Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (36)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.50
Dan apakah yang ialah dicatat oleh sejarah? Sejarah mencatat
bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak  bibinya  itu  buat
Zaid  bekas  budaknya.  Abdullah  b.  Jahsy  saudara  Zainab
menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari  suku
Quraisy  dan  keluarga  Hasyim pula, di samping itu semua ia
masih sepupu Rasul dari  pihak  ibu  akan  berada  di  bawah
seorang   budak   belian  yang  dibeli  oleh  Khadijah  lalu
dimerdekakan oleh Muhammad. Hal ini dianggap  sebagai  suatu
aib  besar  buat  Zainab. Dan memang benar sekali hal ini di
kalangan Arab  ketika itu merupakan  suatu  aib  yang  besar
sekali.  Memang  tidak  ada  gadis-gadis kaum bangsawan yang
terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang
sudah    dimerdekakan.   Tetapi   Muhammad   justeru   ingin
menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih  berkuasa
dalam  jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu.
Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak  lebih
tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
 
"Bahwa   orang  yang  paling  mulia  di  antara  kamu  dalam
pandangan Tuhan ialah orang yang lebih  bertakwa."  (Qur'an,
49:13)
 
Sungguhpun  begitu ia merasa tidak perlu memaksa wanita lain
untuk itu di luar keluarganya.  Biarlah  Zainab  bt.  Jahsy,
sepupunya  sendiri  itu  juga  yang  menanggung, yang karena
telah meninggalkan tradisi  dan  menghancurkan  adat-lembaga
Arab,  menjadi  sasaran  buah  mulut  orang tentang dirinya,
suatu hal yang memang tidak ingin didengarnya. Juga  biarlah
Zaid, bekas budaknya yang dijadikannya anak angkat, dan yang
menurut hukum  adat  dan  tradisi  Arab  orang  yang  berhak
menerima  waris  sama  seperti anak-anaknya sendiri itu, dia
juga yang mengawininya. Maka  dia  pun  bersedia  berkorban,
karena  sudah  ditentukan  oleh  Tuhan bagi anak-anak angkat
yang  sudah  dijadikan   anaknya   itu.   Biarlah   Muhammad
memperlihatkan  desakannya  itu supaya Zainab dan saudaranya
Abdullah b. Jahsy juga mau menerima Zaid sebagai suami.  Dan
untuk itu biarlah firman Tuhan juga yang datang:
 
"Bagi  laki-laki dan wanita yang beriman, bilamana Allah dan
RasulNya telah  menetapkan  suatu  ketentuan,  mereka  tidak
boleh mengambil kemauan sendiri dalam urusan mereka itu. Dan
barangsiapa tidak mematuhi Allah dan RasulNya, mereka  telah
melakukan kesesatan yang nyata sekali." (Qur'an, 33:36)
 
Setelah  turun ayat ini tak ada jalan lain buat Abdullah dan
Zainab  saudaranya,  selain  harus  tunduk  menerima.  "Kami
menerima,  Rasulullah,"  kata  mereka.  Lalu Zaid dikawinkan
kepada Zainab setelah mas-kawinnya  oleh  Nabi  disampaikan.
Dan  sesudah  Zainab menjadi isteri, ternyata ia tidak mudah
dikendalikan  dan  tidak  mau  tunduk.   Malah   ia   banyak
mengganggu  Zaid.  Ia  membanggakan diri kepadanya dari segi
keturunan dan bahwa dia katanya tidak mau  ditundukkan  oleh
seorang budak.

Sikap Zainab yang tidak baik kepadanya itu tidak jarang oleh
Zaid diadukan kepada Nabi, dan bukan sekali saja ia  meminta
ijin    kepadanya   hendak   menceraikannya.   Tetapi   Nabi
menjawabnya: "Jaga baik-baik  isterimu,  jangan  diceraikan.
Hendaklah engkau takut kepada Allah."
 
Tetapi  Zaid  tidak  tahan  lama-lama  bergaul dengan Zainab
serta   sikapnya   yang   angkuh   kepadanya    itu.    Lalu
diceraikannya.

Kehendak Tuhan juga kiranya yang mau menghapuskan melekatnya
hubungan  anak  angkat  dengan  keluarga  bersangkutan   dan
asal-usul  keluarga  itu,  yang  selama  itu  menjadi anutan
masyarakat Arab, juga  pemberian  segala  hak  anak  kandung
kepada  anak angkat, segala pelaksanaan hukum termasuk hukum
waris dan nasab, dan supaya anak  angkat  dan  pengikut  itu
hanya  mempunyai  hak  sebagai  pengikut dan sebagai saudara
seagama. Demikian firman Tuhan turun:
 
"Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu  menjadi
anak-anak  kamu.  Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu
saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan  Dia  menunjukkan
jalan yang benar." (Qur'an, 33:4)

Ini  berarti  bahwa  anak  angkat  boleh  kawin dengan bekas
isteri bapa angkatnya, dan bapa  boleh  kawin  dengan  bekas
isteri anak angkatnya. Tetapi bagaimana caranya melaksanakan
ini? Siapa pula dari kalangan  Arab  yang  dapat  membongkar
adat-istiadat yang sudah turun-temurun itu. Muhammad sendiri
kendatipun dengan kemauannya yang  sudah  begitu  keras  dan
memahami  benar arti perintah Tuhan itu, masih merasa kurang
mampu melaksanakan  ketentuan  itu  dengan  jalan  mengawini
Zainab  setelah  diceraikan oleh Zaid, masih terlintas dalam
pikirannya apa yang kira-kira akan dikatakan  orang,  karena
dia  telah  mendobrak  adat lapuk yang sudah berurat berakar
dalam jiwa masyarakat  Arab  itu.  Itulah  yang  dikehendaki
Tuhan dalam firmanNya:
 
"Dan  engkau  menyembunyikan  sesuatu dalam hatimu yang oleh
Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal
hanya Allah yang lebih patut kautakuti." (Qur'an, 33:37)
 
Akan  tetapi  Muhammad adalah suri-teladan dalam segala hal,
yang oleh Tuhan telah  diperintahkan  dan  telah  dibebankan
kepadanya  supaya  disampaikan  kepada  umat  manusia. Tidak
takut  ia  apa  yang  akan   dikatakan   orang   dalam   hal
perkawinannya dengan isteri bekas budaknya itu. Takut kepada
manusia tak ada artinya dibandingkan dengan takutnya  kepada
Tuhan  dalam  melaksanakan  segala  perintahNya. Biarlah dia
kawin saja dengan Zainab supaya  menjadi  teladan  akan  apa
yang  telah  dihapuskan  Tuhan  mengenai  hak-hak yang sudah
ditentukan dalam hal bapa angkat dan anak angkat itu.  Dalam
hal inilah firman Tuhan itu turun:
 
"Maka  setelah  Zaid  meluluskan  kehendak  wanita itu, Kami
kawinkan dia  dengan  engkau,  supaya  kelak  tidak  menjadi
alangan   bagi  orang-orang  beriman  kawin  dengan  (bekas)
isteri-isteri anak-anak  angkat  mereka,  bilamana  kehendak
mereka  (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah
itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)
 
Inilah peristiwa sejarah yang sebenarnya  sehubungan  dengan
soal  Zainab  bt. Jahsy serta perkawinannya dengan Muhammad.
Dia  adalah  puteri  bibinya,  sudah  dilihatnya  dan  sudah
diketahuinya   sampai   berapa  jauh  kecantikannya  sebelum
dikawinkan dengan Zaid, dan dia pula  yang  melamarnya  buat
Zaid, juga dia melihatnya setelah perkawinannya dengan Zaid,
karena pada waktu itu bertutup muka belum lagi dikenal.

Sungguhpun begitu dari pihak Zainab sendiri,  sesuai  dengan
ketentuan  hubungan kekeluargaan dari satu segi, dan sebagai
isteri  Zaid  anak  angkatnya   dari   segi   lain,   Zainab
menghubungi  dia karena beberapa hal dalam urusannya sendiri
dan juga karena seringnya Zaid mengadukan halnya itu.  Semua
ketentuan  hukum  itu  sudah diturunkan. Lalu diperkuat lagi
dengan  peristiwa  perkawinan  Zaid  dengan   Zainab   serta
kemudian  perceraiannya, lalu perkawinan Muhammad dengan dia
sesudah itu. Semua  ketentuan  hukum  ini,  yang  mengangkat
martabat  orang  yang  dimerdekakan ke tingkat orang merdeka
yang terhormat, dan yang menghapuskan hak  anak-anak  angkat
dengan  jalan  praktek  yang  tidak  dapat  dikaburkan  atau
ditafsir-tafsirkan lagi.
 
Sesudah semua itu, masih adakah pengaruh cerita-cerita  yang
selalu   diulang-ulang   oleh   pihak  Orientalis  dan  oleh
misi-misi penginjil,  oleh  Muir,  Irving,  Sprenger,  Well,
Dermenghem, Lammens dan yang lain, yang suka menulis sejarah
hidup Muhammad? Ya, kadang ini adalah napsu misi penginjilan
yang  secara  terang-terangan,  kadang cara misi penginjilan
atas nama ilmu pengetahuan. Adanya permusuhan lama  terhadap
Islam  adalah  permusuhan  yang  sudah berurat berakar dalam
jiwa  mereka,  sejak  terjadinya  serentetan  perang   Salib
dahulu.  Itulah  yang mengilhami mereka semua dalam menulis,
yang dalam menghadapi soal perkawinan, khususnya  perkawinan
Muhammad  dengan  Zainab  bt.  Jahsy,  membuat mereka sampai
nmemperkosa  sejarah,  mereka  mencari  cerita-cerita   yang
paling   lemah   sekalipun   asal   dapat   dimasukkan   dan
dihubung-hubungkan kepadanya.
 
Andaikata apa yang mereka katakan itu  memang  benar,  tentu
saja kita pun masih akan dapat menolaknya dengan mengatakan,
bahwa kebesaran itu tidak tunduk kepada undang-undang. Bahwa
sebelum  itu, Musa, Isa dan Yunus, mereka itu berada di atas
hukum  alam,  diatas  ketentuan-ketentuan  masyarakat   yang
berlaku.  Ada  yang karena kelahirannya, ada pula yang dalam
masa kehidupannya, tapi  itu  tidak  sampai  mendiskreditkan
kebesaran  mereka.  Sebaliknya Muhammad, ia telah meletakkan
ketentuan-ketentuan masyarakat  yang  sebaik-baiknya  dengan
wahyu  Tuhan,  dan  dilaksanakan  atas  perintah Tuhan, yang
dalam hal ini merupakan contoh yang tinggi  sekali,  sebagai
teladan  yang  sangat baik dalam melaksanakan apa yang telah
diperintahkan Tuhan itu. Ataukah barangkali yang dikehendaki
oleh   misi-misi   penginjil   itu   supaya  ia  menceraikan
isteri-isterinya dan jangan  lebih  dari  empat  orang  saja
seperti  yang  kemudian  disyariatkan  kepada kaum Muslimin,
setelah perkawinannya dengan mereka semua itu?

Adakah juga pada waktu  itu  ia  akan  selamat  dari  kritik
mereka? Sebenarnya hubungan Muhammad dengan isteri-isterinya
itu  adalah  hubungan  yang  sungguh  terhormat  dan  agung,
seperti  sudah  kita  lihat seperlunya dalam keterangan Umar
bin'l-Khattab yang sudah kita sebutkan; dan  contoh  semacam
itu  akan banyak kita jumpai dalam beberapa bagian buku ini.
Semua itu akan menjadi contoh yang berbicara sendiri,  bahwa
belum  ada  orang yang dapat menghormati wanita seperti yang
pernah diberikan oleh Muhammad, belum ada orang  yang  dapat
mengangkat  martabat wanita ketempat yang layak seperti yang
dilakukan oleh Muhammad itu.
 
Catatan kaki:
 
1 Harfiah: Seseorang dari  kamu  tidak  beriman  sebelum  ia
menyukai  buat  saudaranya  apa  yang  disukai  buat dirinya
sendiri.  Terjemahan  di  atas  didasarkan  kepada  komentar
Nuruddin  as-Sindi  sebagai  anotasi  pada Shahih Al-Bukhari
1/12 (A).


S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Selasa, 13 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (35)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.47
Muhammad hidup hanya  dengan  Khadijah  selama  tujuh  belas
tahun  sebelum  kerasulannya  dan sebelas tahun sesudah itu;
dan dalam pada itu  pun  sama  sekali  tak  terlintas  dalam
pikirannya ia ingin kawin lagi dengan wanita lain. Baik pada
masa Khadijah masih hidup, atau  pun  pada  waktu  ia  belum
kawin  dengan  Khadijah,  belum  pernah  terdengar  bahwa ia
termasuk  orang   yang   mudah   tergoda   oleh   kecantikan
wanita-wanita  yang  pada  waktu  itu  justeru wanita-wanita
belum tertutup. Bahkan mereka itu suka memamerkan  diri  dan
memamerkan  segala  macam  perhiasan, yang kemudian dilarang
oleh Islam. Sudah tentu tidak wajar sekali apabila akan kita
lihat,  sesudah  lampau  limapuluh tahun, mendadak sontak ia
berubah demikian rupa sehingga begitu ia melihat Zainab bint
Jahsy  -  padahal  waktu  itu  isterinya  sudah  lima  orang
diantaranya Aisyah yang selalu dicintainya  -  tiba-tiba  ia
tertarik  sampai  ia  hanyut siang-malam memikirkannya. Juga
tidak  wajar  sekali  apabila  kita  lihat,  sesudah  lampau
limapuluh  tahun  usianya,  yang  selama  lima  tahun  sudah
beristerikan lebih dari tujuh orang, dan dalam  tujuh  tahun
sembilan  orang  isteri. Semuanya itu, motifnya hanya karena
dia  terdorong  oleh  nafsu  kepada  wanita,  sehingga   ada
beberapa  penulis  Muslim  -  dan juga penulis-penulis Barat
mengikuti jejaknya - melukiskannya sedemikian rupa, demikian
merendahkan  yang  bagi  seorang  materialis sekalipun sudah
tidak layak, apalagi buat orang besar, yang ajarannya  dapat
mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih
selalu akan mengubah dunia sekali lagi,  dan  akan  mengubah
jalannya roda sejarah sekali lagi.

Apabila  ini  suatu hal yang aneh dan tidak wajar, maka akan
jadi aneh juga kita melihat bahwa perkawinan Muhammad dengan
Khadijah   telah   memberikan   keturunan,   laki-laki   dan
perempuan, sampai sebelum ia mencapai usia limapuluh  tahun,
dan  bahwa Maria melahirkan Ibrahim sesudah Muhammad berusia
enampuluh tahun dan hanya dari yang dua  orang  ini  sajalah
yang  membawa  keturunan. Padahal isteri-isteri itu ada yang
dalam usia muda, yang akan dapat juga hamil dan  melahirkan,
baik  dari pihak suami atau pihak isteri, dan ada yang sudah
cukup usia, sudah lebih dari tigapuluh  tahun  umurnya,  dan
sebelum  itu  pun  pernah  pula  punya  anak. Bagaimana pula
gejala aneh dalam hidup Nabi ini ditafsirkan,  suatu  gejala
yang  tidak  tunduk  kepada  undang-undang  yang biasa, yang
sekaligus terhadap kesembilan wanita itu?! Sebagai  manusia,
sudah  tentu  jiwa  Muhammad  cenderung sekali ingin beroleh
seorang putera, sekalipun - dalam kedudukannya sebagai  nabi
dan  rasul  - dari segi rohani ia sudah menjadi bapa seluruh
umat Muslimin.

Kemudian peristiwa-peristiwa sejarah  serta  logikanya  juga
menjadi   saksi  yang  jujur  mendustakan  cerita  misi-misi
penginjil dan para Orientalis itu sehubungan dengan poligami
Nabi.  Seperti  kita sebutkan tadi, selama 28 tahun ia hanya
beristerikan Khadijah  seorang,  tiada  yang  lain.  Setelah
Khadijah  wafat,  ia  kawin  dengan  Sauda bint Zam'a, janda
Sakran b. 'Amr b. 'Abd Syams. Tidak ada  suatu  sumber  yang
menyebutkan,  bahwa Sauda adalah seorang wanita yang cantik,
atau berharta atau mempunyai  kedudukan  yang  akan  memberi
pengaruh  karena  hasrat  duniawi  dalam  perkawinannya itu.
Melainkan soalnya ialah,  Sauda  adalah  isteri  orang  yang
termasuk  mula-mula  dalam  lslam, termasuk orang-orang yang
dalam  membela   agama,   turut   memikul   pelbagai   macam
penderitaan,  turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan
Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga  sudah  Islam
dan  ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut
menderita. Kalau sesudah itu Muhammad kemudian  mengawininya
untuk  memberikan  perlindungan  hidup  dan untuk memberikan
tempat setarap dengan Umm'l-Mu'minin,  maka  hal  ini  patut
sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.
 
Adapun  Aisyah  dan  Hafsha  adalah  puteri-puteri dua orang
pembantu dekatnya, Abu  Bakr  dan  Umar.  Segi  inilah  yang
membuat  Muhammad  mengikatkan  diri  dengan kedua orang itu
dengan  ikatan  semenda  perkawinan   dengan   puteri-puteri
mereka.  Sama  juga  halnya ia mengikatkan diri dengan Usman
dan Ali dengan  jalan  mengawinkan  kedua  puterinya  kepada
mereka.  Kalaupun  benar  kata  orang  mengenai Aisyah serta
kecintaan Muhammad kepadanya  itu,  maka  cinta  itu  timbul
sesudah   perkawinan,   bukan   ketika   kawin.   Gadis  itu
dipinangnya kepada orangtuanya tatkala ia  berusia  sembilan
tahun   dan   dibiarkannya   dua  tahun  sebelum  perkawinan
dilangsungkan. Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa dia
sudah  mencintainya  dalam usia yang masih begitu kecil. Hal
ini diperkuat lagi oleh perkawinannya dengan Hafsha bt. Umar
yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya
sendiri sebagai saksi.
 
"Sungguh," kata Umar, "tatkala kami  dalam  zaman  jahiliah,
wanita-wanita  tidak  lagi  kami  hargai. Baru setelah Tuhan
memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula  hak
kepada  mereka." Dan katanya lagi: "Ketika saya sedang dalam
suatu  urusan  tiba-tiba  isteri  saya  berkata:  'Coba  kau
berbuat  begini  atau  begitu."  Jawab saya: "Ada urusan apa
engkau disini, dan perlu apa engkau  dengan  urusanku!"  Dia
pun  membalas:  "Aneh  sekali  engkau Umar. Engkau tidak mau
ditentang,  padahal  puterimu  menentang  Rasulullah  s.a.w.
sehingga  ia  gusar  sepanjang hari." Kata Umar selanjutnya:
"Kuambil mantelku, lalu aku keluar,  pergi  menemui  Hafsha.
"Anakku,"  kataku  kepadanya.  "Engkau  menentang Rasulullah
s.a.w. sampai  ia  merasa  gusar  sepanjang  hari?!"  Hafsha
menjawab:  "Memang  kami menentangnya." "Engkau harus tahu,"
kataku.  "Kuperingatkan  engkau  akan  siksaan  Tuhan  serta
kemurkaan  RasulNya.  Anakku,  engkau  jangan teperdaya oleh
kecintaan orang  yang  telah  terpesona  oleh  kecantikannya
sendiri  dengan  kecintaan  Rasulullah s.a.w." Katanya lagi:
"Engkau sudah mengetahui, Rasulullah tidak mencintaimu,  dan
kalau tidak karena aku engkau tentu sudah diceraikan."
 
Kita  sudah  melihat  bukan, bahwa Muhammad mengawini Aisyah
atau mengawini Hafsha  bukan  karena  cintanya  atau  karena
suatu  dorongan  berahi, tapi karena hendak memperkukuh tali
masyarakat Islam yang  baru  tumbuh  dalam  diri  dua  orang
pembantu  dekatnya  itu.  Sama halnya ketika ia kawin dengan
Sauda,  maksudnya  supaya   pejuang-pejuang   Muslimin   itu
mengetahui,  bahwa  kalau  mereka  gugur  untuk agama Allah,
isteri-isteri dan  anak-anak  mereka  tidak  akan  dibiarkan
hidup sengsara dalam kemiskinan.
 
Perkawinannya  dengah  Zainab  bt.  Khuzaima  dan dengan Umm
Salama  mempertegas  lagi  hal  itu.  Zainab  adalah  isteri
'Ubaida  bin'l-Harith bin'l-Muttalib yang telah mati syahid,
gugur dalam perang Badr. Dia tidak  cantik,  hanya  terkenal
karena  kebaikan  hatinya dan suka menolong orang, sampai ia
diberi gelar Umm'l-Masakin (Ibu orang-orang miskin). Umurnya
pun  sudah  tidak  muda lagi. Hanya setahun dua saja sesudah
itu ia pun meninggal. Sesudah Khadijah  dialah  satu-satunya
isteri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.
 
Sedang  Umm  Salama  sudah banyak anaknya sebagai isteri Abu
Salama, seperti  sudah  disebutkan  di  atas,  bahwa  dalam
perang Uhud ia menderita luka-luka, kemudian sembuh kembali.
Oleh Nabi ia diserahi pimpinan untuk  menghadapi  Banu  Asad
yang  berhasil  di  kucar-kacirkan dan ia kembali ke Medinah
dengan membawa rampasan perang. Tetapi bekas lukanya di Uhud
itu  terbuka  dan kembali mengucurkan darah yang dideritanya
terus sampai meninggalnya.  Ketika  sudah  di  atas  ranjang
kematiannya, Nabi juga hadir dan terus mendampinginya sambil
mendoakan untuk kebaikannya, sampai ia  wafat.  Empat  bulan
setelah  kematiannya itu Muhammad meminta tangan Umm Salama.
Tetapi wanita ini menolak  dengan  lemah  lembut  karena  ia
sudah  banyak  anak  dan  sudah tidak muda lagi. Hanya dalam
pada itu akhirnya sampai juga ia mengawini dan  dia  sendiri
yang bertindak menguruskan dan memelihara anak-anaknya.

Adakah  sesudah ini semua para misi penginjil dan Orientalis
itu masih akan  mendakwakan,  bahwa  karena  kecantikan  Umm
Salama  itulah  maka Muhammad terdorong hendak mengawininya?
Kalau hanya karena itu saja, masih banyak  gadis-gadis  kaum
Muhajirin  dan  Anshar  yang  lain,  yang jauh lebih cantik,
lebih muda, lebih kaya dan bersemarak,  dan  tidak  pula  ia
akan  dibebani  dengan anak-anaknya. Akan tetapi sebaliknya,
ia mengawininya itu karena pertimbangan yang luhur itu juga,
sama halnya dengan perkawinannya dengan Zainab bt. Khuzaima,
yang membuat kaum Muslimin bahkan makin cinta kepadanya  dan
membuat  mereka  lebih-lebih  lagi memandangnya sebagai Nabi
dan Rasul Allah. Di samping itu mereka  semua  memang  sudah
menganggapnya  sebagai  ayah mereka. Ayah bagi segenap orang
miskin,  orang  yang  tertekan,  orang  lemah,  orang   yang
sengsara  dan  tak  berdaya.  Ayah  bagi  setiap  orang yang
kehilangan ayah, yang gugur membela agama Allah.
 
Dari apa yang sudah diuraikan di  atas,  apakah  yang  dapat
disimpulkan  oleh  penelitian sejarah yang murni? Yang dapat
disimpulkan  ialah   bahwa   Muhammad   menganjurkan   orang
beristeri  satu  dalam kehidupan biasa. Ia menganjurkan cara
demikian seperti contoh yang sudah diberikannya selama  masa
Khadijah. Untuk itu firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan:
 
"Dan  kalau  kamu kuatir takkan dapat berlaku lurus terhadap
anak-anak yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita yang  kamu
sukai:  dua,  tiga  dan  (sampai)  empat.  Tetapi kalau kamu
kuatir takkan dapat berlaku  adil,  hendaklah  seorang  saja
atau yang sudah ada menjadi milik kamu." (Qur'an, 4:3)
 
"Dan  (itu  pun) tidak akan kamu dapat berlaku adil terhadap
wanita, betapa kamu sendiri  menginginkan  itu.  Sebab  itu,
janganlah  kamu  terlalu  condong  kepada yang seorang, lalu
kamu biarkan dia terkatung-katung." (Qur'an, 4:129)
 
Ayat-ayat ini turun pada akhir-akhir tahun kedelapan Hijrah,
setelah  Nabi  kawin dengan semua isterinya, maksudnya untuk
membatasi jumlah isteri itu sampai  empat  orang,  sementara
sebelum  turun  ayat tersebut pembatasan tidak ada. Ini juga
yang   telah   menggugurkan   kata-kata   orang:    Muhammad
membolehkan  buat  dirinya  sendiri  dan melarang buat orang
lain. Kemudian  turun  ayat  yang  memperkuat  diutamakannya
isteri  satu  dan  menganjurkan  demikian karena dikuatirkan
takkan berlaku adil dengan ditekankan bahwa berlaku adil itu
tidak  akan  disanggupi.  Hanya saja dalam keadaan kehidupan
masyarakat yang dikecualikan ia  melihat  suatu  kemungkinan
yang  mendesak  perlunya  kawin  sampai  empat dengan syarat
berlaku adil. Dia telah melakukan  itu  dengan  contoh  yang
diberikannya  ketika kaum Muslimin terlibat dalam peperangan
dan banyak di antara mereka itu yang gugur dan mati syahid.
 
Tolonglah sebutkan! Pada waktu peperangan sedang berkecamuk,
panyakit   menular  berjangkit  dan  pemberontakan  berkobar
merenggut ribuan bahkan jutaan umat manusia, dapatkah  orang
memastikan,  bahwa membatasi pada isteri satu itu lebih baik
dan poligami yang dibolehkan dengan jalan  kekecualian  itu?
Dapatkah orang-orang Eropa - pada waktu ini, setelah selesai
Perang Dunia - mengatakan bahwa sistem monogami  itu  sistem
yang  paling tepat dalam praktek, karena mereka memang sudah
mengatakan   bahwa   sistem   itu   tepat    sekali    dalam
undang-undang?  Bukankah  tirnbulnya  kekacauan  ekonomi dan
sosial setelah perang disebabkan oleh tidak adanya kerjasama
yang  teratur antara pria dan wanita dalam perkawinan, suatu
kerjasama yang kiranya sedikit  banyak  akan  dapat  membawa
keseimbangan ekonomi? Saya tidak bermaksud dengan ini hendak
membuat suatu keputusan hukum. Saya serahkan soal ini kepada
ahli-ahli  pikir, kepada pihak penguasa untuk memikirkan dan
merencanakannya,  dengan  catatan  selalu,  bahwa   bilamana
keadaan  hidup  sudah  kembali  biasa, maka yang paling baik
dapat  menjamin  kebahagiaan  masyarakat   ialah   membatasi
laki-laki hanya pada satu isteri.
 
Sehubungan  dengan cerita tentang Zainab bt. Jahsy serta apa
yang ditambah-tambahkan oleh beberapa orang ahli hadis, oleh
kaum    Orientalis    dan    misi-misi    penginjil   dengan
bermacam-macam tabir khayal  sehingga  ia  dijadikan  sebuah
cerita  roman  percintaan,  sejarah  yang  sebenarnya  dapat
mencatat, bahwa teladan yang  diberikan  oleh  Muhammad  dan
patut  dibanggakan,  dan  sebagai contoh iman yang sempurna,
ialah bahwa dia telah menerapkan bunyi hadis yang maksudnya:
Iman   seseorang   belum   sempurna   sebelum  ia  mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.1 Dirinya telah
dijadikan  contoh  pertama  manakala  ia  melaksanakan suatu
hukum yang pada dasarnya hendak menghapus tradisi dan segala
adat-istiadat  jahiliah,  dan  yang  sekaligus dengan itu ia
menetapkan peraturan baru,  yang  diturunkan  Tuhan  sebagai
bimbingan dan rahmat buat semesta alam.

Untuk  menghapuskan  semua  cerita mereka yang kita baca itu
dari dasarnya, cukup kalau kita sebutkan, bahwa  Zainab  bt.
Jahsy  ini  adalah  puteri  Umaima  bt. Abd'l-Muttalib, bibi
Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan
dengan  bantuannya  pula.  Maka  dengan  demikian  ia  sudah
seperti puterinya atau seperti  adiknya  sendiri.  Ia  sudah
mengenal  Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau
tidak,  sebelum  ia  dikawinkan  dengan   Zaid.   Ia   sudah
melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang
masih merangkak hingga menjelang gadis  remaja  dan  dewasa,
dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu.
 
Jadi, kalau orang sudah mengetahui semua ini, maka hancurlah
segala macam khayal dan cerita-cerita yang menyebutkan bahwa
dia  pernah  kerumah Zaid dan orang ini tidak di rumah, lalu
dilihatnya  Zainab,  ia  terpesona  sekali  melihat   begitu
cantik,  sampai  ia  berkata:  "Maha  suci Tuhan, Yang telah
membalikkan hati manusia!" Atau juga ketika ia membuka pintu
rumah  Zaid,  kebetulan angin bertiup menguakkan tirai kamar
Zainab, lalu dilihatnya wanita  itu  dengan  gaunnya  sedang
berbaring  -  seolah-olah seperti Madame Recamier - mendadak
sontak  hatinya  berubah.  Lupa  ia  kepada  Sauda,  Aisyah,
Hafsha,  Zainab  bt.  Khuzaima dan Umm Salama. Juga Khadijah
sudah dilupakannya, yang seperti kata Aisyah, bahwa  dirinya
tidak  pernah  cemburu  terhadap  isteri-isteri Nabi seperti
terhadap Khadijah ketika disebut-sebut. Kalau perasaan cinta
itu sedikit banyak sudah terlintas dalam hati, tentu ia akan
melamar kepada keluarganya untuk dirinya, bukan untuk  Zaid.
Dengan  melihat  hubungan  Zainab  dengan Muhammad ini serta
gambaran yang kita kemukakan  di  atas,  maka  segala  macam
cerita  khayal yang dibawa orang itu, sudah tidak lagi dapat
dipertahankan dan ternyata samasekali memang tidak mempunyai
dasar yang benar.
                                            

S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Minggu, 11 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (34)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 17.59
SEMENTARA  peristiwa-peristiwa  dalam dua bagian di atas itu
terjadi, Muhammad kawin dengan Zainab bt. Khuzaima, kemudian
kawin  dengan  Umm  Salama  bt.  Abi  Umayya  bin'l-Mughira,
selanjutnya kawin  lagi  dengan  Zainab  bt.  Jahsy  setelah
dicerai  oleh  Zaid  b.  Haritha.  Zaid  inilah  yang  telah
diangkat  sebagai  anak  oleh  Muhammad  setelah  dibebaskan
sebagai  budak sejak ia dibelikan oleh Yasar untuk Khadijah.
Di sinilah  kaum  Orientalis  dan  misi-misi  penginjil  itu
kemudian   berteriak   keras-keras:  Lihat!  Muhammad  sudah
berubah. Tadinya, ketika ia masih di Mekah sebagai  pengajar
yang   hidup   sederhana,   yang   dapat  menahan  diri  dan
mengajarkan tauhid, sangat  menjauhi  nafsu  hidup  duniawi,
sekarang  ia  sudah  menjadi  orang yang diburu syahwat, air
liurnya mengalir bila melihat wanita. Tidak cukup tiga orang
isteri  saja  dalam  rumah, bahkan ia kawin lagi dengan tiga
orang wanita seperti yang disebutkan di  atas.  Sesudah  itu
mengawini  tiga  orang  wanita  lagi,  selain Raihana. Tidak
cukup kawin dengan wanita-wanita yang tidak bersuami, bahkan
ia  jatuh  cinta  kepada Zainab bt. Jahsy yang masih terikat
sebagai isteri Zaid b. Haritha bekas budaknya. Soalnya tidak
lain karena ia pernah singgah di rumah Zaid ketika ia sedang
tidak ada di tempat  itu,  lalu  ia  disambut  oleh  Zainab.
Tatkala itu ia sedang mengenakan pakaian yang memperlihatkan
kecantikannya,  dan  kecantikan  ini   sangat   mempengaruhi
hatinya. Waktu itu ia berkata "Maha suci Ia yang telah dapat
membalikkan hati manusia!" Kata-kata  ini  diulanginya  lagi
ketika   ia   meninggalkan   tempat  itu.  Zainab  mendengar
kata-kata itu dan ia melihat api  cinta  itu  bersinar  dari
matanya.  Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang
didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu
itu  juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa ia bersedia
menceraikannya. Lalu kata Nabi kepadanya:
 
"Jaga  baik-baik  isterimu,  jangan  diceraikan.   Hendaklah
engkau takut kepada Allah."
 
Tetapi  pergaulan  Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.
Kemudian ia dicerai.  Muhammad  menahan  diri  tidak  segera
mengawininya  sekalipun  hatinya  gelisah. Ketika itu firman
Tuhan datang:
 
"Ingat, tatkala  engkau  berkata  kepada  orang  yang  telah
diberi  karunia oleh Allah dan engkau pun telah pula berbudi
kepadanya:  Jagalah  baik-baik  isterimu.  Hendaklah  engkau
takut  kepada  Allah.  Dan  engkau menyembunyikan sesuatu di
dalam hatimu apa yang oleh Tuhan sudah  diterangkan.  Engkau
takut  kepada  manusia,  padahal seharusnya Allah yang lebih
patut  kautakuti.  Maka  setelah  Zaid  meluluskan  kehendak
wanita  itu,  Kami  kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak
tidak menjadi alangan bagi orang-orang beriman kawin  dengan
(bekas)  isteri-isteri  anak-anak  angkat  mereka,  bilamana
kehendak  mereka  (wanita-wanita)  itu   sudah   diluluskan.
Perintah Allah itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)
 
Ketika  itulah wanita itu dikawininya. Dengan perkawinan ini
semarak cinta berahi dan api  asmaranya  yang  menyala-nyala
dapat  dipadamkan.  Nabi  apa itu!? Bagaimana ia membenarkan
hal  itu  buat  dirinya  sedang  buat  orang  lain   tidak?!
Bagaimana  ia tidak tunduk kepada undang-undang yang katanya
diturunkan Tuhan  kepadanya?!  Bagaimana  pula  "harem"  ini
diciptakan,  yang  mengingatkan  orang  pada  raja-raja yang
hidup mewah-mewah, bukan  pada  para  nabi  yang  saleh  dan
memperbaiki  kehidupan  umat?! Selanjutnya bagaimana pula ia
menyerah kepada kekuasaan  cinta  dalam  hubungannya  dengan
Zainab  sehingga  ia  menghubungi Zaid bekas budaknya supaya
menceraikannya, kemudian ia tampil mengawininya! Hal semacam
ini  pada  zaman jahiliah dilarang, tapi nabinya orang Islam
ini membolehkan, karena mau menuruti kehendak nafsunya,  mau
memenuhi dorongan cintanya.
         
Bilamana  kaum  Orientalis  dan  para  misi penginjil bicara
mengenai masalah ini dalam  sejarah  Muhammad,  maka  mereka
membiarkan  khayal  mereka itu bebas tak terkendalikan lagi;
sehingga ada diantara mereka itu yang menggambarkan Zainab -
ketika terlihat oleh Nabi - dalam keadaan setengah telanjang
atau hampir telanjang, dengan rambutnya yang  hitam  panjang
lepas  terurai sampai menjamah tubuhnya yang lembut gemulai,
yang akan dapat menterjemahkan  segala  arti  cinta  berahi.
Yang  lain  lagi  menyebutkan, bahwa ketika ia membuka pintu
rumah Zaid, angin menghembus menguakkan tabir kamar  Zainab.
Ketika  itu  ia  sedang  telentang  di  tempat  tidur dengan
mengenakan baju tidur. Pemandangan ini  sangat  menggetarkan
jantung  laki-laki  yang gila perempuan dengan kecantikannya
itu. Ia menyembunyikan perasaan hatinya meskipun  sebenarnya
ia tidak dapat tahan lama demikian!
 
Gambaran  yang  diciptakan  oleh  khayal demikian itu banyak
sekali.  Akan  kita  jumpai  ini  dalam  karya-karya   Muir,
Dermenghem,  Washington  Irving, Lammens dan yang lain, baik
mereka ini para Orientalis  atau  misi-misi  penginjil.  Dan
yang   sungguh   disayangkan   lagi   karena  dalam  membuat
cerita-cerita itu, semua mereka memang  mengambil  sumbernya
dari  kitab-kitab  sejarah  Nabi dan tidak sedikit pula dari
hadis. Kemudian dengan apa yang mereka gambarkan itu, mereka
membangun  istana-istana  gading  dari khayal mereka sendiri
tentang Muhammad serta  hubungannya  dengan  wanita.  Alasan
mereka  ialah  karena isterinya banyak, yang sampai sembilan
orang menurut pendapat yang lebih tepat, atau lebih dari itu
menurut sumber-sumber lain.
         
Sebenarnya  dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan ucapan: Anggaplah semua itu benar, tetapi  dengan
itu   apa  pula  kiranya  yang  akan  dapat  mendiskreditkan
kebesaran   Muhammad   atau   kenabian   dan   kerasulannya.
Undang-undang  yang biasanya berlaku pada umum, tidak mempan
terhadap orang-orang besar, lebih-lebih terhadap para  rasul
dan nabi. Bukankah ketika Musa a.s. melihat perselisihan dua
orang, yang  seorang  dari  golongannya  sendiri,  dan  yang
seorang lagi dari pihak musuhnya, ditinjunya orang yang dari
pihak musuh itu hingga menemui ajalnya,  padahal  pembunuhan
demikian  itu  dilarang, baik dalam perang atau pun setengah
perang? Ini berarti melanggar undang-undang. Jadi Musa tidak
tunduk  kepada  undang-undang,  tapi  juga tidak berarti ini
dapat mendiskreditkan  kenabian  atau  kerasulannya,  bahkan
mengurangi  kebesarannyapun  juga  tidak. Dan dalam hal Isa,
dalam menyalahi undang-undang lebih besar lagi dari  masalah
Muhammad,  dari  para  nabi  dan  para  rasul  semuanya. Dan
soalnya tidak hanya  terbatas  pada  besarnya  kekuatan  dan
keinginan  saja, bahkan kelahiran dan kehidupannya pun sudah
melanggar undang-undang dan kodrat alam. Di  hadapan  ibunya
malaikat  muncul  sebagai  manusia  yang sempurna, yang akan
mengantarkan seorang anak yang suci bersih kepadanya. Wanita
itu  keheranan,  sambil berkata: "Bagaimana aku akan beroleh
seorang putera, padahal aku belum disentuh seorang  manusia,
juga  aku  bukan  seorang  pelacur." Malaikat berkata, bahwa
Tuhan menghendaki  supaya  ia  menjadi  pertanda  bagi  umat
manusia.
 
Setelah terasa sakit hendak melahirkan, ia berkata: "Aduhai,
coba sebelum  ini  aku  mati  saja,  maka  aku  akan  hilang
dilupakan orang." Lalu datang suara memanggilnya dari bawah:
"Jangan berdukacita, Tuhan telah mengalirkan  sebatang  anak
sungai  di  bawahmu." Dibawanya anak itu kepada keluarganya.
Mereka pun berkata: "Maryam, engkau datang membawa  masalah
besar.  Dalam  buaiannya  itu  (usia semuda itu) Isa berkata
kepada mereka: "Aku adalah hamba Allah É" dan seterusnya.
 
Betapapun orang-orang Yahudi menolak  semua  ini,  dan  oleh
mereka  Isa  dinasabkan  kepada  Yusuf an-Najjar (Yusuf anak
Heli), sebagian sarjana semacam Renan  sampai  sekarang  pun
memang  menganggapnya  demikian.  Kebesaran Isa, kenabiannya
dan kerasulannya serta penyimpangannya dari hukum dan kodrat
alam  adalah  suatu  pertanda  mujizat Tuhan kepadanya. Tapi
anehnya, misi-misi penginjil Kristen itu minta orang  supaya
percaya kepada hal-hal yang di luar hukum alam mengenai diri
Yesus,  sementara  mengenai  diri  Muhammad   mereka   sudah
menjatuhkan  hukuman  sendiri. Padahal apa yang dilakukannya
tidak  seberapa  dan  tidak  lebih  karena  Muhammad  memang
terlalu  tinggi  untuk  dapat  tunduk  kepada  undang-undang
masyarakat  yang  berlaku  terhadap  setiap   orang   besar,
terhadap  raja-raja,  kepala-kepala negara yang pada umumnya
sudah didahului oleh undang-undang  dasar  sehingga  membuat
mereka tak dapat diganggu-gugat.
         
Sebenarnya  dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan jawaban yang sudah tentu akan  menjatuhkan  semua
argumen  misi-misi penginjil dan orang-orang Orientalis yang
juga mau ikut cara-cara mereka itu.  Tetapi  dalam  hal  ini
kita   lalu  memperkosa  sejarah  dan  memperkosa  kebesaran
Muhammad dan kerasulannya. Dia bukanlah orang  seperti  yang
mereka  gambarkan:  orang  yang  pikirannya dipengaruhi oleh
hawa nafsu. Tak ada isterinya  itu  yang  dikawininya  hanya
karena  ia  terdorong  oleh  syahwat atau nafsu berahi saja.
Kalaupun  ada  beberapa  penulis  Muslim  pada   zaman-zaman
tertentu   dengan   sesuka   hati   berkata   demikian   dan
mengemukakan alasan itu kepada lawan-lawan Islam dengan niat
baik,  soalnya  ialah  karena  tradisi  yang  berlaku  telah
membawa  mereka  kepada  pengertian  materi.  Mereka   ingin
menggambarkan Muhammad itu besar dalam segalanya, juga besar
dalam  kehidupan  hawa  nafsu.   Sudah   tentu   ini   suatu
penggambaran  yang salah sama sekali. Sejarah hidup Muhammad
sama sekali  tak  dapat  menerima  ini,  dan  seluruh  hidup
pribadinya pun dengan sendirinya sudah menolak.
         
Ia  kawin  dengan  Khadijah  dalam usia duapuluh tiga tahun,
usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka
yang begitu tampan, gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu
Khadijah adalah tetap isteri satu-satunya,  selama  duapuluh
delapan  tahun,  sampai  melampaui usia limapuluhan. Padahal
masalah poligami ialah masalah yang umum sekali di  kalangan
masyarakat Arab waktu itu. Di samping itu Muhammad pun bebas
kawin dengan Khadijah atau dengan yang lain,  dalam  hal  ia
dengan  isterinya  tidak  beroleh anak laki-laki yang hidup,
sedang anak perempuan pada waktu itu dikubur hidup-hidup dan
yang  dapat  dianggap  sebagai  keturunan pengganti hanyalah
anak laki-laki.
                                            
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
  oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
  diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Sejarah Hidup Muhammad (33)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.32
Setelah dijelaskan maksud kedatangannya, mereka memperlihatkan
sikap gembira dan dengan  senang  hati  bersedia  mengabulkan.
Akan   tetapi,   sementara   sebagian   mereka   sedang  asyik
bercakap-cakap  dengan  dia,  dilihatnya  yang   lain   sedang
berkomplot.  Salah seorang dari mereka pergi menyisih ke suatu
tempat dan tampaknya mereka sedang mengingatkan kematian  Ka'b
b.  Asyraf.  Salah  seorang dari mereka itu ('Amr b. Jihasy b.
Ka'b) tampak memasuki rumah tempat Muhammad sedang duduk-duduk
bersandar  di  dinding. Ketika itulah ia merasa curiga sekali,
lebih-lebih lagi karena persekongkolan mereka  dan  percakapan
mereka itu telah didengarnya.
 
Dengan  demikian,  diam-diam  ia  menarik diri dari tempat itu
dengan  meninggalkan  sahabat-sahabatnya.  Mereka  menduga  ia
pergi untuk suatu urusan.
 
Sebaliknya  pihak  Yahudi, mereka jadi kebingungan. Tidak tahu
lagi mereka; apa yang harus mereka katakan, dan apa pula  yang
harus  mereka perbuat terhadap sahabat-sahabat Muhammad. Kalau
mereka ini yang akan mereka jerumuskan niscaya  Muhammad  akan
mengadakan   pembalasan   keras.  Jika  mereka  biarkan  saja,
kalau-kalau  persekongkolan  mereka  terhadap   Muhammad   dan
sahabat-sahabatnya  tetap tak akan terbongkar. Dengan demikian
perjanjian mereka dengan pihak Muslimin  tetap  berlaku.  Jadi
sekarang  mereka  berusaha  meyakinkan  tamu-tamu Muslimin itu
yang mungkin akan dapat menghilangkan rasa  kecurigaan  mereka
tanpa samasekali menyebut-nyebut hal tersebut.
 
Tetapi  sahabat-sahabat  Muhammad  setelah  lama  menunggunya,
mereka pun pergi  pula  mencarinya.  Tatkala  ada  orang  yang
datang  dari  Medinah  dijumpai, tahulah mereka bahwa Muhammad
sudah sampai di kota itu dan langsung menuju ke mesjid. Mereka
pun juga pergi ke sana. Ia menceritakan kepada mereka mengenai
apa yang telah menimbulkan kecurigaan dari sikap orang  Yahudi
itu  serta  maksud mereka yang hendak mengkhianatinya. Barulah
mereka menyadari apa  yang  telah  mereka  lihat  itu.  Mereka
percaya  akan  ketajaman  pandangan  Rasul serta akan apa yang
telah diwahyukan kepadanya.
 
Kemudian Nabi memanggil Muhammad b. Maslama, dan katanya:
 
"Pergilah kepada Yahudi Banu Nadzir dan katakan kepada mereka,
bahwa Rasulullah mengutus aku kepada kamu sekalian supaya kamu
keluar dari negeri ini. Kamu telah melanggar  perjanjian  yang
sudah  kubuat  dengan kamu dengan maksudmu hendak mengkhianati
aku.  Aku  memberikan  waktu   sepuluh   hari   kepada   kamu.
Barangsiapa  yang  masih  terlihat  sesudah itu akan dipenggal
lehernya."
 
Yahudi Banu Nadzir sekarang merasa putus asa dan  kebingungan.
Atas  keterangan  itu  mereka  tidak  dapat membela diri lagi,
mereka tidak menjawab apa-apa lagi; kecuali katanya kepada Ibn
Maslama:
 
"Muhammad,  kami  tidak menduga hal ini akan datang dari orang
golongan Aus." Ini adalah suatu  isyarat  tentang  persekutuan
mereka  dengan  pihak  Aus dahulu dalam perang dengan Khazraj,
tetapi Ibn Maslama hanya menjawab:
 
"Hati orang sudah berubah."

Selama beberapa hari golongan ini sudah  bersiap-siap.  Tetapi
dalam  pada  itu  tiba-tiba  datang  pula  dua  orang  suruhan
Abdullah b. Ubayy dengan mengatakan: "Jangan  ada  orang  yang
mau  meninggalkan  rumah-rumah  kamu  dan  harta  benda  kamu.
Tetaplah bertahan dalam benteng kamu sekalian. Dari golonganku
sendiri  ada  dua ribu orang dan selebihnya dari golongan Arab
yang akan bergabung dengan kita dalam benteng dan mereka  akan
bertahan  sampai  titik  darah  penghabisan, sebelum ada pihak
lain menyentuh kamu."

Banu Nadzir mengadakan perundingan atas keterangan  Ibn  Ubayy
itu.  Mereka tambah bingung. Ada yang samasekali tidak percaya
kepada Ibn Ubayy. Bukankah dulu  pernah  ia  menjanjikan  Banu
Qainuqa'   seperti   yang  dijanjikannya  kepada  Banu  Nadzir
sekarang, tetapi tiba waktunya ia cuci tangan  dan  menghilang
meninggalkan   mereka?  Juga  mereka  mengetahui,  bahwa  Banu
Quraidza takkan dapat membela mereka  mengingat  adanya  suatu
perjanjian  dengan pihak Muhammad. Disamping itu, kalau mereka
keluar dari kampung mereka itu ke Khaibar atau ke tempat  lain
yang  berdekatan  mereka  masih  akan dapat kembali ke Yathrib
bila kurma mereka nanti sudah  berbuah;  mereka  akan  memetik
buah  kurma  itu  lalu kembali ke tempat mereka semula. Mereka
tidak akan mengalami banyak kerugian
 
"Tidak," kata Huyayy b. Akhtab pemimpin  mereka.  "Malah  kita
yang  harus  mengirim  pesan kepada Muhammad: bahwa kita tidak
akan meninggalkan kampung kita dan harta-benda kita.  Terserah
apa  yang  akan diperbuat. Kita hanya tinggal memperbaiki kubu
kita; kita akan memasuki tempat ini  sesuka  hati  kita.  Kita
akan  membiasakan  memakai  jalan-jalan  kita,  kita pindahkan
batu-batu ke tempat itu. Persediaan makanan  kita  cukup  buat
setahun,  air  pun  tidak pernah terputus. Muhammad tidak akan
mengepung kita setahun penuh."
 
Tetapi sepuluh hari sudah lampau.  Mereka  tidak  juga  keluar
dari perkampungan itu.
 
Dengan  membawa  senjata  pihak Muslimin selama duabelas malam
bertempur  melawan  mereka.  Ketika  itu  bila  sudah   tampak
Muslimin  di jalan-jalan atau di rumah-rumah, mereka mundur ke
rumah berikutnya  sesudah  rumah-rumah  itu  mereka  robohkan.
Kemudian  Muhammad  memerintahkan sahabat-sahabatnya menebangi
pohon-pohon  kurma  kepunyaan  orangorang  Yahudi  itu,   lalu
membakarnya. Dengan demikian orang-orang Yahudi itu tidak akan
terlalu  terikat  pada  harta-bendanya  lagi  dan  tidak  akan
terlalu bersemangat mau berperang
 
Dengan tidak sabar orang-orang Yahudi itu berteriak:
 
"Muhammad!  Tuan  melarang  orang berbuat kerusakan. Tuan cela
orang yang berbuat begitu.  Tetapi  kenapa  pohon-pohon  kurma
ditebangi dan dibakar?!"
 
Dalam hal ini firman Tuhan turun:
 
"Mana  pun  pohon  kurma  yang  kamu  tebang atau kamu biarkan
berdiri dengan batangnya, adalah dengan ijin Allah  juga,  dan
karena  Ia  hendak  mencemoohkan  mereka  yang melanggar hukum
itu."(Qur'an, 59: 5)

Sia-sia saja rupanya pihak Yahudi itu menunggu adanya  bantuan
dari  Abdullah  b.  Ubayy atau pertolongan yang mungkin datang
dan salah satu golongan Arab.  Sekarang  mereka  yakin,  bahwa
mereka  hanya  akan  beroleh  nasib  buruk  saja apabila terus
bersitegang hendak berperang. Setelah  ternyata  mereka  dalam
putus-asa dan ketakutan, mereka meminta damai kepada Muhammad,
meminta  jaminan  keamanan  atas  harta-benda,   darah   serta
anak-anak keturunan mereka; sampai mereka keluar dari Medinah.
Muhammad pun mengabulkan permintaan mereka; asal mereka keluar
dari  kota  itu:  Setiap  tiga orang diberi seekor unta dengan
muatan harta-benda; persediaan makanan dan minuman sesuka hati
mereka.  Di  luar itu tidak ada. Pihak Yahudi menerima. Mereka
dipimpin oleh Huyayy b. Akhtab.
 
Dalam perjalanan itu mereka ada yang berhenti di Khaibar, yang
lain  meneruskan  perjalanan  sampai  ke  Adhri'at di bilangan
Syam.  Harta-benda  yang  mereka  tinggalkan  menjadi   barang
rampasan Muslimin yang terdiri dari hasil bumi, senjata berupa
50 buah baju besi, 340 bilah pedang, di  samping  tanah  milik
orang-orang  Yahudi itu. Tetapi tanah ini tidak dapat dianggap
sebagai   rampasan   perang;   oleh   karenanya   tak    dapat
dibagi-bagikan  kepada  kaum  Muslimin,  melainkan  khusus  di
tangan  Rasulullah  yang  nantinya  akan  ditentukan   sendiri
menurut    kebijaksanaannya.    Dan    tanah    itu   kemudian
dibagi-bagikan kepada golongan Muhajirin yang pertama di  luar
golongan   Anshar,  setelah  dikeluarkan  bagian  khusus  yang
hasilnya akan menjadi hak fakir-miskin. Dengan  demikian  kaum
Muhajirin  itu  tidak  perlu  lagi harus menerima bantuan kaum
Anshar dan inipun sudah menjadi harta  kekayaan  mereka.  Dari
pihak  Anshar  yang turut mendapat bagian hanya Abu Dujana dan
Sahl b. Hunaif, yang sudah terdaftar sebagai orang miskin.
 
Muhammad memberikan bagian kepada mereka  ini  seperti  kepada
kaum Muhajirin.
 
Dari  golongan  Yahudi  Banu Nadzir sendiri tak ada yang masuk
Islam kecuali dua  orang.  Mereka  masuk  Islam  karena  harta
mereka, yang kemudian mereka peroleh kembali.
 
Tidak begitu sulit orang akan menilai arti kemenangan Muslimin
serta pengosongan Banu Nadzir dari Medinah itu,  setelah  kita
kemukakan  betapa  Rasul  .a.s.  memperhitungkan, bahwa adanya
mereka  di  tempat  itu   akan   memberikan   semangat   dalam
menimbulkan  bibit-bibit  fitnah,  akan  mengajak  orang-orang
munafik itu mengangkat  kepala  setiap  mereka  melihat  pihak
Muslimin  mendapat  bencana  dan  mengancam  timbulnya  perang
saudara bila saja ada musuh menyerang kaum Muslimin.
 
Tentang perginya Banu Nadzir itu Surah Hasyr (59) ini turun:
 
"Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang bersikap munafik,
yang  berkata  kepada saudara-saudaranya yang tak beriman dari
kalangan Ahli Kitab: Kalau kamu diusir  keluar,  niscaya  kami
pun  akan keluar bersama kamu, dan tidak sekali-kali kami akan
dipengaruhi oleh siapa pun  menghadapi  persoalanmu  ini;  dan
kalau kamu dipengaruhi niscaya kami pun akan membelamu. Tetapi
Tuhan  mengetahui,  bahwa  mereka  adalah   pendusta   belaka.
Kalaupun  mereka ini diusir keluar, mereka pun tidak akan ikut
bersama-sama keluar, juga kalau mereka ini  diperangi,  mereka
pun  tidak  akan  turut  membantu.  dan kalaupun mereka sampai
membantu, niscaya mereka akan  lari  mengundurkan  diri;  lalu
mereka  ini  tidak  mendapat  pertolongan.  Sungguh dalam hati
mereka kamu sangat ditakuti lebih dari Allah. Demikian itulah,
sebab  mereka  adalah  golongan yang tidak mengerti." (Qur'an,
59: 11-13)
 
Kemudian  Surah  itu  dilanjutkan  dengan  memberi  keterangan
tentang   iman  dan  kekuasaannya.  Iman  hanya  kepada  Allah
semata-mata. Bagi jiwa  manusia,  yang  tahu  harga  diri  dan
kehormatan dirinya, yang dikenalnya hanyalah kekuasaan Tuhan.
 
"Dialah  Allah. Tiada tuhan selain Dia. Maha mengetahui segala
yang gaib dan yang nyata. Dia Pengasih dan  Penyayang.  Dialah
Allah.  Tiada tuhan selain Dia. Maha Raja, Maha Kudus. Pembawa
Keselamatan, Keamanan, Penjaga  segalanya,  Maha  Kuasa,  Maha
Perkasa,  Maha  Agung. Maha Suci Allah dari segala yang mereka
persekutukan.  Dialah  Allah.  Pencipta,  Pengatur,  Pembentuk
rupa,  PadaNyalah  ada  Asma  Yang  Indah.  Segala yang ada di
langit dan di bumi berbakti kepadaNya.  Dan  Dia  Maha  Kuasa,
Maha Bijaksana." (Qur'an, 59: 22 - 24)

Sampai  pada  waktu  dikosongkannya  Medinah dari Banu Nadzir,
yang menjadi sekretaris Nabi ketika itu  ialah  orang  Yahudi.
Hal  ini  dimaksudkan  untuk memudahkan pengiriman surat-surat
dalam bahasa Ibrani dan  Asiria.  Tetapi  setelah  orang-orang
Yahudi  keluar,  Nabi  jadi kuatir kalau jabatan yang memegang
rahasianya itu bukan di  tangan  orang  Islam.  Dari  kalangan
pemuda  Islam  di  Medinah  dimintanya  Zaid  b. Thabit supaya
mempelajari kedua bahasa tersebut, yang  dalam  segala  urusan
kemudian  ia  akan menjadi sekretaris Nabi. Dan Zaid b. Thabit
inilah yang telah mengumpulkan Qur'an pada masa  khilafat  Abu
Bakr,  dan  dia  pula  yang  kembali dan mengawasi pengumpulan
Qur'an  tatkala  terjadi  perbedaan  cara  membaca  pada  masa
pemerintahan  Usman.  Lalu  yang  dipakai hanya Mushhaf Usman,
yang lain dibakar.
 
Suasana Medinah  jadi  tenteram  setelah  Yahudi  Banu  Nadzir
keluar.  Pihak  Muslimin  tidak  lagi  merasa  takut  terhadap
orang-orang  munafik.  Bahkan  kaum  Muhajirin  bersuka   hati
memperoleh  tanah  bekas orang-orang Yahudi itu. Juga kalangan
Anshar  turut  gembira  karena  Muhajirin  sudah  tidak   lagi
bergantung pada bantuan mereka. Hati mereka semua merasa lega.
Dalam suasana yang begitu  tenang,  aman  dan  tenteram,  baik
Muhajirin  maupun  Anshar,  semua  mereka merasa senang. Dalam
pada mereka dalam  keadaan  demikian,  setelah  berlalu  waktu
setahun   sejak   peristiwa   Uhud,   teringat  oleh  Muhammad
'alaihi'sh  shalatu  was-salam  -  ucapan  Abu  Sufyan:  "Yang
sekarang  ini  untuk peristiwa perang Badr. Sampai jumpa tahun
depan!"  serta  ajakannya  kepada  Muhammad  untuk  mengadakan
perang Badr lagi. Tetapi tahun itu sedang terjadi musim kering
(paceklik). Harapan Abu  Sufyan  ialah  sekiranya  perang  itu
diadakan dalam waktu lain saja.
 
Untuk  itu  diutusnya  Nusaim  (b.  Mas'ud)  ke Medinah dengan
mengatakan  kepada  pihak  Muslimin,   bahwa   Quraisy   telah
mengerahkan  tentaranya  begitu  besar  yang belum ada taranya
dalam sejarah Arab; sudah siap  akan  memerangi  mereka,  akan
menghancur-luluhkan  mereka  sehingga tidak akan tersisa lagi.
Tampaknya kaum Muslimin pun mau menghindari bahaya itu. Banyak
diantara  mereka yang memperlihatkan keengganan pergi ke Badr.
Tetapi Muhammad jadi marah karena sikap lemah  dan  mau  surut
itu.  Ia  bersumpah  mengatakan  kepada  mereka, bahwa ia akan
pergi juga ke Badr walaupun seorang diri.

Melihat kejengkelan yang luar  biasa  itu  segala  sikap  maju
mundur  dan  perasaan takut-takut segera lenyap. Kaum Muslimin
sekarang siap memanggul senjata dan berangkat ke  Badr.  Dalam
hal  ini  pimpinan  kota  Medinah  oleh Nabi diserahkan kepada
Abdullah b. Abdullah b. Ubayy b. Salul.
 
Muslimin  yang  sudah  sampai  di  Badr,  sekarang  menantikan
kedatangan Quraisy. Mereka sudah siap bertempur. Demikian juga
pihak Quraisy dengan pimpinan Abu Sufyan sudah pula  berangkat
dari Mekah dengan kekuatan 2000 orang. Tetapi sesudah dua hari
perjalanan  tampaknya  Abu  Sufyan  mau  kembali  pulang.   Ia
memanggil-manggil teman-temannya sambil katanya:
 
"Saudara-saudara dari Quraisy, sebenarnya yang cocok buat kita
hanyalah dalam musim subur, sedang sekarang kita  dalam  musim
kering.  Saya  sendiri mau kembali pulang. Maka pulang sajalah
kamu sekalian."
 
Mereka itu kembali pulang.
 
Tinggal lagi Muhammad dengan tentara Muslimin  selama  delapan
hari  terus-menerus menantikan mereka, yang selama di Badr itu
pula waktu  mereka  pergunakan  sambil  berdagang.  Dan  dalam
perdagangan  itu  mereka  mendapat  laba.  Mereka  kembali  ke
Medinah pun kemudian dengan gembira,  telah  mendapat  karunia
dari Tuhan. Dalam Badr Terakhir itulah firman Tuhan ini turun:
 
"Mereka yang berkata kepada teman-temannya, dan mereka sendiri
tinggal di belakang:  'Sekiranya  mereka  itu  mengikut  kita,
niscaya  mereka  takkan  mati  terbunuh.'  Katakanlah: Cobalah
hindarkan dirimu dari kematian, kalau memang kamu  orang-orang
yang  benar.  Jangan  kamu  kira  orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah itu sudah mati. Tidak!  Mereka  itu  hidup  dengan
mendapat  bagian  dari  Tuhan.  Mereka  dalam  suasana gembira
karena karunia yang diberikan Tuhan juga; mereka girang sekali
terhadap mereka yang tidak ikut dan tinggal di belakang, bahwa
mereka tidak merasa takut dan tidak pula  berdukacita.  Mereka
girang  karena  karunia  dan nikmat Tuhan dan Tuhan tidak akan
menghilangkan jasa orang-orang beriman, orang-orang yang telah
memenuhi  panggilan,  Tuhan  dan  Rasul  meskipun mereka sudah
mengalami malapetaka, orang-orang yang berbuat baik dan  dapat
memelihara  diri  dari  kejahatan;  mereka  itulah  yang  akan
mendapat pahala besar. Orang yang sudah berkata kepada mereka:
'Sebenarnya  orang-orang  sudah berkumpul hendak melawan kamu.
Karena itu hendaklah kamu takut kepada mereka. Tetapi hal  ini
bahkan  menambah  kuat  iman  mereka,  dan jawab mereka: Cukup
Tuhan bersama  kami  dan  Ia  Pelindung  yang  sebaik-baiknya.
Mereka  kembali  mendapatkan  nikmat  dan  karunia dari Tuhan.
Mereka tidak mengalami bencana, dan mereka mengikut  perkenaan
Allah.  Dan  Allah  Maha  Pemberi  karunia  yang  besar.  Yang
demikian    itu    hanyalah    setan    yang    menakut-nakuti
pengikut-pengikutnya.  Jangan  kamu  takut kepada mereka, tapi
takutlah  kepadaKu,   kalau   benar-benar   kamu   orang-orang
beriman." (Qura'an, 3: 168 - 175)
 
Dengan  demikian  perang  Badr yang terakhir benar-benar telah
menghapus pengaruh perang Uhud samasekali. Buat Quraisy  hanya
tinggal  lagi  menunggu  kesempatan  lain, dengan tetap mereka
bergelimang dalam  kecemaran  karena  sifat  pengecutnya  yang
tidak  kurang cemarnya dari kekalahan yang mereka derita dalam
perang Badr pertama.
 
Dengan pertolongan Tuhan itu Muhammad merasa lega  tinggal  di
Medinah,  merasa  tenteram  hatinya karena kewibawaan Muslimin
kini  telah  kembali.  Sungguhpun  begitu  ia  selalu  waspada
terhadap  segala  tipu-muslihat  musuh,  selalu  awas-awas  ke
segenap jurusan.

Sementara  dalam  keadaan  demikian  itu,  tiba-tiba  terbetik
berita,  bahwa  ada sebuah kelompok dari Ghatafan di Najd yang
sedang bersepakat hendak memeranginya.  Dan  taktiknya  selalu
dalam  hal  ini ialah menyergap musuh secara tiba-tiba sebelum
musuh itu sempat  mengadakan  persiapan  mempertahankan  diri.
Oleh  karena  itulah,  dengan  kekuatan  empat  ratus orang ia
berangkat  menuju  Dhat'r-Riqa'.  Di  tempat  ini  pihak  Banu
Muharib  dan  Banu  Tha'laba  dari  Ghatafan  sudah berkumpul.
Begitu  ia  dilihat  oleh  mereka,   ia   langsung   melakukan
penyerbuan  ke  tempat-tempat  mereka itu. Dengan meninggalkan
kaum wanita dan harta, mereka lari tunggang-langgang. Apa yang
dapat  dibawa  oleh  Muslimin  dibawanya,  dan  mereka kembali
pulang ke Medinah.
 
Akan tetapi,  karena  dikuatirkan  pihak  musuh  akan  kembali
menyerang  mereka,  siang  malam  mereka pun secara bergantian
mengadakan penjagaan. Dalam pada itu dalam memimpin sembahyang
juga  oleh  Muhammad  dilakukan dengan salat khauf.1 Dalam hal
ini  sebagian  mereka  menghadap  ke  jurusan  musuh,   karena
dikuatirkan kalau-kalau pihak musuh menyusul menyerang mereka,
sementara mereka sedang bersembahyang dua raka'at bersama-sama
Muhammad  itu. Akan tetapi selama itu tidak ada bayangan musuh
yang tampak. Kemudian  Nabi  dan  sahabat-sahabat  kembali  ke
Medinah  setelah  15 hari meninggalkan kota itu. Dengan sukses
demikian ini mereka kembali dengan gembira sekali.

Tidak lama sesudah itu Nabi pun  berangkat  lagi  dalam  suatu
ekspedisi,  yakni ekspedisi Dumat'l-Jandal. Dumat'l-Jandal ini
adalah sebuah wahah (oasis) pada perbatasan  Hijaz-Syam,  yang
terletak pada pertengahan jalan antara Laut Merah dengan Teluk
Persia.  Muhammad  sendiri   tidak   sampai   bertemu   dengan
kabilah-kabilah  yang  ingin  dihadapinya  itu  dan  yang suka
menyerang kafilah-kafilah di sana; sebab baru mereka mendengar
namanya  saja,  mereka  sudah  ketakutan dan sudah kabur lebih
dulu, dengan meninggalkan harta  benda  yang  kemudian  dibawa
Muslimin sebagai barang ghanima (rampasan perang). Berdasarkan
batas Dumat'l-Jandal secara geografis kita sudah dapat melihat
betapa  luasnya  pengaruh Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu,
betapa  jauhnya  kekuasaan  mereka  dan  betapa  pula  seluruh
jazirah  itu  merasa takut. Begitu juga kita melihat bagaimana
Muslimin   itu   menanggung   segala   macam    beban    dalam
ekspedisi-ekspedisi  itu,  dengan  tidak pedulikan panas terik
yang rnembakar, tanah yang kering dan gersang, air yang  sukar
diperoleh, bahkan maut sendiri pun tidak lagi mereka hiraukan.
Hanya satu yang menggerakkan mereka sampai mencapai kemenangan
dan  sukses  itu,  yang telah memberikan kekuatan moril kepada
mereka, yaitu: keteguhan iman, iman yang  hanya  kepada  Allah
semata-mata.
 
Sekarang  tiba  waktunya buat Muhammad beristirahat di Medinah
untuk selama beberapa bulan berikutnya,  sementara  menantikan
Quraisy  sampai  tahun  depan  -  tahun  kelima  Hijrah  - dan
menjalankan  perintah  Tuhan   menyelesaikan   suatu   susunan
masyarakat  bagi  umat  Islam  yang  baru  tumbuh  itu,  suatu
organisasi yang pada waktu itu meliputi  beberapa  ribu  orang
dan  yang  kemudian  akan  meliputi jutaan bahkan ratusan juta
umat  Islam.  Dalam  membuat  struktur  masyarakat   itu,   ia
bertindak  dengan  cara  yang  begitu  cermat dan baik sekali,
sejalan dengan  wahyu  Tuhan  yang  diberikan  kepadanya,  dan
ditentukannya   sendiri  pula  mana-mana  yang  sesuai  dengan
perintah dan  ajaran  wahyu  itu,  dengan  ketentuan-ketentuan
terperinci  yang  oleh  sahabat-sahabat  pada waktu itu diberi
tempat yang suci, dan  yang  selanjutnya  akan  tetap  berlaku
begitu  sepanjang masa dan generasi; wahyu yang tiada dimasuki
kepalsuan dari manapun juga, baik dari semula  maupun  sesudah
itu.
 
Catatan kaki:
 
 1 Shalat'l-khauf, harfiah salat ketakutan, yakni
   sembahyang darurat dalam keadaan bahaya. Syarat-syarat
   dan ketentuan-ketentuannya terdapat dalam buku-buku
   fikih (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Sabtu, 10 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (32)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.35
ABU SUFYAN telah kembali dari  Uhud  ke  Mekah.  Berita-berita
kemenangannya  sudah lebih dulu sampai, yang disambut penduduk
dengan rasa gembira, karena  dianggap  sudah  dapat  menghapus
cemar yang dialami Quraisy selama di Badr. Begitu sampai ia ke
Mekah, langsung menuju Ka'bah  sebelum  ia  pulang  ke  rumah.
Kepada  Hubal  dewa  terbesar  ia  menyatakan puji dan syukur.
Dicukurnya lebih dulu rambut yang di bawah telinganya, lalu ia
pulang  ke rumah sebagai orang yang sudah memenuhi janji bahwa
ia  takkan  mendekati  isterinya  sebelum  dapat   mengalahkan
Muhammad.
 
Sebaliknya  kalangan  Muslimin,  mereka  melihat  kota Medinah
sudah  banyak  terasa  aneh  sekali,  meskipun   musuh   tetap
mengejar-ngejar  mereka. Selama tiga hari terus-menerus mereka
tetap  tabah  menghadapi  musuh  yang  masih  tidak  mempunyai
keberanian   menghadapi   mereka  itu.  Padahal  belum  selang
duapuluh empat jam yang lalu musuh telah merasa sebagai  pihak
yang menang.
 
Pihak Muslimin melihat keadaan Medinah itu sudah terasa banyak
sekali mengalami perubahan,  meskipun  kekuasaan  Muhammad  di
kota  itu tetap di atas. Dalam pada itu Nabi as. merasa, bahwa
keadaan memang sudah sangat genting dan  gawat  sekali,  bukan
hanya  dalam  kota  Medinah  saja, bahkan juga sudah melampaui
sampai kepada kabilah-kabilah Arab lainnya, yang memang  sudah
merasa  ketakutan. Peristiwa Uhud membawa perasaan lega kepada
mereka, sehingga terpikir oleh mereka itu hendak  menentangnya
lagi  dan  mengadakan  perlawanan.  Oleh  karena  itu ia ingin
sekali mengikuti berita-berita sekitar  penduduk  Medinah  dan
kalangan  Arab  umumnya,  yang  kiranya  akan memberikan suatu
kemungkinan  menempatkan  kembali  kedudukan,   kekuatan   dan
kewibawaan Muslimin kedalam hati mereka.
 
Berita  pertama  yang sampai kepadanya sesudah peristiwa Uhud,
ialah bahwa Tulaiha dan Salama bin Khuailid dua  bersaudara  -
dan  keduanya  waktu  itu  yang  memimpin  Banu  Asad - sedang
mengerahkan masyarakatnya dan  mereka  yang  mau  mentaatinya,
untuk  menyerang Medinah dan menyerbu Muhammad sampai ke dalam
rumahnya  sendiri  dengan  maksud  memperoleh  keuntungan  dan
merampas  ternak  Muslimin  yang  dipelihara  di ladang-ladang
sekeliling kota itu. Yang menyebabkan  mereka  berani  berbuat
begitu ialah karena anggapan bahwa Muhammad dan teman-temannya
masih menderita karena telah mengalami pukulan hebat selama di
Uhud.

Berita  itu  terbetik  juga oleh Nabi. Ia segera memanggil Abu
Salama b. Abd'l-Asad yang lalu diserahi pimpinan pasukan  yang
terdiri  dari  150  orang,  termasuk Abu 'Ubaida bin'l-Jarrah,
Sa'd b. Abi Waqqash dan Usaid b. Hudzair. Mereka diperintahkan
supaya  berjalan  pada  malam  hari  dan  siangnya bersembunyi
dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui  orang,  supaya
jangan  ada  orang yang mengenal jejak mereka. Dengan demikian
mereka akan dapat menyergap musuh dengan cara  yang  tiba-tiba
sekali. Perintah ini oleh Abu Salama dilaksanakan. Ia berhasil
menyerbu musuh dalam  keadaan  tidak  siap.  Dalam  pagi  buta
mereka  sudah  terkepung.  Dikalahkannya  anak  buahnya  dalam
menghadapi perjuangan itu.  Tetapi  pihak  musyrik  sudah  tak
dapat  bertahan  lagi.  Dua  pasukan  segera  dikirim mengejar
mereka dan merebut rampasan  perang  yang  ada.  Ia  dan  anak
buahnya  menunggu  di  tempat  itu  sambil  menantikan pasukan
pengejar itu kembali membawa rampasan perang.
 
Setelah seperlima rampasan itu dikeluarkan untuk Tuhan,  untuk
Rasul,   orang   miskin   dan  orang  yang  dalam  perjalanan,
selebihnya mereka bagi sesama mereka, lalu mereka  kembali  ke
Medinah  dengan  sudah  membawa  kemenangan.  Kewibawaan  yang
karena peristiwa Uhud itu terasa sudah  agak  berkuramg,  kini
mulai  kembali lagi. Hanya saja Abu Salama sendiri hidup tidak
lama lagi sesudah ekspedisi itu. Ia menderita luka-luka akibat
perang  Uhud  dan  luka-lukanya itu belum sembuh benar kecuali
yang tampak dari luar saja. Tetapi sesudah  ia  bekerja  keras
lukanya  itu  terbuka  dan  kembali  mengucurkan  darah,  yang
diderita terus sampai meninggalnya.

Sesudah itu kemudian sampai pula berita kepada Muhammad  bahwa
Khalid  b.  Sufyan b. Nubaih al-Hudhali yang tinggal di Nakhla
atau  di  'Urana  telah   mengumpulkan   orang   pula   hendak
menyerangnya.  Mendengar ini Muhammad segera mengutus Abdullah
b.  Unais  meneliti  dan  mencek  kebenaran  berita  tersebut.
Abdullah  berjalan  menuju  ke  tempat Khalid, yang ketika itu
dijumpainya  ia  sedang  berada  di   rumah   bersama   dengan
isteri-isterinya.
 
"Siapa kamu," tanya Khalid setelah Abdullah sampai.
 
"Saya  dari  golongan  Arab  juga,"  jawabnya. "Mendengar tuan
mengumpulkan orang hendak menyerang Muhammad maka saya  datang
kemari."
 
Khalid  berterus-terang,  bahwa  ia memang sedang mengumpulkan
orang  hendak  menyerang  Medinah.  Setelah  Abdullah  melihat
sekarang  ia  seorang  diri  jauh  dari anak-buahnya - kecuali
isteri-isterinya - dicarinya  jalan  supaya  ia  mau  berjalan
bersama-sama.  Begitu ia mendapat kesempatan dihantamnya orang
itu dengan pedangnya dan dia pun menemui ajalnya. Dibiarkannya
dia  di  tangan isteri-isterinya yang berkerumun menangisinya.
Sekembalinya  ke  Medinah  disampaikannya  berita  itu  kepada
Rasul.
 
Setelah  kematian  pemimpinnya itu, Banu Lihyan sebagai cabang
Hudhail  yang  selama  beberapa  waktu   tenang-tenang   saja,
sekarang  mulai  terpikir  akan  mengadakan  pembalasan dengan
suatu tipu-muslihat.
 
Pada  waktu  itulah  kabilah  yang  berdekatan  itu   mengutus
rombongan  kepada Muhammad dengan mengatakan: Di kalangan kami
ada beberapa orang Islam. Kirimkanlah beberapa  orang  sahabat
tuan  bersama  kami,  yang  akan dapat kelak mengajarkan hukum
agama dan Qur'an kepada kami.

Untuk menunaikan tugas agama yang mulia itu, setiap diperlukan
pada    waktu    itu    Muhammad    selalu    siap    mengutus
sahabat-sahabatnya untuk  memberikan  bimbingan  kepada  orang
dalam mengenal Tuhan dan agama yang benar, serta untuk menjadi
pengikut Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  menghadapi  lawan,
seperti  yang  sudah  kita lihat, ketika mereka dulu diutus ke
Medinah sesudah Ikrar 'Aqaba kedua. Oleh karena itu enam orang
sahabat besar kemudian diutusnya berangkat bersama-sama dengan
rombongan utusan itu. Tetapi sesampainya  di  suatu  pangkalan
air  kepunyaan Hudhail di bilangan Hijaz, di suatu daerah yang
disebut ar-Raji', ternyata  mereka  telah  dikhianati,  dengan
tindakan rombongan itu yang sudah tentu dengan meminta bantuan
Hudhail. Tetapi ini tidak membuat keenam  orang  Muslimin  itu
jadi  gugup  ketakutan,  yang dalam perlengkapannya itu mereka
hanya membawa pedang. Kaum Muslimin itu segera mencabut pedang
hendak  mempertahankan  diri.  Tetapi  pihak  Hudhail  berkata
kepada mereka:
 
"Demi Allah, kami tidak ingin membunuh kamu. Tapi dengan  kamu
ini kami ingin memperoleh keuntungan dari penduduk Mekah. Kami
berjanji atas nama Tuhan bahwa kami tidak  bermaksud  membunuh
kamu."
 
Keenam  orang  Muslim  itu  berpandang-pandangan. Mereka sadar
sudah bahwa dibawanya mereka satu-satu ke  Mekah  itu  berarti
suatu  penghinaan yang sebenarnya lebih jahat dari pembunuhan.
Mereka menolak  janji  Hudhail  itu,  dan  mereka  tetap  akan
mengadakan  perlawanan, meskipun mereka sudah menyadari, bahwa
dalam jumlah yang sekecil itu mereka tidak berdaya. Tiga orang
dari  mereka  ini  dibunuh  oleh Hudhail, sedang sisanya sudah
makin tak berdaya. Mereka semua ditangkap dan  dibawa  sebagai
tawanan, yang kemudian dibawa ke Mekah dan dijual. Abdullah b.
Tariq, salah seorang dari ketiga orang  Islam  itu  di  tengah
jalan  berhasil  melepaskan  belenggu  dari  tangannya lalu ia
mencabut pedang. Oleh karena rombongan  yang  lain  berada  di
belakangnya,  dihujaninya  ia  dengan  batu  dan  ia  puntewas
karenanya.
 
Kedua orang tawanan lainnya  sempat  dibawa  oleh  Hudhail  ke
Mekah,  lalu dijual. Zaid bin'd-Dathinna dijual kepada Shafwan
b. Umayya yang sengaja membelinya untuk dibunuh. Ia diserahkan
kepada  Nastas,  budaknya  supaya  membunuhnya sebagai balasan
atas kematian ayahnya Umayya b. Khalaf.  Ketika  dibawa,  oleh
Abu Sufyan ia ditanya:
 
 "Zaid,   sangat   kuharapkan   sekali.   Bersediakah   engkau
memberikan tempatmu itu kepada Muhammad?  Dialah  yang  harus
dipenggal   lehernya,   sedang  engkau  dapat  kembali  kepada
keluargamu."
 
"Tidak," jawab Zaid. "Sekiranya Muhammad ditempatnya  sekarang
ini  akan  menderita karena tusukan duri sekalipun, sedang aku
di tempat keluarga, aku tidak sudi."
 
Abu Sufyan kagum sekali, seraya katanya:
 
"Belum  pernah  aku  melihat  seseorang   mencintai   kawannya
demikian   rupa  seperti  sahabat-sahabat  Muhammad  mencintai
Muhammad."
 
Zaid lalu dibunuh oleh  Nastas.  Maka  ia  pun  gugur  sebagai
syahid yang memegang teguh agama dan amanat Nabi.

Adapun  Khubaib  waktu itu dalam penjara, yang kemudian dibawa
keluar untuk disalib. Tapi ia berkata kepada mereka:
 
"Dapatkah kamu membiarkan  aku  sekadar  melakukan  salat  dua
raka'at?"
 
Permintaan  demikian  itu  dikabulkan.  Iapun  sembahyang  dua
raka'at dengan baik dan sempurna. Kemudian ia menghadap mereka
lagi:
 
"Kalau   tidak   karena   kamu  akan  menyangka  saya  sengaja
memperlambat karena takut dibunuh,  niscaya  saya  masih  akan
sembahyang lebih banyak lagi."
 
Setelah   ia  dinaikkan  dan  diikat  di  atas  tonggak  kayu,
dipandangnya mereka itu dengan mata sayu seraya katanya:
 
"Ya Allah, hitungkan bilangan  mereka  itu,  binasakan  mereka
dalam keadaan cerai-berai dan jangan dibiarkan seorangpun dari
mereka itu."
 
Mendengar  suara  yang  keras  itu  mereka   gemetar,   mereka
merebahkan  diri  takut terkena kutukannya. Sesudah itu ia pun
dibunuh. Seperti Zaid yang telah gugur sebagai syahid, Khubaib
juga  kemudian gugur pula sebagai syahid untuk agama dan untuk
Nabi. Dua ruh yang suci itu pun kini melayang  pula.  Padahal,
sebenarnya   mereka   akan   dapat   menyelamatkan  diri  dari
pembunuhan itu kalau saja mereka mau jadi murtad  meninggalkan
agamanya.  Tetapi  demi  keyakinan mereka kepada Tuhan, kepada
keluhuran rohani dan hari kemudian - tatkala setiap jiwa hanya
akan  mendapat  balasan sesuai dengan perbuatannya dan tak ada
orang yang akan memikul beban orang lain - mereka melihat maut
itu  -  sebagai  tujuan hidup - adalah tujuan yang paling baik
dalam hidupnya demi akidah,  demi  iman  dan  demi  kebenaran.
Mereka  pun yakin bahwa darah mereka, yang kini ditumpahkan di
atas  bumi  Mekah,  akan  memanggil  saudara-saudaranya   kaum
Muslimin  supaya  memasuki kota itu sebagai pihak yang menang,
yang akan  menghancurkan  berhala-berhala,  akan  membersihkan
segala  noda  paganisma  dan  kehidupan  syirik.  Dan kesucian
Ka'bah sebagai Baitullah akan  dikembalikan  juga  sebagaimana
mestinya,  bersih  dari  segala  sebutan nama-nama selain asma
Allah.

Dalam menghadapi peristiwa ini pihak Orientalis  tidak  bicara
apa-apa  seperti ketika menghadapi peristiwa tawanan Badr yang
dibunuh pihak Muslimin. Mereka tidak berusaha untuk  memandang
jijik  perbuatan  khianat yang diiakukan Banu Hudhail terhadap
dua orang yang tidak berdosa  itu,  yang  bukan  ditawan  dari
medan  perang,  tapi  diambil  dengan cara tipu-muslihat, yang
berangkat  karena  perintah   Rasul   dengan   maksud   supaya
mengajarkan  agama kepada orang-orang yang mengkhianati mereka
itu,  orang-orang  yang  menyerahkan  mereka  kepada  Quraisy,
setelah  kawan-kawannya yang lain pun dibunuh secara gelap dan
licik.  Kaum  Orientalis  tidak  menganggap  jijik   perbuatan
Quraisy  terhadap  dua  orang yang tak bersenjata itu, padahal
apa yang mereka lakukan adalah suatu  perbuatan  pengecut  dan
tindakan  permusuhan yang rendah sekali. Pada dasarnya prinsip
kejujuran yang harus menjadi pegangan  kaum  Orientalis,  yang
merasa  tidak  dapat menerima apa yang dilakukan kaum Muslimin
terhadap dua tawanan perang Badr itu, ialah akan merasa  jijik
sekali terhadap pengkhianatan Quraisy yang menerima penyerahan
dua orang untuk dibunuh itu, sesudah empat orang lainnya  yang
didatangkan  atas  permintaan  mereka untuk mengajarkan agama,
telah lebih dulu pula mereka bunuh.
 
Semua Muslimin merasa sedih, Muhammad juga merasa sedih sekali
atas  malapetaka  yang  telah  menimpa keenam orang yang gugur
sebagai syahid di jalan  Tuhan  karena  pengkhianatan  Hudhail
itu. Ketika itulah Hassan b. Thabit mengirimkan sajak-sajaknya
sebagai elegi yang mendalam sekali buat Khubaib dan Zaid.
 
Dalam pada itu lebih banyak lagi Muhammad  memikirkan  keadaan
umat Muslimin. Kuatir sekali ia kalau hal semacam itu terulang
lagi. Masyarakat Arab akan sangat merendahkan mereka.
 
Sementara ia  sedang  berpikir-pikir  demikian  itu  tiba-tiba
datang Abu Bara' 'Amir b. Malik. Muhammad menawarkan kepadanya
supaya ia sudi masuk Islam, tapi ia menolak. Sungguhpun begitu
juga  ia tidak menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam.
Bahkan katanya: "Muhammad, kalau  ada  sahabat-sahabatmu  yang
dapat diutus ke Najd dan mengajak mereka itu menerima ajaranmu
saya harap mereka itu akan menerima."
 
Tetapi    Muhammad    masih     kuatir     akan     melepaskan
sahabat-sahabatnya  itu  ke  Najd dan takut ia penduduk daerah
itu nanti akan mengkhianati mereka  seperti  pernah  dilakukan
Hudhail  terhadap  Khubaib dan kawan-kawan. Ia tidak yakin dan
tidak dapat mengabulkan permintaan Abu Bara'.
 
"Saya menjamin  mereka,"  katanya  lagi.  "Kirimkanlah  utusan
kesana untuk mengajak mereka menerima ajaranmu."
 
Abu  Bara' adalah orang yang ditaati di kalangan masyarakatnya
dan  didengar  orang  perkataannya.  Barangsiapa  yang   sudah
diberinya  perlindungan ia tidak kuatir akan mendapat serangan
pihak lain.
 
Dengan demikian Muhammad mengutus al-Mundhir b. 'Amr dari Banu
Sa'ida  dengan  memimpin 40 orang Muslimin pilihan. Mereka pun
berangkat. Sampai di Bi'ir Masuna - antara daerah  Banu  'Amir
dan  Banu  Sulaim - mereka berhenti. Dari sana mereka mengutus
Haram  b.  Milhan  membawa   surat   Muhammad   kepada   'Amir
bin't-Tufail.  Tetapi  oleh  'Amir  surat itu tidak dibacanya,
malah orang yang membawanya dibunuh,  dan  dia  minta  bantuan
Banu  'Amir  supaya  membunuhi  kaum  Muslimin. Tetapi setelah
mereka    menolak    untuk    melakukan    pelanggaran    atas
pertanggung-jawaban dan perlindungan yang telah diberikan oleh
Abu  Bara'  'Amir  meminta   bantuan   kabilah-kabilah   lain.
Permintaan  ini oleh mereka dipenuhi dan kemudian bersama-sama
dia mereka  berangkat  dan  mengepung  rombongan  Muslimin  di
tempat  itu.  Melihat  keadaan  ini  pihak Muslimin pun segera
mencabut  pedang.  Mereka  mengadakan  perlawanan  mati-matian
sampai akhirnya mereka terbunuh semua.
 
Hanya  Ka'b  b. Zaid yang masih selamat, yang dibiarkan begitu
saja oleh Ibn't-Tufail. Ternyata ia belum  mati.  Kemudian  ia
pun  pergi  pulang  ke  Madinah. Demikian juga 'Amr b. Umayya,
yang oleh 'Amir bin't-Tufail dimerdekakan karena dikiranya  ia
masih  terikat  dengan  suatu  niat  ibunya.  Dalam perjalanan
pulang di tengah jalan 'Amr  bertemu  dengan  dua  orang  yang
dikiranya  turut  menyerang kawan-kawannya. Dibiarkannya kedua
orang itu sampai tidur lebih dulu,  kemudian  diserangnya  dan
dibunuhnya.  Sesudah  itu  ia  melanjutkan lagi perjalanannya.
Sesampainya  di  Medinah  diberitahukannya  perbuatannya   itu
kepada  Rasul  a.s.  Ternyata kedua orang itu dari Banu 'Amir,
dari golongan Abu Bara'  dan  yang  juga  terikat  oleh  suatu
perjanjian Jiwar (bertetangga baik) dengan Rasulullah, dan ini
berarti harus diselesaikan dengan diat.
 
Bukan main Muhammad menahan perasaan pilu karena pembunuhan di
Bi'ir  Ma'una itu. Sungguh berat hatinya menahan dukacita atas
sahabat-sahabatnya itu. Ia berkata: "Ini adalah perbuatan  Abu
Bara'. Sejak semula saya sudah berat hati dan kuatir sekali."
 
Abu Bara' juga merasa sangat terpukul karena pelanggaran 'Amir
bin't-Tufail atas dirinya itu. Karena itu, Rabi'a anaknya lalu
bertindak  menghantam 'Amir dengan tombak sebagai balasan atas
perbuatannya terhadap ayahnya. Begitu dalamnya  rasa  dukacita
Muhammad  sehingga sebulan penuh setiap selesai salat Subuh ia
berdoa semoga Tuhan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang
telah  membunuh  sahabat-sahabatnya itu. Demikian juga seluruh
umat Muslimin turut merasa pilu karena malapetaka  yang  telah
menimpa  saudara-saudaranya seagama itu, meskipun sudah dengan
penuh iman bahwa  mereka  semua  gugur  sebagai  syuhada,  dan
mereka semua akan mendapat surga.

Malapetaka  yang  telah  menimpa kaum Muslimin di Raji' dan di
Bi'ir Ma'una mengingatkan kaum munafik dan Yahudi Medinah akan
kemenangan  Quraisy  di  Uhud,  dan  membuat  mereka lupa akan
kemenangan Muslimin atas Banu Asad, juga mengurangi  pandangan
mereka  terhadap  kewibawaan  Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Dalam menghadapi hal ini sekarang Nabi  a.s.  berpikir  dengan
suatu  pemikiran  politik  yang  cermat sekali serta pandangan
yang jauh. Ketika itu bahaya yang paling besar mengancam  kaum
Muslimin  ialah  sikap  penduduk  Medinah  yang  kiranya  akan
merendahkan  kewibawaan  mereka.  Begitu  juga   yang   sangat
diharapkan   oleh  kabilah-kabilah  Arab,  mereka  akan  dapat
menanamkan  perpecahan  didalam,  yang  berarti   akan   dapat
menimbulkan  perang  saudara jika nanti ada saja tetangga yang
menyerbu Medinah. Disamping itu pihak Yahudi  dan  orang-orang
munafik seolah-olah memang sedang menantikan bencana yang akan
menimpa itu. Karena itu dilihatnya tak  ada  jalan  lain  yang
lebih  baik  daripada  membiarkan  mereka,  supaya  nanti niat
mereka terbongkar.
 
Oleh karena Yahudi Banu Nadzir itu  sekutu  Banu  'Amir,  maka
Nabi berangkat  sendiri  ke  tempat  mereka -  yang tidak jauh
dari Quba'[  -    dengan  membawa   sepuluh   orang   Muslimin
terkemuka,  diantaranya  Abu  Bakr,  Umar  dan  Ali.  Ia minta
bantuan Banu Nadzir dalam membayar diat dua orang  yang  telah
dibunuh  tidak  sengaja  oleh  'Amr  b.  Umayya  itu dan tidak
diketahuinya pula bahwa  Nabi  telah  memberikan  perlindungan
kepada mereka.
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Kamis, 08 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (31)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.05
Dalam  pada  itu orang-orang Yahudi itupun kembali ke Medinah.
Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:
 
"Kau  sudah  menasehatinya  dan  sudah  kauberikan  pendapatmu
berdasarkan  pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia
sependapat dengan kau. Lalu dia menolak dan menuruti  kehendak
pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya."
 
Percakapan  mereka  itu  sangat  menyenangkan  hati Ibn Ubayy.
Keesokan harinya ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan
teman-temanya  itu. Tinggal lagi Alabi dengan orang-orang yang
benar-benar beriman, yang berjumlah 700 orang, akan  berperang
menghadapi  3000  orang terdiri dan orang-orang Quraisy Mekah,
yang kesemuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi ketika
di Badr. Semua mereka ingin menuntut balas.
 
Pagi-pagi  sekali;  kaum  Muslimin berangkat menuju Uhud. Lalu
mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu
berada  di  belakang  mereka.  Selanjutnya  Muhammad  mengatur
barisan  para  sahabat.  Limapuluh   orang   barisan   pemanah
ditempatkan   di   lereng-lereng  gunung,  dan  kepada  mereka
diperintahkan:
 
"Lindungi kami dan belakang, sebab  kita  kuatir  mereka  akan
mendatangi  kami dari belakang. Dan bertahanlah kamu di tempat
itu,  jangan  ditinggalkan.  Kalau  kamu  melihat  kami  dapat
menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka,
kamu jangan meninggalkan tempat kamu. Dan jika kamu lihat kami
yang  diserang  jangan  pula  kami  dibantu,  juga jangan kami
dipertahankan. Tetapi tugasmu  ialah  menghujani  kuda  mereka
dengan  panah,  sebab  dengan  serangan  panah kuda itu takkan
dapat maju."
 
Selain  pasukan  pemanah,  yang   lain   tidak   diperbolehkan
menyerang siapapun, sebelum ia memberi perintah menyerang.
 
Adapun  pihak  Quraisy  merekapun juga sudah menyusun barisan.
Barisan kanan dipimpin oleh Khalid  bin'l-Walid  sedang  sayap
kin  dipimpin  oleh  'Ikrima  b.  Abi Jahl. Bendera diserahkan
kepada Abd'l 'Uzza Talha b. Abi Talha.  Wanita-wanita  Quraisy
sambil  memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah
barisan  itu.  Kadang  mereka  di  depan  barisan,  kadang  di
belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun bt. 'Utba, isteri Abu
Sufyan, seraya bertenak-teriak:
 
   Hayo, Banu Abd'd-Dar
   Hayo, hayo pengawal barisan belakang
   Hantamlah dengan segala yang tajam.
   Kamu maju kami peluk
   Dan kami hamparkan kasur yang empuk
   Atau kamu mundur kita berpisah
   Berpisah tanpa cinta.

Kedua belah pihak sudah siap  bertempur.  Masing-masing  sudah
mengerahkan  pasukannya.  Yang  selalu  teringat  oleh Quraisy
ialah  peristiwa  Badr  dan  korban-korbannya.   Yang   selalu
teringat  oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolonganNya.
Muhammad berpidato dengan memberi  semangat  dalam  menghadapi
pertempuran  itu.  Ia  menjanjikan  pasukannya  akan  mendapat
kemenangan apabila mereka tabah.  Sebilah  pedang  dipegangnya
sambil ia berkata:
 
"Siapa  yang  akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan
tugasnya?"
 
Beberapa orang tampil. Tapi pedang itu  tidak  pula  diberikan
kepada mereka. Kemudian Abu Dujana Simak b. Kharasya dari Banu
Sa'ida tampil seraya berkata:
 
"Apa tugasnya, Rasulullah?"
 
"Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada  musuh  sampai  ia
bengkok," jawabnya.
 
Abu Dujana seorang laki-laki yang sangat berani. Ia mengenakan
pita (kain) merah. Apabila  pita  merah  itu  sudah  diikatkan
orangpun  mengetahui,  bahwa ia sudah siap bertempur dan waktu
itupun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.
 
Pedang  diambilnya,  pita  dikeluarkan  lalu  diikatkannya  di
kepala.  Kemudian ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu
seperti biasanya apabila ia sudah siap menghadapi pertempuran.
 
"Cara berjalan begini  sangat  dibenci  Allah,  kecuali  dalam
bidang  ini,"  kata  Muhammad  setelah  dilihatnya  orang  itu
berlagak.
 
Orang pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak  itu
adalah Abu 'Amir 'Abd 'Amr b. Shaifi al-Ausi (dari Aus). Orang
ini sengaja pindah  dari  Medinah  ke  Mekah  hendak  membakar
semangat  Quraisy  supaya  memerangi Muhammad. Ia belum pernah
ikut dalam perang Badr. Sekarang  ia  menerjunkan  diri  dalam
perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus.
Ada juga budak-budak dari penduduk Mekah yang juga  dibawanya.
Menurut   dugaannya,   apabila   nanti   ia  memanggil-manggil
orang-orang Islam dari golongan  Aus  yang  ikut  berjuang  di
pihak  Muhammad,  niscaya  mereka  akan memenuhi panggilannya,
akan berpihak kepadanya dan membantu Quraisy.
 
"Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu  'Amir!"  teriaknya
memanggil-manggil.
 
Tetapi Muslimin dari kalangan Aus itu membalas:
 
"Tuhan takkan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka!"
 
Perangpun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta 'Ikrima b. Abi
Jahl yang berada di  sayap  kiri,  berusaha  hendak  menyerang
Muslimin  dari  samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka
dengan batu sehingga Abu 'Amir dan  pengikut-pengikutnya  lari
tunggang-langgang.  Ketika  itu  juga Hamzah b. Abd'l-Muttalib
berteriak, membawa teriakan perang Uhud:
 
"Mati, mati!" Lalu ia terjun ketengah-tengah  tentara  Quraisy
itu.  Ketika  itu  Talha  b.  Abi  Talha, yang membawa bendera
tentara Mekah berteriak pula:
 
"Siapa yang akan duel?"
 
Lalu Ali b. Abi Talib tampil menghadapinya. Dua orang dari dua
barisan  itu bertemu. Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan,
yang membuat kepala lawannya itu belah dua. Nabi  merasa  lega
dengan  itu.  Ketika  itu  juga  kaum  Muslimin  bertakbir dan
melancarkan serangannya. Dengan  pedang  Nabi  di  tangan  dan
mengikatkan  pita  maut  di  kepala,  Abu  Dujane  pun  terjun
kedepan. Dibunuhnya setiap  orang  yang  dijumpainya.  Barisan
orang-orang  musyrik  jadi  kacau-balau.  Kemudian  ia melihat
seseorang  sedang  mencencang-cencang  sesosok  tubuh  manusia
dengan  keras  sekali.  Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya
kepada orang itu. Tetapi ternyata orang itu adalah Hindun  bt.
'Utba.  Ia  mundur.  Terlalu  mulia  rasanya pedang Rasul akan
dipukulkan kepada seorang wanita.
 
Dengan secara keras sekali pihak Quraisypun menyerbu  pula  ke
tengah-tengah  pertempuran  itu. Darahnya sudah mendidih ingin
menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka
yang  sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan yang
tidak seimbang itu, baik  jumlah  orang  maupun  perlengkapan,
sekarang  berhadap-hadapan.  Kekuatan dengan jumlah yang besar
ini motifnya adalah balas-dendam, yang sejak perang Badr tidak
pernah  reda.  Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah:
pertama mempertahankan akidah, mempertahankan iman  dan  agama
Allah,    kedua    mempertahankan   tanah   air   dan   segala
kepentingannya. Mereka yang menuntut  bela  itu  terdiri  dari
orang-orang  yang  lebih  kuat  dan  jumlah pasukan yang lebih
besar.  Di  belakang  mereka  itu  kaum  wanita   turut   pula
mengobarkan  semangat.  Tidak  sedikit  di  antara mereka yang
membawa budak-budak itu  menjanjikan  akan  memberikan  hadiah
yang  besar  apabila  mereka  dapat  membalaskan  dendam  atas
kematian seorang bapa, saudara, suami  atau  orang-orang  yang
dicintai  lainnya,  yang  telah  terbunuh  di  Badr. Hamzah b.
Abd'l-Muttalib  adalah  seorang  pahlawan  Arab  terbesar  dan
paling  berani.  Ketika  terjadi perang Badr dialah yang telah
menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak  sedikit
orang-orang  yang  dicintainya  yang telah ditewaskan. Seperti
juga dalam perang Badr, dalam perang Uhud inipun Hamzah adalah
singa  dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta b. 'Abd
Syurahbil, Siba'  b.  'Abd'l-'Uzza  al-Ghubsyani,  dan  setiap
musuh yang dijumpainya nyawa mereka tidak luput dari renggutan
pedangnya.
 
Sementara itu Hindun bt. 'Utba telah pula menjanjikan  Wahsyi,
orang  Abisinia  dan  budak Jubair (b. Mut'im) akan memberikan
hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu  juga
Jubair   b.  Mut'im  sendiri,  tuannya,  yang  pamannya  telah
terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:
 
"Kalau Hamzah  paman  Muhammad  itu  kau  bunuh,  maka  engkau
kumerdekakan."  Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai
berikut:
 
"Kemudian aku berangkat bersama rombongan.  Aku  adalah  orang
Abisinia  yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia,
jarang sekali  meleset.  Ketika  terjadi  pertempuran,  kucari
Hamzah  dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah
orang banyak itu seperti seekor unta kelabu  sedang  membabati
orang  dengan  pedangnya.  Lalu  tombak kuayunkan-ayunkan, dan
sesudah pasti sekali kulemparkan. Ia tepat mengenai sasaran di
bawah  perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan
tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu  kuhampiri  dia
dan  kuambil  tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku
diam di sana, sebab sudah  tak  ada  tugas  lain  selain  itu.
Kubunuh   dia   hanya   supaya   aku  dimerdekakan  saja  dari
perbudakan. Dan sesudah aku  pulang  ke  Mekah,  ternyata  aku
dimerdekakan."
 
Adapun   mereka   yang   berjuang   mempertahankan  tanah-air,
contohnya terdapat pada Quzman, salah  seorang  munafik,  yang
hanya  pura-pura Islam. Ketika kaum Muslimin berangkat ke Uhud
ia tinggal di belakang. Keesokan harinya, ia  mendapat  hinaan
dari wanita-wanita Banu Zafar.
 
"Quzman,"  kata  wanita-wanita  itu. "Tidak malu engkau dengan
sikapmu itu. Seperti perempuan saja kau. Orang semua berangkat
kau tinggal dalam rumah."
 
Dengan  sikap berang Quzman pulang ke rumahnya. Dikeluarkannya
kudanya,  tabung  panah  dan  pedangnya.  Ia  dikenal  sebagai
seorang  pemberani.  Ia berangkat dengan memacu kudanya sampai
ke tempat tentara. Sementara itu Nabi sedang menyusun  barisan
Muslimin.  Ia  terus menyeruak sampai ke barisan terdepan. Dia
adalah orang pertama  dari  pihak  Muslimin  yang  menerjunkan
diri,  dengan  melepaskan  panah  demi  panah,  seperti tombak
layaknya.
 
Hari sudah menjelang  senja.  Tampaknya  ia  lebih  suka  mati
daripada  lari.  Ia  sendiri lalu membunuh diri sesudah sempat
membunuh tujuh orang Quraisy di Suway'a - selain  mereka  yang
telah dibunuhnya pada permulaan pertempuran. Tatkala ia sedang
sekarat itu, Abu'l-Khaidaq lewat di tempat itu.
 
"Quzman, beruntung kau akan mati syahid," katanya.
 
"Abu 'Amr," kata Quzman. "Sungguh saya  bertempur  bukan  atas
dasar  agama.  Saya  bertempur  hanya  sekadar  menjaga jangan
sampai Quraisy memasuki tempat  kami  dan  melanda  kehormatan
kami,  menginjak-injak  kebun kami. Saya berperang hanya untuk
menjaga nama keturunan masyarakat kami. Kalau tidak karena itu
saya tidak akan berperang."
 
Sebaliknya  mereka  yang  benar-benar beriman, jumlahnya tidak
lebih dari 700 orang. Mereka  bertempur  melawan  3000  orang.
Kita  sudah melihat, tindakan Hamzah dan Abu Dujana yang telah
memperlihatkan suatu teladan dalam arti  kekuatan  moril  yang
tinggi  pada  mereka  itu.  Suatu  kekuatan yang telah membuat
barisan   Quraisy   jadi   lemas   seperti   rotan,    membuat
pahlawan-pahlawan  Quraisy,  yang  tadinya  di  kalangan  Arab
keberaniannya dijadikan suri teladan, telah mundur dan  surut.
Setiap  panji  mereka  lepas  dari tangan seseorang, panji itu
diterima oleh yang lain di belakangnya. Setelah Talha  b.  Abi
Talha  tewas  di  tangan  Ali  datang  'Uthman  b.  Abi  Talha
menyambut bendera itu, yang juga kemudian menemui  ajalnya  di
tangan  Hamzah. Seterusnya bendera itu dibawa oleh Abu Sa'd b.
Abi Talha sambil berkata:
 
"Kamu mendakwakan bahwa  koban-korban  kamu  dalam  surga  dan
korban-korban  kami  dalam  neraka!  Kamu  bohong!  Kalau kamu
benar-benar  orang  beriman  majulah  siapa  saja   yang   mau
melawanku":
 
Entah  Ali  atau  Sa'd b. Abi Waqqash ketika itu menghantamkan
pedangnya  dengan  sekali  pukul  hingga  kepala   orang   itu
terbelah.
 
Berturut-turut pembawa bendera itu muncul dari Banu Abd'd Dar.
Jumlah mereka yang tewas telah mencapai sembilan  orang,  yang
terakhir  ialah  Shu'ab  orang Abisinia, budak Banu Abd'd-Dar.
Tangan kanan  orang  itu  telah  dihantam  oleh  Quzman,  maka
bendera  itu  dibawanya dengan tangan kiri. Tangan kiri inipun
oleh Quzman dihantam lagi dengan pedangnya.  Sekarang  bendera
itu  oleh Shu'ab dipeluknya dengan lengan ke dadanya, kemudian
ia membungkuk sambil berkata: Hai Banu Abd'd-Dar, sudahkah kau
maafkan?  Lalu  ia ditewaskan entah oleh Quzman atau oleh Sa'd
bin Abi Waqqash, sumbernya masih berbeda-beda.
 
Setelah mereka yang membawa bendera itu tewas  semua,  pasukan
orang-orang  musyrik  itu hancur. Mereka sudah tidak tahu lagi
bahwa mereka dikerumuni oleh wanita-wanita, bahwa berhala yang
mereka  mintai  restunya  telah  terjatuh  dari  atas unta dan
pelangking yang membawanya.
 
Kemenangan Muslimin dalam  perang  Uhud  pada  pagi  hari  itu
sebenarnya adalah suatu mujizat. Adakalanya orang menafsirkan,
bahwa  kemenangan  itu  disebabkan  oleh  kemahiran   Muhammad
mengatur  barisan  pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan
berkuda dengan anak panah sehingga mereka  tidak  dapat  maju,
juga  tidak dapat menyergap Muslimin dari belakang. Ini memang
benar. Tetapi juga tidak salah, bahwa 600 orang Muslimin  yang
menyerbu  jumlah  sebanyak  lima  kali  lipat  itupun,  dengan
perlengkapan yang juga demikian, motifnya  adalah  iman,  iman
yang sungguh-sungguh, bahwa mereka dalam kebenaran.
 
Inilah  yang  membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian
pimpinan. Barangsiapa yang telah beriman kepada kebenaran,  ia
takkan goncang oleh kekuatan materi, betapapun besarnya. Semua
kekuatan  batil  yang  digabungkan  sekalipun,  takkan   dapat
menggoyahkan  kebulatan tekadnya itu. Dapatkah kita menganggap
cukup dengan kepandaian pimpinan  itu  saja,  padahal  barisan
pemanah  yang  oleh  Nabi  ditempatkan  di  lereng  bukit  itu
jumlahnya tidak  lebih  dari  50  orang?  Andaikata  sekalipun
mereka  itu  terdiri  dari  200 orang atau 300 orang, mendapat
serbuan dari mereka yang sudah bertekad mati,  niscaya  mereka
tidak  akan  dapat  bertahan.  Tetapi  kekuatan yang terbesar,
ialah kekuatan konsepsi, kekuatan akidah, kekuatan  iman  yang
sungguh-sungguh  akan  adanya  Kebenaran  Tertinggi.  Kekuatan
inilah yang takkan dapat ditaklukkan selama orang masih  teguh
berpegang kepada kebenaran itu.
 
Karena  itulah, 3000 orang pasukan berkuda Quraisy jadi hancur
menghadapi serangan 600 orang Muslimin. Dan hampir-hampir pula
wanita-wanita  merekapun akan menjadi tawanan perang yang hina
dina.
 
Muslimin kini mengejar  musuh  itu  sampai  mereka  meletakkan
senjata  dimana  saja asal jauh dari bekas markas mereka. Kaum
Muslimin  sekarang  mulai   memperebutkan   rampasan   perang.
Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat
mereka  lupa  mengikuti  terus  jejak  musuh,   karena   sudah
mengharapkan kekayaan duniawi.
 
Mereka  ini  ternyata  dilihat  oleh pasukan pemanah yang oleh
Rasul  diminta  jangan  meninggalkan  tempat  di  gunung  itu,
sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang.
 
Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu,
kepada satu sama lain mereka berkata:
 
"Kenapa kita  masih  tinggal  disini  juga  dengan  tidak  ada
apa-apa.   Tuhan   telah  menghancurkan  musuh  kita.  Mereka,
saudara-saudara  kita  itu,  sudah   merebut   markas   musuh.
Kesanalah juga kita, ikut mengambil rampasan itu."
 
Yang seorang lagi tentu menjawab:
 
"Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan meninggalkan tempat
kita ini? Sekalipun kami diserang janganlah kami dibantu."
 
Yang pertama berkata lagi:
 
"Rasulullah   tidak   menghendaki    kita    tinggal    disini
terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu."
 
Lalu  mereka  berselisih.  Ketika itu juga tampil Abdullah bin
Jubair berpidato agar jangan  mereka  itu  melanggar  perintah
Rasul.  Tetapi  mereka  sebahagian  besar  tidak patuh. Mereka
berangkat juga. Yang masih tinggal hanya beberapa orang  saja,
tidak  sampai  sepuluh  orang. Seperti kesibukan Muslimin yang
lain, mereka yang ikut bergegas  itu  pun  sibuk  pula  dengan
harta rampasan. Pada waktu itulah Khalid bin'l-Walid mengambil
kesempatan - dia sebagai komandan kavaleri Mekah -  pasukannya
dikerahkan  ke  tempat  pasukan  pemanah,  dan  mereka  inipun
berhasil dikeluarkan dari sana.
 
                                    
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Rabu, 07 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (30)

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.33
SEJAK terjadinya perang Badr pihak Quraisy sudah tidak  pernah
tenang  lagi.  Juga  penstiwa  Sawiq  tidak membawa keuntungan
apa-apa buat  mereka.  Lebih-lebih  karena  kesatuan  Zaid  b.
Haritha  telah  berhasil  mengambil  perdagangan mereka ketika
mereka hendak pergi  ke  Syam  melalui  jalan  Irak.  Hal  ini
mengingatkan mereka pada korban-korban Badr dan menambah besar
keinginan mereka hendak  membalas  dendam.  Bagaimana  Quraisy
akan  dapat  melupakan  peristiwa  itu,  sedang  mereka adalah
bangsawan-bangsawan     dan      pemimpin-pemimpin      Mekah,
pembesar-pembesar  yang  angkuh dan punya kedudukan terhormat?
Bagaimana   mereka   akan    dapat    melupakannya,    padahal
wanita-wanita  Mekah  selalu  ingat  akan  korban-korban  yang
terdiri dari anak,  atau  saudara,  bapak,  suami  atau  teman
sejawat?   Mereka   selalu  berkabung,  selalu  menangisi  dan
meratapi.
 
Demikianlah keadaannya. Orang-orang Quraisy sejak  Abu  Sufyan
b.  Harb  datang  membawa  kafilahnya  dari  Syam,  yang telah
menyebabkan timbulnya perang Badr,  begitu  juga  mereka  yang
selamat  kembali  dan  Badr, telah menghentikan kafilah dagang
itu di Dar'n-Nadwa. Pembesar-pembesar mereka yang terdiri dari
Jubair  b.  Mut'im,  Shafwan  b.  Umayya' 'Ikrima b. Abi Jahl,
Harith b. Hisyam, Huaitib b. Abd'l-'Uzza dan yang lain,  telah
mencapai  kata  sepakat, bahwa kafilah dagang itu akan dijual,
keuntungannya akan  disisihkan  dan  akan  dipakai  menyiapkan
angkatan  perang  guna  memerangi Muhammad, dengan memperbesar
jumlah dan perlengkapannya. Selanjutnya tenaga kabilah-kabilah
akan  dikerahkan  dan  supaya  ikut  serta bersama-sama dengan
Quraisy menuntut  balas  terhadap  kaum  Muslimin.  Ikut  pula
dikerahkan di antaranya Abu 'Azza penyair yang telah dimaafkan
oleh Nabi dan antara tawanan perang Badr. Begitu juga  kabilah
Ahabisy2  yang  mau ikut mereka dikerahkan pula. Wanita-wanita
pun mendesak akan ikut pergi berperang.
 
Mereka berunding lagi. Ada yang berpendapat supaya kaum wanita
juga ikut serta.
 
"Biar   mereka   bertugas   merangsang   kemarahan  kamu,  dan
mengingatkan  kamu  kepada  korban-korban  Badr.  Kita  adalah
masyarakat yang sudah bertekad mati, tidak akan pulang sebelum
sempat melihat mangsa kita, atau kita sendiri mati untuk itu."
 
"Saudara-saudara  dari  Quraisy,"   kata   yang   lain   lagi.
"Melepaskan  wanita-wanita  kita  kepada musuh, bukanlah suatu
pendapat  yang  baik.  Apabila  kalian  mengalami   kekalahan,
wanita-wanita kitapun akan tercemar."
 
Sementara mereka sedang dalam perundingan itu tiba-tiba Hindun
bt. 'Utba, isteri Abu  Sufyan  berteriak  kepada  mereka  yang
menentang ikut sertanya kaum wanita itu:
 
"Kamu  yang  selamat  dari  perang  Badr  kamu  kembali kepada
isterimu. Ya. Kita berangkat dan ikut menyaksikan  peperangan.
Jangan   ada   orang   yang   menyuruh  kami  pulang,  seperti
gadis-gadis kita dulu dalam perjalanan ke Badr disuruh kembali
ketika  sudah  sampai  di  Juhfa.3  Kemudian  orang-orang yang
menjadi kesayangan kita waktu itu  terbunuh,  karena  tak  ada
orang yang dapat memberi semangat kepada mereka."

Akhirnya pihak Quraisy berangkat dengan membawa kaum wanitanya
juga, dipimpin oleh Hindun. Dialah  orang  paling  panas  hati
ingin   membalas  dendam,  karena  dalam  peristiwa  Badr  itu
ayahnya, saudaranya dan  orang-orang  yang  dicintainya  telah
mati  terbunuh.  Keberangkatan  Quraisy  dengan tujuan Medinah
yang disiapkan dari Dar'n-Nadwa itu terdiri dan tiga  brigade.
Brigade terbesar dipimpin oleh Talha b. Abi Talha terdiri dari
3000 orang. Kecuali 100 orang saja  dari  Thaqif,4  selebihnya
semua  dari Mekah, termasuk pemuka-pemuka, sekutu-sekutu serta
golongan Ahabisynya. Perlengkapan dan  senjata  tidak  sedikit
yang mereka bawa, dengan 200 pasukan berkuda dan 3000 unta, di
antaranya 700 orang berbaju besi.
 
Sesudah ada kata sepakat,  sekarang  sudah  siap  mereka  akan
berangkat. Sementara itu 'Abbas b. Abd'l-Muttalib, paman Nabi,
yang juga berada di tengah-tengah mereka,  dengan  teliti  dan
saksama  sekali  memperhatikan  semua  kejadian itu. Disamping
kesayangannya pada agama nenek-moyangnya dan agama golongannya
sendiri,   juga   Abbas  mempunyai  rasa  solider  dan  sangat
mengagumi Muhammad. Masih ingat ia  perlakuannya  yang  begitu
baik  ketika  perang  Badr.  Mungkin  karena  rasa  kagum  dan
solidernya itu yang  membuat  dia  ikut  Muhammad  menyaksikan
Ikrar  'Aqaba dan berbicara kepada Aus dan Khazraj bahwa kalau
mereka  tidak  akan  dapat  mempertahankan  kemenakannya   itu
seperti  mempertahankan  isteri  dan anak-anak mereka sendiri,
biarkan  sajalah  keluarganya  sendiri   yang   melindunginya,
seperti yang sudah-sudah.
 
Hal  inilah yang mendorongnya - tatkala diketahuinya keputusan
Quraisy akan berangkat dengan kekuatan  yang  begitu  besar  -
sampai   ia   menulis  surat  menggambarkan  segala  tindakan,
persiapan dan perlengkapan mereka itu. Surat itu diserahkannya
kepada seseorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada
Nabi. Dan orang inipun sampai di Medinah dalam tiga hari,  dan
surat itupun diserahkan.
 
Dalam  pada itu pasukan Quraisypun sudah pula berangkat sampai
di Abwa'. Ketika melalui makam Aminah bt.  Wahb,  timbul  rasa
panas  hati  beberapa orang yang pendek pikiran. Terpikir oleh
mereka akan membongkarnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka menolak
perbuatan  demikian;  supaya  jangan  kelak  menjadi kebiasaan
Arab.
 
"Jangan menyebut-nyebut soal ini,"  kata  mereka.  "Kalau  ini
kita  lakukan, Banu Bakr dan Banu Khuza'a akan membongkar juga
kuburan mayat-mayat kita."
 
Quraisy  meneruskan  perjalanan  sampai  di  'Aqiq,  kemudian;
mereka berhenti di kaki gunung Uhud, dalam jarak lima mil dari
Medinah.

Orang dari Ghifar yang diutus  oleh  Abbas  b.  Abd'l-Muttalib
membawa   surat   ke   Medinah   itu   telah  sampai.  Setelah
diketahuinya berada di Quba', ia langsung pergi  ke  sana  dan
dijumpainya  Muhammad  di depan pintu mesjid sedang menunggang
keledai
 
Diserahkannya surat itu  kepadanya,  yang  kemudian  dibacakan
oleh  Ubay  b.  Ka'b.  Muhammad  minta  isi  surat  itu supaya
dirahasiakan, dan ia kembali ke Medinah langsung menemui  Sa'd
ibn'l-Rabi'   di   rumahnya.  Diceritakannya  apa  yang  telah
disampaikan 'Abbas kepadanya itu dan  juga  dimintanya  supaya
hal  itu  dirahasiakan.  Akan  tetapi  isteri Sa'd yang sedang
dalam rumah waktu itu mendengar juga  percakapan  mereka,  dan
dengan  demikian  sudah  tentu  tidak  lagi  hal  itu  menjadi
rahasia.
 
Dua orang anak-anak  Fudzala,  yaitu  Anas  dan  Mu'nis,  oleh
Muhammad   ditugaskan  menyelidiki  keadaan  Quraisy.  Menurut
pengamatan mereka kemudian ternyata  Quraisy  sudah  mendekati
Medinah.  Kuda  dan  unta  mereka  dilepaskan di padang rumput
sekeliling Medinah. Di samping dua orang itu kemudian Muhammad
mengutus lagi Hubab ibn'l-Mundhir bin'l-Jamuh. Setelah keadaan
mereka  itu  disampaikan  kepadanya  seperti  dikabarkan  oleh
'Abbas,  Nabi  s.a.w.  jadi  terkejut  sekali. Ketika kemudian
Salama b. Salama keluar, ia melihat barisan depan pasukan kuda
Quraisy  sudah mendekati Medinah, bahkan sudah hampir memasuki
kota.  Ia  segera  kembali  dan  apa   yang   dilihatnya   itu
disampaikannya kepada masyarakatnya. Sudah tentu pihak Aus dan
Khazraj, begitu juga  semua  penduduk  Medinah  merasa  kuatir
sekali  akan  akibat  serbuan  ini, yang dalam sejarah perang,
Quraisy  belum  pernah  mengadakan   persiapan   sebaik   itu.
Pemuka-pemuka   Muslimin   dari  penduduk  Medinah  malam  itu
berjaga-jaga dengan senjata di mesjid guna menjaga keselamatan
Nabi. Sepanjang malam itu seluruh kota dijaga ketat.

Keesokan  harinya orang-orang terkemuka dari kalangan Muslimin
dan mereka yang pura-pura Islam  -  atau  orang-orang  munafik
seperti  disebutkan waktu itu dan seperti dilukiskan pula oleh
Qur'an - oleh Nabi diminta berkumpul;  lalu  mereka  sama-sama
bermusyawarah,  bagaimana  seharusnya  menghadapi  musuh  Nabi
'alaihi's-salam berpendapat akan tetap bertahan dalam kota dan
membiarkan  Quraisy  di  luar  kota.  Apabila  mereka  mencoba
menyerbu masuk kota maka penduduk kota ini  akan  lebih  mampu
menangkis  dan  mengalahkan  mereka. Abdullah b. Ubay b. Salul
mendukung pendapat Nabi itu dengan mengatakan:
 
"Rasulullah, biasanya  kami  bertempur  di  tempat  ini,  kaum
wanita  dan  anak-anak  sebagai  benteng  kami lengkapi dengan
batu. Kota kami sudah terjalin  dengan  bangunan  sehingga  ia
merupakan  benteng  dari  segenap penjuru. Apabila musuh sudah
muncul, maka  wanita-wanita  dan  anak-anak  melempari  mereka
dengan  batu.  Kami  sendiri  menghadapi mereka di jalan-jalan
dengan pedang. Rasulullah, kota kami ini masih perawan,  belum
pernah  diterobos  orang.  Setiap  ada  musuh menyerbu kami ke
dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, dan setiap kami
menyerbu   musuh  keluar,  maka  selalu  kami  yang  dikuasai.
Biarkanlah mereka itu. Rasulullah. Ikutlah pendapat saya dalam
hal   ini.   Saya   mewarisi   pendapat   demikian   ini  dari
pemuka-pemuka dan ahli-ahli pikir golongan kami."
 
Apa yang dikatakan oleh Abdullah b. Ubayy itu adalah merupakan
pendapat  terbesar sahabat-sahabat Rasulullah - baik Muhajirin
ataupun Anshar,  mereka  sependapat  dengan  Rasul  a.s.  Akan
tetapi  pemuda-pemuda  yang  bersemangat  yang belum mengalami
perang Badr - juga orang-orang  yang  sudah  pernah  ikut  dan
mendapat  kemenangan  disertai hati yang penuh iman, bahwa tak
ada sesuatu kekuatan yang dapat  mengalahkan  mereka  -  lebih
suka  berangkat  keluar  menghadapi  musuh  di  tempat  mereka
berada. Mereka kuatir  akan  disangka  segan  keluar  dan  mau
bertahan  di Medinah karena takut menghadapi musuh. Seterusnya
apabila mereka ini di pinggiran dan di dekat kota  akan  lebih
kuat  dari  musuh.  Ketika  dulu mereka di Badr penduduk tidak
mengenal mereka samasekali.
 
Salah seorang diantara mereka ada yang berkata:
 
"Saya tidak  ingin  melihat  Quraisy  kembali  ketengah-tengah
golongannya  lalu mengatakan: Kami telah mengepung Muhammad di
dalam benteng dan kubu-kubu Yathrib. Ini akan membuat  Quraisy
lebih  berani. Mereka sekarang sudah menginjak-injak daun palm
kita. Kalau tidak kita usir mereka dari kebun kita, kebun kita
tidak akan dapat ditanami lagi. Orang-orang Quraisy yang sudah
tinggal selama setahun dapat mengumpulkan orang, dapat menarik
orang-orang  Arab,  dari  badwinya  sampai  kepada Ahabisynya.
Kemudian, dengan membawa kuda  dan  mengendarai  unta,  mereka
kini  telah sampai ke halaman kita. Mereka akan mengurung kita
di dalam rumah kita sendiri?  Didalam  benteng  kita  sendiri?
Lalu  mereka  pulang  kembali  dengan kekayaan tanpa mengalami
luka samasekali. Kalau kita turuti, mereka akan lebih  berani.
Mereka akan menyerang kita dan menaklukkan daerah-daerah kita.
Kota kita akan  berada  dibawah  pengawasan  mereka.  Kemudian
jalan kitapun akan mereka potong."
 
Selanjutnya penganjur-penganjur yang menghendaki supaya keluar
menyongsong    musuh     masing-masing     telah     berbicara
berturut-turut.  Mereka  semua  mengatakan,  bahwa  bila Tuhan
memberikan kemenangan kepada mereka  atas  musuh  itu,  itulah
yang  mereka  harapkan,  dan  itu  pula  kebenaran  yang telah
dijanjikan Tuhan kepada RasulNya.  Kalaupun  mereka  mengalami
kekalahan dan mati syahid pula, mereka akan mendapat surga.
 
Kata-kata  yang menanamkan semangat keberanian dan mati syahid
ini, sangat menggetarkan hati  mereka.  Jiwa  mereka  tergugah
semua  untuk  sama-sama  menempuh  arus  ini,  untuk berbicara
dengan nada yang sama. Waktu itu, bagi orang-orang  yang  kini
sedang  berhadap-hadapan  dengan  Muhammad,  orang-orang  yang
hatinya sudah penuh dengan iman  kepada  Allah  dan  RasulNya,
kepada Qur'an dan Hari Kemudian, yang tampak di hadapan mereka
hanyalah  wajah  kemenangan  terhadap   musuh   agresor   itu.
Pedang-pedang  mereka  akan  mencerai-beraikan musuh itu, akan
membuat mereka. centang-perenang,  dan  rampasan  perang  akan
mereka  kuasai. Lukisan surga adalah bagi mereka yang terbunuh
di jalan agama.  Di  tempat  itu  akan  terdapat  segala  yang
menyenangkan  hati  dan mata, akan bertemu dengan kekasih yang
juga sudah turut berperang dan mati syahid.
 
"Ucapan yang sia-sia tidak mereka dengar di tempat  itu,  juga
tidak yang akan membawa dosa. Yang ada hanyalah ucapan "Damai!
Damai!" (Qur'an, 56: 25-26)
 
"Mudah-mudahan Tuhan memberikan kemenangan kepada  kita,  atau
sebaliknya  kita  mati  syahid,"  kata  Khaithama  Abu Sa'd b.
Khaithama. "Dalam perang Badr saya telah meleset. Saya  sangat
mendambakannya sekali, sehingga begitu besarnya kedambaan saya
sampai  saya  bersama  anak  saya  turut  ambil  bagian  dalam
pertempuran  itu.  Tapi  kiranya  dia yang beruntung; ia telah
gugur, mati syahid. Semalam saya bermimpi bertemu dengan  anak
saya,  dan  dia  berkata:  Susullah  kami,  kita bertemu dalam
surga. Sudah saya terima  apa  yang  dijanjikan  Tuhan  kepada
saya.  Ya Rasulullah, sungguh rindu saya akan menemuinya dalam
surga. Saya sudah tua, tulang sudah rapuh. Saya ingin  bertemu
Tuhan."

Setelah  jelas  sekali suara terbanyak ada pada pihak yang mau
menyerang dan menghadapi musuh di luar kota, Muhammad  berkata
kepada mereka:
 
"Saya kuatir kamu akan kalah."
 
Tetapi  mereka  ingin berangkat juga. Tak ada jalan lain iapun
menyerah kepada pendapat mereka.  Cara  musyawarah  ini  sudah
menjadi   undang-undang   dalam  kehidupannya.  Dalam  sesuatu
masalah ia tidak mau bertindak  sendiri,  kecuali  yang  sudah
diwahyukan Tuhan kepadanya.
 
Hari  itu  hari  Jum'at.  Nabi memimpin sembahyang jamaah, dan
kepada mereka diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati  mereka
itu,  mereka  akan  beroleh kemenangan. Lalu dimintanya mereka
bersiap-siap menghadapi musuh.
 
Selesai  sembahyang  Asar  Muhammad  masuk  kedalam   rumahnya
diikuti  oleh  Abu  Bakr  dan Umar. Kedua orang ini memakaikan
sorban dan baju besinya  dan  ia  mengenakan  pula  pedangnya.
Sementara  ia tak ada di tempat itu orang di luar sedang ramai
bertukar pikiran. Usaid  b.  Hudzair  dan  Sa'd  b.  Mu'adh  -
keduanya  termasuk  orang  yang berpendapat mau bertahan dalam
kota berkata kepada  mereka  yang  berpendapat  mau  menyerang
musuh di luar:
 
"Tuan-tuan  mengetahui,  Rasulullah  berpendapat  mau bertahan
dalam  kota,  lalu  tuan-tuan  berpendapat  lain   lagi,   dan
memaksanya  bertempur  ke  luar.  Dia  sendiri  enggan berbuat
demikian. Serahkan sajalah soal ini  di  tangannya.  Apa  yang
diperintahkan  kepadamu, jalankanlah. Apabila ada sesuatu yang
disukainya atau ada pendapatnya, taatilah."
 
Mendengar  keterangan  itu  mereka  yang   menyerukan   supaya
menyerang  saja,  jadi  lebih  lunak.  Mereka menganggap telah
menentang Rasul mengenai sesuatu yang mungkin itu datang  dari
Tuhan.  Setelah  kemudian Nabi datang kembali ke tengah-tengah
mereka, dengan memakai baju besi  dan  sudah  pula  mengenakan
pedangnya,  mereka  yang tadinya menghendaki supaya mengadakan
serangan berkata:
 
"Rasulullah,  bukan  maksud  kami   hendak   menentang   tuan.
Lakukanlah  apa yang tuan kehendaki. Juga kami tidak bermaksud
memaksa tuan. Soalnya pada Tuhan, kemudian pada tuan."
 
"Kedalam pembicaraan yang semacam inilah saya  ajak  tuan-tuan
tapi  tuan-tuan  menolak,"  kata  Muhammad. "Tidak layak bagi
seorang nabi yang apabila  sudah  mengenakan  pakaian  besinya
lalu  akan  menanggalkannya  kembali, sebelum Tuhan memberikan
putusan antara dirinya dengan musuhnya. Perhatikanlah apa yang
saya   perintahkan  kepada  kamu  sekalian,  dan  ikuti.  Atas
ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu."
 
Demikianlah  prinsip  musyawarah  itu  oleh   Muhammad   sudah
dijadikan  undang-undang  dalam  kehidupannya. Apabila sesuatu
masalah yang dibahas telah diterima  dengan  suara  terbanyak,
maka  hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau
karena  ada  maksud-maksud  tertentu.  Sebaliknya   ia   harus
dilaksanakan,  tapi orang yang akan melaksanakannya harus pula
dengan cara yang sebaik-baiknya dan diarahkan ke suatu sasaran
yang yang akan mencapai sukses.

Sekarang  Muhammad  berangkat  memimpin  kaum  Muslimin menuju
Uhud. Di Syaikhan5 ia berhenti. Dilihatnya di tempat  itu  ada
sepasukan  tentara  yang  identitasnya  belum  dikenal. Ketika
ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan,  bahwa  mereka  itu
orang-orang  Yahudi  sekutu  Abdullah b. Ubayy. Lalu kata Nabi
'alaihi'ssalam: "Jangan minta pertolongan orang-orang  musyrik
dalam melawan orang musyrik, - sebelum mereka masuk Islam."
 
                                    
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (36)

Dan apakah yang ialah dicatat oleh sejarah? Sejarah mencatat
bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak  bibinya  itu  buat
Zaid  bekas  budaknya.  Abdullah  b.  Jahsy  saudara  Zainab
menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari  suku
Quraisy  dan  keluarga  Hasyim pula, di samping itu semua ia
masih sepupu Rasul dari  pihak  ibu  akan  berada  di  bawah
seorang   budak   belian  yang  dibeli  oleh  Khadijah  lalu
dimerdekakan oleh Muhammad. Hal ini dianggap  sebagai  suatu
aib  besar  buat  Zainab. Dan memang benar sekali hal ini di
kalangan Arab  ketika itu merupakan  suatu  aib  yang  besar
sekali.  Memang  tidak  ada  gadis-gadis kaum bangsawan yang
terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang
sudah    dimerdekakan.   Tetapi   Muhammad   justeru   ingin
menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih  berkuasa
dalam  jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu.
Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak  lebih
tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
 
"Bahwa   orang  yang  paling  mulia  di  antara  kamu  dalam
pandangan Tuhan ialah orang yang lebih  bertakwa."  (Qur'an,
49:13)
 
Sungguhpun  begitu ia merasa tidak perlu memaksa wanita lain
untuk itu di luar keluarganya.  Biarlah  Zainab  bt.  Jahsy,
sepupunya  sendiri  itu  juga  yang  menanggung, yang karena
telah meninggalkan tradisi  dan  menghancurkan  adat-lembaga
Arab,  menjadi  sasaran  buah  mulut  orang tentang dirinya,
suatu hal yang memang tidak ingin didengarnya. Juga  biarlah
Zaid, bekas budaknya yang dijadikannya anak angkat, dan yang
menurut hukum  adat  dan  tradisi  Arab  orang  yang  berhak
menerima  waris  sama  seperti anak-anaknya sendiri itu, dia
juga yang mengawininya. Maka  dia  pun  bersedia  berkorban,
karena  sudah  ditentukan  oleh  Tuhan bagi anak-anak angkat
yang  sudah  dijadikan   anaknya   itu.   Biarlah   Muhammad
memperlihatkan  desakannya  itu supaya Zainab dan saudaranya
Abdullah b. Jahsy juga mau menerima Zaid sebagai suami.  Dan
untuk itu biarlah firman Tuhan juga yang datang:
 
"Bagi  laki-laki dan wanita yang beriman, bilamana Allah dan
RasulNya telah  menetapkan  suatu  ketentuan,  mereka  tidak
boleh mengambil kemauan sendiri dalam urusan mereka itu. Dan
barangsiapa tidak mematuhi Allah dan RasulNya, mereka  telah
melakukan kesesatan yang nyata sekali." (Qur'an, 33:36)
 
Setelah  turun ayat ini tak ada jalan lain buat Abdullah dan
Zainab  saudaranya,  selain  harus  tunduk  menerima.  "Kami
menerima,  Rasulullah,"  kata  mereka.  Lalu Zaid dikawinkan
kepada Zainab setelah mas-kawinnya  oleh  Nabi  disampaikan.
Dan  sesudah  Zainab menjadi isteri, ternyata ia tidak mudah
dikendalikan  dan  tidak  mau  tunduk.   Malah   ia   banyak
mengganggu  Zaid.  Ia  membanggakan diri kepadanya dari segi
keturunan dan bahwa dia katanya tidak mau  ditundukkan  oleh
seorang budak.

Sikap Zainab yang tidak baik kepadanya itu tidak jarang oleh
Zaid diadukan kepada Nabi, dan bukan sekali saja ia  meminta
ijin    kepadanya   hendak   menceraikannya.   Tetapi   Nabi
menjawabnya: "Jaga baik-baik  isterimu,  jangan  diceraikan.
Hendaklah engkau takut kepada Allah."
 
Tetapi  Zaid  tidak  tahan  lama-lama  bergaul dengan Zainab
serta   sikapnya   yang   angkuh   kepadanya    itu.    Lalu
diceraikannya.

Kehendak Tuhan juga kiranya yang mau menghapuskan melekatnya
hubungan  anak  angkat  dengan  keluarga  bersangkutan   dan
asal-usul  keluarga  itu,  yang  selama  itu  menjadi anutan
masyarakat Arab, juga  pemberian  segala  hak  anak  kandung
kepada  anak angkat, segala pelaksanaan hukum termasuk hukum
waris dan nasab, dan supaya anak  angkat  dan  pengikut  itu
hanya  mempunyai  hak  sebagai  pengikut dan sebagai saudara
seagama. Demikian firman Tuhan turun:
 
"Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu  menjadi
anak-anak  kamu.  Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu
saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan  Dia  menunjukkan
jalan yang benar." (Qur'an, 33:4)

Ini  berarti  bahwa  anak  angkat  boleh  kawin dengan bekas
isteri bapa angkatnya, dan bapa  boleh  kawin  dengan  bekas
isteri anak angkatnya. Tetapi bagaimana caranya melaksanakan
ini? Siapa pula dari kalangan  Arab  yang  dapat  membongkar
adat-istiadat yang sudah turun-temurun itu. Muhammad sendiri
kendatipun dengan kemauannya yang  sudah  begitu  keras  dan
memahami  benar arti perintah Tuhan itu, masih merasa kurang
mampu melaksanakan  ketentuan  itu  dengan  jalan  mengawini
Zainab  setelah  diceraikan oleh Zaid, masih terlintas dalam
pikirannya apa yang kira-kira akan dikatakan  orang,  karena
dia  telah  mendobrak  adat lapuk yang sudah berurat berakar
dalam jiwa masyarakat  Arab  itu.  Itulah  yang  dikehendaki
Tuhan dalam firmanNya:
 
"Dan  engkau  menyembunyikan  sesuatu dalam hatimu yang oleh
Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal
hanya Allah yang lebih patut kautakuti." (Qur'an, 33:37)
 
Akan  tetapi  Muhammad adalah suri-teladan dalam segala hal,
yang oleh Tuhan telah  diperintahkan  dan  telah  dibebankan
kepadanya  supaya  disampaikan  kepada  umat  manusia. Tidak
takut  ia  apa  yang  akan   dikatakan   orang   dalam   hal
perkawinannya dengan isteri bekas budaknya itu. Takut kepada
manusia tak ada artinya dibandingkan dengan takutnya  kepada
Tuhan  dalam  melaksanakan  segala  perintahNya. Biarlah dia
kawin saja dengan Zainab supaya  menjadi  teladan  akan  apa
yang  telah  dihapuskan  Tuhan  mengenai  hak-hak yang sudah
ditentukan dalam hal bapa angkat dan anak angkat itu.  Dalam
hal inilah firman Tuhan itu turun:
 
"Maka  setelah  Zaid  meluluskan  kehendak  wanita itu, Kami
kawinkan dia  dengan  engkau,  supaya  kelak  tidak  menjadi
alangan   bagi  orang-orang  beriman  kawin  dengan  (bekas)
isteri-isteri anak-anak  angkat  mereka,  bilamana  kehendak
mereka  (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah
itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)
 
Inilah peristiwa sejarah yang sebenarnya  sehubungan  dengan
soal  Zainab  bt. Jahsy serta perkawinannya dengan Muhammad.
Dia  adalah  puteri  bibinya,  sudah  dilihatnya  dan  sudah
diketahuinya   sampai   berapa  jauh  kecantikannya  sebelum
dikawinkan dengan Zaid, dan dia pula  yang  melamarnya  buat
Zaid, juga dia melihatnya setelah perkawinannya dengan Zaid,
karena pada waktu itu bertutup muka belum lagi dikenal.

Sungguhpun begitu dari pihak Zainab sendiri,  sesuai  dengan
ketentuan  hubungan kekeluargaan dari satu segi, dan sebagai
isteri  Zaid  anak  angkatnya   dari   segi   lain,   Zainab
menghubungi  dia karena beberapa hal dalam urusannya sendiri
dan juga karena seringnya Zaid mengadukan halnya itu.  Semua
ketentuan  hukum  itu  sudah diturunkan. Lalu diperkuat lagi
dengan  peristiwa  perkawinan  Zaid  dengan   Zainab   serta
kemudian  perceraiannya, lalu perkawinan Muhammad dengan dia
sesudah itu. Semua  ketentuan  hukum  ini,  yang  mengangkat
martabat  orang  yang  dimerdekakan ke tingkat orang merdeka
yang terhormat, dan yang menghapuskan hak  anak-anak  angkat
dengan  jalan  praktek  yang  tidak  dapat  dikaburkan  atau
ditafsir-tafsirkan lagi.
 
Sesudah semua itu, masih adakah pengaruh cerita-cerita  yang
selalu   diulang-ulang   oleh   pihak  Orientalis  dan  oleh
misi-misi penginjil,  oleh  Muir,  Irving,  Sprenger,  Well,
Dermenghem, Lammens dan yang lain, yang suka menulis sejarah
hidup Muhammad? Ya, kadang ini adalah napsu misi penginjilan
yang  secara  terang-terangan,  kadang cara misi penginjilan
atas nama ilmu pengetahuan. Adanya permusuhan lama  terhadap
Islam  adalah  permusuhan  yang  sudah berurat berakar dalam
jiwa  mereka,  sejak  terjadinya  serentetan  perang   Salib
dahulu.  Itulah  yang mengilhami mereka semua dalam menulis,
yang dalam menghadapi soal perkawinan, khususnya  perkawinan
Muhammad  dengan  Zainab  bt.  Jahsy,  membuat mereka sampai
nmemperkosa  sejarah,  mereka  mencari  cerita-cerita   yang
paling   lemah   sekalipun   asal   dapat   dimasukkan   dan
dihubung-hubungkan kepadanya.
 
Andaikata apa yang mereka katakan itu  memang  benar,  tentu
saja kita pun masih akan dapat menolaknya dengan mengatakan,
bahwa kebesaran itu tidak tunduk kepada undang-undang. Bahwa
sebelum  itu, Musa, Isa dan Yunus, mereka itu berada di atas
hukum  alam,  diatas  ketentuan-ketentuan  masyarakat   yang
berlaku.  Ada  yang karena kelahirannya, ada pula yang dalam
masa kehidupannya, tapi  itu  tidak  sampai  mendiskreditkan
kebesaran  mereka.  Sebaliknya Muhammad, ia telah meletakkan
ketentuan-ketentuan masyarakat  yang  sebaik-baiknya  dengan
wahyu  Tuhan,  dan  dilaksanakan  atas  perintah Tuhan, yang
dalam hal ini merupakan contoh yang tinggi  sekali,  sebagai
teladan  yang  sangat baik dalam melaksanakan apa yang telah
diperintahkan Tuhan itu. Ataukah barangkali yang dikehendaki
oleh   misi-misi   penginjil   itu   supaya  ia  menceraikan
isteri-isterinya dan jangan  lebih  dari  empat  orang  saja
seperti  yang  kemudian  disyariatkan  kepada kaum Muslimin,
setelah perkawinannya dengan mereka semua itu?

Adakah juga pada waktu  itu  ia  akan  selamat  dari  kritik
mereka? Sebenarnya hubungan Muhammad dengan isteri-isterinya
itu  adalah  hubungan  yang  sungguh  terhormat  dan  agung,
seperti  sudah  kita  lihat seperlunya dalam keterangan Umar
bin'l-Khattab yang sudah kita sebutkan; dan  contoh  semacam
itu  akan banyak kita jumpai dalam beberapa bagian buku ini.
Semua itu akan menjadi contoh yang berbicara sendiri,  bahwa
belum  ada  orang yang dapat menghormati wanita seperti yang
pernah diberikan oleh Muhammad, belum ada orang  yang  dapat
mengangkat  martabat wanita ketempat yang layak seperti yang
dilakukan oleh Muhammad itu.
 
Catatan kaki:
 
1 Harfiah: Seseorang dari  kamu  tidak  beriman  sebelum  ia
menyukai  buat  saudaranya  apa  yang  disukai  buat dirinya
sendiri.  Terjemahan  di  atas  didasarkan  kepada  komentar
Nuruddin  as-Sindi  sebagai  anotasi  pada Shahih Al-Bukhari
1/12 (A).


S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Selasa, 13 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (35)

Muhammad hidup hanya  dengan  Khadijah  selama  tujuh  belas
tahun  sebelum  kerasulannya  dan sebelas tahun sesudah itu;
dan dalam pada itu  pun  sama  sekali  tak  terlintas  dalam
pikirannya ia ingin kawin lagi dengan wanita lain. Baik pada
masa Khadijah masih hidup, atau  pun  pada  waktu  ia  belum
kawin  dengan  Khadijah,  belum  pernah  terdengar  bahwa ia
termasuk  orang   yang   mudah   tergoda   oleh   kecantikan
wanita-wanita  yang  pada  waktu  itu  justeru wanita-wanita
belum tertutup. Bahkan mereka itu suka memamerkan  diri  dan
memamerkan  segala  macam  perhiasan, yang kemudian dilarang
oleh Islam. Sudah tentu tidak wajar sekali apabila akan kita
lihat,  sesudah  lampau  limapuluh tahun, mendadak sontak ia
berubah demikian rupa sehingga begitu ia melihat Zainab bint
Jahsy  -  padahal  waktu  itu  isterinya  sudah  lima  orang
diantaranya Aisyah yang selalu dicintainya  -  tiba-tiba  ia
tertarik  sampai  ia  hanyut siang-malam memikirkannya. Juga
tidak  wajar  sekali  apabila  kita  lihat,  sesudah  lampau
limapuluh  tahun  usianya,  yang  selama  lima  tahun  sudah
beristerikan lebih dari tujuh orang, dan dalam  tujuh  tahun
sembilan  orang  isteri. Semuanya itu, motifnya hanya karena
dia  terdorong  oleh  nafsu  kepada  wanita,  sehingga   ada
beberapa  penulis  Muslim  -  dan juga penulis-penulis Barat
mengikuti jejaknya - melukiskannya sedemikian rupa, demikian
merendahkan  yang  bagi  seorang  materialis sekalipun sudah
tidak layak, apalagi buat orang besar, yang ajarannya  dapat
mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih
selalu akan mengubah dunia sekali lagi,  dan  akan  mengubah
jalannya roda sejarah sekali lagi.

Apabila  ini  suatu hal yang aneh dan tidak wajar, maka akan
jadi aneh juga kita melihat bahwa perkawinan Muhammad dengan
Khadijah   telah   memberikan   keturunan,   laki-laki   dan
perempuan, sampai sebelum ia mencapai usia limapuluh  tahun,
dan  bahwa Maria melahirkan Ibrahim sesudah Muhammad berusia
enampuluh tahun dan hanya dari yang dua  orang  ini  sajalah
yang  membawa  keturunan. Padahal isteri-isteri itu ada yang
dalam usia muda, yang akan dapat juga hamil dan  melahirkan,
baik  dari pihak suami atau pihak isteri, dan ada yang sudah
cukup usia, sudah lebih dari tigapuluh  tahun  umurnya,  dan
sebelum  itu  pun  pernah  pula  punya  anak. Bagaimana pula
gejala aneh dalam hidup Nabi ini ditafsirkan,  suatu  gejala
yang  tidak  tunduk  kepada  undang-undang  yang biasa, yang
sekaligus terhadap kesembilan wanita itu?! Sebagai  manusia,
sudah  tentu  jiwa  Muhammad  cenderung sekali ingin beroleh
seorang putera, sekalipun - dalam kedudukannya sebagai  nabi
dan  rasul  - dari segi rohani ia sudah menjadi bapa seluruh
umat Muslimin.

Kemudian peristiwa-peristiwa sejarah  serta  logikanya  juga
menjadi   saksi  yang  jujur  mendustakan  cerita  misi-misi
penginjil dan para Orientalis itu sehubungan dengan poligami
Nabi.  Seperti  kita sebutkan tadi, selama 28 tahun ia hanya
beristerikan Khadijah  seorang,  tiada  yang  lain.  Setelah
Khadijah  wafat,  ia  kawin  dengan  Sauda bint Zam'a, janda
Sakran b. 'Amr b. 'Abd Syams. Tidak ada  suatu  sumber  yang
menyebutkan,  bahwa Sauda adalah seorang wanita yang cantik,
atau berharta atau mempunyai  kedudukan  yang  akan  memberi
pengaruh  karena  hasrat  duniawi  dalam  perkawinannya itu.
Melainkan soalnya ialah,  Sauda  adalah  isteri  orang  yang
termasuk  mula-mula  dalam  lslam, termasuk orang-orang yang
dalam  membela   agama,   turut   memikul   pelbagai   macam
penderitaan,  turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan
Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga  sudah  Islam
dan  ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut
menderita. Kalau sesudah itu Muhammad kemudian  mengawininya
untuk  memberikan  perlindungan  hidup  dan untuk memberikan
tempat setarap dengan Umm'l-Mu'minin,  maka  hal  ini  patut
sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.
 
Adapun  Aisyah  dan  Hafsha  adalah  puteri-puteri dua orang
pembantu dekatnya, Abu  Bakr  dan  Umar.  Segi  inilah  yang
membuat  Muhammad  mengikatkan  diri  dengan kedua orang itu
dengan  ikatan  semenda  perkawinan   dengan   puteri-puteri
mereka.  Sama  juga  halnya ia mengikatkan diri dengan Usman
dan Ali dengan  jalan  mengawinkan  kedua  puterinya  kepada
mereka.  Kalaupun  benar  kata  orang  mengenai Aisyah serta
kecintaan Muhammad kepadanya  itu,  maka  cinta  itu  timbul
sesudah   perkawinan,   bukan   ketika   kawin.   Gadis  itu
dipinangnya kepada orangtuanya tatkala ia  berusia  sembilan
tahun   dan   dibiarkannya   dua  tahun  sebelum  perkawinan
dilangsungkan. Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa dia
sudah  mencintainya  dalam usia yang masih begitu kecil. Hal
ini diperkuat lagi oleh perkawinannya dengan Hafsha bt. Umar
yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya
sendiri sebagai saksi.
 
"Sungguh," kata Umar, "tatkala kami  dalam  zaman  jahiliah,
wanita-wanita  tidak  lagi  kami  hargai. Baru setelah Tuhan
memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula  hak
kepada  mereka." Dan katanya lagi: "Ketika saya sedang dalam
suatu  urusan  tiba-tiba  isteri  saya  berkata:  'Coba  kau
berbuat  begini  atau  begitu."  Jawab saya: "Ada urusan apa
engkau disini, dan perlu apa engkau  dengan  urusanku!"  Dia
pun  membalas:  "Aneh  sekali  engkau Umar. Engkau tidak mau
ditentang,  padahal  puterimu  menentang  Rasulullah  s.a.w.
sehingga  ia  gusar  sepanjang hari." Kata Umar selanjutnya:
"Kuambil mantelku, lalu aku keluar,  pergi  menemui  Hafsha.
"Anakku,"  kataku  kepadanya.  "Engkau  menentang Rasulullah
s.a.w. sampai  ia  merasa  gusar  sepanjang  hari?!"  Hafsha
menjawab:  "Memang  kami menentangnya." "Engkau harus tahu,"
kataku.  "Kuperingatkan  engkau  akan  siksaan  Tuhan  serta
kemurkaan  RasulNya.  Anakku,  engkau  jangan teperdaya oleh
kecintaan orang  yang  telah  terpesona  oleh  kecantikannya
sendiri  dengan  kecintaan  Rasulullah s.a.w." Katanya lagi:
"Engkau sudah mengetahui, Rasulullah tidak mencintaimu,  dan
kalau tidak karena aku engkau tentu sudah diceraikan."
 
Kita  sudah  melihat  bukan, bahwa Muhammad mengawini Aisyah
atau mengawini Hafsha  bukan  karena  cintanya  atau  karena
suatu  dorongan  berahi, tapi karena hendak memperkukuh tali
masyarakat Islam yang  baru  tumbuh  dalam  diri  dua  orang
pembantu  dekatnya  itu.  Sama halnya ketika ia kawin dengan
Sauda,  maksudnya  supaya   pejuang-pejuang   Muslimin   itu
mengetahui,  bahwa  kalau  mereka  gugur  untuk agama Allah,
isteri-isteri dan  anak-anak  mereka  tidak  akan  dibiarkan
hidup sengsara dalam kemiskinan.
 
Perkawinannya  dengah  Zainab  bt.  Khuzaima  dan dengan Umm
Salama  mempertegas  lagi  hal  itu.  Zainab  adalah  isteri
'Ubaida  bin'l-Harith bin'l-Muttalib yang telah mati syahid,
gugur dalam perang Badr. Dia tidak  cantik,  hanya  terkenal
karena  kebaikan  hatinya dan suka menolong orang, sampai ia
diberi gelar Umm'l-Masakin (Ibu orang-orang miskin). Umurnya
pun  sudah  tidak  muda lagi. Hanya setahun dua saja sesudah
itu ia pun meninggal. Sesudah Khadijah  dialah  satu-satunya
isteri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.
 
Sedang  Umm  Salama  sudah banyak anaknya sebagai isteri Abu
Salama, seperti  sudah  disebutkan  di  atas,  bahwa  dalam
perang Uhud ia menderita luka-luka, kemudian sembuh kembali.
Oleh Nabi ia diserahi pimpinan untuk  menghadapi  Banu  Asad
yang  berhasil  di  kucar-kacirkan dan ia kembali ke Medinah
dengan membawa rampasan perang. Tetapi bekas lukanya di Uhud
itu  terbuka  dan kembali mengucurkan darah yang dideritanya
terus sampai meninggalnya.  Ketika  sudah  di  atas  ranjang
kematiannya, Nabi juga hadir dan terus mendampinginya sambil
mendoakan untuk kebaikannya, sampai ia  wafat.  Empat  bulan
setelah  kematiannya itu Muhammad meminta tangan Umm Salama.
Tetapi wanita ini menolak  dengan  lemah  lembut  karena  ia
sudah  banyak  anak  dan  sudah tidak muda lagi. Hanya dalam
pada itu akhirnya sampai juga ia mengawini dan  dia  sendiri
yang bertindak menguruskan dan memelihara anak-anaknya.

Adakah  sesudah ini semua para misi penginjil dan Orientalis
itu masih akan  mendakwakan,  bahwa  karena  kecantikan  Umm
Salama  itulah  maka Muhammad terdorong hendak mengawininya?
Kalau hanya karena itu saja, masih banyak  gadis-gadis  kaum
Muhajirin  dan  Anshar  yang  lain,  yang jauh lebih cantik,
lebih muda, lebih kaya dan bersemarak,  dan  tidak  pula  ia
akan  dibebani  dengan anak-anaknya. Akan tetapi sebaliknya,
ia mengawininya itu karena pertimbangan yang luhur itu juga,
sama halnya dengan perkawinannya dengan Zainab bt. Khuzaima,
yang membuat kaum Muslimin bahkan makin cinta kepadanya  dan
membuat  mereka  lebih-lebih  lagi memandangnya sebagai Nabi
dan Rasul Allah. Di samping itu mereka  semua  memang  sudah
menganggapnya  sebagai  ayah mereka. Ayah bagi segenap orang
miskin,  orang  yang  tertekan,  orang  lemah,  orang   yang
sengsara  dan  tak  berdaya.  Ayah  bagi  setiap  orang yang
kehilangan ayah, yang gugur membela agama Allah.
 
Dari apa yang sudah diuraikan di  atas,  apakah  yang  dapat
disimpulkan  oleh  penelitian sejarah yang murni? Yang dapat
disimpulkan  ialah   bahwa   Muhammad   menganjurkan   orang
beristeri  satu  dalam kehidupan biasa. Ia menganjurkan cara
demikian seperti contoh yang sudah diberikannya selama  masa
Khadijah. Untuk itu firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan:
 
"Dan  kalau  kamu kuatir takkan dapat berlaku lurus terhadap
anak-anak yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita yang  kamu
sukai:  dua,  tiga  dan  (sampai)  empat.  Tetapi kalau kamu
kuatir takkan dapat berlaku  adil,  hendaklah  seorang  saja
atau yang sudah ada menjadi milik kamu." (Qur'an, 4:3)
 
"Dan  (itu  pun) tidak akan kamu dapat berlaku adil terhadap
wanita, betapa kamu sendiri  menginginkan  itu.  Sebab  itu,
janganlah  kamu  terlalu  condong  kepada yang seorang, lalu
kamu biarkan dia terkatung-katung." (Qur'an, 4:129)
 
Ayat-ayat ini turun pada akhir-akhir tahun kedelapan Hijrah,
setelah  Nabi  kawin dengan semua isterinya, maksudnya untuk
membatasi jumlah isteri itu sampai  empat  orang,  sementara
sebelum  turun  ayat tersebut pembatasan tidak ada. Ini juga
yang   telah   menggugurkan   kata-kata   orang:    Muhammad
membolehkan  buat  dirinya  sendiri  dan melarang buat orang
lain. Kemudian  turun  ayat  yang  memperkuat  diutamakannya
isteri  satu  dan  menganjurkan  demikian karena dikuatirkan
takkan berlaku adil dengan ditekankan bahwa berlaku adil itu
tidak  akan  disanggupi.  Hanya saja dalam keadaan kehidupan
masyarakat yang dikecualikan ia  melihat  suatu  kemungkinan
yang  mendesak  perlunya  kawin  sampai  empat dengan syarat
berlaku adil. Dia telah melakukan  itu  dengan  contoh  yang
diberikannya  ketika kaum Muslimin terlibat dalam peperangan
dan banyak di antara mereka itu yang gugur dan mati syahid.
 
Tolonglah sebutkan! Pada waktu peperangan sedang berkecamuk,
panyakit   menular  berjangkit  dan  pemberontakan  berkobar
merenggut ribuan bahkan jutaan umat manusia, dapatkah  orang
memastikan,  bahwa membatasi pada isteri satu itu lebih baik
dan poligami yang dibolehkan dengan jalan  kekecualian  itu?
Dapatkah orang-orang Eropa - pada waktu ini, setelah selesai
Perang Dunia - mengatakan bahwa sistem monogami  itu  sistem
yang  paling tepat dalam praktek, karena mereka memang sudah
mengatakan   bahwa   sistem   itu   tepat    sekali    dalam
undang-undang?  Bukankah  tirnbulnya  kekacauan  ekonomi dan
sosial setelah perang disebabkan oleh tidak adanya kerjasama
yang  teratur antara pria dan wanita dalam perkawinan, suatu
kerjasama yang kiranya sedikit  banyak  akan  dapat  membawa
keseimbangan ekonomi? Saya tidak bermaksud dengan ini hendak
membuat suatu keputusan hukum. Saya serahkan soal ini kepada
ahli-ahli  pikir, kepada pihak penguasa untuk memikirkan dan
merencanakannya,  dengan  catatan  selalu,  bahwa   bilamana
keadaan  hidup  sudah  kembali  biasa, maka yang paling baik
dapat  menjamin  kebahagiaan  masyarakat   ialah   membatasi
laki-laki hanya pada satu isteri.
 
Sehubungan  dengan cerita tentang Zainab bt. Jahsy serta apa
yang ditambah-tambahkan oleh beberapa orang ahli hadis, oleh
kaum    Orientalis    dan    misi-misi    penginjil   dengan
bermacam-macam tabir khayal  sehingga  ia  dijadikan  sebuah
cerita  roman  percintaan,  sejarah  yang  sebenarnya  dapat
mencatat, bahwa teladan yang  diberikan  oleh  Muhammad  dan
patut  dibanggakan,  dan  sebagai contoh iman yang sempurna,
ialah bahwa dia telah menerapkan bunyi hadis yang maksudnya:
Iman   seseorang   belum   sempurna   sebelum  ia  mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.1 Dirinya telah
dijadikan  contoh  pertama  manakala  ia  melaksanakan suatu
hukum yang pada dasarnya hendak menghapus tradisi dan segala
adat-istiadat  jahiliah,  dan  yang  sekaligus dengan itu ia
menetapkan peraturan baru,  yang  diturunkan  Tuhan  sebagai
bimbingan dan rahmat buat semesta alam.

Untuk  menghapuskan  semua  cerita mereka yang kita baca itu
dari dasarnya, cukup kalau kita sebutkan, bahwa  Zainab  bt.
Jahsy  ini  adalah  puteri  Umaima  bt. Abd'l-Muttalib, bibi
Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan
dengan  bantuannya  pula.  Maka  dengan  demikian  ia  sudah
seperti puterinya atau seperti  adiknya  sendiri.  Ia  sudah
mengenal  Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau
tidak,  sebelum  ia  dikawinkan  dengan   Zaid.   Ia   sudah
melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang
masih merangkak hingga menjelang gadis  remaja  dan  dewasa,
dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu.
 
Jadi, kalau orang sudah mengetahui semua ini, maka hancurlah
segala macam khayal dan cerita-cerita yang menyebutkan bahwa
dia  pernah  kerumah Zaid dan orang ini tidak di rumah, lalu
dilihatnya  Zainab,  ia  terpesona  sekali  melihat   begitu
cantik,  sampai  ia  berkata:  "Maha  suci Tuhan, Yang telah
membalikkan hati manusia!" Atau juga ketika ia membuka pintu
rumah  Zaid,  kebetulan angin bertiup menguakkan tirai kamar
Zainab, lalu dilihatnya wanita  itu  dengan  gaunnya  sedang
berbaring  -  seolah-olah seperti Madame Recamier - mendadak
sontak  hatinya  berubah.  Lupa  ia  kepada  Sauda,  Aisyah,
Hafsha,  Zainab  bt.  Khuzaima dan Umm Salama. Juga Khadijah
sudah dilupakannya, yang seperti kata Aisyah, bahwa  dirinya
tidak  pernah  cemburu  terhadap  isteri-isteri Nabi seperti
terhadap Khadijah ketika disebut-sebut. Kalau perasaan cinta
itu sedikit banyak sudah terlintas dalam hati, tentu ia akan
melamar kepada keluarganya untuk dirinya, bukan untuk  Zaid.
Dengan  melihat  hubungan  Zainab  dengan Muhammad ini serta
gambaran yang kita kemukakan  di  atas,  maka  segala  macam
cerita  khayal yang dibawa orang itu, sudah tidak lagi dapat
dipertahankan dan ternyata samasekali memang tidak mempunyai
dasar yang benar.
                                            

S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Minggu, 11 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (34)

SEMENTARA  peristiwa-peristiwa  dalam dua bagian di atas itu
terjadi, Muhammad kawin dengan Zainab bt. Khuzaima, kemudian
kawin  dengan  Umm  Salama  bt.  Abi  Umayya  bin'l-Mughira,
selanjutnya kawin  lagi  dengan  Zainab  bt.  Jahsy  setelah
dicerai  oleh  Zaid  b.  Haritha.  Zaid  inilah  yang  telah
diangkat  sebagai  anak  oleh  Muhammad  setelah  dibebaskan
sebagai  budak sejak ia dibelikan oleh Yasar untuk Khadijah.
Di sinilah  kaum  Orientalis  dan  misi-misi  penginjil  itu
kemudian   berteriak   keras-keras:  Lihat!  Muhammad  sudah
berubah. Tadinya, ketika ia masih di Mekah sebagai  pengajar
yang   hidup   sederhana,   yang   dapat  menahan  diri  dan
mengajarkan tauhid, sangat  menjauhi  nafsu  hidup  duniawi,
sekarang  ia  sudah  menjadi  orang yang diburu syahwat, air
liurnya mengalir bila melihat wanita. Tidak cukup tiga orang
isteri  saja  dalam  rumah, bahkan ia kawin lagi dengan tiga
orang wanita seperti yang disebutkan di  atas.  Sesudah  itu
mengawini  tiga  orang  wanita  lagi,  selain Raihana. Tidak
cukup kawin dengan wanita-wanita yang tidak bersuami, bahkan
ia  jatuh  cinta  kepada Zainab bt. Jahsy yang masih terikat
sebagai isteri Zaid b. Haritha bekas budaknya. Soalnya tidak
lain karena ia pernah singgah di rumah Zaid ketika ia sedang
tidak ada di tempat  itu,  lalu  ia  disambut  oleh  Zainab.
Tatkala itu ia sedang mengenakan pakaian yang memperlihatkan
kecantikannya,  dan  kecantikan  ini   sangat   mempengaruhi
hatinya. Waktu itu ia berkata "Maha suci Ia yang telah dapat
membalikkan hati manusia!" Kata-kata  ini  diulanginya  lagi
ketika   ia   meninggalkan   tempat  itu.  Zainab  mendengar
kata-kata itu dan ia melihat api  cinta  itu  bersinar  dari
matanya.  Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang
didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu
itu  juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa ia bersedia
menceraikannya. Lalu kata Nabi kepadanya:
 
"Jaga  baik-baik  isterimu,  jangan  diceraikan.   Hendaklah
engkau takut kepada Allah."
 
Tetapi  pergaulan  Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.
Kemudian ia dicerai.  Muhammad  menahan  diri  tidak  segera
mengawininya  sekalipun  hatinya  gelisah. Ketika itu firman
Tuhan datang:
 
"Ingat, tatkala  engkau  berkata  kepada  orang  yang  telah
diberi  karunia oleh Allah dan engkau pun telah pula berbudi
kepadanya:  Jagalah  baik-baik  isterimu.  Hendaklah  engkau
takut  kepada  Allah.  Dan  engkau menyembunyikan sesuatu di
dalam hatimu apa yang oleh Tuhan sudah  diterangkan.  Engkau
takut  kepada  manusia,  padahal seharusnya Allah yang lebih
patut  kautakuti.  Maka  setelah  Zaid  meluluskan  kehendak
wanita  itu,  Kami  kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak
tidak menjadi alangan bagi orang-orang beriman kawin  dengan
(bekas)  isteri-isteri  anak-anak  angkat  mereka,  bilamana
kehendak  mereka  (wanita-wanita)  itu   sudah   diluluskan.
Perintah Allah itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)
 
Ketika  itulah wanita itu dikawininya. Dengan perkawinan ini
semarak cinta berahi dan api  asmaranya  yang  menyala-nyala
dapat  dipadamkan.  Nabi  apa itu!? Bagaimana ia membenarkan
hal  itu  buat  dirinya  sedang  buat  orang  lain   tidak?!
Bagaimana  ia tidak tunduk kepada undang-undang yang katanya
diturunkan Tuhan  kepadanya?!  Bagaimana  pula  "harem"  ini
diciptakan,  yang  mengingatkan  orang  pada  raja-raja yang
hidup mewah-mewah, bukan  pada  para  nabi  yang  saleh  dan
memperbaiki  kehidupan  umat?! Selanjutnya bagaimana pula ia
menyerah kepada kekuasaan  cinta  dalam  hubungannya  dengan
Zainab  sehingga  ia  menghubungi Zaid bekas budaknya supaya
menceraikannya, kemudian ia tampil mengawininya! Hal semacam
ini  pada  zaman jahiliah dilarang, tapi nabinya orang Islam
ini membolehkan, karena mau menuruti kehendak nafsunya,  mau
memenuhi dorongan cintanya.
         
Bilamana  kaum  Orientalis  dan  para  misi penginjil bicara
mengenai masalah ini dalam  sejarah  Muhammad,  maka  mereka
membiarkan  khayal  mereka itu bebas tak terkendalikan lagi;
sehingga ada diantara mereka itu yang menggambarkan Zainab -
ketika terlihat oleh Nabi - dalam keadaan setengah telanjang
atau hampir telanjang, dengan rambutnya yang  hitam  panjang
lepas  terurai sampai menjamah tubuhnya yang lembut gemulai,
yang akan dapat menterjemahkan  segala  arti  cinta  berahi.
Yang  lain  lagi  menyebutkan, bahwa ketika ia membuka pintu
rumah Zaid, angin menghembus menguakkan tabir kamar  Zainab.
Ketika  itu  ia  sedang  telentang  di  tempat  tidur dengan
mengenakan baju tidur. Pemandangan ini  sangat  menggetarkan
jantung  laki-laki  yang gila perempuan dengan kecantikannya
itu. Ia menyembunyikan perasaan hatinya meskipun  sebenarnya
ia tidak dapat tahan lama demikian!
 
Gambaran  yang  diciptakan  oleh  khayal demikian itu banyak
sekali.  Akan  kita  jumpai  ini  dalam  karya-karya   Muir,
Dermenghem,  Washington  Irving, Lammens dan yang lain, baik
mereka ini para Orientalis  atau  misi-misi  penginjil.  Dan
yang   sungguh   disayangkan   lagi   karena  dalam  membuat
cerita-cerita itu, semua mereka memang  mengambil  sumbernya
dari  kitab-kitab  sejarah  Nabi dan tidak sedikit pula dari
hadis. Kemudian dengan apa yang mereka gambarkan itu, mereka
membangun  istana-istana  gading  dari khayal mereka sendiri
tentang Muhammad serta  hubungannya  dengan  wanita.  Alasan
mereka  ialah  karena isterinya banyak, yang sampai sembilan
orang menurut pendapat yang lebih tepat, atau lebih dari itu
menurut sumber-sumber lain.
         
Sebenarnya  dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan ucapan: Anggaplah semua itu benar, tetapi  dengan
itu   apa  pula  kiranya  yang  akan  dapat  mendiskreditkan
kebesaran   Muhammad   atau   kenabian   dan   kerasulannya.
Undang-undang  yang biasanya berlaku pada umum, tidak mempan
terhadap orang-orang besar, lebih-lebih terhadap para  rasul
dan nabi. Bukankah ketika Musa a.s. melihat perselisihan dua
orang, yang  seorang  dari  golongannya  sendiri,  dan  yang
seorang lagi dari pihak musuhnya, ditinjunya orang yang dari
pihak musuh itu hingga menemui ajalnya,  padahal  pembunuhan
demikian  itu  dilarang, baik dalam perang atau pun setengah
perang? Ini berarti melanggar undang-undang. Jadi Musa tidak
tunduk  kepada  undang-undang,  tapi  juga tidak berarti ini
dapat mendiskreditkan  kenabian  atau  kerasulannya,  bahkan
mengurangi  kebesarannyapun  juga  tidak. Dan dalam hal Isa,
dalam menyalahi undang-undang lebih besar lagi dari  masalah
Muhammad,  dari  para  nabi  dan  para  rasul  semuanya. Dan
soalnya tidak hanya  terbatas  pada  besarnya  kekuatan  dan
keinginan  saja, bahkan kelahiran dan kehidupannya pun sudah
melanggar undang-undang dan kodrat alam. Di  hadapan  ibunya
malaikat  muncul  sebagai  manusia  yang sempurna, yang akan
mengantarkan seorang anak yang suci bersih kepadanya. Wanita
itu  keheranan,  sambil berkata: "Bagaimana aku akan beroleh
seorang putera, padahal aku belum disentuh seorang  manusia,
juga  aku  bukan  seorang  pelacur." Malaikat berkata, bahwa
Tuhan menghendaki  supaya  ia  menjadi  pertanda  bagi  umat
manusia.
 
Setelah terasa sakit hendak melahirkan, ia berkata: "Aduhai,
coba sebelum  ini  aku  mati  saja,  maka  aku  akan  hilang
dilupakan orang." Lalu datang suara memanggilnya dari bawah:
"Jangan berdukacita, Tuhan telah mengalirkan  sebatang  anak
sungai  di  bawahmu." Dibawanya anak itu kepada keluarganya.
Mereka pun berkata: "Maryam, engkau datang membawa  masalah
besar.  Dalam  buaiannya  itu  (usia semuda itu) Isa berkata
kepada mereka: "Aku adalah hamba Allah É" dan seterusnya.
 
Betapapun orang-orang Yahudi menolak  semua  ini,  dan  oleh
mereka  Isa  dinasabkan  kepada  Yusuf an-Najjar (Yusuf anak
Heli), sebagian sarjana semacam Renan  sampai  sekarang  pun
memang  menganggapnya  demikian.  Kebesaran Isa, kenabiannya
dan kerasulannya serta penyimpangannya dari hukum dan kodrat
alam  adalah  suatu  pertanda  mujizat Tuhan kepadanya. Tapi
anehnya, misi-misi penginjil Kristen itu minta orang  supaya
percaya kepada hal-hal yang di luar hukum alam mengenai diri
Yesus,  sementara  mengenai  diri  Muhammad   mereka   sudah
menjatuhkan  hukuman  sendiri. Padahal apa yang dilakukannya
tidak  seberapa  dan  tidak  lebih  karena  Muhammad  memang
terlalu  tinggi  untuk  dapat  tunduk  kepada  undang-undang
masyarakat  yang  berlaku  terhadap  setiap   orang   besar,
terhadap  raja-raja,  kepala-kepala negara yang pada umumnya
sudah didahului oleh undang-undang  dasar  sehingga  membuat
mereka tak dapat diganggu-gugat.
         
Sebenarnya  dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan jawaban yang sudah tentu akan  menjatuhkan  semua
argumen  misi-misi penginjil dan orang-orang Orientalis yang
juga mau ikut cara-cara mereka itu.  Tetapi  dalam  hal  ini
kita   lalu  memperkosa  sejarah  dan  memperkosa  kebesaran
Muhammad dan kerasulannya. Dia bukanlah orang  seperti  yang
mereka  gambarkan:  orang  yang  pikirannya dipengaruhi oleh
hawa nafsu. Tak ada isterinya  itu  yang  dikawininya  hanya
karena  ia  terdorong  oleh  syahwat atau nafsu berahi saja.
Kalaupun  ada  beberapa  penulis  Muslim  pada   zaman-zaman
tertentu   dengan   sesuka   hati   berkata   demikian   dan
mengemukakan alasan itu kepada lawan-lawan Islam dengan niat
baik,  soalnya  ialah  karena  tradisi  yang  berlaku  telah
membawa  mereka  kepada  pengertian  materi.  Mereka   ingin
menggambarkan Muhammad itu besar dalam segalanya, juga besar
dalam  kehidupan  hawa  nafsu.   Sudah   tentu   ini   suatu
penggambaran  yang salah sama sekali. Sejarah hidup Muhammad
sama sekali  tak  dapat  menerima  ini,  dan  seluruh  hidup
pribadinya pun dengan sendirinya sudah menolak.
         
Ia  kawin  dengan  Khadijah  dalam usia duapuluh tiga tahun,
usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka
yang begitu tampan, gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu
Khadijah adalah tetap isteri satu-satunya,  selama  duapuluh
delapan  tahun,  sampai  melampaui usia limapuluhan. Padahal
masalah poligami ialah masalah yang umum sekali di  kalangan
masyarakat Arab waktu itu. Di samping itu Muhammad pun bebas
kawin dengan Khadijah atau dengan yang lain,  dalam  hal  ia
dengan  isterinya  tidak  beroleh anak laki-laki yang hidup,
sedang anak perempuan pada waktu itu dikubur hidup-hidup dan
yang  dapat  dianggap  sebagai  keturunan pengganti hanyalah
anak laki-laki.
                                            
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
  oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
  diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Sejarah Hidup Muhammad (33)

Setelah dijelaskan maksud kedatangannya, mereka memperlihatkan
sikap gembira dan dengan  senang  hati  bersedia  mengabulkan.
Akan   tetapi,   sementara   sebagian   mereka   sedang  asyik
bercakap-cakap  dengan  dia,  dilihatnya  yang   lain   sedang
berkomplot.  Salah seorang dari mereka pergi menyisih ke suatu
tempat dan tampaknya mereka sedang mengingatkan kematian  Ka'b
b.  Asyraf.  Salah  seorang dari mereka itu ('Amr b. Jihasy b.
Ka'b) tampak memasuki rumah tempat Muhammad sedang duduk-duduk
bersandar  di  dinding. Ketika itulah ia merasa curiga sekali,
lebih-lebih lagi karena persekongkolan mereka  dan  percakapan
mereka itu telah didengarnya.
 
Dengan  demikian,  diam-diam  ia  menarik diri dari tempat itu
dengan  meninggalkan  sahabat-sahabatnya.  Mereka  menduga  ia
pergi untuk suatu urusan.
 
Sebaliknya  pihak  Yahudi, mereka jadi kebingungan. Tidak tahu
lagi mereka; apa yang harus mereka katakan, dan apa pula  yang
harus  mereka perbuat terhadap sahabat-sahabat Muhammad. Kalau
mereka ini yang akan mereka jerumuskan niscaya  Muhammad  akan
mengadakan   pembalasan   keras.  Jika  mereka  biarkan  saja,
kalau-kalau  persekongkolan  mereka  terhadap   Muhammad   dan
sahabat-sahabatnya  tetap tak akan terbongkar. Dengan demikian
perjanjian mereka dengan pihak Muslimin  tetap  berlaku.  Jadi
sekarang  mereka  berusaha  meyakinkan  tamu-tamu Muslimin itu
yang mungkin akan dapat menghilangkan rasa  kecurigaan  mereka
tanpa samasekali menyebut-nyebut hal tersebut.
 
Tetapi  sahabat-sahabat  Muhammad  setelah  lama  menunggunya,
mereka pun pergi  pula  mencarinya.  Tatkala  ada  orang  yang
datang  dari  Medinah  dijumpai, tahulah mereka bahwa Muhammad
sudah sampai di kota itu dan langsung menuju ke mesjid. Mereka
pun juga pergi ke sana. Ia menceritakan kepada mereka mengenai
apa yang telah menimbulkan kecurigaan dari sikap orang  Yahudi
itu  serta  maksud mereka yang hendak mengkhianatinya. Barulah
mereka menyadari apa  yang  telah  mereka  lihat  itu.  Mereka
percaya  akan  ketajaman  pandangan  Rasul serta akan apa yang
telah diwahyukan kepadanya.
 
Kemudian Nabi memanggil Muhammad b. Maslama, dan katanya:
 
"Pergilah kepada Yahudi Banu Nadzir dan katakan kepada mereka,
bahwa Rasulullah mengutus aku kepada kamu sekalian supaya kamu
keluar dari negeri ini. Kamu telah melanggar  perjanjian  yang
sudah  kubuat  dengan kamu dengan maksudmu hendak mengkhianati
aku.  Aku  memberikan  waktu   sepuluh   hari   kepada   kamu.
Barangsiapa  yang  masih  terlihat  sesudah itu akan dipenggal
lehernya."
 
Yahudi Banu Nadzir sekarang merasa putus asa dan  kebingungan.
Atas  keterangan  itu  mereka  tidak  dapat membela diri lagi,
mereka tidak menjawab apa-apa lagi; kecuali katanya kepada Ibn
Maslama:
 
"Muhammad,  kami  tidak menduga hal ini akan datang dari orang
golongan Aus." Ini adalah suatu  isyarat  tentang  persekutuan
mereka  dengan  pihak  Aus dahulu dalam perang dengan Khazraj,
tetapi Ibn Maslama hanya menjawab:
 
"Hati orang sudah berubah."

Selama beberapa hari golongan ini sudah  bersiap-siap.  Tetapi
dalam  pada  itu  tiba-tiba  datang  pula  dua  orang  suruhan
Abdullah b. Ubayy dengan mengatakan: "Jangan  ada  orang  yang
mau  meninggalkan  rumah-rumah  kamu  dan  harta  benda  kamu.
Tetaplah bertahan dalam benteng kamu sekalian. Dari golonganku
sendiri  ada  dua ribu orang dan selebihnya dari golongan Arab
yang akan bergabung dengan kita dalam benteng dan mereka  akan
bertahan  sampai  titik  darah  penghabisan, sebelum ada pihak
lain menyentuh kamu."

Banu Nadzir mengadakan perundingan atas keterangan  Ibn  Ubayy
itu.  Mereka tambah bingung. Ada yang samasekali tidak percaya
kepada Ibn Ubayy. Bukankah dulu  pernah  ia  menjanjikan  Banu
Qainuqa'   seperti   yang  dijanjikannya  kepada  Banu  Nadzir
sekarang, tetapi tiba waktunya ia cuci tangan  dan  menghilang
meninggalkan   mereka?  Juga  mereka  mengetahui,  bahwa  Banu
Quraidza takkan dapat membela mereka  mengingat  adanya  suatu
perjanjian  dengan pihak Muhammad. Disamping itu, kalau mereka
keluar dari kampung mereka itu ke Khaibar atau ke tempat  lain
yang  berdekatan  mereka  masih  akan dapat kembali ke Yathrib
bila kurma mereka nanti sudah  berbuah;  mereka  akan  memetik
buah  kurma  itu  lalu kembali ke tempat mereka semula. Mereka
tidak akan mengalami banyak kerugian
 
"Tidak," kata Huyayy b. Akhtab pemimpin  mereka.  "Malah  kita
yang  harus  mengirim  pesan kepada Muhammad: bahwa kita tidak
akan meninggalkan kampung kita dan harta-benda kita.  Terserah
apa  yang  akan diperbuat. Kita hanya tinggal memperbaiki kubu
kita; kita akan memasuki tempat ini  sesuka  hati  kita.  Kita
akan  membiasakan  memakai  jalan-jalan  kita,  kita pindahkan
batu-batu ke tempat itu. Persediaan makanan  kita  cukup  buat
setahun,  air  pun  tidak pernah terputus. Muhammad tidak akan
mengepung kita setahun penuh."
 
Tetapi sepuluh hari sudah lampau.  Mereka  tidak  juga  keluar
dari perkampungan itu.
 
Dengan  membawa  senjata  pihak Muslimin selama duabelas malam
bertempur  melawan  mereka.  Ketika  itu  bila  sudah   tampak
Muslimin  di jalan-jalan atau di rumah-rumah, mereka mundur ke
rumah berikutnya  sesudah  rumah-rumah  itu  mereka  robohkan.
Kemudian  Muhammad  memerintahkan sahabat-sahabatnya menebangi
pohon-pohon  kurma  kepunyaan  orangorang  Yahudi  itu,   lalu
membakarnya. Dengan demikian orang-orang Yahudi itu tidak akan
terlalu  terikat  pada  harta-bendanya  lagi  dan  tidak  akan
terlalu bersemangat mau berperang
 
Dengan tidak sabar orang-orang Yahudi itu berteriak:
 
"Muhammad!  Tuan  melarang  orang berbuat kerusakan. Tuan cela
orang yang berbuat begitu.  Tetapi  kenapa  pohon-pohon  kurma
ditebangi dan dibakar?!"
 
Dalam hal ini firman Tuhan turun:
 
"Mana  pun  pohon  kurma  yang  kamu  tebang atau kamu biarkan
berdiri dengan batangnya, adalah dengan ijin Allah  juga,  dan
karena  Ia  hendak  mencemoohkan  mereka  yang melanggar hukum
itu."(Qur'an, 59: 5)

Sia-sia saja rupanya pihak Yahudi itu menunggu adanya  bantuan
dari  Abdullah  b.  Ubayy atau pertolongan yang mungkin datang
dan salah satu golongan Arab.  Sekarang  mereka  yakin,  bahwa
mereka  hanya  akan  beroleh  nasib  buruk  saja apabila terus
bersitegang hendak berperang. Setelah  ternyata  mereka  dalam
putus-asa dan ketakutan, mereka meminta damai kepada Muhammad,
meminta  jaminan  keamanan  atas  harta-benda,   darah   serta
anak-anak keturunan mereka; sampai mereka keluar dari Medinah.
Muhammad pun mengabulkan permintaan mereka; asal mereka keluar
dari  kota  itu:  Setiap  tiga orang diberi seekor unta dengan
muatan harta-benda; persediaan makanan dan minuman sesuka hati
mereka.  Di  luar itu tidak ada. Pihak Yahudi menerima. Mereka
dipimpin oleh Huyayy b. Akhtab.
 
Dalam perjalanan itu mereka ada yang berhenti di Khaibar, yang
lain  meneruskan  perjalanan  sampai  ke  Adhri'at di bilangan
Syam.  Harta-benda  yang  mereka  tinggalkan  menjadi   barang
rampasan Muslimin yang terdiri dari hasil bumi, senjata berupa
50 buah baju besi, 340 bilah pedang, di  samping  tanah  milik
orang-orang  Yahudi itu. Tetapi tanah ini tidak dapat dianggap
sebagai   rampasan   perang;   oleh   karenanya   tak    dapat
dibagi-bagikan  kepada  kaum  Muslimin,  melainkan  khusus  di
tangan  Rasulullah  yang  nantinya  akan  ditentukan   sendiri
menurut    kebijaksanaannya.    Dan    tanah    itu   kemudian
dibagi-bagikan kepada golongan Muhajirin yang pertama di  luar
golongan   Anshar,  setelah  dikeluarkan  bagian  khusus  yang
hasilnya akan menjadi hak fakir-miskin. Dengan  demikian  kaum
Muhajirin  itu  tidak  perlu  lagi harus menerima bantuan kaum
Anshar dan inipun sudah menjadi harta  kekayaan  mereka.  Dari
pihak  Anshar  yang turut mendapat bagian hanya Abu Dujana dan
Sahl b. Hunaif, yang sudah terdaftar sebagai orang miskin.
 
Muhammad memberikan bagian kepada mereka  ini  seperti  kepada
kaum Muhajirin.
 
Dari  golongan  Yahudi  Banu Nadzir sendiri tak ada yang masuk
Islam kecuali dua  orang.  Mereka  masuk  Islam  karena  harta
mereka, yang kemudian mereka peroleh kembali.
 
Tidak begitu sulit orang akan menilai arti kemenangan Muslimin
serta pengosongan Banu Nadzir dari Medinah itu,  setelah  kita
kemukakan  betapa  Rasul  .a.s.  memperhitungkan, bahwa adanya
mereka  di  tempat  itu   akan   memberikan   semangat   dalam
menimbulkan  bibit-bibit  fitnah,  akan  mengajak  orang-orang
munafik itu mengangkat  kepala  setiap  mereka  melihat  pihak
Muslimin  mendapat  bencana  dan  mengancam  timbulnya  perang
saudara bila saja ada musuh menyerang kaum Muslimin.
 
Tentang perginya Banu Nadzir itu Surah Hasyr (59) ini turun:
 
"Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang bersikap munafik,
yang  berkata  kepada saudara-saudaranya yang tak beriman dari
kalangan Ahli Kitab: Kalau kamu diusir  keluar,  niscaya  kami
pun  akan keluar bersama kamu, dan tidak sekali-kali kami akan
dipengaruhi oleh siapa pun  menghadapi  persoalanmu  ini;  dan
kalau kamu dipengaruhi niscaya kami pun akan membelamu. Tetapi
Tuhan  mengetahui,  bahwa  mereka  adalah   pendusta   belaka.
Kalaupun  mereka ini diusir keluar, mereka pun tidak akan ikut
bersama-sama keluar, juga kalau mereka ini  diperangi,  mereka
pun  tidak  akan  turut  membantu.  dan kalaupun mereka sampai
membantu, niscaya mereka akan  lari  mengundurkan  diri;  lalu
mereka  ini  tidak  mendapat  pertolongan.  Sungguh dalam hati
mereka kamu sangat ditakuti lebih dari Allah. Demikian itulah,
sebab  mereka  adalah  golongan yang tidak mengerti." (Qur'an,
59: 11-13)
 
Kemudian  Surah  itu  dilanjutkan  dengan  memberi  keterangan
tentang   iman  dan  kekuasaannya.  Iman  hanya  kepada  Allah
semata-mata. Bagi jiwa  manusia,  yang  tahu  harga  diri  dan
kehormatan dirinya, yang dikenalnya hanyalah kekuasaan Tuhan.
 
"Dialah  Allah. Tiada tuhan selain Dia. Maha mengetahui segala
yang gaib dan yang nyata. Dia Pengasih dan  Penyayang.  Dialah
Allah.  Tiada tuhan selain Dia. Maha Raja, Maha Kudus. Pembawa
Keselamatan, Keamanan, Penjaga  segalanya,  Maha  Kuasa,  Maha
Perkasa,  Maha  Agung. Maha Suci Allah dari segala yang mereka
persekutukan.  Dialah  Allah.  Pencipta,  Pengatur,  Pembentuk
rupa,  PadaNyalah  ada  Asma  Yang  Indah.  Segala yang ada di
langit dan di bumi berbakti kepadaNya.  Dan  Dia  Maha  Kuasa,
Maha Bijaksana." (Qur'an, 59: 22 - 24)

Sampai  pada  waktu  dikosongkannya  Medinah dari Banu Nadzir,
yang menjadi sekretaris Nabi ketika itu  ialah  orang  Yahudi.
Hal  ini  dimaksudkan  untuk memudahkan pengiriman surat-surat
dalam bahasa Ibrani dan  Asiria.  Tetapi  setelah  orang-orang
Yahudi  keluar,  Nabi  jadi kuatir kalau jabatan yang memegang
rahasianya itu bukan di  tangan  orang  Islam.  Dari  kalangan
pemuda  Islam  di  Medinah  dimintanya  Zaid  b. Thabit supaya
mempelajari kedua bahasa tersebut, yang  dalam  segala  urusan
kemudian  ia  akan menjadi sekretaris Nabi. Dan Zaid b. Thabit
inilah yang telah mengumpulkan Qur'an pada masa  khilafat  Abu
Bakr,  dan  dia  pula  yang  kembali dan mengawasi pengumpulan
Qur'an  tatkala  terjadi  perbedaan  cara  membaca  pada  masa
pemerintahan  Usman.  Lalu  yang  dipakai hanya Mushhaf Usman,
yang lain dibakar.
 
Suasana Medinah  jadi  tenteram  setelah  Yahudi  Banu  Nadzir
keluar.  Pihak  Muslimin  tidak  lagi  merasa  takut  terhadap
orang-orang  munafik.  Bahkan  kaum  Muhajirin  bersuka   hati
memperoleh  tanah  bekas orang-orang Yahudi itu. Juga kalangan
Anshar  turut  gembira  karena  Muhajirin  sudah  tidak   lagi
bergantung pada bantuan mereka. Hati mereka semua merasa lega.
Dalam suasana yang begitu  tenang,  aman  dan  tenteram,  baik
Muhajirin  maupun  Anshar,  semua  mereka merasa senang. Dalam
pada mereka dalam  keadaan  demikian,  setelah  berlalu  waktu
setahun   sejak   peristiwa   Uhud,   teringat  oleh  Muhammad
'alaihi'sh  shalatu  was-salam  -  ucapan  Abu  Sufyan:  "Yang
sekarang  ini  untuk peristiwa perang Badr. Sampai jumpa tahun
depan!"  serta  ajakannya  kepada  Muhammad  untuk  mengadakan
perang Badr lagi. Tetapi tahun itu sedang terjadi musim kering
(paceklik). Harapan Abu  Sufyan  ialah  sekiranya  perang  itu
diadakan dalam waktu lain saja.
 
Untuk  itu  diutusnya  Nusaim  (b.  Mas'ud)  ke Medinah dengan
mengatakan  kepada  pihak  Muslimin,   bahwa   Quraisy   telah
mengerahkan  tentaranya  begitu  besar  yang belum ada taranya
dalam sejarah Arab; sudah siap  akan  memerangi  mereka,  akan
menghancur-luluhkan  mereka  sehingga tidak akan tersisa lagi.
Tampaknya kaum Muslimin pun mau menghindari bahaya itu. Banyak
diantara  mereka yang memperlihatkan keengganan pergi ke Badr.
Tetapi Muhammad jadi marah karena sikap lemah  dan  mau  surut
itu.  Ia  bersumpah  mengatakan  kepada  mereka, bahwa ia akan
pergi juga ke Badr walaupun seorang diri.

Melihat kejengkelan yang luar  biasa  itu  segala  sikap  maju
mundur  dan  perasaan takut-takut segera lenyap. Kaum Muslimin
sekarang siap memanggul senjata dan berangkat ke  Badr.  Dalam
hal  ini  pimpinan  kota  Medinah  oleh Nabi diserahkan kepada
Abdullah b. Abdullah b. Ubayy b. Salul.
 
Muslimin  yang  sudah  sampai  di  Badr,  sekarang  menantikan
kedatangan Quraisy. Mereka sudah siap bertempur. Demikian juga
pihak Quraisy dengan pimpinan Abu Sufyan sudah pula  berangkat
dari Mekah dengan kekuatan 2000 orang. Tetapi sesudah dua hari
perjalanan  tampaknya  Abu  Sufyan  mau  kembali  pulang.   Ia
memanggil-manggil teman-temannya sambil katanya:
 
"Saudara-saudara dari Quraisy, sebenarnya yang cocok buat kita
hanyalah dalam musim subur, sedang sekarang kita  dalam  musim
kering.  Saya  sendiri mau kembali pulang. Maka pulang sajalah
kamu sekalian."
 
Mereka itu kembali pulang.
 
Tinggal lagi Muhammad dengan tentara Muslimin  selama  delapan
hari  terus-menerus menantikan mereka, yang selama di Badr itu
pula waktu  mereka  pergunakan  sambil  berdagang.  Dan  dalam
perdagangan  itu  mereka  mendapat  laba.  Mereka  kembali  ke
Medinah pun kemudian dengan gembira,  telah  mendapat  karunia
dari Tuhan. Dalam Badr Terakhir itulah firman Tuhan ini turun:
 
"Mereka yang berkata kepada teman-temannya, dan mereka sendiri
tinggal di belakang:  'Sekiranya  mereka  itu  mengikut  kita,
niscaya  mereka  takkan  mati  terbunuh.'  Katakanlah: Cobalah
hindarkan dirimu dari kematian, kalau memang kamu  orang-orang
yang  benar.  Jangan  kamu  kira  orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah itu sudah mati. Tidak!  Mereka  itu  hidup  dengan
mendapat  bagian  dari  Tuhan.  Mereka  dalam  suasana gembira
karena karunia yang diberikan Tuhan juga; mereka girang sekali
terhadap mereka yang tidak ikut dan tinggal di belakang, bahwa
mereka tidak merasa takut dan tidak pula  berdukacita.  Mereka
girang  karena  karunia  dan nikmat Tuhan dan Tuhan tidak akan
menghilangkan jasa orang-orang beriman, orang-orang yang telah
memenuhi  panggilan,  Tuhan  dan  Rasul  meskipun mereka sudah
mengalami malapetaka, orang-orang yang berbuat baik dan  dapat
memelihara  diri  dari  kejahatan;  mereka  itulah  yang  akan
mendapat pahala besar. Orang yang sudah berkata kepada mereka:
'Sebenarnya  orang-orang  sudah berkumpul hendak melawan kamu.
Karena itu hendaklah kamu takut kepada mereka. Tetapi hal  ini
bahkan  menambah  kuat  iman  mereka,  dan jawab mereka: Cukup
Tuhan bersama  kami  dan  Ia  Pelindung  yang  sebaik-baiknya.
Mereka  kembali  mendapatkan  nikmat  dan  karunia dari Tuhan.
Mereka tidak mengalami bencana, dan mereka mengikut  perkenaan
Allah.  Dan  Allah  Maha  Pemberi  karunia  yang  besar.  Yang
demikian    itu    hanyalah    setan    yang    menakut-nakuti
pengikut-pengikutnya.  Jangan  kamu  takut kepada mereka, tapi
takutlah  kepadaKu,   kalau   benar-benar   kamu   orang-orang
beriman." (Qura'an, 3: 168 - 175)
 
Dengan  demikian  perang  Badr yang terakhir benar-benar telah
menghapus pengaruh perang Uhud samasekali. Buat Quraisy  hanya
tinggal  lagi  menunggu  kesempatan  lain, dengan tetap mereka
bergelimang dalam  kecemaran  karena  sifat  pengecutnya  yang
tidak  kurang cemarnya dari kekalahan yang mereka derita dalam
perang Badr pertama.
 
Dengan pertolongan Tuhan itu Muhammad merasa lega  tinggal  di
Medinah,  merasa  tenteram  hatinya karena kewibawaan Muslimin
kini  telah  kembali.  Sungguhpun  begitu  ia  selalu  waspada
terhadap  segala  tipu-muslihat  musuh,  selalu  awas-awas  ke
segenap jurusan.

Sementara  dalam  keadaan  demikian  itu,  tiba-tiba  terbetik
berita,  bahwa  ada sebuah kelompok dari Ghatafan di Najd yang
sedang bersepakat hendak memeranginya.  Dan  taktiknya  selalu
dalam  hal  ini ialah menyergap musuh secara tiba-tiba sebelum
musuh itu sempat  mengadakan  persiapan  mempertahankan  diri.
Oleh  karena  itulah,  dengan  kekuatan  empat  ratus orang ia
berangkat  menuju  Dhat'r-Riqa'.  Di  tempat  ini  pihak  Banu
Muharib  dan  Banu  Tha'laba  dari  Ghatafan  sudah berkumpul.
Begitu  ia  dilihat  oleh  mereka,   ia   langsung   melakukan
penyerbuan  ke  tempat-tempat  mereka itu. Dengan meninggalkan
kaum wanita dan harta, mereka lari tunggang-langgang. Apa yang
dapat  dibawa  oleh  Muslimin  dibawanya,  dan  mereka kembali
pulang ke Medinah.
 
Akan tetapi,  karena  dikuatirkan  pihak  musuh  akan  kembali
menyerang  mereka,  siang  malam  mereka pun secara bergantian
mengadakan penjagaan. Dalam pada itu dalam memimpin sembahyang
juga  oleh  Muhammad  dilakukan dengan salat khauf.1 Dalam hal
ini  sebagian  mereka  menghadap  ke  jurusan  musuh,   karena
dikuatirkan kalau-kalau pihak musuh menyusul menyerang mereka,
sementara mereka sedang bersembahyang dua raka'at bersama-sama
Muhammad  itu. Akan tetapi selama itu tidak ada bayangan musuh
yang tampak. Kemudian  Nabi  dan  sahabat-sahabat  kembali  ke
Medinah  setelah  15 hari meninggalkan kota itu. Dengan sukses
demikian ini mereka kembali dengan gembira sekali.

Tidak lama sesudah itu Nabi pun  berangkat  lagi  dalam  suatu
ekspedisi,  yakni ekspedisi Dumat'l-Jandal. Dumat'l-Jandal ini
adalah sebuah wahah (oasis) pada perbatasan  Hijaz-Syam,  yang
terletak pada pertengahan jalan antara Laut Merah dengan Teluk
Persia.  Muhammad  sendiri   tidak   sampai   bertemu   dengan
kabilah-kabilah  yang  ingin  dihadapinya  itu  dan  yang suka
menyerang kafilah-kafilah di sana; sebab baru mereka mendengar
namanya  saja,  mereka  sudah  ketakutan dan sudah kabur lebih
dulu, dengan meninggalkan harta  benda  yang  kemudian  dibawa
Muslimin sebagai barang ghanima (rampasan perang). Berdasarkan
batas Dumat'l-Jandal secara geografis kita sudah dapat melihat
betapa  luasnya  pengaruh Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu,
betapa  jauhnya  kekuasaan  mereka  dan  betapa  pula  seluruh
jazirah  itu  merasa takut. Begitu juga kita melihat bagaimana
Muslimin   itu   menanggung   segala   macam    beban    dalam
ekspedisi-ekspedisi  itu,  dengan  tidak pedulikan panas terik
yang rnembakar, tanah yang kering dan gersang, air yang  sukar
diperoleh, bahkan maut sendiri pun tidak lagi mereka hiraukan.
Hanya satu yang menggerakkan mereka sampai mencapai kemenangan
dan  sukses  itu,  yang telah memberikan kekuatan moril kepada
mereka, yaitu: keteguhan iman, iman yang  hanya  kepada  Allah
semata-mata.
 
Sekarang  tiba  waktunya buat Muhammad beristirahat di Medinah
untuk selama beberapa bulan berikutnya,  sementara  menantikan
Quraisy  sampai  tahun  depan  -  tahun  kelima  Hijrah  - dan
menjalankan  perintah  Tuhan   menyelesaikan   suatu   susunan
masyarakat  bagi  umat  Islam  yang  baru  tumbuh  itu,  suatu
organisasi yang pada waktu itu meliputi  beberapa  ribu  orang
dan  yang  kemudian  akan  meliputi jutaan bahkan ratusan juta
umat  Islam.  Dalam  membuat  struktur  masyarakat   itu,   ia
bertindak  dengan  cara  yang  begitu  cermat dan baik sekali,
sejalan dengan  wahyu  Tuhan  yang  diberikan  kepadanya,  dan
ditentukannya   sendiri  pula  mana-mana  yang  sesuai  dengan
perintah dan  ajaran  wahyu  itu,  dengan  ketentuan-ketentuan
terperinci  yang  oleh  sahabat-sahabat  pada waktu itu diberi
tempat yang suci, dan  yang  selanjutnya  akan  tetap  berlaku
begitu  sepanjang masa dan generasi; wahyu yang tiada dimasuki
kepalsuan dari manapun juga, baik dari semula  maupun  sesudah
itu.
 
Catatan kaki:
 
 1 Shalat'l-khauf, harfiah salat ketakutan, yakni
   sembahyang darurat dalam keadaan bahaya. Syarat-syarat
   dan ketentuan-ketentuannya terdapat dalam buku-buku
   fikih (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Sabtu, 10 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (32)

ABU SUFYAN telah kembali dari  Uhud  ke  Mekah.  Berita-berita
kemenangannya  sudah lebih dulu sampai, yang disambut penduduk
dengan rasa gembira, karena  dianggap  sudah  dapat  menghapus
cemar yang dialami Quraisy selama di Badr. Begitu sampai ia ke
Mekah, langsung menuju Ka'bah  sebelum  ia  pulang  ke  rumah.
Kepada  Hubal  dewa  terbesar  ia  menyatakan puji dan syukur.
Dicukurnya lebih dulu rambut yang di bawah telinganya, lalu ia
pulang  ke rumah sebagai orang yang sudah memenuhi janji bahwa
ia  takkan  mendekati  isterinya  sebelum  dapat   mengalahkan
Muhammad.
 
Sebaliknya  kalangan  Muslimin,  mereka  melihat  kota Medinah
sudah  banyak  terasa  aneh  sekali,  meskipun   musuh   tetap
mengejar-ngejar  mereka. Selama tiga hari terus-menerus mereka
tetap  tabah  menghadapi  musuh  yang  masih  tidak  mempunyai
keberanian   menghadapi   mereka  itu.  Padahal  belum  selang
duapuluh empat jam yang lalu musuh telah merasa sebagai  pihak
yang menang.
 
Pihak Muslimin melihat keadaan Medinah itu sudah terasa banyak
sekali mengalami perubahan,  meskipun  kekuasaan  Muhammad  di
kota  itu tetap di atas. Dalam pada itu Nabi as. merasa, bahwa
keadaan memang sudah sangat genting dan  gawat  sekali,  bukan
hanya  dalam  kota  Medinah  saja, bahkan juga sudah melampaui
sampai kepada kabilah-kabilah Arab lainnya, yang memang  sudah
merasa  ketakutan. Peristiwa Uhud membawa perasaan lega kepada
mereka, sehingga terpikir oleh mereka itu hendak  menentangnya
lagi  dan  mengadakan  perlawanan.  Oleh  karena  itu ia ingin
sekali mengikuti berita-berita sekitar  penduduk  Medinah  dan
kalangan  Arab  umumnya,  yang  kiranya  akan memberikan suatu
kemungkinan  menempatkan  kembali  kedudukan,   kekuatan   dan
kewibawaan Muslimin kedalam hati mereka.
 
Berita  pertama  yang sampai kepadanya sesudah peristiwa Uhud,
ialah bahwa Tulaiha dan Salama bin Khuailid dua  bersaudara  -
dan  keduanya  waktu  itu  yang  memimpin  Banu  Asad - sedang
mengerahkan masyarakatnya dan  mereka  yang  mau  mentaatinya,
untuk  menyerang Medinah dan menyerbu Muhammad sampai ke dalam
rumahnya  sendiri  dengan  maksud  memperoleh  keuntungan  dan
merampas  ternak  Muslimin  yang  dipelihara  di ladang-ladang
sekeliling kota itu. Yang menyebabkan  mereka  berani  berbuat
begitu ialah karena anggapan bahwa Muhammad dan teman-temannya
masih menderita karena telah mengalami pukulan hebat selama di
Uhud.

Berita  itu  terbetik  juga oleh Nabi. Ia segera memanggil Abu
Salama b. Abd'l-Asad yang lalu diserahi pimpinan pasukan  yang
terdiri  dari  150  orang,  termasuk Abu 'Ubaida bin'l-Jarrah,
Sa'd b. Abi Waqqash dan Usaid b. Hudzair. Mereka diperintahkan
supaya  berjalan  pada  malam  hari  dan  siangnya bersembunyi
dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui  orang,  supaya
jangan  ada  orang yang mengenal jejak mereka. Dengan demikian
mereka akan dapat menyergap musuh dengan cara  yang  tiba-tiba
sekali. Perintah ini oleh Abu Salama dilaksanakan. Ia berhasil
menyerbu musuh dalam  keadaan  tidak  siap.  Dalam  pagi  buta
mereka  sudah  terkepung.  Dikalahkannya  anak  buahnya  dalam
menghadapi perjuangan itu.  Tetapi  pihak  musyrik  sudah  tak
dapat  bertahan  lagi.  Dua  pasukan  segera  dikirim mengejar
mereka dan merebut rampasan  perang  yang  ada.  Ia  dan  anak
buahnya  menunggu  di  tempat  itu  sambil  menantikan pasukan
pengejar itu kembali membawa rampasan perang.
 
Setelah seperlima rampasan itu dikeluarkan untuk Tuhan,  untuk
Rasul,   orang   miskin   dan  orang  yang  dalam  perjalanan,
selebihnya mereka bagi sesama mereka, lalu mereka  kembali  ke
Medinah  dengan  sudah  membawa  kemenangan.  Kewibawaan  yang
karena peristiwa Uhud itu terasa sudah  agak  berkuramg,  kini
mulai  kembali lagi. Hanya saja Abu Salama sendiri hidup tidak
lama lagi sesudah ekspedisi itu. Ia menderita luka-luka akibat
perang  Uhud  dan  luka-lukanya itu belum sembuh benar kecuali
yang tampak dari luar saja. Tetapi sesudah  ia  bekerja  keras
lukanya  itu  terbuka  dan  kembali  mengucurkan  darah,  yang
diderita terus sampai meninggalnya.

Sesudah itu kemudian sampai pula berita kepada Muhammad  bahwa
Khalid  b.  Sufyan b. Nubaih al-Hudhali yang tinggal di Nakhla
atau  di  'Urana  telah   mengumpulkan   orang   pula   hendak
menyerangnya.  Mendengar ini Muhammad segera mengutus Abdullah
b.  Unais  meneliti  dan  mencek  kebenaran  berita  tersebut.
Abdullah  berjalan  menuju  ke  tempat Khalid, yang ketika itu
dijumpainya  ia  sedang  berada  di   rumah   bersama   dengan
isteri-isterinya.
 
"Siapa kamu," tanya Khalid setelah Abdullah sampai.
 
"Saya  dari  golongan  Arab  juga,"  jawabnya. "Mendengar tuan
mengumpulkan orang hendak menyerang Muhammad maka saya  datang
kemari."
 
Khalid  berterus-terang,  bahwa  ia memang sedang mengumpulkan
orang  hendak  menyerang  Medinah.  Setelah  Abdullah  melihat
sekarang  ia  seorang  diri  jauh  dari anak-buahnya - kecuali
isteri-isterinya - dicarinya  jalan  supaya  ia  mau  berjalan
bersama-sama.  Begitu ia mendapat kesempatan dihantamnya orang
itu dengan pedangnya dan dia pun menemui ajalnya. Dibiarkannya
dia  di  tangan isteri-isterinya yang berkerumun menangisinya.
Sekembalinya  ke  Medinah  disampaikannya  berita  itu  kepada
Rasul.
 
Setelah  kematian  pemimpinnya itu, Banu Lihyan sebagai cabang
Hudhail  yang  selama  beberapa  waktu   tenang-tenang   saja,
sekarang  mulai  terpikir  akan  mengadakan  pembalasan dengan
suatu tipu-muslihat.
 
Pada  waktu  itulah  kabilah  yang  berdekatan  itu   mengutus
rombongan  kepada Muhammad dengan mengatakan: Di kalangan kami
ada beberapa orang Islam. Kirimkanlah beberapa  orang  sahabat
tuan  bersama  kami,  yang  akan dapat kelak mengajarkan hukum
agama dan Qur'an kepada kami.

Untuk menunaikan tugas agama yang mulia itu, setiap diperlukan
pada    waktu    itu    Muhammad    selalu    siap    mengutus
sahabat-sahabatnya untuk  memberikan  bimbingan  kepada  orang
dalam mengenal Tuhan dan agama yang benar, serta untuk menjadi
pengikut Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  menghadapi  lawan,
seperti  yang  sudah  kita lihat, ketika mereka dulu diutus ke
Medinah sesudah Ikrar 'Aqaba kedua. Oleh karena itu enam orang
sahabat besar kemudian diutusnya berangkat bersama-sama dengan
rombongan utusan itu. Tetapi sesampainya  di  suatu  pangkalan
air  kepunyaan Hudhail di bilangan Hijaz, di suatu daerah yang
disebut ar-Raji', ternyata  mereka  telah  dikhianati,  dengan
tindakan rombongan itu yang sudah tentu dengan meminta bantuan
Hudhail. Tetapi ini tidak membuat keenam  orang  Muslimin  itu
jadi  gugup  ketakutan,  yang dalam perlengkapannya itu mereka
hanya membawa pedang. Kaum Muslimin itu segera mencabut pedang
hendak  mempertahankan  diri.  Tetapi  pihak  Hudhail  berkata
kepada mereka:
 
"Demi Allah, kami tidak ingin membunuh kamu. Tapi dengan  kamu
ini kami ingin memperoleh keuntungan dari penduduk Mekah. Kami
berjanji atas nama Tuhan bahwa kami tidak  bermaksud  membunuh
kamu."
 
Keenam  orang  Muslim  itu  berpandang-pandangan. Mereka sadar
sudah bahwa dibawanya mereka satu-satu ke  Mekah  itu  berarti
suatu  penghinaan yang sebenarnya lebih jahat dari pembunuhan.
Mereka menolak  janji  Hudhail  itu,  dan  mereka  tetap  akan
mengadakan  perlawanan, meskipun mereka sudah menyadari, bahwa
dalam jumlah yang sekecil itu mereka tidak berdaya. Tiga orang
dari  mereka  ini  dibunuh  oleh Hudhail, sedang sisanya sudah
makin tak berdaya. Mereka semua ditangkap dan  dibawa  sebagai
tawanan, yang kemudian dibawa ke Mekah dan dijual. Abdullah b.
Tariq, salah seorang dari ketiga orang  Islam  itu  di  tengah
jalan  berhasil  melepaskan  belenggu  dari  tangannya lalu ia
mencabut pedang. Oleh karena rombongan  yang  lain  berada  di
belakangnya,  dihujaninya  ia  dengan  batu  dan  ia  puntewas
karenanya.
 
Kedua orang tawanan lainnya  sempat  dibawa  oleh  Hudhail  ke
Mekah,  lalu dijual. Zaid bin'd-Dathinna dijual kepada Shafwan
b. Umayya yang sengaja membelinya untuk dibunuh. Ia diserahkan
kepada  Nastas,  budaknya  supaya  membunuhnya sebagai balasan
atas kematian ayahnya Umayya b. Khalaf.  Ketika  dibawa,  oleh
Abu Sufyan ia ditanya:
 
 "Zaid,   sangat   kuharapkan   sekali.   Bersediakah   engkau
memberikan tempatmu itu kepada Muhammad?  Dialah  yang  harus
dipenggal   lehernya,   sedang  engkau  dapat  kembali  kepada
keluargamu."
 
"Tidak," jawab Zaid. "Sekiranya Muhammad ditempatnya  sekarang
ini  akan  menderita karena tusukan duri sekalipun, sedang aku
di tempat keluarga, aku tidak sudi."
 
Abu Sufyan kagum sekali, seraya katanya:
 
"Belum  pernah  aku  melihat  seseorang   mencintai   kawannya
demikian   rupa  seperti  sahabat-sahabat  Muhammad  mencintai
Muhammad."
 
Zaid lalu dibunuh oleh  Nastas.  Maka  ia  pun  gugur  sebagai
syahid yang memegang teguh agama dan amanat Nabi.

Adapun  Khubaib  waktu itu dalam penjara, yang kemudian dibawa
keluar untuk disalib. Tapi ia berkata kepada mereka:
 
"Dapatkah kamu membiarkan  aku  sekadar  melakukan  salat  dua
raka'at?"
 
Permintaan  demikian  itu  dikabulkan.  Iapun  sembahyang  dua
raka'at dengan baik dan sempurna. Kemudian ia menghadap mereka
lagi:
 
"Kalau   tidak   karena   kamu  akan  menyangka  saya  sengaja
memperlambat karena takut dibunuh,  niscaya  saya  masih  akan
sembahyang lebih banyak lagi."
 
Setelah   ia  dinaikkan  dan  diikat  di  atas  tonggak  kayu,
dipandangnya mereka itu dengan mata sayu seraya katanya:
 
"Ya Allah, hitungkan bilangan  mereka  itu,  binasakan  mereka
dalam keadaan cerai-berai dan jangan dibiarkan seorangpun dari
mereka itu."
 
Mendengar  suara  yang  keras  itu  mereka   gemetar,   mereka
merebahkan  diri  takut terkena kutukannya. Sesudah itu ia pun
dibunuh. Seperti Zaid yang telah gugur sebagai syahid, Khubaib
juga  kemudian gugur pula sebagai syahid untuk agama dan untuk
Nabi. Dua ruh yang suci itu pun kini melayang  pula.  Padahal,
sebenarnya   mereka   akan   dapat   menyelamatkan  diri  dari
pembunuhan itu kalau saja mereka mau jadi murtad  meninggalkan
agamanya.  Tetapi  demi  keyakinan mereka kepada Tuhan, kepada
keluhuran rohani dan hari kemudian - tatkala setiap jiwa hanya
akan  mendapat  balasan sesuai dengan perbuatannya dan tak ada
orang yang akan memikul beban orang lain - mereka melihat maut
itu  -  sebagai  tujuan hidup - adalah tujuan yang paling baik
dalam hidupnya demi akidah,  demi  iman  dan  demi  kebenaran.
Mereka  pun yakin bahwa darah mereka, yang kini ditumpahkan di
atas  bumi  Mekah,  akan  memanggil  saudara-saudaranya   kaum
Muslimin  supaya  memasuki kota itu sebagai pihak yang menang,
yang akan  menghancurkan  berhala-berhala,  akan  membersihkan
segala  noda  paganisma  dan  kehidupan  syirik.  Dan kesucian
Ka'bah sebagai Baitullah akan  dikembalikan  juga  sebagaimana
mestinya,  bersih  dari  segala  sebutan nama-nama selain asma
Allah.

Dalam menghadapi peristiwa ini pihak Orientalis  tidak  bicara
apa-apa  seperti ketika menghadapi peristiwa tawanan Badr yang
dibunuh pihak Muslimin. Mereka tidak berusaha untuk  memandang
jijik  perbuatan  khianat yang diiakukan Banu Hudhail terhadap
dua orang yang tidak berdosa  itu,  yang  bukan  ditawan  dari
medan  perang,  tapi  diambil  dengan cara tipu-muslihat, yang
berangkat  karena  perintah   Rasul   dengan   maksud   supaya
mengajarkan  agama kepada orang-orang yang mengkhianati mereka
itu,  orang-orang  yang  menyerahkan  mereka  kepada  Quraisy,
setelah  kawan-kawannya yang lain pun dibunuh secara gelap dan
licik.  Kaum  Orientalis  tidak  menganggap  jijik   perbuatan
Quraisy  terhadap  dua  orang yang tak bersenjata itu, padahal
apa yang mereka lakukan adalah suatu  perbuatan  pengecut  dan
tindakan  permusuhan yang rendah sekali. Pada dasarnya prinsip
kejujuran yang harus menjadi pegangan  kaum  Orientalis,  yang
merasa  tidak  dapat menerima apa yang dilakukan kaum Muslimin
terhadap dua tawanan perang Badr itu, ialah akan merasa  jijik
sekali terhadap pengkhianatan Quraisy yang menerima penyerahan
dua orang untuk dibunuh itu, sesudah empat orang lainnya  yang
didatangkan  atas  permintaan  mereka untuk mengajarkan agama,
telah lebih dulu pula mereka bunuh.
 
Semua Muslimin merasa sedih, Muhammad juga merasa sedih sekali
atas  malapetaka  yang  telah  menimpa keenam orang yang gugur
sebagai syahid di jalan  Tuhan  karena  pengkhianatan  Hudhail
itu. Ketika itulah Hassan b. Thabit mengirimkan sajak-sajaknya
sebagai elegi yang mendalam sekali buat Khubaib dan Zaid.
 
Dalam pada itu lebih banyak lagi Muhammad  memikirkan  keadaan
umat Muslimin. Kuatir sekali ia kalau hal semacam itu terulang
lagi. Masyarakat Arab akan sangat merendahkan mereka.
 
Sementara ia  sedang  berpikir-pikir  demikian  itu  tiba-tiba
datang Abu Bara' 'Amir b. Malik. Muhammad menawarkan kepadanya
supaya ia sudi masuk Islam, tapi ia menolak. Sungguhpun begitu
juga  ia tidak menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam.
Bahkan katanya: "Muhammad, kalau  ada  sahabat-sahabatmu  yang
dapat diutus ke Najd dan mengajak mereka itu menerima ajaranmu
saya harap mereka itu akan menerima."
 
Tetapi    Muhammad    masih     kuatir     akan     melepaskan
sahabat-sahabatnya  itu  ke  Najd dan takut ia penduduk daerah
itu nanti akan mengkhianati mereka  seperti  pernah  dilakukan
Hudhail  terhadap  Khubaib dan kawan-kawan. Ia tidak yakin dan
tidak dapat mengabulkan permintaan Abu Bara'.
 
"Saya menjamin  mereka,"  katanya  lagi.  "Kirimkanlah  utusan
kesana untuk mengajak mereka menerima ajaranmu."
 
Abu  Bara' adalah orang yang ditaati di kalangan masyarakatnya
dan  didengar  orang  perkataannya.  Barangsiapa  yang   sudah
diberinya  perlindungan ia tidak kuatir akan mendapat serangan
pihak lain.
 
Dengan demikian Muhammad mengutus al-Mundhir b. 'Amr dari Banu
Sa'ida  dengan  memimpin 40 orang Muslimin pilihan. Mereka pun
berangkat. Sampai di Bi'ir Masuna - antara daerah  Banu  'Amir
dan  Banu  Sulaim - mereka berhenti. Dari sana mereka mengutus
Haram  b.  Milhan  membawa   surat   Muhammad   kepada   'Amir
bin't-Tufail.  Tetapi  oleh  'Amir  surat itu tidak dibacanya,
malah orang yang membawanya dibunuh,  dan  dia  minta  bantuan
Banu  'Amir  supaya  membunuhi  kaum  Muslimin. Tetapi setelah
mereka    menolak    untuk    melakukan    pelanggaran    atas
pertanggung-jawaban dan perlindungan yang telah diberikan oleh
Abu  Bara'  'Amir  meminta   bantuan   kabilah-kabilah   lain.
Permintaan  ini oleh mereka dipenuhi dan kemudian bersama-sama
dia mereka  berangkat  dan  mengepung  rombongan  Muslimin  di
tempat  itu.  Melihat  keadaan  ini  pihak Muslimin pun segera
mencabut  pedang.  Mereka  mengadakan  perlawanan  mati-matian
sampai akhirnya mereka terbunuh semua.
 
Hanya  Ka'b  b. Zaid yang masih selamat, yang dibiarkan begitu
saja oleh Ibn't-Tufail. Ternyata ia belum  mati.  Kemudian  ia
pun  pergi  pulang  ke  Madinah. Demikian juga 'Amr b. Umayya,
yang oleh 'Amir bin't-Tufail dimerdekakan karena dikiranya  ia
masih  terikat  dengan  suatu  niat  ibunya.  Dalam perjalanan
pulang di tengah jalan 'Amr  bertemu  dengan  dua  orang  yang
dikiranya  turut  menyerang kawan-kawannya. Dibiarkannya kedua
orang itu sampai tidur lebih dulu,  kemudian  diserangnya  dan
dibunuhnya.  Sesudah  itu  ia  melanjutkan lagi perjalanannya.
Sesampainya  di  Medinah  diberitahukannya  perbuatannya   itu
kepada  Rasul  a.s.  Ternyata kedua orang itu dari Banu 'Amir,
dari golongan Abu Bara'  dan  yang  juga  terikat  oleh  suatu
perjanjian Jiwar (bertetangga baik) dengan Rasulullah, dan ini
berarti harus diselesaikan dengan diat.
 
Bukan main Muhammad menahan perasaan pilu karena pembunuhan di
Bi'ir  Ma'una itu. Sungguh berat hatinya menahan dukacita atas
sahabat-sahabatnya itu. Ia berkata: "Ini adalah perbuatan  Abu
Bara'. Sejak semula saya sudah berat hati dan kuatir sekali."
 
Abu Bara' juga merasa sangat terpukul karena pelanggaran 'Amir
bin't-Tufail atas dirinya itu. Karena itu, Rabi'a anaknya lalu
bertindak  menghantam 'Amir dengan tombak sebagai balasan atas
perbuatannya terhadap ayahnya. Begitu dalamnya  rasa  dukacita
Muhammad  sehingga sebulan penuh setiap selesai salat Subuh ia
berdoa semoga Tuhan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang
telah  membunuh  sahabat-sahabatnya itu. Demikian juga seluruh
umat Muslimin turut merasa pilu karena malapetaka  yang  telah
menimpa  saudara-saudaranya seagama itu, meskipun sudah dengan
penuh iman bahwa  mereka  semua  gugur  sebagai  syuhada,  dan
mereka semua akan mendapat surga.

Malapetaka  yang  telah  menimpa kaum Muslimin di Raji' dan di
Bi'ir Ma'una mengingatkan kaum munafik dan Yahudi Medinah akan
kemenangan  Quraisy  di  Uhud,  dan  membuat  mereka lupa akan
kemenangan Muslimin atas Banu Asad, juga mengurangi  pandangan
mereka  terhadap  kewibawaan  Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Dalam menghadapi hal ini sekarang Nabi  a.s.  berpikir  dengan
suatu  pemikiran  politik  yang  cermat sekali serta pandangan
yang jauh. Ketika itu bahaya yang paling besar mengancam  kaum
Muslimin  ialah  sikap  penduduk  Medinah  yang  kiranya  akan
merendahkan  kewibawaan  mereka.  Begitu  juga   yang   sangat
diharapkan   oleh  kabilah-kabilah  Arab,  mereka  akan  dapat
menanamkan  perpecahan  didalam,  yang  berarti   akan   dapat
menimbulkan  perang  saudara jika nanti ada saja tetangga yang
menyerbu Medinah. Disamping itu pihak Yahudi  dan  orang-orang
munafik seolah-olah memang sedang menantikan bencana yang akan
menimpa itu. Karena itu dilihatnya tak  ada  jalan  lain  yang
lebih  baik  daripada  membiarkan  mereka,  supaya  nanti niat
mereka terbongkar.
 
Oleh karena Yahudi Banu Nadzir itu  sekutu  Banu  'Amir,  maka
Nabi berangkat  sendiri  ke  tempat  mereka -  yang tidak jauh
dari Quba'[  -    dengan  membawa   sepuluh   orang   Muslimin
terkemuka,  diantaranya  Abu  Bakr,  Umar  dan  Ali.  Ia minta
bantuan Banu Nadzir dalam membayar diat dua orang  yang  telah
dibunuh  tidak  sengaja  oleh  'Amr  b.  Umayya  itu dan tidak
diketahuinya pula bahwa  Nabi  telah  memberikan  perlindungan
kepada mereka.
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Kamis, 08 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (31)

Dalam  pada  itu orang-orang Yahudi itupun kembali ke Medinah.
Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:
 
"Kau  sudah  menasehatinya  dan  sudah  kauberikan  pendapatmu
berdasarkan  pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia
sependapat dengan kau. Lalu dia menolak dan menuruti  kehendak
pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya."
 
Percakapan  mereka  itu  sangat  menyenangkan  hati Ibn Ubayy.
Keesokan harinya ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan
teman-temanya  itu. Tinggal lagi Alabi dengan orang-orang yang
benar-benar beriman, yang berjumlah 700 orang, akan  berperang
menghadapi  3000  orang terdiri dan orang-orang Quraisy Mekah,
yang kesemuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi ketika
di Badr. Semua mereka ingin menuntut balas.
 
Pagi-pagi  sekali;  kaum  Muslimin berangkat menuju Uhud. Lalu
mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu
berada  di  belakang  mereka.  Selanjutnya  Muhammad  mengatur
barisan  para  sahabat.  Limapuluh   orang   barisan   pemanah
ditempatkan   di   lereng-lereng  gunung,  dan  kepada  mereka
diperintahkan:
 
"Lindungi kami dan belakang, sebab  kita  kuatir  mereka  akan
mendatangi  kami dari belakang. Dan bertahanlah kamu di tempat
itu,  jangan  ditinggalkan.  Kalau  kamu  melihat  kami  dapat
menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka,
kamu jangan meninggalkan tempat kamu. Dan jika kamu lihat kami
yang  diserang  jangan  pula  kami  dibantu,  juga jangan kami
dipertahankan. Tetapi tugasmu  ialah  menghujani  kuda  mereka
dengan  panah,  sebab  dengan  serangan  panah kuda itu takkan
dapat maju."
 
Selain  pasukan  pemanah,  yang   lain   tidak   diperbolehkan
menyerang siapapun, sebelum ia memberi perintah menyerang.
 
Adapun  pihak  Quraisy  merekapun juga sudah menyusun barisan.
Barisan kanan dipimpin oleh Khalid  bin'l-Walid  sedang  sayap
kin  dipimpin  oleh  'Ikrima  b.  Abi Jahl. Bendera diserahkan
kepada Abd'l 'Uzza Talha b. Abi Talha.  Wanita-wanita  Quraisy
sambil  memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah
barisan  itu.  Kadang  mereka  di  depan  barisan,  kadang  di
belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun bt. 'Utba, isteri Abu
Sufyan, seraya bertenak-teriak:
 
   Hayo, Banu Abd'd-Dar
   Hayo, hayo pengawal barisan belakang
   Hantamlah dengan segala yang tajam.
   Kamu maju kami peluk
   Dan kami hamparkan kasur yang empuk
   Atau kamu mundur kita berpisah
   Berpisah tanpa cinta.

Kedua belah pihak sudah siap  bertempur.  Masing-masing  sudah
mengerahkan  pasukannya.  Yang  selalu  teringat  oleh Quraisy
ialah  peristiwa  Badr  dan  korban-korbannya.   Yang   selalu
teringat  oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolonganNya.
Muhammad berpidato dengan memberi  semangat  dalam  menghadapi
pertempuran  itu.  Ia  menjanjikan  pasukannya  akan  mendapat
kemenangan apabila mereka tabah.  Sebilah  pedang  dipegangnya
sambil ia berkata:
 
"Siapa  yang  akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan
tugasnya?"
 
Beberapa orang tampil. Tapi pedang itu  tidak  pula  diberikan
kepada mereka. Kemudian Abu Dujana Simak b. Kharasya dari Banu
Sa'ida tampil seraya berkata:
 
"Apa tugasnya, Rasulullah?"
 
"Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada  musuh  sampai  ia
bengkok," jawabnya.
 
Abu Dujana seorang laki-laki yang sangat berani. Ia mengenakan
pita (kain) merah. Apabila  pita  merah  itu  sudah  diikatkan
orangpun  mengetahui,  bahwa ia sudah siap bertempur dan waktu
itupun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.
 
Pedang  diambilnya,  pita  dikeluarkan  lalu  diikatkannya  di
kepala.  Kemudian ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu
seperti biasanya apabila ia sudah siap menghadapi pertempuran.
 
"Cara berjalan begini  sangat  dibenci  Allah,  kecuali  dalam
bidang  ini,"  kata  Muhammad  setelah  dilihatnya  orang  itu
berlagak.
 
Orang pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak  itu
adalah Abu 'Amir 'Abd 'Amr b. Shaifi al-Ausi (dari Aus). Orang
ini sengaja pindah  dari  Medinah  ke  Mekah  hendak  membakar
semangat  Quraisy  supaya  memerangi Muhammad. Ia belum pernah
ikut dalam perang Badr. Sekarang  ia  menerjunkan  diri  dalam
perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus.
Ada juga budak-budak dari penduduk Mekah yang juga  dibawanya.
Menurut   dugaannya,   apabila   nanti   ia  memanggil-manggil
orang-orang Islam dari golongan  Aus  yang  ikut  berjuang  di
pihak  Muhammad,  niscaya  mereka  akan memenuhi panggilannya,
akan berpihak kepadanya dan membantu Quraisy.
 
"Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu  'Amir!"  teriaknya
memanggil-manggil.
 
Tetapi Muslimin dari kalangan Aus itu membalas:
 
"Tuhan takkan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka!"
 
Perangpun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta 'Ikrima b. Abi
Jahl yang berada di  sayap  kiri,  berusaha  hendak  menyerang
Muslimin  dari  samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka
dengan batu sehingga Abu 'Amir dan  pengikut-pengikutnya  lari
tunggang-langgang.  Ketika  itu  juga Hamzah b. Abd'l-Muttalib
berteriak, membawa teriakan perang Uhud:
 
"Mati, mati!" Lalu ia terjun ketengah-tengah  tentara  Quraisy
itu.  Ketika  itu  Talha  b.  Abi  Talha, yang membawa bendera
tentara Mekah berteriak pula:
 
"Siapa yang akan duel?"
 
Lalu Ali b. Abi Talib tampil menghadapinya. Dua orang dari dua
barisan  itu bertemu. Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan,
yang membuat kepala lawannya itu belah dua. Nabi  merasa  lega
dengan  itu.  Ketika  itu  juga  kaum  Muslimin  bertakbir dan
melancarkan serangannya. Dengan  pedang  Nabi  di  tangan  dan
mengikatkan  pita  maut  di  kepala,  Abu  Dujane  pun  terjun
kedepan. Dibunuhnya setiap  orang  yang  dijumpainya.  Barisan
orang-orang  musyrik  jadi  kacau-balau.  Kemudian  ia melihat
seseorang  sedang  mencencang-cencang  sesosok  tubuh  manusia
dengan  keras  sekali.  Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya
kepada orang itu. Tetapi ternyata orang itu adalah Hindun  bt.
'Utba.  Ia  mundur.  Terlalu  mulia  rasanya pedang Rasul akan
dipukulkan kepada seorang wanita.
 
Dengan secara keras sekali pihak Quraisypun menyerbu  pula  ke
tengah-tengah  pertempuran  itu. Darahnya sudah mendidih ingin
menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka
yang  sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan yang
tidak seimbang itu, baik  jumlah  orang  maupun  perlengkapan,
sekarang  berhadap-hadapan.  Kekuatan dengan jumlah yang besar
ini motifnya adalah balas-dendam, yang sejak perang Badr tidak
pernah  reda.  Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah:
pertama mempertahankan akidah, mempertahankan iman  dan  agama
Allah,    kedua    mempertahankan   tanah   air   dan   segala
kepentingannya. Mereka yang menuntut  bela  itu  terdiri  dari
orang-orang  yang  lebih  kuat  dan  jumlah pasukan yang lebih
besar.  Di  belakang  mereka  itu  kaum  wanita   turut   pula
mengobarkan  semangat.  Tidak  sedikit  di  antara mereka yang
membawa budak-budak itu  menjanjikan  akan  memberikan  hadiah
yang  besar  apabila  mereka  dapat  membalaskan  dendam  atas
kematian seorang bapa, saudara, suami  atau  orang-orang  yang
dicintai  lainnya,  yang  telah  terbunuh  di  Badr. Hamzah b.
Abd'l-Muttalib  adalah  seorang  pahlawan  Arab  terbesar  dan
paling  berani.  Ketika  terjadi perang Badr dialah yang telah
menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak  sedikit
orang-orang  yang  dicintainya  yang telah ditewaskan. Seperti
juga dalam perang Badr, dalam perang Uhud inipun Hamzah adalah
singa  dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta b. 'Abd
Syurahbil, Siba'  b.  'Abd'l-'Uzza  al-Ghubsyani,  dan  setiap
musuh yang dijumpainya nyawa mereka tidak luput dari renggutan
pedangnya.
 
Sementara itu Hindun bt. 'Utba telah pula menjanjikan  Wahsyi,
orang  Abisinia  dan  budak Jubair (b. Mut'im) akan memberikan
hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu  juga
Jubair   b.  Mut'im  sendiri,  tuannya,  yang  pamannya  telah
terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:
 
"Kalau Hamzah  paman  Muhammad  itu  kau  bunuh,  maka  engkau
kumerdekakan."  Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai
berikut:
 
"Kemudian aku berangkat bersama rombongan.  Aku  adalah  orang
Abisinia  yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia,
jarang sekali  meleset.  Ketika  terjadi  pertempuran,  kucari
Hamzah  dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah
orang banyak itu seperti seekor unta kelabu  sedang  membabati
orang  dengan  pedangnya.  Lalu  tombak kuayunkan-ayunkan, dan
sesudah pasti sekali kulemparkan. Ia tepat mengenai sasaran di
bawah  perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan
tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu  kuhampiri  dia
dan  kuambil  tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku
diam di sana, sebab sudah  tak  ada  tugas  lain  selain  itu.
Kubunuh   dia   hanya   supaya   aku  dimerdekakan  saja  dari
perbudakan. Dan sesudah aku  pulang  ke  Mekah,  ternyata  aku
dimerdekakan."
 
Adapun   mereka   yang   berjuang   mempertahankan  tanah-air,
contohnya terdapat pada Quzman, salah  seorang  munafik,  yang
hanya  pura-pura Islam. Ketika kaum Muslimin berangkat ke Uhud
ia tinggal di belakang. Keesokan harinya, ia  mendapat  hinaan
dari wanita-wanita Banu Zafar.
 
"Quzman,"  kata  wanita-wanita  itu. "Tidak malu engkau dengan
sikapmu itu. Seperti perempuan saja kau. Orang semua berangkat
kau tinggal dalam rumah."
 
Dengan  sikap berang Quzman pulang ke rumahnya. Dikeluarkannya
kudanya,  tabung  panah  dan  pedangnya.  Ia  dikenal  sebagai
seorang  pemberani.  Ia berangkat dengan memacu kudanya sampai
ke tempat tentara. Sementara itu Nabi sedang menyusun  barisan
Muslimin.  Ia  terus menyeruak sampai ke barisan terdepan. Dia
adalah orang pertama  dari  pihak  Muslimin  yang  menerjunkan
diri,  dengan  melepaskan  panah  demi  panah,  seperti tombak
layaknya.
 
Hari sudah menjelang  senja.  Tampaknya  ia  lebih  suka  mati
daripada  lari.  Ia  sendiri lalu membunuh diri sesudah sempat
membunuh tujuh orang Quraisy di Suway'a - selain  mereka  yang
telah dibunuhnya pada permulaan pertempuran. Tatkala ia sedang
sekarat itu, Abu'l-Khaidaq lewat di tempat itu.
 
"Quzman, beruntung kau akan mati syahid," katanya.
 
"Abu 'Amr," kata Quzman. "Sungguh saya  bertempur  bukan  atas
dasar  agama.  Saya  bertempur  hanya  sekadar  menjaga jangan
sampai Quraisy memasuki tempat  kami  dan  melanda  kehormatan
kami,  menginjak-injak  kebun kami. Saya berperang hanya untuk
menjaga nama keturunan masyarakat kami. Kalau tidak karena itu
saya tidak akan berperang."
 
Sebaliknya  mereka  yang  benar-benar beriman, jumlahnya tidak
lebih dari 700 orang. Mereka  bertempur  melawan  3000  orang.
Kita  sudah melihat, tindakan Hamzah dan Abu Dujana yang telah
memperlihatkan suatu teladan dalam arti  kekuatan  moril  yang
tinggi  pada  mereka  itu.  Suatu  kekuatan yang telah membuat
barisan   Quraisy   jadi   lemas   seperti   rotan,    membuat
pahlawan-pahlawan  Quraisy,  yang  tadinya  di  kalangan  Arab
keberaniannya dijadikan suri teladan, telah mundur dan  surut.
Setiap  panji  mereka  lepas  dari tangan seseorang, panji itu
diterima oleh yang lain di belakangnya. Setelah Talha  b.  Abi
Talha  tewas  di  tangan  Ali  datang  'Uthman  b.  Abi  Talha
menyambut bendera itu, yang juga kemudian menemui  ajalnya  di
tangan  Hamzah. Seterusnya bendera itu dibawa oleh Abu Sa'd b.
Abi Talha sambil berkata:
 
"Kamu mendakwakan bahwa  koban-korban  kamu  dalam  surga  dan
korban-korban  kami  dalam  neraka!  Kamu  bohong!  Kalau kamu
benar-benar  orang  beriman  majulah  siapa  saja   yang   mau
melawanku":
 
Entah  Ali  atau  Sa'd b. Abi Waqqash ketika itu menghantamkan
pedangnya  dengan  sekali  pukul  hingga  kepala   orang   itu
terbelah.
 
Berturut-turut pembawa bendera itu muncul dari Banu Abd'd Dar.
Jumlah mereka yang tewas telah mencapai sembilan  orang,  yang
terakhir  ialah  Shu'ab  orang Abisinia, budak Banu Abd'd-Dar.
Tangan kanan  orang  itu  telah  dihantam  oleh  Quzman,  maka
bendera  itu  dibawanya dengan tangan kiri. Tangan kiri inipun
oleh Quzman dihantam lagi dengan pedangnya.  Sekarang  bendera
itu  oleh Shu'ab dipeluknya dengan lengan ke dadanya, kemudian
ia membungkuk sambil berkata: Hai Banu Abd'd-Dar, sudahkah kau
maafkan?  Lalu  ia ditewaskan entah oleh Quzman atau oleh Sa'd
bin Abi Waqqash, sumbernya masih berbeda-beda.
 
Setelah mereka yang membawa bendera itu tewas  semua,  pasukan
orang-orang  musyrik  itu hancur. Mereka sudah tidak tahu lagi
bahwa mereka dikerumuni oleh wanita-wanita, bahwa berhala yang
mereka  mintai  restunya  telah  terjatuh  dari  atas unta dan
pelangking yang membawanya.
 
Kemenangan Muslimin dalam  perang  Uhud  pada  pagi  hari  itu
sebenarnya adalah suatu mujizat. Adakalanya orang menafsirkan,
bahwa  kemenangan  itu  disebabkan  oleh  kemahiran   Muhammad
mengatur  barisan  pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan
berkuda dengan anak panah sehingga mereka  tidak  dapat  maju,
juga  tidak dapat menyergap Muslimin dari belakang. Ini memang
benar. Tetapi juga tidak salah, bahwa 600 orang Muslimin  yang
menyerbu  jumlah  sebanyak  lima  kali  lipat  itupun,  dengan
perlengkapan yang juga demikian, motifnya  adalah  iman,  iman
yang sungguh-sungguh, bahwa mereka dalam kebenaran.
 
Inilah  yang  membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian
pimpinan. Barangsiapa yang telah beriman kepada kebenaran,  ia
takkan goncang oleh kekuatan materi, betapapun besarnya. Semua
kekuatan  batil  yang  digabungkan  sekalipun,  takkan   dapat
menggoyahkan  kebulatan tekadnya itu. Dapatkah kita menganggap
cukup dengan kepandaian pimpinan  itu  saja,  padahal  barisan
pemanah  yang  oleh  Nabi  ditempatkan  di  lereng  bukit  itu
jumlahnya tidak  lebih  dari  50  orang?  Andaikata  sekalipun
mereka  itu  terdiri  dari  200 orang atau 300 orang, mendapat
serbuan dari mereka yang sudah bertekad mati,  niscaya  mereka
tidak  akan  dapat  bertahan.  Tetapi  kekuatan yang terbesar,
ialah kekuatan konsepsi, kekuatan akidah, kekuatan  iman  yang
sungguh-sungguh  akan  adanya  Kebenaran  Tertinggi.  Kekuatan
inilah yang takkan dapat ditaklukkan selama orang masih  teguh
berpegang kepada kebenaran itu.
 
Karena  itulah, 3000 orang pasukan berkuda Quraisy jadi hancur
menghadapi serangan 600 orang Muslimin. Dan hampir-hampir pula
wanita-wanita  merekapun akan menjadi tawanan perang yang hina
dina.
 
Muslimin kini mengejar  musuh  itu  sampai  mereka  meletakkan
senjata  dimana  saja asal jauh dari bekas markas mereka. Kaum
Muslimin  sekarang  mulai   memperebutkan   rampasan   perang.
Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat
mereka  lupa  mengikuti  terus  jejak  musuh,   karena   sudah
mengharapkan kekayaan duniawi.
 
Mereka  ini  ternyata  dilihat  oleh pasukan pemanah yang oleh
Rasul  diminta  jangan  meninggalkan  tempat  di  gunung  itu,
sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang.
 
Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu,
kepada satu sama lain mereka berkata:
 
"Kenapa kita  masih  tinggal  disini  juga  dengan  tidak  ada
apa-apa.   Tuhan   telah  menghancurkan  musuh  kita.  Mereka,
saudara-saudara  kita  itu,  sudah   merebut   markas   musuh.
Kesanalah juga kita, ikut mengambil rampasan itu."
 
Yang seorang lagi tentu menjawab:
 
"Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan meninggalkan tempat
kita ini? Sekalipun kami diserang janganlah kami dibantu."
 
Yang pertama berkata lagi:
 
"Rasulullah   tidak   menghendaki    kita    tinggal    disini
terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu."
 
Lalu  mereka  berselisih.  Ketika itu juga tampil Abdullah bin
Jubair berpidato agar jangan  mereka  itu  melanggar  perintah
Rasul.  Tetapi  mereka  sebahagian  besar  tidak patuh. Mereka
berangkat juga. Yang masih tinggal hanya beberapa orang  saja,
tidak  sampai  sepuluh  orang. Seperti kesibukan Muslimin yang
lain, mereka yang ikut bergegas  itu  pun  sibuk  pula  dengan
harta rampasan. Pada waktu itulah Khalid bin'l-Walid mengambil
kesempatan - dia sebagai komandan kavaleri Mekah -  pasukannya
dikerahkan  ke  tempat  pasukan  pemanah,  dan  mereka  inipun
berhasil dikeluarkan dari sana.
 
                                    
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Rabu, 07 Maret 2012

Sejarah Hidup Muhammad (30)

SEJAK terjadinya perang Badr pihak Quraisy sudah tidak  pernah
tenang  lagi.  Juga  penstiwa  Sawiq  tidak membawa keuntungan
apa-apa buat  mereka.  Lebih-lebih  karena  kesatuan  Zaid  b.
Haritha  telah  berhasil  mengambil  perdagangan mereka ketika
mereka hendak pergi  ke  Syam  melalui  jalan  Irak.  Hal  ini
mengingatkan mereka pada korban-korban Badr dan menambah besar
keinginan mereka hendak  membalas  dendam.  Bagaimana  Quraisy
akan  dapat  melupakan  peristiwa  itu,  sedang  mereka adalah
bangsawan-bangsawan     dan      pemimpin-pemimpin      Mekah,
pembesar-pembesar  yang  angkuh dan punya kedudukan terhormat?
Bagaimana   mereka   akan    dapat    melupakannya,    padahal
wanita-wanita  Mekah  selalu  ingat  akan  korban-korban  yang
terdiri dari anak,  atau  saudara,  bapak,  suami  atau  teman
sejawat?   Mereka   selalu  berkabung,  selalu  menangisi  dan
meratapi.
 
Demikianlah keadaannya. Orang-orang Quraisy sejak  Abu  Sufyan
b.  Harb  datang  membawa  kafilahnya  dari  Syam,  yang telah
menyebabkan timbulnya perang Badr,  begitu  juga  mereka  yang
selamat  kembali  dan  Badr, telah menghentikan kafilah dagang
itu di Dar'n-Nadwa. Pembesar-pembesar mereka yang terdiri dari
Jubair  b.  Mut'im,  Shafwan  b.  Umayya' 'Ikrima b. Abi Jahl,
Harith b. Hisyam, Huaitib b. Abd'l-'Uzza dan yang lain,  telah
mencapai  kata  sepakat, bahwa kafilah dagang itu akan dijual,
keuntungannya akan  disisihkan  dan  akan  dipakai  menyiapkan
angkatan  perang  guna  memerangi Muhammad, dengan memperbesar
jumlah dan perlengkapannya. Selanjutnya tenaga kabilah-kabilah
akan  dikerahkan  dan  supaya  ikut  serta bersama-sama dengan
Quraisy menuntut  balas  terhadap  kaum  Muslimin.  Ikut  pula
dikerahkan di antaranya Abu 'Azza penyair yang telah dimaafkan
oleh Nabi dan antara tawanan perang Badr. Begitu juga  kabilah
Ahabisy2  yang  mau ikut mereka dikerahkan pula. Wanita-wanita
pun mendesak akan ikut pergi berperang.
 
Mereka berunding lagi. Ada yang berpendapat supaya kaum wanita
juga ikut serta.
 
"Biar   mereka   bertugas   merangsang   kemarahan  kamu,  dan
mengingatkan  kamu  kepada  korban-korban  Badr.  Kita  adalah
masyarakat yang sudah bertekad mati, tidak akan pulang sebelum
sempat melihat mangsa kita, atau kita sendiri mati untuk itu."
 
"Saudara-saudara  dari  Quraisy,"   kata   yang   lain   lagi.
"Melepaskan  wanita-wanita  kita  kepada musuh, bukanlah suatu
pendapat  yang  baik.  Apabila  kalian  mengalami   kekalahan,
wanita-wanita kitapun akan tercemar."
 
Sementara mereka sedang dalam perundingan itu tiba-tiba Hindun
bt. 'Utba, isteri Abu  Sufyan  berteriak  kepada  mereka  yang
menentang ikut sertanya kaum wanita itu:
 
"Kamu  yang  selamat  dari  perang  Badr  kamu  kembali kepada
isterimu. Ya. Kita berangkat dan ikut menyaksikan  peperangan.
Jangan   ada   orang   yang   menyuruh  kami  pulang,  seperti
gadis-gadis kita dulu dalam perjalanan ke Badr disuruh kembali
ketika  sudah  sampai  di  Juhfa.3  Kemudian  orang-orang yang
menjadi kesayangan kita waktu itu  terbunuh,  karena  tak  ada
orang yang dapat memberi semangat kepada mereka."

Akhirnya pihak Quraisy berangkat dengan membawa kaum wanitanya
juga, dipimpin oleh Hindun. Dialah  orang  paling  panas  hati
ingin   membalas  dendam,  karena  dalam  peristiwa  Badr  itu
ayahnya, saudaranya dan  orang-orang  yang  dicintainya  telah
mati  terbunuh.  Keberangkatan  Quraisy  dengan tujuan Medinah
yang disiapkan dari Dar'n-Nadwa itu terdiri dan tiga  brigade.
Brigade terbesar dipimpin oleh Talha b. Abi Talha terdiri dari
3000 orang. Kecuali 100 orang saja  dari  Thaqif,4  selebihnya
semua  dari Mekah, termasuk pemuka-pemuka, sekutu-sekutu serta
golongan Ahabisynya. Perlengkapan dan  senjata  tidak  sedikit
yang mereka bawa, dengan 200 pasukan berkuda dan 3000 unta, di
antaranya 700 orang berbaju besi.
 
Sesudah ada kata sepakat,  sekarang  sudah  siap  mereka  akan
berangkat. Sementara itu 'Abbas b. Abd'l-Muttalib, paman Nabi,
yang juga berada di tengah-tengah mereka,  dengan  teliti  dan
saksama  sekali  memperhatikan  semua  kejadian itu. Disamping
kesayangannya pada agama nenek-moyangnya dan agama golongannya
sendiri,   juga   Abbas  mempunyai  rasa  solider  dan  sangat
mengagumi Muhammad. Masih ingat ia  perlakuannya  yang  begitu
baik  ketika  perang  Badr.  Mungkin  karena  rasa  kagum  dan
solidernya itu yang  membuat  dia  ikut  Muhammad  menyaksikan
Ikrar  'Aqaba dan berbicara kepada Aus dan Khazraj bahwa kalau
mereka  tidak  akan  dapat  mempertahankan  kemenakannya   itu
seperti  mempertahankan  isteri  dan anak-anak mereka sendiri,
biarkan  sajalah  keluarganya  sendiri   yang   melindunginya,
seperti yang sudah-sudah.
 
Hal  inilah yang mendorongnya - tatkala diketahuinya keputusan
Quraisy akan berangkat dengan kekuatan  yang  begitu  besar  -
sampai   ia   menulis  surat  menggambarkan  segala  tindakan,
persiapan dan perlengkapan mereka itu. Surat itu diserahkannya
kepada seseorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada
Nabi. Dan orang inipun sampai di Medinah dalam tiga hari,  dan
surat itupun diserahkan.
 
Dalam  pada itu pasukan Quraisypun sudah pula berangkat sampai
di Abwa'. Ketika melalui makam Aminah bt.  Wahb,  timbul  rasa
panas  hati  beberapa orang yang pendek pikiran. Terpikir oleh
mereka akan membongkarnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka menolak
perbuatan  demikian;  supaya  jangan  kelak  menjadi kebiasaan
Arab.
 
"Jangan menyebut-nyebut soal ini,"  kata  mereka.  "Kalau  ini
kita  lakukan, Banu Bakr dan Banu Khuza'a akan membongkar juga
kuburan mayat-mayat kita."
 
Quraisy  meneruskan  perjalanan  sampai  di  'Aqiq,  kemudian;
mereka berhenti di kaki gunung Uhud, dalam jarak lima mil dari
Medinah.

Orang dari Ghifar yang diutus  oleh  Abbas  b.  Abd'l-Muttalib
membawa   surat   ke   Medinah   itu   telah  sampai.  Setelah
diketahuinya berada di Quba', ia langsung pergi  ke  sana  dan
dijumpainya  Muhammad  di depan pintu mesjid sedang menunggang
keledai
 
Diserahkannya surat itu  kepadanya,  yang  kemudian  dibacakan
oleh  Ubay  b.  Ka'b.  Muhammad  minta  isi  surat  itu supaya
dirahasiakan, dan ia kembali ke Medinah langsung menemui  Sa'd
ibn'l-Rabi'   di   rumahnya.  Diceritakannya  apa  yang  telah
disampaikan 'Abbas kepadanya itu dan  juga  dimintanya  supaya
hal  itu  dirahasiakan.  Akan  tetapi  isteri Sa'd yang sedang
dalam rumah waktu itu mendengar juga  percakapan  mereka,  dan
dengan  demikian  sudah  tentu  tidak  lagi  hal  itu  menjadi
rahasia.
 
Dua orang anak-anak  Fudzala,  yaitu  Anas  dan  Mu'nis,  oleh
Muhammad   ditugaskan  menyelidiki  keadaan  Quraisy.  Menurut
pengamatan mereka kemudian ternyata  Quraisy  sudah  mendekati
Medinah.  Kuda  dan  unta  mereka  dilepaskan di padang rumput
sekeliling Medinah. Di samping dua orang itu kemudian Muhammad
mengutus lagi Hubab ibn'l-Mundhir bin'l-Jamuh. Setelah keadaan
mereka  itu  disampaikan  kepadanya  seperti  dikabarkan  oleh
'Abbas,  Nabi  s.a.w.  jadi  terkejut  sekali. Ketika kemudian
Salama b. Salama keluar, ia melihat barisan depan pasukan kuda
Quraisy  sudah mendekati Medinah, bahkan sudah hampir memasuki
kota.  Ia  segera  kembali  dan  apa   yang   dilihatnya   itu
disampaikannya kepada masyarakatnya. Sudah tentu pihak Aus dan
Khazraj, begitu juga  semua  penduduk  Medinah  merasa  kuatir
sekali  akan  akibat  serbuan  ini, yang dalam sejarah perang,
Quraisy  belum  pernah  mengadakan   persiapan   sebaik   itu.
Pemuka-pemuka   Muslimin   dari  penduduk  Medinah  malam  itu
berjaga-jaga dengan senjata di mesjid guna menjaga keselamatan
Nabi. Sepanjang malam itu seluruh kota dijaga ketat.

Keesokan  harinya orang-orang terkemuka dari kalangan Muslimin
dan mereka yang pura-pura Islam  -  atau  orang-orang  munafik
seperti  disebutkan waktu itu dan seperti dilukiskan pula oleh
Qur'an - oleh Nabi diminta berkumpul;  lalu  mereka  sama-sama
bermusyawarah,  bagaimana  seharusnya  menghadapi  musuh  Nabi
'alaihi's-salam berpendapat akan tetap bertahan dalam kota dan
membiarkan  Quraisy  di  luar  kota.  Apabila  mereka  mencoba
menyerbu masuk kota maka penduduk kota ini  akan  lebih  mampu
menangkis  dan  mengalahkan  mereka. Abdullah b. Ubay b. Salul
mendukung pendapat Nabi itu dengan mengatakan:
 
"Rasulullah, biasanya  kami  bertempur  di  tempat  ini,  kaum
wanita  dan  anak-anak  sebagai  benteng  kami lengkapi dengan
batu. Kota kami sudah terjalin  dengan  bangunan  sehingga  ia
merupakan  benteng  dari  segenap penjuru. Apabila musuh sudah
muncul, maka  wanita-wanita  dan  anak-anak  melempari  mereka
dengan  batu.  Kami  sendiri  menghadapi mereka di jalan-jalan
dengan pedang. Rasulullah, kota kami ini masih perawan,  belum
pernah  diterobos  orang.  Setiap  ada  musuh menyerbu kami ke
dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, dan setiap kami
menyerbu   musuh  keluar,  maka  selalu  kami  yang  dikuasai.
Biarkanlah mereka itu. Rasulullah. Ikutlah pendapat saya dalam
hal   ini.   Saya   mewarisi   pendapat   demikian   ini  dari
pemuka-pemuka dan ahli-ahli pikir golongan kami."
 
Apa yang dikatakan oleh Abdullah b. Ubayy itu adalah merupakan
pendapat  terbesar sahabat-sahabat Rasulullah - baik Muhajirin
ataupun Anshar,  mereka  sependapat  dengan  Rasul  a.s.  Akan
tetapi  pemuda-pemuda  yang  bersemangat  yang belum mengalami
perang Badr - juga orang-orang  yang  sudah  pernah  ikut  dan
mendapat  kemenangan  disertai hati yang penuh iman, bahwa tak
ada sesuatu kekuatan yang dapat  mengalahkan  mereka  -  lebih
suka  berangkat  keluar  menghadapi  musuh  di  tempat  mereka
berada. Mereka kuatir  akan  disangka  segan  keluar  dan  mau
bertahan  di Medinah karena takut menghadapi musuh. Seterusnya
apabila mereka ini di pinggiran dan di dekat kota  akan  lebih
kuat  dari  musuh.  Ketika  dulu mereka di Badr penduduk tidak
mengenal mereka samasekali.
 
Salah seorang diantara mereka ada yang berkata:
 
"Saya tidak  ingin  melihat  Quraisy  kembali  ketengah-tengah
golongannya  lalu mengatakan: Kami telah mengepung Muhammad di
dalam benteng dan kubu-kubu Yathrib. Ini akan membuat  Quraisy
lebih  berani. Mereka sekarang sudah menginjak-injak daun palm
kita. Kalau tidak kita usir mereka dari kebun kita, kebun kita
tidak akan dapat ditanami lagi. Orang-orang Quraisy yang sudah
tinggal selama setahun dapat mengumpulkan orang, dapat menarik
orang-orang  Arab,  dari  badwinya  sampai  kepada Ahabisynya.
Kemudian, dengan membawa kuda  dan  mengendarai  unta,  mereka
kini  telah sampai ke halaman kita. Mereka akan mengurung kita
di dalam rumah kita sendiri?  Didalam  benteng  kita  sendiri?
Lalu  mereka  pulang  kembali  dengan kekayaan tanpa mengalami
luka samasekali. Kalau kita turuti, mereka akan lebih  berani.
Mereka akan menyerang kita dan menaklukkan daerah-daerah kita.
Kota kita akan  berada  dibawah  pengawasan  mereka.  Kemudian
jalan kitapun akan mereka potong."
 
Selanjutnya penganjur-penganjur yang menghendaki supaya keluar
menyongsong    musuh     masing-masing     telah     berbicara
berturut-turut.  Mereka  semua  mengatakan,  bahwa  bila Tuhan
memberikan kemenangan kepada mereka  atas  musuh  itu,  itulah
yang  mereka  harapkan,  dan  itu  pula  kebenaran  yang telah
dijanjikan Tuhan kepada RasulNya.  Kalaupun  mereka  mengalami
kekalahan dan mati syahid pula, mereka akan mendapat surga.
 
Kata-kata  yang menanamkan semangat keberanian dan mati syahid
ini, sangat menggetarkan hati  mereka.  Jiwa  mereka  tergugah
semua  untuk  sama-sama  menempuh  arus  ini,  untuk berbicara
dengan nada yang sama. Waktu itu, bagi orang-orang  yang  kini
sedang  berhadap-hadapan  dengan  Muhammad,  orang-orang  yang
hatinya sudah penuh dengan iman  kepada  Allah  dan  RasulNya,
kepada Qur'an dan Hari Kemudian, yang tampak di hadapan mereka
hanyalah  wajah  kemenangan  terhadap   musuh   agresor   itu.
Pedang-pedang  mereka  akan  mencerai-beraikan musuh itu, akan
membuat mereka. centang-perenang,  dan  rampasan  perang  akan
mereka  kuasai. Lukisan surga adalah bagi mereka yang terbunuh
di jalan agama.  Di  tempat  itu  akan  terdapat  segala  yang
menyenangkan  hati  dan mata, akan bertemu dengan kekasih yang
juga sudah turut berperang dan mati syahid.
 
"Ucapan yang sia-sia tidak mereka dengar di tempat  itu,  juga
tidak yang akan membawa dosa. Yang ada hanyalah ucapan "Damai!
Damai!" (Qur'an, 56: 25-26)
 
"Mudah-mudahan Tuhan memberikan kemenangan kepada  kita,  atau
sebaliknya  kita  mati  syahid,"  kata  Khaithama  Abu Sa'd b.
Khaithama. "Dalam perang Badr saya telah meleset. Saya  sangat
mendambakannya sekali, sehingga begitu besarnya kedambaan saya
sampai  saya  bersama  anak  saya  turut  ambil  bagian  dalam
pertempuran  itu.  Tapi  kiranya  dia yang beruntung; ia telah
gugur, mati syahid. Semalam saya bermimpi bertemu dengan  anak
saya,  dan  dia  berkata:  Susullah  kami,  kita bertemu dalam
surga. Sudah saya terima  apa  yang  dijanjikan  Tuhan  kepada
saya.  Ya Rasulullah, sungguh rindu saya akan menemuinya dalam
surga. Saya sudah tua, tulang sudah rapuh. Saya ingin  bertemu
Tuhan."

Setelah  jelas  sekali suara terbanyak ada pada pihak yang mau
menyerang dan menghadapi musuh di luar kota, Muhammad  berkata
kepada mereka:
 
"Saya kuatir kamu akan kalah."
 
Tetapi  mereka  ingin berangkat juga. Tak ada jalan lain iapun
menyerah kepada pendapat mereka.  Cara  musyawarah  ini  sudah
menjadi   undang-undang   dalam  kehidupannya.  Dalam  sesuatu
masalah ia tidak mau bertindak  sendiri,  kecuali  yang  sudah
diwahyukan Tuhan kepadanya.
 
Hari  itu  hari  Jum'at.  Nabi memimpin sembahyang jamaah, dan
kepada mereka diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati  mereka
itu,  mereka  akan  beroleh kemenangan. Lalu dimintanya mereka
bersiap-siap menghadapi musuh.
 
Selesai  sembahyang  Asar  Muhammad  masuk  kedalam   rumahnya
diikuti  oleh  Abu  Bakr  dan Umar. Kedua orang ini memakaikan
sorban dan baju besinya  dan  ia  mengenakan  pula  pedangnya.
Sementara  ia tak ada di tempat itu orang di luar sedang ramai
bertukar pikiran. Usaid  b.  Hudzair  dan  Sa'd  b.  Mu'adh  -
keduanya  termasuk  orang  yang berpendapat mau bertahan dalam
kota berkata kepada  mereka  yang  berpendapat  mau  menyerang
musuh di luar:
 
"Tuan-tuan  mengetahui,  Rasulullah  berpendapat  mau bertahan
dalam  kota,  lalu  tuan-tuan  berpendapat  lain   lagi,   dan
memaksanya  bertempur  ke  luar.  Dia  sendiri  enggan berbuat
demikian. Serahkan sajalah soal ini  di  tangannya.  Apa  yang
diperintahkan  kepadamu, jalankanlah. Apabila ada sesuatu yang
disukainya atau ada pendapatnya, taatilah."
 
Mendengar  keterangan  itu  mereka  yang   menyerukan   supaya
menyerang  saja,  jadi  lebih  lunak.  Mereka menganggap telah
menentang Rasul mengenai sesuatu yang mungkin itu datang  dari
Tuhan.  Setelah  kemudian Nabi datang kembali ke tengah-tengah
mereka, dengan memakai baju besi  dan  sudah  pula  mengenakan
pedangnya,  mereka  yang tadinya menghendaki supaya mengadakan
serangan berkata:
 
"Rasulullah,  bukan  maksud  kami   hendak   menentang   tuan.
Lakukanlah  apa yang tuan kehendaki. Juga kami tidak bermaksud
memaksa tuan. Soalnya pada Tuhan, kemudian pada tuan."
 
"Kedalam pembicaraan yang semacam inilah saya  ajak  tuan-tuan
tapi  tuan-tuan  menolak,"  kata  Muhammad. "Tidak layak bagi
seorang nabi yang apabila  sudah  mengenakan  pakaian  besinya
lalu  akan  menanggalkannya  kembali, sebelum Tuhan memberikan
putusan antara dirinya dengan musuhnya. Perhatikanlah apa yang
saya   perintahkan  kepada  kamu  sekalian,  dan  ikuti.  Atas
ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu."
 
Demikianlah  prinsip  musyawarah  itu  oleh   Muhammad   sudah
dijadikan  undang-undang  dalam  kehidupannya. Apabila sesuatu
masalah yang dibahas telah diterima  dengan  suara  terbanyak,
maka  hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau
karena  ada  maksud-maksud  tertentu.  Sebaliknya   ia   harus
dilaksanakan,  tapi orang yang akan melaksanakannya harus pula
dengan cara yang sebaik-baiknya dan diarahkan ke suatu sasaran
yang yang akan mencapai sukses.

Sekarang  Muhammad  berangkat  memimpin  kaum  Muslimin menuju
Uhud. Di Syaikhan5 ia berhenti. Dilihatnya di tempat  itu  ada
sepasukan  tentara  yang  identitasnya  belum  dikenal. Ketika
ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan,  bahwa  mereka  itu
orang-orang  Yahudi  sekutu  Abdullah b. Ubayy. Lalu kata Nabi
'alaihi'ssalam: "Jangan minta pertolongan orang-orang  musyrik
dalam melawan orang musyrik, - sebelum mereka masuk Islam."
 
                                    
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez