh. Begitu juga Zaid b. Haritha melakukan hal yang  sama
    sambil  ia  menunggang  Al-Qashwa',  unta kendaraan Nabi. Kaum
    Muslimin bergembira ria. Mereka  berkumpul,  dan  mereka  yang
    masih   berada   dalam  rumah  pun  keluar  beramai-ramai  dan
    berangkat menyambut berita kemenangan besar ini.
     
    Sebaliknya orang-orang musyrik dan orang-orang  Yahudi  merasa
    terpukul  sekali  dengan  berita  itu.  Mereka  berusaha  akan
    meyakinkan diri  mereka  sendiri  dan  meyakinkan  orang-orang
    Islam yang tinggal di Medinah, bahwa berita itu tidak benar.
     
    "Muhammad    sudah    terbunuh    dan   teman-temannya   sudah
    ditaklukkan,"  tenak  mereka.  "Ini  untanya   seperti   sudah
    sama-sama  kita kenal. Kalau dia yang menang, niscaya unta ini
    masih di sana. Apa yang dikatakan  Zaid  hanya  mengigau  saja
    dia, karena sudah gugup dan ketakutan."
     
    Tetapi  pihak  Muslimin  setelah mendapat kepastian benar dari
    kedua utusan itu dan yakin sekali akan kebenaran  berita  itu,
    sebenarnya  mereka  malah  makin  gembira,  kalau  tidak  lalu
    terjadi suatu penstiwa yang mengurangi rasa kegembiraan mereka
    itu,  yakni  penstiwa  kematian  Ruqayya  puteri Nabi. Tatkala
    ditinggalkan  pergi  ke  Badr  ia  dalam  keadaan  sakit,  dan
    suaminya,   Usman   b.   'Affan,   juga   ditinggalkan  supaya
    merawatnya.
     
    Apabila kemudian temyata bahwa Muhammad  yang  menang,  mereka
    merasa  sangat  terkejut. Posisi mereka terhadap Muslimin jadi
    lebih rendah dan hina sekali, sampai-sampai ada salah  seorang
    pembesar Yahudi yang mengatakan:
     
    "Bari  kita  sekarang  lebih  baik  berkalang  tanah  daripada
    tinggal   di   atas   bumi   ini   sesudah   kaum   bangsawan,
    pemimpinpemimpin  dan  pemuka-pemuka Arab serta penduduk tanah
    suci itu mendapat bencana."
     
    Kaum Muslimin memasuki Medinah sehari sebelum  tawanan-tawanan
    perang  sampai.  Setelah  mereka  dibawa  dan  Sauda bt. Zam'a
    isteri Nabi  baru  saja  pulang  melawati11  orang  mati  pada
    kabilah  Banu  'Afra',  tempat  asalnya,  dilihatnya Abu Yazid
    Suhail b.  'Amr,  salah  seorang  tawanan,  yang  kedua  belah
    tangannya  diikat dengan tali ke tengkuk, ia tak dapat menahan
    diri. Dihampirinya orang itu seraya katanya:
     
    "Oh Abu Yazid! Kamu sudah menyerahkan diri.  Lebih  baik  mati
    sajalah dengan terhormat!."
     
    "Sauda!"   Muhammad   memanggilnya   dan   dalam  rumah.  "Kau
    membangkitkan semangatnya melawan Allah dan RasulNya!"
     
    "Rasulullah,"  katanya.  "Demi  Allah  Yang  telah  mengutusmu
    dengan  segala  kebenaran.  Saya  sudah tak dapat menahan diri
    ketika melihat Abu Yazid dengan tangannya terikat  di  tengkuk
    sehingga saya berkata begitu."
     
    Sesudah  itu  kemudian  Muhammad memisah-misahkan para tawanan
    itu  di  antara  sahabat-sahabatnya,  sambil  berkata   kepada
    mereka:
     
    "Perlakukanlah mereka sebaik-baiknya."
     
    Hal  ini  kemudian  menjadi  pikiran  baginya,  apa yang harus
    dilakukannya terhadap mereka  itu.  Dibunuh  saja  atau  harus
    meminta tebusan dari mereka? Mereka itu orang-orang yang keras
    dalam perang, orang yang kuat  bertempur.  Hati  mereka  penuh
    rasa  dengki dan dendam setelah mereka mengalami kehancuran di
    Badr, serta  akibatnya  yang  telah  membawa  keaiban  sebagai
    tawanan  perang.  Apabila ia mau menerima tebusan, ini berarti
    mereka akan berkomplot dan  akan  kembali  memeranginya  lagi;
    kalau  dibunuh saja mereka itu, akan menimbulkan sesuatu dalam
    hati  keluarga-keluarga  Quraisy,  yang  bila  dapat   ditebus
    barangkali akan jadi tenang.
     
    Ia  menyerahkan  masalah  ini  ketangan  sahabat-sahabat  kaum
    Muslimin. Diajaknya mereka bermusyawarah dan pilihan  terserah
    kepada    mereka.    Kalangan    Muslimin    sendiri   melihat
    tawanan-tawanan  ini  ternyata  masih  ingin  hidup  dan  akan
    bersedia membayar tebusan dengan harga tinggi.
     
    "Lebih baik kita mengirim orang kepada Abu Bakr," kata mereka.
    "Dari kerabat kita ia orang Quraisy  yang  pertama,  dan  yang
    paling  lembut dan banyak punya rasa belas-kasihan. Kita tidak
    melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia."
     
    Lalu mereka mengutus orang menemui Abu Bakr.
     
    "Abu Bakr," kata mereka. "Di antara kita ada yang masih pernah
    ayah,  saudara,  paman  atau  mamak  kita serta saudara sepupu
    kita.  Orang  yang  jauh  dari  kitapun  masih  kerabat  kita.
    Bicarakanlah  dengan sahabatmu itu supaya bermurah hati kepada
    kami atau menerima penebusan kami."
     
    Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha.  Tetapi  mereka
    kuatir  Umar ibn'l-Khattab akan mempersulit urusan mereka ini.
    Maka mereka mengutus beberapa  orang  lagi  kepadanya,  dengan
    menyatakan seperti yang dikatakan kepada Abu Bakr. Tetapi Umar
    menatap mereka penuh  curiga.  Kemudian  kedua  sahabat  besar
    Muhammad   ini   berangkat   menemuinya.   Abu  Bakr  berusaha
    melunakkan dan meredakan kemarahannya.
     
    "Rasulullah," katanya. "Demi ayah dan ibuku. Mereka itu  masih
    keluarga  kita; ada ayah, ada anak atau paman, ada sepupu atau
    saudara-saudara. Orang yang jauh dari  kitapun  masih  kerabat
    kita.  Bermurah  hatilah  kita kepada mereka itu. Semoga Tuhan
    memberi kemurahan kepada kita.  Atau  kita  terimalah  tebusan
    dari  mereka,  semoga Tuhan akan menyelamatkan mereka dari api
    neraka. Maka apa yang kita ambil dari mereka  akan  memperkuat
    kaum  Muslimin  juga.  Semoga  Allah  kelak  membalikkan  hati
    mereka."
     
    Muhammad diam, tidak menjawab. Kemudian ia berdiri  dan  pergi
    menyendiri. Oleh Umar ia didekati dan duduk di sebelahnya.
     
    "Rasulullah,"   katanya.   "Mereka   itu   musuh-musuh  Tuhan.
    Mendustakan tuan, memerangi tuan dan  mengusir  tuan.  Penggal
    sajalah leher mereka. Mereka inilah kepala-kepala orang kafir,
    pemuka-pemuka orang yang sesat. Orang-orang musyrik itu adalah
    orang-orang yang sudah dihinakan Tuhan."
     
    Juga Muhammad tidak menjawab.
     
    Sekarang  Abu  Bakr  kembali ke tempat duduknya semula. Begitu
    lemah-lembut ia bersikap sambil mengharapkan sikap yang  lebih
    lunak.  Disebutnya  adanya  pertalian  famili dan kerabat, dan
    kalau  para  tawanan  itu  masih  hidup,  diharapkannya   akan
    mendapat  petunjuk  Tuhan.  Sedang Umar kembali memperlihatkan
    sikapnya  yang  adil  dan  keras.  Baginya  lemah-lembut  atau
    kasihan tidak ada.
     
    Selesai Abu Bakr dan Umar bicara, Muhammad berdiri. Ia kembali
    ke kamarnya. Ia tinggal sejenak di sana. Kemudian  ia  kembali
    keluar.  Orang  ramai  segera  melibatkan diri dalam persoalan
    ini. Satu pihak mendukung pendapat Abu Bakr, yang lain memihak
    kepada  Umar.  Nabi  mengajak mereka berunding, apa yang harus
    dilakukannya. Lalu dibuatnya  suatu  perumpamaan  tentang  Abu
    Bakr  dan  Umar.  Abu  Bakr  adalah seperti Mikail, diturunkan
    Tuhan dengan membawa sifat pemaaf kepada  hambaNya.  Dan  dari
    kalangan  nabi-nabi  seperti  Ibrahim.  Ia sangat lemah-lembut
    terhadap masyarakatnya. Oleh masyarakatnya sendiri  ia  dibawa
    dan  dicampakkan  ke  dalam  api.  Tapi  tidak  lebih ia hanya
    berkata:
     
    "Cih! Kenapa kamu menyembah  sesuatu  selain  Allah?  Tidakkah
    kamu berakal?" (Qur'an, 21: 67)
     
    Atau seperti katanya:
     
    "Yang ikut aku, dia itulah yang di pihakku. Tapi terhadap yang
    membangkang kepadaku, Engkau Maha  Pengampun  dan  Penyayang."
    (Qur'an. 14: 36)
                                        
     
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
     
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

    Penyakit Kanker Payudara

    Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (Breast Cancer/Carcinoma mammae) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomer lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati dan kanker usus.


  • Penyebab Penyakit Kanker Payudara


  • Penyakit kanker payudara terbilang penyakit kanker yang paling umum menyerang kaum wanita, meski demikian pria pun memiliki kemungkinan mengalami penyakit ini dengan perbandingan 1 di antara 1000. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kanker ini terjadi, namun beberapa faktor kemungkinannya adalah :

    1. Usia, Penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja keatas.

    2. Genetik, Ada 2 jenis gen (BRCA1 dan BRCA2) yang sagat mungkin sebagai resiko. Jika ibu atau saudara wanita mengidap penyakit kanker payudara, maka anda kemungkinan memiliki resiko kanker payudara 2 kali lipat dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada penderita satupun.

    3. Pemakaian obat-obatan, Misalnya seorang wanita yang menggunakan therapy obat hormon pengganti {hormone replacement therapy (HRT)} seperti Hormon eksogen akan bisa menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit kanker payudara.

    4. Faktor lain yang diduga sebagai penyebab kanker payudara adalah; tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.

    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress (goncangan jiwa) dan juga bagi wanita yang sebelumnya mengalami menstruasi dibawah usia 11 tahun.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Kanker Payudara


  • Bagi anda yang merasakan adanya benjolan aneh disekitar jaringan payudara atau bahkan salah satu payudara tampak lebih besar, Sebaiknya cepat berkonsultasi kepada dokter. Benjolan ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, mulai dari ukuran kecil yang kemudian menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit. Beberapa kasus terjadi perubahan kulit payudara sekitar benjolan atau perubahan pada putingnya.


    Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat ditekan. Jika dirasakan nyeri pada payudara dan puting susu yang tidak kunjung hilang, sebaiknya segera memeriksakan diri kedokter. Puting susu yang mengkerut kedalam, yang tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecoklatan bahkan adanya oedema (bengkak) sekitar puting merupakan salah satu tanda kuat adanya kanker payudara. Hal lain adalah seringnya keluar cairan dari puting susu ketika tidak lagi menyusui bayi anda.

  • Diagnosa Penyakit Kanker Payudara


  • Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).

  • Type Penyakit Kanker Payudara


  • Melalui pemeriksaan yang di sebut dengan mammograms, maka typekanker payudara ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu :


    1. Kanker payudara non invasive, kanker yang terjadi pada kantung (tube) susu {penghubung antara alveolus (kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara}. Dalam bahasa kedokteran disebut 'ductal carcinoma in situ' (DCIS), yang mana kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.

    2. Kanker payudara invasive, kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.

  • Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kanker Payudara


  • Penanganan dan pengobatan penyakit kanker payudara tergantung dari type dan stadium yang dialami penderita. Umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit kanker payudara setelah menginjak stadiun lanjut yang cukup parah, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau rasa malu sehingga terlambat untuk diperiksakan kedokter atas kelainan yang dihadapinya.

    1. Pembedahan, Pada kanker payudara yang diketahui sejak dini maka pembedahan adalah tindakan yang tepat. Dokter akan mengangkat benjolan serta area kecil sekitarnya yang lalu menggantikannya dengan jaringan otot lain (lumpectomy). Secara garis besar, ada 3 tindakan pembedahan atau operasi kanker payudara diantaranya ;

    - Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara (lumpectomy). Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
    - Total Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
    - Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

    2. Radiotherapy (Penyinaran/radiasi), yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.

    3. Therapy Hormon, Hal ini dikenal sebagai 'Therapy anti-estrogen' yang system kerjanya memblock kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan kanker pada payudara.

    4. Chemotherapy, Ini merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Sistem ini diharapkan mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan telah menyebar kebagian tubuh lainnya. Dampak dari kemoterapy adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.

    5. Pengobatan Herceptin, adalah therapy biological yang dikenal efektif melawan HER2-positive pada wanita yang mengalami kanker payudara stadium II, III dan IV dengan penyebaran sel cancernya.

  • Pencegahan Penyakit Kanker Payudara


  • Bagi anda yang merasakan ada hal yang tampak berbeda pada payudara, segeralah memeriksakannya ke dokter jangan sampai terlambat. Misalnya adanya pembesaran sebelah, adanya benjolan disekitar payudara, nyeri terus menerus pada puting susu dan sebagainya seperti pada keterangan tanda dan gejala payudara diatas.

    Tindakan lain yang bisa anda lakukan adalah Hindari kegemukan, Kurangi makan lemak, Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap, Olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.

    Perbaikan Tanda Penyeberangan Hewan

    Seorang awak pekerja pemeliharaan jalan raya telah dikirim untuk memperbaiki beberapa tanda-tanda jalan di daerah berhutan yang dirusak oleh pengacau. Yang pertama mereka perbaiki kembali adalah peringatan simbol dari penyeberangan sapi.

    Ketika mereka pindah ke jalan untuk memperbaiki tanda berikutnya, salah satu anggota kru melihat ke belakang dan melihat seekor sapi berlari di jalan raya.

    Sambil menoleh ke seorang rekan kerjanya dia berkata, "Aku ingin tahu berapa lama dia telah menunggu untuk menyeberang ya?"

    Kamis, 01 Maret 2012

    focus

    I trying to focus and come off again
    I always pray to Allah to give me force for istiqomah in this way

    I claim that someday I feel tired
    but althought become, I can ease
    so I am be bogged down to something careless

    amin
    @rahmisyam

    Bpk Ancu Say 10

    Jangan pernah putuskan silaturahmi

    Syuhada

    1. Para syuhada di lembah (tepi) sungai dekat pintu surga dalam bangunan berkubah berwarna hijau. Rezeki mereka datang dari surga setiap pagi dan petang. (HR. Al Hakim dan Ahmad)

    2. Seorang yang mati syahid diberi enam perkara pada saat tetesan darah pertama mengalir dari tubuhnya: semua dosanya diampuni (tertebus), diperlihatkan tempatnya di surga, dikawinkan dengan bidadari, diamankan dari kesusahan kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), diselamatkan dari siksa kubur dan dihiasi dengan pakaian keimanan. (HR. Bukhari)
     
    3. Barangsiapa tewas membela Ad Dien-Nya (maka) matinya syahid. (HR. Asysyihaab)

    4. Orang yang tewas melindungi keselamatan hartanya mati syahid dan yang membela (kehormatan) keluarganya mati syahid dan membela dirinya (kehormatan dan jiwanya) juga mati syahid. (HR. Ahmad)
     
    5. Bagi Allah ada hamba-hamba yang dipelihara dari pembunuhan. Umur mereka diperpanjang dengan amalan kebaikan-kebaikari. Rezeki mereka ditingkatkan dan hidup mereka serba selamat. Nyawa mereka direnggut dengan selamat di atas tempat tidurnya dan mereka diberi kedudukan sebagai syuhada. (HR. Ath-Thabrani)
     
    6. Barangsiapa mencari mati syahid dengan sungguh-sungguh maka akan Aku berikan kepadanya meskipun dia mati di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)
     
    7. Seorang yang mati syahid dapat memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    8. Apa yang dirasakan seorang syahid yang terbunuh adalah seperti yang dirasakan seorang dari cubitan (gigitan serangga). (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
     
    9. Pahlawan syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib dan orang yang menghadap penguasa yang zalim dan kejam untuk menyuruhnya berlaku baik dan mencegahnya berbuat kejahatan lalu dia dibunuh oleh penguasa. (HR. Al Hakim)

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press
     

    Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez