Tampilkan postingan dengan label Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Abdurrahman bin Auf

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.47
Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan sahabat yang mula-mula masuk Islam. Ia termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasululah. Selain itu, ia juga termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah menggantikan Umar bin Khaththab. Ia adalah seorang mufti yang dipercaya Rasulullah untuk berfatwa di Madinah.
Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah SAW melakukan pembinaan di rumah Arqam bin Abil Arqam, kira-kira dua hari setelah Abu Bakar masuk Islam.
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.
Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.

Tapi, kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah SAW berpidato membangkitakn semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Bersedekahlah kalian, karena saya akanmengirim pasukan ke medan perang.”

Mendengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. “Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya aya tinggalkan untuk keluarga saya,” ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah SAW, “Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”
Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?”
Abdurrahman menjawab, “Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan.”
“Berapa?” Tanya Rasulullah.
Abdurrahman menjawab, “Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Subhanallah.

Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.
Suatu hari, iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, “Suara apakah itu?”
Orang itu menjawab, “Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman.”
Aisyah berkata, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”

Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?”
“Ya,” jawab Aisyah.
“Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah.”

Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, Aisyah mendoakan, “Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga).”
Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang — padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, “Mush’ab bin Umair syahid di medan perang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafan, jika kepalanya ditutup, makakakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini.” Setelah itu, ia menangis tersedu-sedu.
Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Amin.”

Jumat, 02 Maret 2012

Mush’ab Bin Umair

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.04
Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kit, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan
Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan
, dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tetapi corak pribadi manakah?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.
Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.
Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.
Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.
Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.
Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …
Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.
Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.
Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.
Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.
Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.
Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.
Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.
Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.
Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.
la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….
Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.
Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-r\jya.
Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”
Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme·ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….
Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.
Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.
Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.
Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …
Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .
Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:
Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “
Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”
Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:
“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”
Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)
Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan mem balasnya.
Salam atasmu wahai Mush’ab ….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
sumber : al-sofwa

Kamis, 01 Maret 2012

Zaid Bin Tsabit

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 06.59
Zaid bin Tsabit termasuk “group sahabat junior”. Ia 10 tahun lebih muda dari pada Ali ibn Abi Thalib. Zaid dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah. Orang tuanya, yang berasal dari kabilah Bani an-Najjar, adalah termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Ia mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang melebihi rekan-rekan seusianya saat itu.
Pada saat-saat penantian kedatangan RasuluLlah dan Abu Bakar di Madinah dari Makkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sebentar-bentar pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum muslimin Madinah melihat RasuluLlah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada RasuluLlah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada RasuluLlah, untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa dalam bidang ini.
Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini, dapat membantu dan selalu berdekatan dengan Utusan Allah yang ia cintai. RasuluLlah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. RasuluLlah sangat mencintai sahabat ciliknya yang ketika itu baru berusia 11 tahun. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan RasuluLlah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Al-Qur’an. Disamping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima RasuluLlah, Zaid pun mendapat assignment dari RasuluLlah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering dipergunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai oleh Zaid dalam waktu sangat singkat, 32 hari!
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Al-Qur’an. Abu Bakar RA memanggilnya dan mengatakan, “Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan RasuluLlah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan membukukannya.” Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an:
“Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak RasuluLlah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini.”
Akhirnya dengan melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Al-Qur’an, adalah mengingat banyaknya hafidz Qur’an yang syahid. Dalam pertempuran “Harb Ridah” melawan Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Qur’an menemui syahid.
Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk team khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Ketiga persyaratan tersebut adalah:
1. Ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit 2 orang.
2. Harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk “hardcopy” lainnya).
3. Untuk yang tertulis, paling tidak harus ada 2 orang saksi yang melihat saat dituliskannya. Dengan persyaratan tersebut, dimulailah pekerjaan yang berat ini oleh Zaid bin Tsabit yang membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa kekhalifahan Abu Bakar.

Rabu, 29 Februari 2012

Abu Ubaidah bin Jarrah

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 04.35
Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Uhaib bin Dhabah bin Al Harist bin Fahr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin  Muhdar bin Nizar bin Ma`ad, Al quraisy Al Fihry al maky.
Beliau adalah salah seorang sahabat yang masuk islam pada awal  masa dakwah islam. Abu Bakar pernah menghendaki menunjuknya sebagai khalifah sesudah Rasulullah pada hari Saqifah bani Saidah, wajar saja karena menurut Abu Bakar, beliau pantas untuk menduduki jabatan tersebut.
Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Fihr, beliau memberi kabar gemberi kepada beliau dengan jannah dan menjuluki beliau dengan orang kepercayaan umat ini, sebagai sahabat senior, beliau selalu ikut dalam peperangan–perangan islam, dan sangat banyak mendengar hadits dari Rasulullah,banyak para sahabat dan para tabi`in yang meriwayakan hadits dari beliau, antara lain : Irbadh bin Sariyah, Jabir bin Abdullah, Abu Umamah al Bahily, samurah bin jundub, Aslam maula Umar, Abdurahman bin Ghanim dan lain-lain.
Dalam shahih muslim terdapat satu hadits dari beliau, dalam sunan At Tirmidzi juga ada satu hadsit, dalam Musnad Ahmad ada 12 hadits, dan dalam Baqi bin Mullad ada 15 hadits.
Diantara hadits yang bersumber dari beliau adalah
Abu Ubaidah bin jarrah berkata :’ Saya telah mendengar Rasulullah bersabda :’ Sesungguhnya tak seorang nabipun setelah nabi Nuh kecuali mengingatkan kaumnya akan fitnah Dajjal. Dan kini aku peringatkan hal ini kepada kalian.” Lalu beliau menyebutkan sifat-sifat Dajjal kepada kami. beliau lalu bersabda,” Barang siapa sebagian orang melihatku  atau mendengar sabdaku akan sempat mendapati Dajjal.”Para sahabat bertanya, bagaimanakah kondisi hati kami pada saat itu ? apakah seperti saat ini ? beliau menjawab,” bahkan lebih baik.”[1]
Malik bin Yakhomir menjelaskan bahwa Abu Ubaidah adalah seorang yang kurus, jenggotnya tipis,tinggi agak bungkuk dan rusak gigi serinya.
Yazid bin Rumah berkata,Ibnu Madz`un, Ubaidah bin Harist, Abdurahaman bin Auf , Abu Salamah bin Abdul Asad dan Abu Ubaidah bin Jarrah mendatang Rasulullah. Beliau menawarkan islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Saat itu juga mereka masuk islam dan itu terjadi sebelum Rasulullah berdawah dirumah Arqom.
Pada perang badar, Abu Ubaidah membunuh ayahnya yang berperang berada dibarisan kaum kafir Quraisy. Atas peristiwa itu Allah memujinya dengan menurunkan  surat al Mujadilah ayat 22 :
لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {22}
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”
Dalam perang uhud, Abu Ubaidah menunjukan perjuangan yang keras, dengan giginya, rantai besi yang mengenai helm Rasulullah dicabutnya, akibanya, gigi seri Abu Ubaidah patah, namun hal itu justru menambah kegagahanya, sehingga ramai dikatakan,” Tidak ada ompong yang lebih indah dari ompongnya Abu Ubaidah “.
Pada saat pemilihaan khalifah pada hari Tsaqifah, Abu Bakar berkata,” Saya Ridha untuk kalian salah satu dari dua laki-laki ini yaitu Umar dan Abu Ubaidah bin jarrah.
Imam Al Waqidy dan Ibnu Ishaq  menulil bahwa Abu Ubaidah termasuk rombongan yang hijrah ke Habasyah. Menurut imam Adz Dzahabi kalaupun beliau hijrah ke Habasyah namun beliau tidak tinggal di Habasyah.
Abu Ubaidah  juga seorang penghapal Al Qur`an. Beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang penurut, dalam perang Dzatul Salasil, dipingiran Syam, Amru bin Ash sebagai komandan meminta  bantuan kepada Rasulullah. Maka dikirimlah serombongan  Muhajirin  dengan komandan Abu Ubaidah bin Jarrah, diantara pasukanya terdapat Abu Bakar dan Umar. Ketika bantuan tiba, Amru bin Ash berkata,” Saya komandan umum,” Kaum muhajirin protes,” Anda komandan atas pasukan anda, sedangkan komandan kami adalah Abu Ubidah bin Jarrah.’ Kalian ini hanya bala bantaun saja. Melihat perselissihan itu Abu Ubaidah yang memang seorang yang lembut  dan penurut terhadap perintah Rasulullah segera menyerahkan pimpinan kepada pasukan kepada Amru.
Diriwayatkan fari  dari banyak sanad dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أُمِيْنًا وَأَمِيْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ


” Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, sedang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah “.[2]
Pada saat tiba di daerah Sargh, sebuah daerah awal Hijaz dan ahir Syam, yaitu sebuah desa anatara Mughitsah dan Tabuk,datang khabar kepada Umar bahwa di Syam terjadi wabah thau`un, maka Umar berkata,”Jika saya mati dan Abu Ubaidah masih hidup, saya akan mengangkatnya menjadi khalifah. Jika Allah bertanya kepadaku,” kenapa kau angkat ia menjadi khalifah atas umat Muhammad ?’ Aku akan menjawab,” karena saya mendengar Rasulullah bersabda :” Setiap umat mempunyai orang kepercayaan, sedang kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah .
Orang-orang Qurais memperotes Umar,” Kenapa tidak kau angkat  pembesar Quraisy saja “ maksud mereka adalah Bani Fahr, maka Umar balik menjawab : Jika aku mati dan Abu Ubaidah juga telah mati, aku akan Muadz bin jabal sebagai khalifah, jika Allah bertanya kepadaku, aku jawab,” Saya mendengar Nabi-Mu bersabda :” Sesungguhnya Muadz akan dikumpulkan pada hari kiamat dihadapan para Ulama sejauh mata memandang.[3]
Abu Ubaidah adalah sahabat yang begitu dicintai oleh Rasulullah :
Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Aisyah siapakah sahabat Rasulullah yang paling dicintai Rasul ? Aisyah menjawab,” Abu Bakar, lalu umar, lalu Abu Ubaidah bin Jarrah.[4]
Tentang kepercayaan Rasulullah kepada Abu Ubaidah bin jarrah ini dikuatkan oleh peristiwa datangnya dua uskup Nashrani Najran  yang datang ke Madinah meminta kepada Rasul seorang sahabat yang menjadi hakim atas persengketaan di Najran.
Dari Hudzaifah bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ,” Saya akan utus kepaada kalian seorang laki-laki yang terpercaya. maka para sahabat berharap dirinyalah yang ditunjuk Rasulullah, ternyata beliau mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah.[5]
Al Hasan berkata,” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ,“ Tak seorangpun diantara kalian yang kalau aku mau kecuali aku hukum kerena sebagian kelakuanya, kecuali Abu Ubaidah“.[6]
Memang Abu Ubaidah dikenal dengan baik ahlaqnya,sangat penyantun, lembut dan tawadhu. Ibnu Abi Najjih berkata,” Umar berkata kepada para sahabat yang duduk bersamanya,” berangan-anganlah.” Kemudian Umar berkata,” tetapi aku berharap rumah yang penuh dengan tokoh semisal Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Abu Ubaidah memang begitu dicintai seluruh sahabat, ulama Umat, Ibnu Mas`ud, sampai berkata ,”Orang yang paling saya cintai dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ada tiga orang yaitu Abu bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kejujuranya membuat beliau dipercaya semua pihak. Khalifah bin Khayat dalam dalam buku sejarahnya menulis Abu Bakar mengangkat Abu Ubaidah bin jarrah  sebagai bagian Baitul Maal. Pada Tahun 13 H, Abu Bakar mengirinyan ke Syam. Disana terjadi perang Yarmuk, Umar sebagai Khalifah pasca Abu Bakar segera menurunkan Abu Ubaidah selaku komandan umum.
Kedekatan hubungan  Umar dengan Abu Ubaidah diceritakan oleh tokoh Tabi`in yang mulia Tamim bin Salamah, ujarnya Umar bertemu Abu Ubaidah. ia menyalami dan mencium tanganya, kemudian keduanya berbicara berdua lalu sama-sama menangis.
Ulama umat, Ibnul Mubaraq dalam kitab jihadnya dengan sanad yang kuat menulis,Ketika sampai berita kepada Umar bahwa Abu Ubaidah dikepung musuh di Syam. Maka Umar segera menulis surat kepada  Abu Ubaidah,” Amma Ba`du. Sesungguhnya tidak turun atas diri orang mu`min suatu musibah, kecuali Allah pasti akan membuatkan jalan keluar baginya, sesungguhnya satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {200}
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah, kesabaran kalian dan lakukanlah ribat “. ( Ali imran : 200 ).
Abu Ubaidah membalas surat itu,”Amma Ba`du. Sesungguhnya Allah telah berfirman :”

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ

“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sekedar main-main dan senda gurau “. (Al Hadid : 20).
Umar membawa tulisan ini keatas mimbar dan berkhutbah,“ Wahai para penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah menyindir kalian dan aku akan segera berjihad.
Suatu saat, seorang laki-laki berkata didekat Muadz bin Jabal,” wah, kalau khalid bin Walid masih hidup tentu tidak akan terjadi kerusakan,” orang tersebut berkat tatkala Abu Ubaidah sedang dikepung musuh. Maka Muadz menjawab ,” Justru mukjizat itu mendatangi Abu Ubaidah. Demi Allah, ia adalah sebaik-baik orang yang masih hidup dimuka bumi ini.[7]
Urwah bin Zubair bercerita,” Umar datang ke Syam dan disambut oleh para tokoh  dan pembesar umat islam. Umar bertanya,” Mana saudaraku Abu Ubaidah bin Jarrah ?’ ia akan segera datang jawab mereka. Abu Ubaidah datang dengan untanya.” Pergilah kalian dari kami.” Kata Umar.
Kemudian Umar berjalan bersama Abu Ubaidah ke rumahnya. Di rumahnya Abu Ubaidah hanya terlihat pedang dan tameng dan kuda perang. Umar menegur,” Wah, kalau saja kau mengambil perabot,” Abu Ubaidah balik menjawab,”Wahai Amirul Mu`minin,ini akan menyampaikan kita pada hisab yang sedikit.”
Umar terenyuh, tertegun dan hanya berujar lega,” Dunia telah merubah pola hidup kita semua, kecuali Abu Ubaidah,” Sungguh jendral yang agung ini benar-benar telah mencapai tingkat kezuhudan.
Malik bercerita,”Umar mengirim uang sebanyak 4.000 atau 400 dinar kepada Abu Ubaidah. kepada orang yang membawa uang, Umar berpesan,’ Lihatlah apa yang dikerjakanya.” Ternyata uang itu dibagi-bagikan kepada fakir miskin, Umar juga berbuat yang demikian kepada Muadz bin Jabal, ternyata uang itu dibagi-bagikan  kepada faqir miskin. hanya sedikit  keperluan yang diambil istrinya yang disisakan. Ketika tahu hal itu Umar berdo`a,” Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam islam, orang yang berbuat demikian.”
Abul Hasan Imran bin Nimran berkata,” Saat berjalan diantara tentaranya, Abu Ubaidah berkata,” Berapa banyak orang yang putih bajunya namun menodai dienya !Berapa banyak orang yang memulyakan dirinya padahal sebenarnya menghinakan dirinya sendiri ! Ikutilah kesalahan-kesalahan yang lampau dengan kebaikan-kebaikan dimasa sekarang.”
Selain semua sifat yang baik diatas, ia juga dikenal sebagai orang yang sangat kepada Allah. Beliau pun pernah berkata,” Saya ingin menjadi domba yang disembelih keluargaku,dagingku mereka makan dan kuahnya mereka nikmat.”
Saat terjadi wabah thau`un di Syam, Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah,” Aku mempunyai satu keperluan dan butuh bantuanmu ,maka segeralah kemari, saat menerima surat itu, Abu Ubaidah berujar,” Saya tahu keperluan Amirul Mu`minin. beliau ingin mempertahankan orang yang tidak kekal.” Abu Ubaidah menjawab,” Saya sudah tahu keperluan anda. Maka tolonglah lepaskanlah saya dari keinginan anda. Saya hanyalah seorang tentara  dari sekian tentara uamat islam.  Saya tak ingin berpisah dengan mereka.
Membaca surat balasan itu, Umar hanya bisa menanggis, ia ditanya,” Abu Ubaidah sudah wafat? ” Belum, tetapi seakan-akan telah wafat.”Ahirnya memang Abu Ubaidah wafat dengan sakit Tha`un tersebut. Abu Muhajir  Muhammad bin Amru Al Marwazi berkata,” Orang menyatakan bahwa bersama Abu Ubaidah ada 36 ribu tentara, yang selamat dari wabah itu 6 ribu saja.
Rupanya yang hadir menganggu Abu Ubaidah. Ia bertanya,’ Kenapa kalian tidak bertanya kepadaku?”
Mereka menjawab,” Saya dengar Rasulullah bersabda,” Siapa yang menafkahkan harta yang lebih dijalan Allah, maka dilipatkan 700 kali. Siapa membiayai nafkah keluarganya, atau menenggok orang yang sakit  atau menyingkirkan gangguan, maka kebaikanya dibalas sepuluh kali lipat. Shaum itu perisai sebelum dirusaknya,dan siapa yang diuji oleh Allah dengan sakit anggota badanya, maka ia menjadi pahala baginya”. [8]
Sejak zaman nabi Abu Ubaidah sudah sering diangkat menjadi komandan. Jabir bin Abdillah berkata,” Rasulullah mengutus utusan kearah pantai, beliau mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai komandan, mereka berjumlah 300 orang dan saya ikut dalam pasukan itu. kami keluar sampai dijalan bekal kami habis. Abu Ubaidah memerintahkan kami mengumpulkan bekal kami, tinggal dua bungkus kurma, itulah bekal kami setiap hari, sedikit demi sedikit ahirnya habis. Setiap hari kami makan sebiji kurma, ketika kehabisan bekal, kami sampai dipantai, ternyata ada ikan paus terdampar. Maka tentara itu makan ikan paus selama delapan belas hari. Abu Ubaidah memerintahkan ditegakan dua tulang ikan itu dan diangkat dengan unta, ternyata seekor unta tak kuat membawanya.[9]
Setelah perang melawan orang-orang murtad  dan para nabi palsu selesai, Abu Bakar mengirim tentara islam ke Romawi. Para komandan yang diberangatkan adalah : Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Amru bin Ash, Syuhrabil bin Hasanah dan kemudian datang bantuan  dari Iraq  ( Persia) yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.  bertemulah 36. 000 tentara islam dengan lebih dari 200.000 tentara Rumawi di Yarmukh. Semula komandan umum berada ditangan Khalid bin walid , namun saat pecah pearangdatang berita bahwa khalifah telah wafat, dan  khalifah baru Umar, mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan umum.
Dalam perang ini umat islam mencappai kemenangan yang gemilamg. Lebih dari 100.000 tentara Rumawi terbunuh. inilah pertemuan pertama sedang tentara Rumawi setelah Rasululalh wafat. Perang terus berlanjut di Ajnadin, Fihl dan Maraju Shafar, Dalam setiap pertempuran ini, tentara islam meraih kemenangan dan menimpa kekalahan telak di pihak Rumawi. Perang terus berlanjut dengan pengepungan dan penaklukan, hingga ahirnya Damaskus dan Baitul Maqdis jatuh ketangan tentara islam, pada tahun 16 H.
Pada saat terjadi wabah Thau`un di Amwas, Abu Ubaidah pergi ke baitul Maqdis untuk shalat. Urwah bin Ruwaim berkata,” Namun ajalnya menjemputnya di daerah Fahl, maka beliau wafat disitu dekat daerah Baisan, Amwas adalah nama daerah antara Baitul Maqdis dan Ramlah.
Abu Ubaidah wafat pada tahun 18 H, dalam usia 59 tahun. Semoga Allah meridhai seoarang mujahid yang mendapat gelar “ Amirul Umara “ menurut penuturan Ibnu Asyakir, telah meninggal dunia ini dalam keadaam ridha dengan ketetapan illahi. Allahu A`lam Bishwab.
  1. Siyar A`lam Annubala : 1\5-23.
  2. Shifatush shafah : 1\365-369
  3. Al Bidayah Wanihayah : 7\100-101
  4. Al Isobah Fii Tamyizi Shahbah : 7\22,3\475-478.
  5. Ushudul Ghabah  Fii Ma`ridatush Shabah : 3\125-128.
  6. Tahdzibu Tahdzhib : 12\159,5\73.

[1] HR Ahmad 1\195, Abu Daud : 4756, At Tirmidzi : 2235

[2] HR Ahmad: 3\133, 189, 245,281, Bukhari : 3744, Muslim : 2419, Al Hakim : 3\267,  At Tirmidzi : 3759 dishaihkan dan disepakati oleh imam Adz Dzahabi
[3] HR Ahmad : 1\18, Ibnu Sa`ad : 3\1 dan Al Hakim : 3\628
[4] HR At Tirmidzi : 3657 Ibnu Majjah : 102, Al hakim : 3\37
[5] Ahmad : 5\398, Bukhari, : 3745, At Tirmidzi : 3759
[6] Al Hakim : 3\266,Ia berkata,” Mursal Gharib dan para rawinya tsiqah. Al Ishabah 5\288, Ibnu Hajjar berkata,” Mursal namun para rawinyTsiqah
[7] Tarikh Ash Shaghir 1\58, Immam Bukhari, Thabaqat Ibnu  Saad 3\1 dan tarikh Ibu Asakir 1\307
[8] HR Ahmad 1\195,196, Al Hakim 3\265, dalam Majma` 2\300, Al Haitsami menyebutkan bahwa hadist ini  oleh Ahmad, Abu Ya`la dan Bazzar
[9] HR Malik : 24, Ahmad: 3\303, Bukhari : 2483, Muslim : 1935,At Tirmidzi : 2477, Ibnu Majjah: 4159, dan An Nasa`I : 7\207

Senin, 27 Februari 2012

USAID BIN KHUDZAIR

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 08.24
“Malaikat mendengarkan suaramu wahai Usaid..”(Muhammad Rasulullah)
Seorang pemuda yang bernama Mush’ab bin Umair datang ke Madinah di awal pengutusan para duta yang dikenal dalam sejarah Islam. Mush’ab bin Umair singgah di rumah As’ad bin Zurarah, salah seorang pemuka bani Khazraj . Dia menjadikan rumah As’ad sebagai tempat tinggalnya dan sebagai markas untuk penyebaran dakwahnya kepada Allah serta berita gembira dengan kedatangan nabi Muhammad `. Para penduduk Madinah sangat berantusias dalam menyambut dakwah yang dibawa oleh dai muda yang bernama Mush’ab bin Umair. Para penduduk Madinah sangat senang dengan pembicaraan Mush’ab bin Umair yang apa adanya, dalil-dalinya yang kuat, kelembutan perilakunya, dan keteduhan cahaya iman yang memancar dari wajahnya yang tampan dan indah. Namun ada hal lain yang menarik mereka selain dari hal tersebut. yang membuat mereka senang adalah bacaan sebagian bacaan Qur’an yang jelas yang dibacakan oleh mereka dari waktu ke waktu dengan suaranya yang sangat merdu dan lantang. Bacaan Mush’ab yang merdu tersebut berhasil melembutkan hati mereka yang keras membatu membuat air mata mereka mengalir. Tidak ada yang membedakan majlis mereka selain hadirnya manusia-manusia yang hendak masuk ke dalam Islam dan bergabung dalam barisan iman. Pada suatu hari As’ad bin Zurarah keluar dari rumahnya bersama Mush’ab bin Umair untuk bertemu dengan Bani Abdil Asyhal dan menawarkan Islam kepada mereka. Lalu keduanya melewati kebun-kebun Bani Abdil Asyhal dan keduanya duduk di dekat sumurnya yang jernih di bawah rindangnya pepohonan kurma. Berkumpullah di majlis Mush’ab bin Umair beberapa orang yang masuk Islam dan yang ingin mendengarkan perkataannya. Mush’ab bin Umairpun mendakwahkan kebenaran pada mereka dan memberikan kabar gembira dengan datangnya nabi Muhammad `. Semua manusia diam mendengarkannya dan meresapi apa yang dikatakan kepada mereka. Datanglah seseorang yang memberitahukan kepada Usaid bin Khudzair dan Muadz bin Jabal, keduanya adalah para pemuka bani Aus tentang datangnya seorang da’i dari Makkah yang tinggal di dekat rumah mereka. Sedangkan yang membawanya kepada para penduduk Madinah adalah As’ad bin Zurarah. Mu’adz bin Jabal berkata kepada Usaid bin Khudzair, “Celakalah kamu wahai Usaid bin Khudzair, pergilah kamu menuju pemuda Makkah yang datang ke rumah-rumah kita untuk membujuk orang-orang miskin masuk ke dalam agamanya dan membodoh-bodohkan sesembahan kita. Cegahlah dia dan peringatkanlah dia agar besk dia tidak masuk ke rumah-rumah kita.” Mu’adz bin Jabal melanjutkan perkataannya, “Seandainya saja dia tidak berada dalam perlindungan sepupuku, As’ad bin Zurarah dan tidak berjalan dengannya niscaya aku akan menghentikan dakwahnya.” Akhirnya Usaid bin Khudzair mengambil tombaknya dan pergi menuju perkebunan. Ketika As’ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid bin Khudzair As’ad berkata kepada Mush’ab bin Umair, “Celakalah kita wahai Mush’ab, Usaid adalah pemuka kaum ini. Dia adalah orang yang paling cerdas dan paling sempurna. Dia adalah Usaid bin Khudzair. Jika dia mau masuk ke dalam Islam, niscaya banyak orang yang mengikutinya, mintalahpertolongan Allah dalam menghadapinya dan perbaguslah caramu menyampaikan islam padanya.” Usaid bin Khudzair berhenti di tengah kerumunan penduduk Madinah dan menoleh ke arah Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. Usaid berkata, “Apa yang mendorong kalian untuk mendatangi rumah-rumah kami dan membujuk orang-orang miskin kami untuk masuk agamamu? Pergilah engkau dari kampung kami jika kalian tidak ingin mati terbunuh!” Lalu menolehlah Mush’ab bin Umair ke arah Usaid bin Khudzair dengan wajahnya yang berseri-seri dengan cahaya keimanan. Dia berbicara kepada Usaid dengan logatnya yang lembut dan menawan hati. Mush’ab berkata kepadanya, “Wahai pemuka kaum, apakah anda menginginkan hal yang lebih baik dari hal tersebut?” Usaid bin Khudzair berkata, “Apa itu?” Mush’ab bin Umair menjawab, “Engkau duduk di majlis kami dan mendengarkan pembicaraan kami. Jika engkau mendengarkan hal yang membuatmu senang, maka terimalah. Jika anda tidak senang maka kami akan pergi dari kalian dan kami tidak akan kembali kepada kalian.” Usaid berkata, “Sungguh engkau sangat bijaksana.” Lalu Usaid menancapkan tombaknya ke tanah dan duduk. Mush’ab menyampaikan kebenaran Islam pada Usaid bin Khudzair, dan membacakan sedikit ayat al-Qur’an padanya. Akhirnya wajah Usaid nampak berseri-seri dan nampak cerah. Dia berkata, “Alangkah indahnya apa yang engkau katakan? Alangkah mulianya apa yang engkau baca tadi!” Usaid bertanya, “Apa yang harus diperbuat jika ada seseorang yang masuk Islam?” Mush’ab menjawab, “Mandilah dan sucikanlah bajumu! Setelah itu ucapkan syahadat, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali adalah Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Setelah itu shalatlah dua reka’at.” Lalu Usaid bin Khudzair pergi ke sumur dan menyucikan diri dengan air sumur tersebut. kemudian dia berikrar, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali adalah Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, lalu melaksanakan shalat dua reka’at. Pada hari itu juga Usaid bin Khudzair, seorang penunggang kuda yang paling tangguh dan seorang pemuka dan seorang pemuka yang terpandang di hadapan kaumnya, bergabung bersama barisan kaum muslimin. Kaumnya pada waktu itu menjulukinya dengan sebutan al-Kamil (yang sempurna), karena kecerdasan otaknya dan kemuliaan akhlaknya. Usaid pandai berperang dan pandai menulis. Disamping kepandaiannya dalam berkuda dan ketepatannya menunjamkan tombak, dia juga seorang pembaca yang berkumpul bersama dengan orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Keislaman Usaid bin Khudzair juga menjadi sebab masuk Islamnya Mu’adz bin Jabal. Dan keislaman keduanya menjadi sebab masuknya banyak sekali suku Aus ke dalam agama Islam. Setelah itu Madinah menjadi tempat hijrah bagi Rasulullah `, tempat berlindung dan menjadi pondasi utama berdirinya daulah Islam yang sangat besar. Usaid bin Khudzair sangat terpikat dengan al-Qur’an setelah dia mendengarnya dari Mush’ab bin Umair kesenangannya pada al-Qur’an layaknya kecintaan seorang kekasih pada kekasihnya. Usaid menerima al-Qur’an layaknya seorang yang sangat haus di musim panas lalu menemukan telaga yang berair sangat segar. Bacaan al-Qur’an juga menjadi kesibukannya sehari-hari. Usaid selalu tampil sebagai mujahid yang berperang di jalan Allah atau sebagai orang yang berdiam diri di masjid membaca ayat al-Qur’an. Suara Usaid sangat merdu dan jelas, dan sangat senang melaksakannya. Dia sangat senang dengan bacaan al-Qur’an melebihi kesenangannya apabila malam datang dan semua mata terpejam serta jiwa-jiwa yang tenang. Para sahabat menanti-nanti saat-saat Usaid membaca al-Qur’an. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendengarnya. Alangkah bahagianya orang yang bisa mendengarkan bacaannya yang nyaring dan lembut seperti ketika diturunkan kepada nabi Muhammad `. Di samping para penghuni dunia yang menikmati bacaannya ternyata penghuni langitpun menikmati bacaannya. Pada suatu malam Usaidi bin Khudzair duduk di halaman belakang rumahnya, putranya yang bernama Yahya tidur di sebelahnya. Kudanya yang dia persiapkan untuk perang terikat tidak jauh dari dia berada. Malam itu terasa sangat tenang dan sunyi. Suasana langit sangat cerah. Bintang gemintang berkelap-kelip menghiasi bumi dengan sangat lembut dan indah. Pada waktu itu Usaid bin Khudzair sangat ingin sekali menghiasi suasana malam yang indah itu dengan bacaan al-Qur’an. Akhirnya dia membaca al-Qur’an dengan suaranya yang sangat merdu dan memikat hati. Dia membaca ayat,(al-Baqarah) Setelah membaca ayat tersebut Usaid mendengar kudanya yang terikat berputar-putar hingga hampir saja tali pengikatnya lepas. Lalu Usaid diam dan kuda itupun kembali tenang. Lalu Usaid melanjutkan bacaannya, (al-Baqarah) Kuda Usaid kembali berputar-putar dan bergerak dengan gerakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Lalu Usaid diam dan kuda itu kembali tenang. Hal itu terulang berkali-kali. Setiap kali Usaid membaca ayat tersebut kudanya terus memberontak. Apabila Usaid diam, kuda itu kembali tenang. Usaid takut jika kudanya menginjak putranya yang tidur di sampingnya. Akhirnya Usaid pergi membangunkan anaknya. Di situlah Usaid melihat sesuatu yang aneh di langit. Usaid melihat mendung seperti sebuah payung. Mata belum pernah melihat awan yang lebih indah dan lebih memukau dari awan itu sama sekali. Awan itu tergantung di langit seperti lampu. Awan itu menyinari langit dengan sinarnya yang sangat terang. Kemudian awan itu naik ke atas langit kemudian menghilang dari pandangannya. Keesokan harinya Usaid pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan yang dia lihat tersebut kepada nabi Muhammad `. Rasulullah bersabda kepada Usaid, “Wahai Usaid, itu adalah malaikat yang turun untuk mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau meneruskan bacaannya niscaya semua orang akan melihatnya dan para malaikat itu akan terlihat oleh mereka. ” Di samping Usaid sangat mencintai al-Qur’an, Usaid juga sangat mencintai Rasulullah `. Sebagaimana yang dia ceritakan tentang dirinya, yang paling membahagiakan dan paling menentramkan imannya adalah saat-saat ketika dia membaca al-Qur’an dan ketika dia mendengarkan Rasulullah berkhutbah atau sedang berbicara. Usaid sering sekali mengidam-idamkan untuk dapat menyentuh tubuh Rasulullah ` dan tersungkur di pelukan beliau dalam keadaan memeluknya. Dan ternyata beberapa kali dia mendapatkan kesempatan untuk melakukan yang diimpikan tersebut. Pada suatu hari Usaid berkumpul dengan para sahabatnya dan bercerita dengan mereka. Lalu Rasulullah menusuk lambung Usaid dengan tangan beliau, seakan-akan beliau membenarkan ucapan Usaid. Namun Usaid berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membuatku sakit.” Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Usaid, silahkan engkau membalasku.” Usaid berkata, “Engkau saat ini memakai baju, sedangkan ketika engkau menusukku aku tidak memakai baju.” Akhirnya Rasulullah mengangkat bajunya. Dan seketika itu juga Usaid segera memeluk bawah ketiak hingga perut beliau dan juga menciumnya. Usaid berkata, “Demi ayah dan ibuku, sungguh aku sungguh hal ini merupakan impian besarku semenjak aku mengenalmu. Dan kini impianku menjadi kenyataan.” Rasulullahpun sangat dalam cintanya kepada Usaid. Rasulullah sangat hafal dengan masuk Islamnya Usaid yang sangat cepat dan selalu mengingat ketika Usaid melindungi beliau pada perang Uhud hingga dirinya terkena tujuh tusukan yang mematikan di hari itu. Rasulullah tahu betul derajat dan kedudukan Usaid di kalangan kaumnya. Jika ada salah seorang dari kaumnya yang meminta pertolongan darinya niscaya dia akan menolongnya. Usaid bercerita, Suatu ketika aku menghadap Rasulullah `, aku menyebutkan pada beliau ada satu keluarga dari kalangan di anshar dalam keadaan miskin dan kekurangan. Semua anggota keluarga tersebut perempuan. Rasulullah ` bersabda, “Sungguh engkau datang menghadap kami setelah kami menginfakkan semua yang ada di tangan kami. Jika engkau mendengar bahwa kami mendapatkan harta, maka sebutkan pada kami tentang keluarga tersebut.” Tidak berselang lama setelah kedatangan Usaid kepada Rasulullah, Allah memberikan rizki kepada kaum muslimin, yaitu rampasan perang Khaibar. Rasulullah membagikan hasilnya kepada kaum muslimin dan memberikan bagian yang lebih kepada kaum Anshar. Rasulullah memberikan harta yang lebih kepada keluarga yang kekurangan tersebut. aku berkata kepada Rasulullah, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu wahai Rasulullah `.” Rasulullah menjawab, “Semoga Allah juga membalas kebaikan pada kalian wahai kaum anshar. Sepengetahuanku kalian adalah orang yang menjaga diri dan orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kelak sesudahku akan melihat sifat pilih kasih. Bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku, karena balasan kalian adalah telaga.” Ketika kekhalifahan berada di tangan Umar bin Khattab, beliau membagi-bagi harta dan persediaan pangan kepada kaum muslimin. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab mengirimkan kain sutra kepadaku, namun aku meremehkan barang tersebut. Ketika aku sedang duduk di masjid, tiba-tiba lewatlah seorang pemuda dari Quraisy yang memakai kain sutra yang halus dan sangat panjang. Kain itu sama dengan yang Umar berikan kepadaku. Pemuda tersebut menjulurkan kain sutra itu ke atas tanah hingga melampaui batas. Aku menyampaikan sabda Rasulullah kepada orang yang berada di majlisku, “Sesungguhnya kalian akan melihat sikap pilih kasih sepeninggalku nanti.” Dan aku berkata, “Sungguh sangat benar sabda Rasulullah `. Mendengarkan perkataanku, pemuda tersebut bersegera menemui Umar bin Khattab dan memberitahukan padanya apa yang aku katakan. Lalu Umar bin Khattab menemuiku dengan segera. Pada waktu itu aku henda shalat. Khalifah Umar berkata, “Shalatlah dulu wahai Usaid!” Ketika aku sudah menyelesaikan shalatku, Umar menghadapku dan berkata, “Apa yang engkau katakan tadi?” Akhirnya aku menceritakan apa yang aku lihat dan aku katakan. Umar berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Kain sutra yang dia pakai itu dulu aku berikan kepada si fulan. Si fulan adalah orang yang pertama masuk Islam, mengikuti perang Badar dan Uhud. Lalu pemuda Makkah yang berasal dari Quraisy ini membelinya dari si fulan lalu memakainya. Apakah engkau mengira bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu terjadi pada masa kepemimpinanku?” Usaid menjawab, “Demi Allah, aku mengira bahwa hal itu tidak terjadi pada masa kepemimpinanmu.” **** Usaid tidak hidup berlangsung lama setelah kejadian tersebut. Allah lebih mendahulukan mengambil nyawanya dari Umar. Usaid meninggal pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Dan ternyata Usaid meninggalkan hutang sebanyak kurang lebih 400.000 dirham. Para ahli warisnya ingin menjual tanahnya untuk melunasi hutangnya. Ketika Umar menyaksikan hal tersebut dia berkata, “Aku tidak akan membiarkan anak turun saudaraku, Asad hidup dalam kekurangan. Akhirnya Umar membujuk pemiutang agar dia rela jika anak turun Usaid mengelola tanah tersebut dengan membayar seribu dirham setiap tahun.

Minggu, 26 Februari 2012

Abu Darda’

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 04.46
“Abu Darda’ menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”
(Abdurrahman bin Auf)
Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau yang sering dipanggil Abu Darda’ bangun tidur lebih awal. Dia pergi menuju patungnya yang dia letakkan di tempat yang paling mulia di rumahnya.
Uwaimir mengucapkan selamat dan mengolesinya dengan minyak wangi yang paling mahal yang dia miliki di toko minyak wanginya. Dia juga memakaikan pada patungnya baju baru dari sutra yang paling mewah. Baju sutra yang baru itu hasil hadiah dari salah seorang pedagang dari Yaman yang datang padanya.
Ketika matahari sudah agak tinggi, Abu Darda’ meninggalkan rumahnya pergi menuju tokonya.
Dalam perjalanan menuju Makkah, ternyata jalan-jalan sudah dipenuhi dengan para pengikut Muhammad yang kembali dari medan Badr. Di depan mereka terdapat tawanan dari bangsa Quraisy. Abu Darda’ ingin menghindari rombongan kaum muslimin, namun langkahnya terhenti oleh seorang pemuda dari suku Khazraj. Abu Darda’ bertanya pada orang tersebut tentang Abdullah bin Rawahah.
Pemuda Khazraj berkata kepada Abu Darda’, “Dalam peperangan tadi, Abdullah bin Rawahah, mendapatkan perlawanan yang sangat sengit, namun dia kembali dalam keadaan menang, dan mendapatkan rampasan perang.”Abu Darda’ senang dengan jawaban tersebut.
Pemuda Khazraj itu tidak heran dengan pertanyaan Abu Darda’ tentang Abdullah bin Rawahah, karena semua orang sudah mengetahui tali persaudaraan antara keduanya. Abu Darda’ dan Abdullah bin Rawahah adalah dua saudara di masa jahiliyyah. Namun ketika datang agama Islam, Abdullah bin Rawahah menyambutnya dengan baik dan masuk Islam, sedangkan Abu Darda’ enggan masuk Islam.
Namun ternyata perbedaan itu tidak memutuskan tali persaudaraan mereka yang kuat. Abdullah bin Rawahah sering berkunjung ke rumah Abu Darda’ dan menawarkan islam padanya dan juga membujuknya untuk masuk Islam dan menyayangkan umur yang dia lewati jika dia dalam keadaan musyrik.
****
Abu Darda’ sampai di tokonya. Dia duduk di kursinya yang tinggi. Mulailah dia melakukan jual beli, dan memerintah serta melarang budaknya.
Abu Darda’ tidak sedikitpun mengetahui sesuatu yang terjadi di rumahnya. Pada waktu itu Abdullah bin Rawahah pergi ke rumah Abu Darda’ dan berniat melaksakan sebuah rencana.
Ketika Abdullah bin Rawahah sampai di rumahnya, dia melihat rumahnya terbuka dan Ummu Darda’ berada di halaman rumah.
Abdullah bin Rawahah berkata, “Assalamu’alaikum, wahai hamba Allah.”
Ummu Darda’ menjawab, “Wa’alaikumsalam, wahai saudara Abu Darda’.”
Abdullah bin Rawahah bertanya, “Di mana Abu Darda’?”
Ummu Darda’berkata, “Dia pergi ke tokonya, nanti dia akan kembali.”
Abdullah bin Rawahah bertanya, “Apakah engkau mengizinkanku masuk?”
Ummu Darda’ menjawab, “Silahkan, selamat datang di rumahku.” Lalu Ummu Darda’ mempersilahkannya masuk. Ummu Darda’ pergi ke kamarnya. Dia sibuk menyelesaikan urusan rumahnya dan mengurusi anaknya.
Abdullah bin Rawahah masuk ke dalam kamar tempat diletakkannya patung di dalam rumahnya. Ia mengeluarkan kapak yang dia bawa. Lalu dia mendekat ke patung tersebut seraya memotong-motongnya. Abdullah berkata, “Ketahuilah bahwa sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil (keliru)….sesuatu yang disembah selain Allah adalaah batil.” Setelah selesai memotong-motongnya Abdullah bin Rawahah meninggalkan rumah Abu Darda’.
****
Ummu Darda’ masuk ke dalam kamar yang terdapat patungnya. Dia sangat kaget ketika melihat patungnya terpotong-potong, anggota tubunya terpotong secara terpisah di atas tanah. Ummu Darda’ menampari pipinya seraya berkata, “Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah…. Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah”
Tidak berselang lama pulanglah Abu Darda’ dari tokonya. Dia  melihat istrinya menangis dengan suara keras dalam keadaan duduk di pintu kamar yang terdapat patungnya.  Tanda-tanda kekhawatiran terpancar dari wajahnya.
Abu Darda’ bertanya, “Ada apa dengamu?”
Ummu Darda’ menjawab, “Ketika engkau tidak ada, saudaramu Abdullah bin Rawahah datang dan menghancurkan patung itu sebagaimana yang engkau lihat.” Abu Darda’ memandangi patungnya yang sudah hancur berkeping-keping. Api kemarahan menyala dalam dirinya. Dia bertekad untuk membalas dendam pada Abdullah bin Rawahah. Namun ia berfikir sejenak dan berkata, “Jika patung ini benar-benar tuhan, niscaya dia mampu menolak musibah yang menimpanya.”
Seketika itu juga dia pergi ke rumah Abdullah bin Rawahah. Lalu keduanya pergi bersama-sama ke rumah Rasulullah `, dia mengikrarkan keislamannya pada beliau. Abu Darda’ adalah orang yang paling akhir dalam memeluk Islam.
Abu Darda’ beriman sejak pertama kepada Allah dan RasulNya dengan keimanan yang dapat merubah kebiasaannya. Dia sangat menyesal sekali dengan kebaikan yang telah lama terlewatkan.
Dia berhasil mencapai apa yang lebih dulu dicapai oleh sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam dalam hal memahami agama islam, menghafal Qur’an, beribadah dan bertakwa yang mereka simpan di sisi Allah.
Abu Darda’ bertekad untuk menyusul hal-hal yang telah terlewatkan dengan penuh kesungguhan. Dia bertekad untuk menyambung keletihan malam dengan keletihan siang agar dapat menyusul ‘para pengendara’ lain dan sejajar dengan mereka.
Dia berusaha terus gigih beribadah laksana para orang yang sudah tidak memikirkan dunia. Terus mencari ilmu seperti orang yang sangat kehausan. Abu Darda’ selalu menekuni al-Qur’an, menghafal ayatnya dan menyelami kandungan ayat-ayatnya.
Ketika Abu Darda merasa perdagangannya selama ini mengganggu kenikmatannya dalam beribadah dan menyebabkannya tertinggal dari majlis ilmu, dia meninggalkan perdagangannya tanpa rasa ragu.
Ada salah seorang yang bertanya tentang sikapnya itu. Namun Abu Darda’ menjawab, “Dulu aku berdagang sebelum aku bertemu dengan Rasulullah. Ketika aku memeluk islam, aku ingin menyatukan antara dagang dan ibadah. Namun hal itu tidak bisa aku lakukan. Akhirnya aku meninggalkan perdagangan dan mementingkan ibadah. Demi Dzat Yang menggenggam nyawaku, alangkah bahagianya aku jika aku mempunyai toko di sebelah pintu masjid  hingga aku tidak tertinggal shalat Jama’ah di masjid. Setelah itu aku berjual beli hingga aku mendapatkan laba hingga 300 dinar.”
Abu Darda’ menoleh kepada orang yang bertanya tersebut, “Demi Allah, aku tidak mengatakan bahwa Allah mengharamkan jual beli. Namun aku tidak ingin masuk dalam golongan orang-orang tertipu dari perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.”
Abu Darda’ tidak hanya meninggalkan perdagangan saja namun dia juga meninggalkan kemewahan dan kemilau dunia. Dia hanya bertumpu pada beberapa suap makanan yang kasar dan memakai baju yang murahan untuk menutupi tubuhnya.
Pada suatu malam yang sangat dingin ada sekumpulan orang yang berkunjung ke rumahnya. Abu Darda’ hanya menghidangkan makanan yang kasar untuk mereka dan tidak menyediakan selimut. Ketika para tamu itu hendak tidur, mereka berunding tentang masalah selimut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan menemui Abu Darda’ dan mengatakan masalah ini.” Sedangkan yang  lainnya berkata, “Kita terima saja seperti ini.” Namun orang tersebut enggan. Dia pergi ke kamar Abu Darda’. Ketika dia sampai di pintu kamarnya ternyata Abu Darda’ sudah berbaring. Sedangkan istrinya duduk di dekatnya. Keduanya hanya memakai baju yang tipis, tidak bisa melindungi dari panas dan tidak bisa menahan udara dingin.
Orang tersebut berkata kepada Abu Darda’, “Aku melihatmu tidur sebagaimana kondisi kami. Di manakah perlengkapan rumah kalian?”
Abu Darda’ menjawab, “Kami mempunyai rumah yang terletak disana. Setiap kali kami memperoleh rizki, kami selalu mengirimkan perlengkapan rumah ke sana setiap kali kami mendapatkan keuntungan.  Seandainya kami masih mempunyai sisa perlengkapan rumah, niscaya akan kami berikan kepada kalian. Jalan menuju rumahku yang ‘di sana sangatlah terjal dan susah. Orang yang meringankan bebannya di sana lebih baik daripada orang yang memberatkannya. Kami ingin meringankan beban kami agar kami sampai di rumah kami ‘di sana.”
Abu Darda’ meyakinkan orang tersebut. “Apakah kamu faham dengan maksudku?”
Orang itu menjawab, “Iya, aku faham. Semoga Allah membalas kebaikan padamu.”
****
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Darda’ diminta untuk menjadi gubernur Syam, namun dia enggan. Khalifah Umar terus mendesaknya. Abu Darda’ berkata, “Jika engkau merelakanku untuk pergi kepada mereka sebagai pengajar al-Qur’an dan sunnah nabiNya serta menjadi imam mereka, maka aku akan pergi.” Umar mengabulkan permintaan Abu Darda’. Akhirnya Abu Darda’ pergi ke Damaskus. Sesampainya di Damaskus dia mendapati semua orang terbuai dalam kemewahan dunia, mereka terjerumus ke dalam kenikmatan. Abu Darda’ khawatir dengan keadaan itu. Akhirnya dia menyeru manusia untuk pergi ke masjid dan berkumpul dengannya. Abu Darda’ berdiri di tengah-tengah mereka seraya berkata,
“Wahai penduduk Damaskus, kalian adalah saudaraku seagama. Kalian adalah tetanggaku, kalian adalah penolongku dalam menghadapi musuh. Wahai penduduk Damaskus, apa yang menghalangi kalian untuk mengasihiku serta menerima nasehatku, padahal sedikitpun aku tidak mengharapkan balasan dari kalian. Nasehatku untuk kalian, sedangkan kebutuhanku telah dicukupi oleh orang selain kalian. Mengapa orang-orang bodoh di antara kalian tidak belajar sedangkan para ulama’ telah wafat?”
“Mengapa kalian meninggalkan apa yang diperintah Allah, padahal Allah telah mencukupi semua kebutuhan kalian?! Mengapa kalian mengumpulkan harta yang tidak kalian butuhkan untuk makan? Mengapa kalian membangun rumah yang tidak kalian butuhkan untuk ditinggali? Mengapa kalian mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian capai? Sebelum kalian ada banyak sekali kaum yang mengumpulkan harta dan mempunyai khayalan-khayalan namun tidak lama setelah itu akhirnya mereka binasa bersama dengan yang mereka kumpulkan. Khayalan mereka tidak tercapai dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.“
“Wahai penduduk Damaskus, lihatlah kaum ‘Ad yang memenuhi dunia dengan harta dan anak mereka. Siapa di antara kalian yang membeli peninggalan ‘Ad dariku dengan dua dirham?”
Akhirnya semua penduduk Damaskus menangis hingga suara tangisan mereka terdengar hingga keluar masjid.”
****
Sejak saat itulah Abu Darda’ selalu mengisi majlis-majlis di Damaskus serta berkeliling ke pasar-pasar mereka. Dia menjawab pertanyaan tiap orang yang bertanya, mengajari orang-orang yang bodoh dan memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai.  Abu Darda’ selalu menggunakan kesempatan yang ada. Dan memberi manfaat di setiap acara.
Pada suatu hari Abu Darda’ melewati sekumpulan orang yang menghajar seorang laki-laki. Mereka memukulinya dan mengumpatnya. Abu Darda’ menghadap mereka dan bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang laki-laki yang melakukan dosa besar.”
Abu Darda’ bertanya, “Bagimana pendapat kalian jika kalian melihat ada orang yang masuk ke dalam sumur. Bukankah kalian akan mengeluarkannya dari sumur itu?”
Mereka menjawab, “Iya, kami akan mengeluarkannya.”
Abu Darda’ berkata, “Kalau begitu, jangan kalian hajar dia, namun berilah peringatan padanya dan tunjukilah jalan yang benar. Ucapkanlah syukur kepada Allah yang membuat kalian tidak terjerumus dalam dosa yang dia lakukan.”
Mereka bertanya pada Abu Darda’, “Apakah engkau tidak membencinya?”
Abu Darda’ menjawab, “Aku hanya membenci perbuatan dosanya. Jika dia meninggalkannya maka dia adalah saudaraku.”
Pemuda yang melakukan dosa itu akhirnya menangis dan mengikrarkan taubatnya.
****
Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Abu Darda’. Dia berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.”
Abu Darda’ berkata kepadanya, “Wahai anakku, ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan bahagia, niscaya Allah akan mengingatmu di kala engkau sengsara. Wahai anakku, jadilah engkau orang yang belajar, atau mengajar, atau mendengarkan. Janganlah engkau menjadi orang yang keempat (orang yang bodoh), karena engkau akan binasa. Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, “Masjid-masjid adalah rumah orang yang bertakwa.” Allah kmenjanjikan kelonggaran dan rahmat kepada orang-orang yang menajdikan masjid sebagai rumah, dan juga akan memudahkan mereka untuk melewati shirotol mustaqim menuju ridl  Allah k.
****
Pada suatu hari ada sekelompok pemuda yang duduk-duduk di jalan. Mereka berbincang-bincang sembari menyaksikan orang-orang yang berjalan. Abu Darda’ menemui mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya tempat ibadah bagi seorang muslim adalah rumahnya. Karena di dalam rumah dapat menahan dirinya dan menahan pandangannya. Janganlah kalian duduk-duduk di pasar, karena hal itu akan melalaikan kalian dan membuat kalian melakukan hal yang sia-sia.
****
Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, gubernurnya yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan. mengutus utusan untuk melamar putri Abi Darda’ untuk anaknya yang bernama Yazid. Namun Abu Darda’ tidak mau menikahkan putrinya dengan Yazid. Abu Darda’ justru menikahkannya dengan orang biasa yang beragama dan berakhlak baik.
Hal itu ternyata menjadi pembicaraan manusia. Mereka mengatakan, “Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan meminang putri Abu Darda’ namun Abu Darda’ menolak pinangannya malah menikahkan putrinya dengan laki-laki biasa dari kalangan kaum muslimin. “
Ada salah seorang yang bertanya kepada Abu Darda’ tentang alasannya. Abu Darda’ menjawab, “Aku melakukan perbuatanku itu karena aku lebih mementingkan kemaslahatan Darda’.”
Penanya itu bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”
Abu Darda’ menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika Darda’ kelak mempunyai budak-budak yang melayaninya. Darda’ akan terlenakan dengan megahnya istana yang dia tinggali. Pada waktu itu dimanakah dia meletakkan agamanya?”
****
Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, datanglah khalifah Umar untuk mencari tahu keadaannya. Umar mengunjungi rumah sahabatnya, Abu Darda’ di malam hari. Umar mendorong pintunya, ternyata pintu rumahnya tidak ada gemboknya. Akhirnya Umar masuk ke dalam rumahnya yang sangat gelap dan tidak ada cahayanya sedikitpun. Ketika Abu Darda’ mendengar suara orang yang datang kepadanya, dia langsung bangun. Dia menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.
Keduanya saling berbincang dan bertukar pengalaman. Sedangkan gelapnya malam kala itu menghalangi pandangan kedua mata mereka. Umar meraba bantal Abu Darda’ ternyata bantalnya hanyalah kain tipis yang biasa dipakai di atas kendaraan. Ketika Umar meraba kasurnya, ternyata hanya tumpukan kerikil. Ketika Umar meraba selimutnya, ternyata selimutnya hanyalah kain tipis yang  tidak sedikitpun dapat menahan cuaca dingin di Damaskus.
Umar bertanya kepada Abu Darda’, “Semoga Allah menyayangimu, bukankah aku telah mengirimkan harta untukmu?”
Abu Darda’ menjawab, “Wahai Umar, tidakkah engkau ingat hadis Rasulullah kepada kita?”
Umar bertanya, “Apa itu?”
Abu Darda’ menjawab, “Hendaklah harta seseorang di dunia hanyalah seperti perbekalan seorang musafir.”
Umar menjawab, “Iya, aku ingat.”
Abu Darda’ menjawab, “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah kita mendengar hadis itu?”
Akhirnya Umar dan Abu Darda’ menangis bersam-sama. Keduanya menangis hingga tiba waktu subuh.
****
Selama tinggal di Damaskus Abu Darda’ selalu memberikan nasehat  pada penduduk Damaskus. Mengajari mereka al-Qur’an dan hikmah hingga ajal datang menjemputnya. Ketika Abu Darda’  menderita sakit yang menghantarkannya pada kematian para sahabatnya menemuinya.
Mereka bertanya, “Apa yang engkau keluhkan?”
Abu Darda’ menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”
Mereka bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”
Abu Darda’ menjawab, “Yang aku inginkan adalah ampunan Tuhanku.”
Lalu Abu Darda’ berkata kepada orang yang disampingnya, “Talkinlah aku kalimat Lâ ilâha illallah Muhammadur Rasulullah.” Abu Darda’ terus mengulang-ulang kalimat itu hingga ajal datang menjemputnya.
Ketika Abu Darda’ meninggal Auf bin Abdul Malik al-Asyja’i melihat tanah lapang yang hijau, sangat luas dan bertumbuh-tumbuhan hijau. Di dalam tanah tersebut terdapat tenda besar dari kulit, di sekelilingnya terdapat kambing-kambing yang sedang menderum. Pemandangannya sama sekali belum pernah terlihat mata.”
Auf bin Abdul Malik bertanya, “Milik siapakah ini?” lalu ada orang yang berkata, “Itu milik Abdurrahman bin Auf.”
Lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari tendan dan berkata, “Wahai Ibnu Malik, ini adalah pemberian Allah kepada kami karena al-Qur’an. Jika engkau menghadapkan ini ke jalan pasti engkau akan melihat sesuatu yang belum terlihat oleh mata, engkau akan mendengar apa yang belum pernah engkau dengar, engkau akan menemukan sesuatu  yang belum pernah terlintas dalam hatimu.”
Ibnu Malik bertanya, “Untuk siapakah itu semua wahai Abdurrahman bin Auf?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Allah menyiapkannya untuk Abu Darda’ karena dia menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”[1]

[1] Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abu Darda’ silahkan baca kitab,

-          al-Ishabah at-Tarjamah
-          al-Istî’ab juz 3 halaman 15 dan juz 4 halaman 159
-          Usdul Ghabah juz 4 halaman 159
-          Hilyatul Auliya’ juz 1 halaman 308
-          Husnus Shahabah halaman 218
-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 257
-          Târikhul Islam karya adz-Dzahabi juz 2 halaman 107
-          Hayâtus Shahabah lihat daftar isi
-          Al-Kawâkib ad-Duriyyah juz 1 halaman 45
-          Al-A’lam karya az-Zarakli juz 5 halaman 281

Tampilkan postingan dengan label Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan sahabat yang mula-mula masuk Islam. Ia termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasululah. Selain itu, ia juga termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah menggantikan Umar bin Khaththab. Ia adalah seorang mufti yang dipercaya Rasulullah untuk berfatwa di Madinah.
Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah SAW melakukan pembinaan di rumah Arqam bin Abil Arqam, kira-kira dua hari setelah Abu Bakar masuk Islam.
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.
Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.

Tapi, kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah SAW berpidato membangkitakn semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Bersedekahlah kalian, karena saya akanmengirim pasukan ke medan perang.”

Mendengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. “Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya aya tinggalkan untuk keluarga saya,” ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah SAW, “Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”
Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?”
Abdurrahman menjawab, “Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan.”
“Berapa?” Tanya Rasulullah.
Abdurrahman menjawab, “Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Subhanallah.

Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.
Suatu hari, iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, “Suara apakah itu?”
Orang itu menjawab, “Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman.”
Aisyah berkata, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”

Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?”
“Ya,” jawab Aisyah.
“Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah.”

Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, Aisyah mendoakan, “Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga).”
Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang — padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, “Mush’ab bin Umair syahid di medan perang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafan, jika kepalanya ditutup, makakakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini.” Setelah itu, ia menangis tersedu-sedu.
Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Amin.”

Jumat, 02 Maret 2012

Mush’ab Bin Umair

Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kit, memulai kisah dengan pribadi-nya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan
Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”·
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan
, dan tumbuh dalam lingkungannya· Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Nlush’ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang balk”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tetapi corak pribadi manakah?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin … Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.
Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar Sauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajamya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.
Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah …!
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. la wanita yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.
Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.
Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.
Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat bebeuapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lain pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lain pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Balk di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.
Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam la merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar …
Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai juSah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Lslam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bihirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda:
Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi daiam memperoleh k esenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalhannya semua itu demi cintanya hepada Allah dan Rasul-Nya.
Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.
Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”.
Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata: !’Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: “Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu.
Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.
Demikian Mush’ab meninggalkari kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani …
Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama-Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peuistiwa besar.
Sebenamya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih beupengarub dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.
Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.
Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-nya.
Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.
Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan.
la sadar bahwa tugasnya adalah menyerLi kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka ….
Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat; Kitab Suci dari Allah, menyampaian kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.
Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal.
Tetapi Tuhannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-r\jya.
Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk beusama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam…, laksana terang dan damainya cahaya fajar …,terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”
Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyauakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu .. ·! Dan apakah yang barns dilaknkan oleb orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab: “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil meme·ras air dari rambutnya, lain ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah ….
Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keidaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin ‘Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu …. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!”
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya· Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijral ke Madinah.
Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadp hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.
Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.
Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin daui puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Nlelihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan st?rangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lain maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk bauisan tentara …
Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab beutempur laksana pasukan tentara besar …. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam …. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah .
Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata:
Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:
Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Maka dipegangnya bendera dengan tangan hirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya he dada sambil mengucaphan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasulj dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’: Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “
Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera …. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada …. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”
Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang ….
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia ….Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu.
Atau mungkin juga ia merasa main karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.
Wahai Mush’ab cukuplah bagimu ar-Rahman ….
Namamu harum semerbak dalam kehidupan ….
Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul’Urrat:
“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedihit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewa s di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”
Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi …. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya …. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya …. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:
Di antara orang-orang Mu inin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.(Q.S. 33 al-Ahzab: 23)
Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:
Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi seharang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:
Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.
Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya:
Hai manusia! Berziarahlah dan berltunjunglah kepada mereka, serta ucaphanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan mem balasnya.
Salam atasmu wahai Mush’ab ….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada ….
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
sumber : al-sofwa

Kamis, 01 Maret 2012

Zaid Bin Tsabit

Zaid bin Tsabit termasuk “group sahabat junior”. Ia 10 tahun lebih muda dari pada Ali ibn Abi Thalib. Zaid dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah. Orang tuanya, yang berasal dari kabilah Bani an-Najjar, adalah termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Ia mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang melebihi rekan-rekan seusianya saat itu.
Pada saat-saat penantian kedatangan RasuluLlah dan Abu Bakar di Madinah dari Makkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sebentar-bentar pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum muslimin Madinah melihat RasuluLlah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada RasuluLlah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada RasuluLlah, untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa dalam bidang ini.
Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini, dapat membantu dan selalu berdekatan dengan Utusan Allah yang ia cintai. RasuluLlah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. RasuluLlah sangat mencintai sahabat ciliknya yang ketika itu baru berusia 11 tahun. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan RasuluLlah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Al-Qur’an. Disamping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima RasuluLlah, Zaid pun mendapat assignment dari RasuluLlah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering dipergunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai oleh Zaid dalam waktu sangat singkat, 32 hari!
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Al-Qur’an. Abu Bakar RA memanggilnya dan mengatakan, “Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan RasuluLlah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan membukukannya.” Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an:
“Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak RasuluLlah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini.”
Akhirnya dengan melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Al-Qur’an, adalah mengingat banyaknya hafidz Qur’an yang syahid. Dalam pertempuran “Harb Ridah” melawan Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Qur’an menemui syahid.
Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk team khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Ketiga persyaratan tersebut adalah:
1. Ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit 2 orang.
2. Harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk “hardcopy” lainnya).
3. Untuk yang tertulis, paling tidak harus ada 2 orang saksi yang melihat saat dituliskannya. Dengan persyaratan tersebut, dimulailah pekerjaan yang berat ini oleh Zaid bin Tsabit yang membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa kekhalifahan Abu Bakar.

Rabu, 29 Februari 2012

Abu Ubaidah bin Jarrah

Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Uhaib bin Dhabah bin Al Harist bin Fahr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin  Muhdar bin Nizar bin Ma`ad, Al quraisy Al Fihry al maky.
Beliau adalah salah seorang sahabat yang masuk islam pada awal  masa dakwah islam. Abu Bakar pernah menghendaki menunjuknya sebagai khalifah sesudah Rasulullah pada hari Saqifah bani Saidah, wajar saja karena menurut Abu Bakar, beliau pantas untuk menduduki jabatan tersebut.
Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Fihr, beliau memberi kabar gemberi kepada beliau dengan jannah dan menjuluki beliau dengan orang kepercayaan umat ini, sebagai sahabat senior, beliau selalu ikut dalam peperangan–perangan islam, dan sangat banyak mendengar hadits dari Rasulullah,banyak para sahabat dan para tabi`in yang meriwayakan hadits dari beliau, antara lain : Irbadh bin Sariyah, Jabir bin Abdullah, Abu Umamah al Bahily, samurah bin jundub, Aslam maula Umar, Abdurahman bin Ghanim dan lain-lain.
Dalam shahih muslim terdapat satu hadits dari beliau, dalam sunan At Tirmidzi juga ada satu hadsit, dalam Musnad Ahmad ada 12 hadits, dan dalam Baqi bin Mullad ada 15 hadits.
Diantara hadits yang bersumber dari beliau adalah
Abu Ubaidah bin jarrah berkata :’ Saya telah mendengar Rasulullah bersabda :’ Sesungguhnya tak seorang nabipun setelah nabi Nuh kecuali mengingatkan kaumnya akan fitnah Dajjal. Dan kini aku peringatkan hal ini kepada kalian.” Lalu beliau menyebutkan sifat-sifat Dajjal kepada kami. beliau lalu bersabda,” Barang siapa sebagian orang melihatku  atau mendengar sabdaku akan sempat mendapati Dajjal.”Para sahabat bertanya, bagaimanakah kondisi hati kami pada saat itu ? apakah seperti saat ini ? beliau menjawab,” bahkan lebih baik.”[1]
Malik bin Yakhomir menjelaskan bahwa Abu Ubaidah adalah seorang yang kurus, jenggotnya tipis,tinggi agak bungkuk dan rusak gigi serinya.
Yazid bin Rumah berkata,Ibnu Madz`un, Ubaidah bin Harist, Abdurahaman bin Auf , Abu Salamah bin Abdul Asad dan Abu Ubaidah bin Jarrah mendatang Rasulullah. Beliau menawarkan islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Saat itu juga mereka masuk islam dan itu terjadi sebelum Rasulullah berdawah dirumah Arqom.
Pada perang badar, Abu Ubaidah membunuh ayahnya yang berperang berada dibarisan kaum kafir Quraisy. Atas peristiwa itu Allah memujinya dengan menurunkan  surat al Mujadilah ayat 22 :
لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {22}
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”
Dalam perang uhud, Abu Ubaidah menunjukan perjuangan yang keras, dengan giginya, rantai besi yang mengenai helm Rasulullah dicabutnya, akibanya, gigi seri Abu Ubaidah patah, namun hal itu justru menambah kegagahanya, sehingga ramai dikatakan,” Tidak ada ompong yang lebih indah dari ompongnya Abu Ubaidah “.
Pada saat pemilihaan khalifah pada hari Tsaqifah, Abu Bakar berkata,” Saya Ridha untuk kalian salah satu dari dua laki-laki ini yaitu Umar dan Abu Ubaidah bin jarrah.
Imam Al Waqidy dan Ibnu Ishaq  menulil bahwa Abu Ubaidah termasuk rombongan yang hijrah ke Habasyah. Menurut imam Adz Dzahabi kalaupun beliau hijrah ke Habasyah namun beliau tidak tinggal di Habasyah.
Abu Ubaidah  juga seorang penghapal Al Qur`an. Beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang penurut, dalam perang Dzatul Salasil, dipingiran Syam, Amru bin Ash sebagai komandan meminta  bantuan kepada Rasulullah. Maka dikirimlah serombongan  Muhajirin  dengan komandan Abu Ubaidah bin Jarrah, diantara pasukanya terdapat Abu Bakar dan Umar. Ketika bantuan tiba, Amru bin Ash berkata,” Saya komandan umum,” Kaum muhajirin protes,” Anda komandan atas pasukan anda, sedangkan komandan kami adalah Abu Ubidah bin Jarrah.’ Kalian ini hanya bala bantaun saja. Melihat perselissihan itu Abu Ubaidah yang memang seorang yang lembut  dan penurut terhadap perintah Rasulullah segera menyerahkan pimpinan kepada pasukan kepada Amru.
Diriwayatkan fari  dari banyak sanad dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أُمِيْنًا وَأَمِيْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ


” Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, sedang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah “.[2]
Pada saat tiba di daerah Sargh, sebuah daerah awal Hijaz dan ahir Syam, yaitu sebuah desa anatara Mughitsah dan Tabuk,datang khabar kepada Umar bahwa di Syam terjadi wabah thau`un, maka Umar berkata,”Jika saya mati dan Abu Ubaidah masih hidup, saya akan mengangkatnya menjadi khalifah. Jika Allah bertanya kepadaku,” kenapa kau angkat ia menjadi khalifah atas umat Muhammad ?’ Aku akan menjawab,” karena saya mendengar Rasulullah bersabda :” Setiap umat mempunyai orang kepercayaan, sedang kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah .
Orang-orang Qurais memperotes Umar,” Kenapa tidak kau angkat  pembesar Quraisy saja “ maksud mereka adalah Bani Fahr, maka Umar balik menjawab : Jika aku mati dan Abu Ubaidah juga telah mati, aku akan Muadz bin jabal sebagai khalifah, jika Allah bertanya kepadaku, aku jawab,” Saya mendengar Nabi-Mu bersabda :” Sesungguhnya Muadz akan dikumpulkan pada hari kiamat dihadapan para Ulama sejauh mata memandang.[3]
Abu Ubaidah adalah sahabat yang begitu dicintai oleh Rasulullah :
Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Aisyah siapakah sahabat Rasulullah yang paling dicintai Rasul ? Aisyah menjawab,” Abu Bakar, lalu umar, lalu Abu Ubaidah bin Jarrah.[4]
Tentang kepercayaan Rasulullah kepada Abu Ubaidah bin jarrah ini dikuatkan oleh peristiwa datangnya dua uskup Nashrani Najran  yang datang ke Madinah meminta kepada Rasul seorang sahabat yang menjadi hakim atas persengketaan di Najran.
Dari Hudzaifah bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ,” Saya akan utus kepaada kalian seorang laki-laki yang terpercaya. maka para sahabat berharap dirinyalah yang ditunjuk Rasulullah, ternyata beliau mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah.[5]
Al Hasan berkata,” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ,“ Tak seorangpun diantara kalian yang kalau aku mau kecuali aku hukum kerena sebagian kelakuanya, kecuali Abu Ubaidah“.[6]
Memang Abu Ubaidah dikenal dengan baik ahlaqnya,sangat penyantun, lembut dan tawadhu. Ibnu Abi Najjih berkata,” Umar berkata kepada para sahabat yang duduk bersamanya,” berangan-anganlah.” Kemudian Umar berkata,” tetapi aku berharap rumah yang penuh dengan tokoh semisal Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Abu Ubaidah memang begitu dicintai seluruh sahabat, ulama Umat, Ibnu Mas`ud, sampai berkata ,”Orang yang paling saya cintai dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ada tiga orang yaitu Abu bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kejujuranya membuat beliau dipercaya semua pihak. Khalifah bin Khayat dalam dalam buku sejarahnya menulis Abu Bakar mengangkat Abu Ubaidah bin jarrah  sebagai bagian Baitul Maal. Pada Tahun 13 H, Abu Bakar mengirinyan ke Syam. Disana terjadi perang Yarmuk, Umar sebagai Khalifah pasca Abu Bakar segera menurunkan Abu Ubaidah selaku komandan umum.
Kedekatan hubungan  Umar dengan Abu Ubaidah diceritakan oleh tokoh Tabi`in yang mulia Tamim bin Salamah, ujarnya Umar bertemu Abu Ubaidah. ia menyalami dan mencium tanganya, kemudian keduanya berbicara berdua lalu sama-sama menangis.
Ulama umat, Ibnul Mubaraq dalam kitab jihadnya dengan sanad yang kuat menulis,Ketika sampai berita kepada Umar bahwa Abu Ubaidah dikepung musuh di Syam. Maka Umar segera menulis surat kepada  Abu Ubaidah,” Amma Ba`du. Sesungguhnya tidak turun atas diri orang mu`min suatu musibah, kecuali Allah pasti akan membuatkan jalan keluar baginya, sesungguhnya satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {200}
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah, kesabaran kalian dan lakukanlah ribat “. ( Ali imran : 200 ).
Abu Ubaidah membalas surat itu,”Amma Ba`du. Sesungguhnya Allah telah berfirman :”

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ

“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sekedar main-main dan senda gurau “. (Al Hadid : 20).
Umar membawa tulisan ini keatas mimbar dan berkhutbah,“ Wahai para penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah menyindir kalian dan aku akan segera berjihad.
Suatu saat, seorang laki-laki berkata didekat Muadz bin Jabal,” wah, kalau khalid bin Walid masih hidup tentu tidak akan terjadi kerusakan,” orang tersebut berkat tatkala Abu Ubaidah sedang dikepung musuh. Maka Muadz menjawab ,” Justru mukjizat itu mendatangi Abu Ubaidah. Demi Allah, ia adalah sebaik-baik orang yang masih hidup dimuka bumi ini.[7]
Urwah bin Zubair bercerita,” Umar datang ke Syam dan disambut oleh para tokoh  dan pembesar umat islam. Umar bertanya,” Mana saudaraku Abu Ubaidah bin Jarrah ?’ ia akan segera datang jawab mereka. Abu Ubaidah datang dengan untanya.” Pergilah kalian dari kami.” Kata Umar.
Kemudian Umar berjalan bersama Abu Ubaidah ke rumahnya. Di rumahnya Abu Ubaidah hanya terlihat pedang dan tameng dan kuda perang. Umar menegur,” Wah, kalau saja kau mengambil perabot,” Abu Ubaidah balik menjawab,”Wahai Amirul Mu`minin,ini akan menyampaikan kita pada hisab yang sedikit.”
Umar terenyuh, tertegun dan hanya berujar lega,” Dunia telah merubah pola hidup kita semua, kecuali Abu Ubaidah,” Sungguh jendral yang agung ini benar-benar telah mencapai tingkat kezuhudan.
Malik bercerita,”Umar mengirim uang sebanyak 4.000 atau 400 dinar kepada Abu Ubaidah. kepada orang yang membawa uang, Umar berpesan,’ Lihatlah apa yang dikerjakanya.” Ternyata uang itu dibagi-bagikan kepada fakir miskin, Umar juga berbuat yang demikian kepada Muadz bin Jabal, ternyata uang itu dibagi-bagikan  kepada faqir miskin. hanya sedikit  keperluan yang diambil istrinya yang disisakan. Ketika tahu hal itu Umar berdo`a,” Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam islam, orang yang berbuat demikian.”
Abul Hasan Imran bin Nimran berkata,” Saat berjalan diantara tentaranya, Abu Ubaidah berkata,” Berapa banyak orang yang putih bajunya namun menodai dienya !Berapa banyak orang yang memulyakan dirinya padahal sebenarnya menghinakan dirinya sendiri ! Ikutilah kesalahan-kesalahan yang lampau dengan kebaikan-kebaikan dimasa sekarang.”
Selain semua sifat yang baik diatas, ia juga dikenal sebagai orang yang sangat kepada Allah. Beliau pun pernah berkata,” Saya ingin menjadi domba yang disembelih keluargaku,dagingku mereka makan dan kuahnya mereka nikmat.”
Saat terjadi wabah thau`un di Syam, Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah,” Aku mempunyai satu keperluan dan butuh bantuanmu ,maka segeralah kemari, saat menerima surat itu, Abu Ubaidah berujar,” Saya tahu keperluan Amirul Mu`minin. beliau ingin mempertahankan orang yang tidak kekal.” Abu Ubaidah menjawab,” Saya sudah tahu keperluan anda. Maka tolonglah lepaskanlah saya dari keinginan anda. Saya hanyalah seorang tentara  dari sekian tentara uamat islam.  Saya tak ingin berpisah dengan mereka.
Membaca surat balasan itu, Umar hanya bisa menanggis, ia ditanya,” Abu Ubaidah sudah wafat? ” Belum, tetapi seakan-akan telah wafat.”Ahirnya memang Abu Ubaidah wafat dengan sakit Tha`un tersebut. Abu Muhajir  Muhammad bin Amru Al Marwazi berkata,” Orang menyatakan bahwa bersama Abu Ubaidah ada 36 ribu tentara, yang selamat dari wabah itu 6 ribu saja.
Rupanya yang hadir menganggu Abu Ubaidah. Ia bertanya,’ Kenapa kalian tidak bertanya kepadaku?”
Mereka menjawab,” Saya dengar Rasulullah bersabda,” Siapa yang menafkahkan harta yang lebih dijalan Allah, maka dilipatkan 700 kali. Siapa membiayai nafkah keluarganya, atau menenggok orang yang sakit  atau menyingkirkan gangguan, maka kebaikanya dibalas sepuluh kali lipat. Shaum itu perisai sebelum dirusaknya,dan siapa yang diuji oleh Allah dengan sakit anggota badanya, maka ia menjadi pahala baginya”. [8]
Sejak zaman nabi Abu Ubaidah sudah sering diangkat menjadi komandan. Jabir bin Abdillah berkata,” Rasulullah mengutus utusan kearah pantai, beliau mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai komandan, mereka berjumlah 300 orang dan saya ikut dalam pasukan itu. kami keluar sampai dijalan bekal kami habis. Abu Ubaidah memerintahkan kami mengumpulkan bekal kami, tinggal dua bungkus kurma, itulah bekal kami setiap hari, sedikit demi sedikit ahirnya habis. Setiap hari kami makan sebiji kurma, ketika kehabisan bekal, kami sampai dipantai, ternyata ada ikan paus terdampar. Maka tentara itu makan ikan paus selama delapan belas hari. Abu Ubaidah memerintahkan ditegakan dua tulang ikan itu dan diangkat dengan unta, ternyata seekor unta tak kuat membawanya.[9]
Setelah perang melawan orang-orang murtad  dan para nabi palsu selesai, Abu Bakar mengirim tentara islam ke Romawi. Para komandan yang diberangatkan adalah : Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Amru bin Ash, Syuhrabil bin Hasanah dan kemudian datang bantuan  dari Iraq  ( Persia) yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.  bertemulah 36. 000 tentara islam dengan lebih dari 200.000 tentara Rumawi di Yarmukh. Semula komandan umum berada ditangan Khalid bin walid , namun saat pecah pearangdatang berita bahwa khalifah telah wafat, dan  khalifah baru Umar, mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan umum.
Dalam perang ini umat islam mencappai kemenangan yang gemilamg. Lebih dari 100.000 tentara Rumawi terbunuh. inilah pertemuan pertama sedang tentara Rumawi setelah Rasululalh wafat. Perang terus berlanjut di Ajnadin, Fihl dan Maraju Shafar, Dalam setiap pertempuran ini, tentara islam meraih kemenangan dan menimpa kekalahan telak di pihak Rumawi. Perang terus berlanjut dengan pengepungan dan penaklukan, hingga ahirnya Damaskus dan Baitul Maqdis jatuh ketangan tentara islam, pada tahun 16 H.
Pada saat terjadi wabah Thau`un di Amwas, Abu Ubaidah pergi ke baitul Maqdis untuk shalat. Urwah bin Ruwaim berkata,” Namun ajalnya menjemputnya di daerah Fahl, maka beliau wafat disitu dekat daerah Baisan, Amwas adalah nama daerah antara Baitul Maqdis dan Ramlah.
Abu Ubaidah wafat pada tahun 18 H, dalam usia 59 tahun. Semoga Allah meridhai seoarang mujahid yang mendapat gelar “ Amirul Umara “ menurut penuturan Ibnu Asyakir, telah meninggal dunia ini dalam keadaam ridha dengan ketetapan illahi. Allahu A`lam Bishwab.
  1. Siyar A`lam Annubala : 1\5-23.
  2. Shifatush shafah : 1\365-369
  3. Al Bidayah Wanihayah : 7\100-101
  4. Al Isobah Fii Tamyizi Shahbah : 7\22,3\475-478.
  5. Ushudul Ghabah  Fii Ma`ridatush Shabah : 3\125-128.
  6. Tahdzibu Tahdzhib : 12\159,5\73.

[1] HR Ahmad 1\195, Abu Daud : 4756, At Tirmidzi : 2235

[2] HR Ahmad: 3\133, 189, 245,281, Bukhari : 3744, Muslim : 2419, Al Hakim : 3\267,  At Tirmidzi : 3759 dishaihkan dan disepakati oleh imam Adz Dzahabi
[3] HR Ahmad : 1\18, Ibnu Sa`ad : 3\1 dan Al Hakim : 3\628
[4] HR At Tirmidzi : 3657 Ibnu Majjah : 102, Al hakim : 3\37
[5] Ahmad : 5\398, Bukhari, : 3745, At Tirmidzi : 3759
[6] Al Hakim : 3\266,Ia berkata,” Mursal Gharib dan para rawinya tsiqah. Al Ishabah 5\288, Ibnu Hajjar berkata,” Mursal namun para rawinyTsiqah
[7] Tarikh Ash Shaghir 1\58, Immam Bukhari, Thabaqat Ibnu  Saad 3\1 dan tarikh Ibu Asakir 1\307
[8] HR Ahmad 1\195,196, Al Hakim 3\265, dalam Majma` 2\300, Al Haitsami menyebutkan bahwa hadist ini  oleh Ahmad, Abu Ya`la dan Bazzar
[9] HR Malik : 24, Ahmad: 3\303, Bukhari : 2483, Muslim : 1935,At Tirmidzi : 2477, Ibnu Majjah: 4159, dan An Nasa`I : 7\207

Senin, 27 Februari 2012

USAID BIN KHUDZAIR

“Malaikat mendengarkan suaramu wahai Usaid..”(Muhammad Rasulullah)
Seorang pemuda yang bernama Mush’ab bin Umair datang ke Madinah di awal pengutusan para duta yang dikenal dalam sejarah Islam. Mush’ab bin Umair singgah di rumah As’ad bin Zurarah, salah seorang pemuka bani Khazraj . Dia menjadikan rumah As’ad sebagai tempat tinggalnya dan sebagai markas untuk penyebaran dakwahnya kepada Allah serta berita gembira dengan kedatangan nabi Muhammad `. Para penduduk Madinah sangat berantusias dalam menyambut dakwah yang dibawa oleh dai muda yang bernama Mush’ab bin Umair. Para penduduk Madinah sangat senang dengan pembicaraan Mush’ab bin Umair yang apa adanya, dalil-dalinya yang kuat, kelembutan perilakunya, dan keteduhan cahaya iman yang memancar dari wajahnya yang tampan dan indah. Namun ada hal lain yang menarik mereka selain dari hal tersebut. yang membuat mereka senang adalah bacaan sebagian bacaan Qur’an yang jelas yang dibacakan oleh mereka dari waktu ke waktu dengan suaranya yang sangat merdu dan lantang. Bacaan Mush’ab yang merdu tersebut berhasil melembutkan hati mereka yang keras membatu membuat air mata mereka mengalir. Tidak ada yang membedakan majlis mereka selain hadirnya manusia-manusia yang hendak masuk ke dalam Islam dan bergabung dalam barisan iman. Pada suatu hari As’ad bin Zurarah keluar dari rumahnya bersama Mush’ab bin Umair untuk bertemu dengan Bani Abdil Asyhal dan menawarkan Islam kepada mereka. Lalu keduanya melewati kebun-kebun Bani Abdil Asyhal dan keduanya duduk di dekat sumurnya yang jernih di bawah rindangnya pepohonan kurma. Berkumpullah di majlis Mush’ab bin Umair beberapa orang yang masuk Islam dan yang ingin mendengarkan perkataannya. Mush’ab bin Umairpun mendakwahkan kebenaran pada mereka dan memberikan kabar gembira dengan datangnya nabi Muhammad `. Semua manusia diam mendengarkannya dan meresapi apa yang dikatakan kepada mereka. Datanglah seseorang yang memberitahukan kepada Usaid bin Khudzair dan Muadz bin Jabal, keduanya adalah para pemuka bani Aus tentang datangnya seorang da’i dari Makkah yang tinggal di dekat rumah mereka. Sedangkan yang membawanya kepada para penduduk Madinah adalah As’ad bin Zurarah. Mu’adz bin Jabal berkata kepada Usaid bin Khudzair, “Celakalah kamu wahai Usaid bin Khudzair, pergilah kamu menuju pemuda Makkah yang datang ke rumah-rumah kita untuk membujuk orang-orang miskin masuk ke dalam agamanya dan membodoh-bodohkan sesembahan kita. Cegahlah dia dan peringatkanlah dia agar besk dia tidak masuk ke rumah-rumah kita.” Mu’adz bin Jabal melanjutkan perkataannya, “Seandainya saja dia tidak berada dalam perlindungan sepupuku, As’ad bin Zurarah dan tidak berjalan dengannya niscaya aku akan menghentikan dakwahnya.” Akhirnya Usaid bin Khudzair mengambil tombaknya dan pergi menuju perkebunan. Ketika As’ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid bin Khudzair As’ad berkata kepada Mush’ab bin Umair, “Celakalah kita wahai Mush’ab, Usaid adalah pemuka kaum ini. Dia adalah orang yang paling cerdas dan paling sempurna. Dia adalah Usaid bin Khudzair. Jika dia mau masuk ke dalam Islam, niscaya banyak orang yang mengikutinya, mintalahpertolongan Allah dalam menghadapinya dan perbaguslah caramu menyampaikan islam padanya.” Usaid bin Khudzair berhenti di tengah kerumunan penduduk Madinah dan menoleh ke arah Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. Usaid berkata, “Apa yang mendorong kalian untuk mendatangi rumah-rumah kami dan membujuk orang-orang miskin kami untuk masuk agamamu? Pergilah engkau dari kampung kami jika kalian tidak ingin mati terbunuh!” Lalu menolehlah Mush’ab bin Umair ke arah Usaid bin Khudzair dengan wajahnya yang berseri-seri dengan cahaya keimanan. Dia berbicara kepada Usaid dengan logatnya yang lembut dan menawan hati. Mush’ab berkata kepadanya, “Wahai pemuka kaum, apakah anda menginginkan hal yang lebih baik dari hal tersebut?” Usaid bin Khudzair berkata, “Apa itu?” Mush’ab bin Umair menjawab, “Engkau duduk di majlis kami dan mendengarkan pembicaraan kami. Jika engkau mendengarkan hal yang membuatmu senang, maka terimalah. Jika anda tidak senang maka kami akan pergi dari kalian dan kami tidak akan kembali kepada kalian.” Usaid berkata, “Sungguh engkau sangat bijaksana.” Lalu Usaid menancapkan tombaknya ke tanah dan duduk. Mush’ab menyampaikan kebenaran Islam pada Usaid bin Khudzair, dan membacakan sedikit ayat al-Qur’an padanya. Akhirnya wajah Usaid nampak berseri-seri dan nampak cerah. Dia berkata, “Alangkah indahnya apa yang engkau katakan? Alangkah mulianya apa yang engkau baca tadi!” Usaid bertanya, “Apa yang harus diperbuat jika ada seseorang yang masuk Islam?” Mush’ab menjawab, “Mandilah dan sucikanlah bajumu! Setelah itu ucapkan syahadat, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali adalah Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Setelah itu shalatlah dua reka’at.” Lalu Usaid bin Khudzair pergi ke sumur dan menyucikan diri dengan air sumur tersebut. kemudian dia berikrar, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali adalah Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, lalu melaksanakan shalat dua reka’at. Pada hari itu juga Usaid bin Khudzair, seorang penunggang kuda yang paling tangguh dan seorang pemuka dan seorang pemuka yang terpandang di hadapan kaumnya, bergabung bersama barisan kaum muslimin. Kaumnya pada waktu itu menjulukinya dengan sebutan al-Kamil (yang sempurna), karena kecerdasan otaknya dan kemuliaan akhlaknya. Usaid pandai berperang dan pandai menulis. Disamping kepandaiannya dalam berkuda dan ketepatannya menunjamkan tombak, dia juga seorang pembaca yang berkumpul bersama dengan orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Keislaman Usaid bin Khudzair juga menjadi sebab masuk Islamnya Mu’adz bin Jabal. Dan keislaman keduanya menjadi sebab masuknya banyak sekali suku Aus ke dalam agama Islam. Setelah itu Madinah menjadi tempat hijrah bagi Rasulullah `, tempat berlindung dan menjadi pondasi utama berdirinya daulah Islam yang sangat besar. Usaid bin Khudzair sangat terpikat dengan al-Qur’an setelah dia mendengarnya dari Mush’ab bin Umair kesenangannya pada al-Qur’an layaknya kecintaan seorang kekasih pada kekasihnya. Usaid menerima al-Qur’an layaknya seorang yang sangat haus di musim panas lalu menemukan telaga yang berair sangat segar. Bacaan al-Qur’an juga menjadi kesibukannya sehari-hari. Usaid selalu tampil sebagai mujahid yang berperang di jalan Allah atau sebagai orang yang berdiam diri di masjid membaca ayat al-Qur’an. Suara Usaid sangat merdu dan jelas, dan sangat senang melaksakannya. Dia sangat senang dengan bacaan al-Qur’an melebihi kesenangannya apabila malam datang dan semua mata terpejam serta jiwa-jiwa yang tenang. Para sahabat menanti-nanti saat-saat Usaid membaca al-Qur’an. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendengarnya. Alangkah bahagianya orang yang bisa mendengarkan bacaannya yang nyaring dan lembut seperti ketika diturunkan kepada nabi Muhammad `. Di samping para penghuni dunia yang menikmati bacaannya ternyata penghuni langitpun menikmati bacaannya. Pada suatu malam Usaidi bin Khudzair duduk di halaman belakang rumahnya, putranya yang bernama Yahya tidur di sebelahnya. Kudanya yang dia persiapkan untuk perang terikat tidak jauh dari dia berada. Malam itu terasa sangat tenang dan sunyi. Suasana langit sangat cerah. Bintang gemintang berkelap-kelip menghiasi bumi dengan sangat lembut dan indah. Pada waktu itu Usaid bin Khudzair sangat ingin sekali menghiasi suasana malam yang indah itu dengan bacaan al-Qur’an. Akhirnya dia membaca al-Qur’an dengan suaranya yang sangat merdu dan memikat hati. Dia membaca ayat,(al-Baqarah) Setelah membaca ayat tersebut Usaid mendengar kudanya yang terikat berputar-putar hingga hampir saja tali pengikatnya lepas. Lalu Usaid diam dan kuda itupun kembali tenang. Lalu Usaid melanjutkan bacaannya, (al-Baqarah) Kuda Usaid kembali berputar-putar dan bergerak dengan gerakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Lalu Usaid diam dan kuda itu kembali tenang. Hal itu terulang berkali-kali. Setiap kali Usaid membaca ayat tersebut kudanya terus memberontak. Apabila Usaid diam, kuda itu kembali tenang. Usaid takut jika kudanya menginjak putranya yang tidur di sampingnya. Akhirnya Usaid pergi membangunkan anaknya. Di situlah Usaid melihat sesuatu yang aneh di langit. Usaid melihat mendung seperti sebuah payung. Mata belum pernah melihat awan yang lebih indah dan lebih memukau dari awan itu sama sekali. Awan itu tergantung di langit seperti lampu. Awan itu menyinari langit dengan sinarnya yang sangat terang. Kemudian awan itu naik ke atas langit kemudian menghilang dari pandangannya. Keesokan harinya Usaid pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan yang dia lihat tersebut kepada nabi Muhammad `. Rasulullah bersabda kepada Usaid, “Wahai Usaid, itu adalah malaikat yang turun untuk mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau meneruskan bacaannya niscaya semua orang akan melihatnya dan para malaikat itu akan terlihat oleh mereka. ” Di samping Usaid sangat mencintai al-Qur’an, Usaid juga sangat mencintai Rasulullah `. Sebagaimana yang dia ceritakan tentang dirinya, yang paling membahagiakan dan paling menentramkan imannya adalah saat-saat ketika dia membaca al-Qur’an dan ketika dia mendengarkan Rasulullah berkhutbah atau sedang berbicara. Usaid sering sekali mengidam-idamkan untuk dapat menyentuh tubuh Rasulullah ` dan tersungkur di pelukan beliau dalam keadaan memeluknya. Dan ternyata beberapa kali dia mendapatkan kesempatan untuk melakukan yang diimpikan tersebut. Pada suatu hari Usaid berkumpul dengan para sahabatnya dan bercerita dengan mereka. Lalu Rasulullah menusuk lambung Usaid dengan tangan beliau, seakan-akan beliau membenarkan ucapan Usaid. Namun Usaid berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membuatku sakit.” Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Usaid, silahkan engkau membalasku.” Usaid berkata, “Engkau saat ini memakai baju, sedangkan ketika engkau menusukku aku tidak memakai baju.” Akhirnya Rasulullah mengangkat bajunya. Dan seketika itu juga Usaid segera memeluk bawah ketiak hingga perut beliau dan juga menciumnya. Usaid berkata, “Demi ayah dan ibuku, sungguh aku sungguh hal ini merupakan impian besarku semenjak aku mengenalmu. Dan kini impianku menjadi kenyataan.” Rasulullahpun sangat dalam cintanya kepada Usaid. Rasulullah sangat hafal dengan masuk Islamnya Usaid yang sangat cepat dan selalu mengingat ketika Usaid melindungi beliau pada perang Uhud hingga dirinya terkena tujuh tusukan yang mematikan di hari itu. Rasulullah tahu betul derajat dan kedudukan Usaid di kalangan kaumnya. Jika ada salah seorang dari kaumnya yang meminta pertolongan darinya niscaya dia akan menolongnya. Usaid bercerita, Suatu ketika aku menghadap Rasulullah `, aku menyebutkan pada beliau ada satu keluarga dari kalangan di anshar dalam keadaan miskin dan kekurangan. Semua anggota keluarga tersebut perempuan. Rasulullah ` bersabda, “Sungguh engkau datang menghadap kami setelah kami menginfakkan semua yang ada di tangan kami. Jika engkau mendengar bahwa kami mendapatkan harta, maka sebutkan pada kami tentang keluarga tersebut.” Tidak berselang lama setelah kedatangan Usaid kepada Rasulullah, Allah memberikan rizki kepada kaum muslimin, yaitu rampasan perang Khaibar. Rasulullah membagikan hasilnya kepada kaum muslimin dan memberikan bagian yang lebih kepada kaum Anshar. Rasulullah memberikan harta yang lebih kepada keluarga yang kekurangan tersebut. aku berkata kepada Rasulullah, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu wahai Rasulullah `.” Rasulullah menjawab, “Semoga Allah juga membalas kebaikan pada kalian wahai kaum anshar. Sepengetahuanku kalian adalah orang yang menjaga diri dan orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kelak sesudahku akan melihat sifat pilih kasih. Bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku, karena balasan kalian adalah telaga.” Ketika kekhalifahan berada di tangan Umar bin Khattab, beliau membagi-bagi harta dan persediaan pangan kepada kaum muslimin. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab mengirimkan kain sutra kepadaku, namun aku meremehkan barang tersebut. Ketika aku sedang duduk di masjid, tiba-tiba lewatlah seorang pemuda dari Quraisy yang memakai kain sutra yang halus dan sangat panjang. Kain itu sama dengan yang Umar berikan kepadaku. Pemuda tersebut menjulurkan kain sutra itu ke atas tanah hingga melampaui batas. Aku menyampaikan sabda Rasulullah kepada orang yang berada di majlisku, “Sesungguhnya kalian akan melihat sikap pilih kasih sepeninggalku nanti.” Dan aku berkata, “Sungguh sangat benar sabda Rasulullah `. Mendengarkan perkataanku, pemuda tersebut bersegera menemui Umar bin Khattab dan memberitahukan padanya apa yang aku katakan. Lalu Umar bin Khattab menemuiku dengan segera. Pada waktu itu aku henda shalat. Khalifah Umar berkata, “Shalatlah dulu wahai Usaid!” Ketika aku sudah menyelesaikan shalatku, Umar menghadapku dan berkata, “Apa yang engkau katakan tadi?” Akhirnya aku menceritakan apa yang aku lihat dan aku katakan. Umar berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Kain sutra yang dia pakai itu dulu aku berikan kepada si fulan. Si fulan adalah orang yang pertama masuk Islam, mengikuti perang Badar dan Uhud. Lalu pemuda Makkah yang berasal dari Quraisy ini membelinya dari si fulan lalu memakainya. Apakah engkau mengira bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu terjadi pada masa kepemimpinanku?” Usaid menjawab, “Demi Allah, aku mengira bahwa hal itu tidak terjadi pada masa kepemimpinanmu.” **** Usaid tidak hidup berlangsung lama setelah kejadian tersebut. Allah lebih mendahulukan mengambil nyawanya dari Umar. Usaid meninggal pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Dan ternyata Usaid meninggalkan hutang sebanyak kurang lebih 400.000 dirham. Para ahli warisnya ingin menjual tanahnya untuk melunasi hutangnya. Ketika Umar menyaksikan hal tersebut dia berkata, “Aku tidak akan membiarkan anak turun saudaraku, Asad hidup dalam kekurangan. Akhirnya Umar membujuk pemiutang agar dia rela jika anak turun Usaid mengelola tanah tersebut dengan membayar seribu dirham setiap tahun.

Minggu, 26 Februari 2012

Abu Darda’

“Abu Darda’ menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”
(Abdurrahman bin Auf)
Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau yang sering dipanggil Abu Darda’ bangun tidur lebih awal. Dia pergi menuju patungnya yang dia letakkan di tempat yang paling mulia di rumahnya.
Uwaimir mengucapkan selamat dan mengolesinya dengan minyak wangi yang paling mahal yang dia miliki di toko minyak wanginya. Dia juga memakaikan pada patungnya baju baru dari sutra yang paling mewah. Baju sutra yang baru itu hasil hadiah dari salah seorang pedagang dari Yaman yang datang padanya.
Ketika matahari sudah agak tinggi, Abu Darda’ meninggalkan rumahnya pergi menuju tokonya.
Dalam perjalanan menuju Makkah, ternyata jalan-jalan sudah dipenuhi dengan para pengikut Muhammad yang kembali dari medan Badr. Di depan mereka terdapat tawanan dari bangsa Quraisy. Abu Darda’ ingin menghindari rombongan kaum muslimin, namun langkahnya terhenti oleh seorang pemuda dari suku Khazraj. Abu Darda’ bertanya pada orang tersebut tentang Abdullah bin Rawahah.
Pemuda Khazraj berkata kepada Abu Darda’, “Dalam peperangan tadi, Abdullah bin Rawahah, mendapatkan perlawanan yang sangat sengit, namun dia kembali dalam keadaan menang, dan mendapatkan rampasan perang.”Abu Darda’ senang dengan jawaban tersebut.
Pemuda Khazraj itu tidak heran dengan pertanyaan Abu Darda’ tentang Abdullah bin Rawahah, karena semua orang sudah mengetahui tali persaudaraan antara keduanya. Abu Darda’ dan Abdullah bin Rawahah adalah dua saudara di masa jahiliyyah. Namun ketika datang agama Islam, Abdullah bin Rawahah menyambutnya dengan baik dan masuk Islam, sedangkan Abu Darda’ enggan masuk Islam.
Namun ternyata perbedaan itu tidak memutuskan tali persaudaraan mereka yang kuat. Abdullah bin Rawahah sering berkunjung ke rumah Abu Darda’ dan menawarkan islam padanya dan juga membujuknya untuk masuk Islam dan menyayangkan umur yang dia lewati jika dia dalam keadaan musyrik.
****
Abu Darda’ sampai di tokonya. Dia duduk di kursinya yang tinggi. Mulailah dia melakukan jual beli, dan memerintah serta melarang budaknya.
Abu Darda’ tidak sedikitpun mengetahui sesuatu yang terjadi di rumahnya. Pada waktu itu Abdullah bin Rawahah pergi ke rumah Abu Darda’ dan berniat melaksakan sebuah rencana.
Ketika Abdullah bin Rawahah sampai di rumahnya, dia melihat rumahnya terbuka dan Ummu Darda’ berada di halaman rumah.
Abdullah bin Rawahah berkata, “Assalamu’alaikum, wahai hamba Allah.”
Ummu Darda’ menjawab, “Wa’alaikumsalam, wahai saudara Abu Darda’.”
Abdullah bin Rawahah bertanya, “Di mana Abu Darda’?”
Ummu Darda’berkata, “Dia pergi ke tokonya, nanti dia akan kembali.”
Abdullah bin Rawahah bertanya, “Apakah engkau mengizinkanku masuk?”
Ummu Darda’ menjawab, “Silahkan, selamat datang di rumahku.” Lalu Ummu Darda’ mempersilahkannya masuk. Ummu Darda’ pergi ke kamarnya. Dia sibuk menyelesaikan urusan rumahnya dan mengurusi anaknya.
Abdullah bin Rawahah masuk ke dalam kamar tempat diletakkannya patung di dalam rumahnya. Ia mengeluarkan kapak yang dia bawa. Lalu dia mendekat ke patung tersebut seraya memotong-motongnya. Abdullah berkata, “Ketahuilah bahwa sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil (keliru)….sesuatu yang disembah selain Allah adalaah batil.” Setelah selesai memotong-motongnya Abdullah bin Rawahah meninggalkan rumah Abu Darda’.
****
Ummu Darda’ masuk ke dalam kamar yang terdapat patungnya. Dia sangat kaget ketika melihat patungnya terpotong-potong, anggota tubunya terpotong secara terpisah di atas tanah. Ummu Darda’ menampari pipinya seraya berkata, “Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah…. Sungguh engkau telah mencelakakanku wahai Abdullah bin Rawahah”
Tidak berselang lama pulanglah Abu Darda’ dari tokonya. Dia  melihat istrinya menangis dengan suara keras dalam keadaan duduk di pintu kamar yang terdapat patungnya.  Tanda-tanda kekhawatiran terpancar dari wajahnya.
Abu Darda’ bertanya, “Ada apa dengamu?”
Ummu Darda’ menjawab, “Ketika engkau tidak ada, saudaramu Abdullah bin Rawahah datang dan menghancurkan patung itu sebagaimana yang engkau lihat.” Abu Darda’ memandangi patungnya yang sudah hancur berkeping-keping. Api kemarahan menyala dalam dirinya. Dia bertekad untuk membalas dendam pada Abdullah bin Rawahah. Namun ia berfikir sejenak dan berkata, “Jika patung ini benar-benar tuhan, niscaya dia mampu menolak musibah yang menimpanya.”
Seketika itu juga dia pergi ke rumah Abdullah bin Rawahah. Lalu keduanya pergi bersama-sama ke rumah Rasulullah `, dia mengikrarkan keislamannya pada beliau. Abu Darda’ adalah orang yang paling akhir dalam memeluk Islam.
Abu Darda’ beriman sejak pertama kepada Allah dan RasulNya dengan keimanan yang dapat merubah kebiasaannya. Dia sangat menyesal sekali dengan kebaikan yang telah lama terlewatkan.
Dia berhasil mencapai apa yang lebih dulu dicapai oleh sahabatnya yang lebih dahulu masuk Islam dalam hal memahami agama islam, menghafal Qur’an, beribadah dan bertakwa yang mereka simpan di sisi Allah.
Abu Darda’ bertekad untuk menyusul hal-hal yang telah terlewatkan dengan penuh kesungguhan. Dia bertekad untuk menyambung keletihan malam dengan keletihan siang agar dapat menyusul ‘para pengendara’ lain dan sejajar dengan mereka.
Dia berusaha terus gigih beribadah laksana para orang yang sudah tidak memikirkan dunia. Terus mencari ilmu seperti orang yang sangat kehausan. Abu Darda’ selalu menekuni al-Qur’an, menghafal ayatnya dan menyelami kandungan ayat-ayatnya.
Ketika Abu Darda merasa perdagangannya selama ini mengganggu kenikmatannya dalam beribadah dan menyebabkannya tertinggal dari majlis ilmu, dia meninggalkan perdagangannya tanpa rasa ragu.
Ada salah seorang yang bertanya tentang sikapnya itu. Namun Abu Darda’ menjawab, “Dulu aku berdagang sebelum aku bertemu dengan Rasulullah. Ketika aku memeluk islam, aku ingin menyatukan antara dagang dan ibadah. Namun hal itu tidak bisa aku lakukan. Akhirnya aku meninggalkan perdagangan dan mementingkan ibadah. Demi Dzat Yang menggenggam nyawaku, alangkah bahagianya aku jika aku mempunyai toko di sebelah pintu masjid  hingga aku tidak tertinggal shalat Jama’ah di masjid. Setelah itu aku berjual beli hingga aku mendapatkan laba hingga 300 dinar.”
Abu Darda’ menoleh kepada orang yang bertanya tersebut, “Demi Allah, aku tidak mengatakan bahwa Allah mengharamkan jual beli. Namun aku tidak ingin masuk dalam golongan orang-orang tertipu dari perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.”
Abu Darda’ tidak hanya meninggalkan perdagangan saja namun dia juga meninggalkan kemewahan dan kemilau dunia. Dia hanya bertumpu pada beberapa suap makanan yang kasar dan memakai baju yang murahan untuk menutupi tubuhnya.
Pada suatu malam yang sangat dingin ada sekumpulan orang yang berkunjung ke rumahnya. Abu Darda’ hanya menghidangkan makanan yang kasar untuk mereka dan tidak menyediakan selimut. Ketika para tamu itu hendak tidur, mereka berunding tentang masalah selimut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan menemui Abu Darda’ dan mengatakan masalah ini.” Sedangkan yang  lainnya berkata, “Kita terima saja seperti ini.” Namun orang tersebut enggan. Dia pergi ke kamar Abu Darda’. Ketika dia sampai di pintu kamarnya ternyata Abu Darda’ sudah berbaring. Sedangkan istrinya duduk di dekatnya. Keduanya hanya memakai baju yang tipis, tidak bisa melindungi dari panas dan tidak bisa menahan udara dingin.
Orang tersebut berkata kepada Abu Darda’, “Aku melihatmu tidur sebagaimana kondisi kami. Di manakah perlengkapan rumah kalian?”
Abu Darda’ menjawab, “Kami mempunyai rumah yang terletak disana. Setiap kali kami memperoleh rizki, kami selalu mengirimkan perlengkapan rumah ke sana setiap kali kami mendapatkan keuntungan.  Seandainya kami masih mempunyai sisa perlengkapan rumah, niscaya akan kami berikan kepada kalian. Jalan menuju rumahku yang ‘di sana sangatlah terjal dan susah. Orang yang meringankan bebannya di sana lebih baik daripada orang yang memberatkannya. Kami ingin meringankan beban kami agar kami sampai di rumah kami ‘di sana.”
Abu Darda’ meyakinkan orang tersebut. “Apakah kamu faham dengan maksudku?”
Orang itu menjawab, “Iya, aku faham. Semoga Allah membalas kebaikan padamu.”
****
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abu Darda’ diminta untuk menjadi gubernur Syam, namun dia enggan. Khalifah Umar terus mendesaknya. Abu Darda’ berkata, “Jika engkau merelakanku untuk pergi kepada mereka sebagai pengajar al-Qur’an dan sunnah nabiNya serta menjadi imam mereka, maka aku akan pergi.” Umar mengabulkan permintaan Abu Darda’. Akhirnya Abu Darda’ pergi ke Damaskus. Sesampainya di Damaskus dia mendapati semua orang terbuai dalam kemewahan dunia, mereka terjerumus ke dalam kenikmatan. Abu Darda’ khawatir dengan keadaan itu. Akhirnya dia menyeru manusia untuk pergi ke masjid dan berkumpul dengannya. Abu Darda’ berdiri di tengah-tengah mereka seraya berkata,
“Wahai penduduk Damaskus, kalian adalah saudaraku seagama. Kalian adalah tetanggaku, kalian adalah penolongku dalam menghadapi musuh. Wahai penduduk Damaskus, apa yang menghalangi kalian untuk mengasihiku serta menerima nasehatku, padahal sedikitpun aku tidak mengharapkan balasan dari kalian. Nasehatku untuk kalian, sedangkan kebutuhanku telah dicukupi oleh orang selain kalian. Mengapa orang-orang bodoh di antara kalian tidak belajar sedangkan para ulama’ telah wafat?”
“Mengapa kalian meninggalkan apa yang diperintah Allah, padahal Allah telah mencukupi semua kebutuhan kalian?! Mengapa kalian mengumpulkan harta yang tidak kalian butuhkan untuk makan? Mengapa kalian membangun rumah yang tidak kalian butuhkan untuk ditinggali? Mengapa kalian mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian capai? Sebelum kalian ada banyak sekali kaum yang mengumpulkan harta dan mempunyai khayalan-khayalan namun tidak lama setelah itu akhirnya mereka binasa bersama dengan yang mereka kumpulkan. Khayalan mereka tidak tercapai dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.“
“Wahai penduduk Damaskus, lihatlah kaum ‘Ad yang memenuhi dunia dengan harta dan anak mereka. Siapa di antara kalian yang membeli peninggalan ‘Ad dariku dengan dua dirham?”
Akhirnya semua penduduk Damaskus menangis hingga suara tangisan mereka terdengar hingga keluar masjid.”
****
Sejak saat itulah Abu Darda’ selalu mengisi majlis-majlis di Damaskus serta berkeliling ke pasar-pasar mereka. Dia menjawab pertanyaan tiap orang yang bertanya, mengajari orang-orang yang bodoh dan memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai.  Abu Darda’ selalu menggunakan kesempatan yang ada. Dan memberi manfaat di setiap acara.
Pada suatu hari Abu Darda’ melewati sekumpulan orang yang menghajar seorang laki-laki. Mereka memukulinya dan mengumpatnya. Abu Darda’ menghadap mereka dan bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada seorang laki-laki yang melakukan dosa besar.”
Abu Darda’ bertanya, “Bagimana pendapat kalian jika kalian melihat ada orang yang masuk ke dalam sumur. Bukankah kalian akan mengeluarkannya dari sumur itu?”
Mereka menjawab, “Iya, kami akan mengeluarkannya.”
Abu Darda’ berkata, “Kalau begitu, jangan kalian hajar dia, namun berilah peringatan padanya dan tunjukilah jalan yang benar. Ucapkanlah syukur kepada Allah yang membuat kalian tidak terjerumus dalam dosa yang dia lakukan.”
Mereka bertanya pada Abu Darda’, “Apakah engkau tidak membencinya?”
Abu Darda’ menjawab, “Aku hanya membenci perbuatan dosanya. Jika dia meninggalkannya maka dia adalah saudaraku.”
Pemuda yang melakukan dosa itu akhirnya menangis dan mengikrarkan taubatnya.
****
Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang menghadap Abu Darda’. Dia berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.”
Abu Darda’ berkata kepadanya, “Wahai anakku, ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan bahagia, niscaya Allah akan mengingatmu di kala engkau sengsara. Wahai anakku, jadilah engkau orang yang belajar, atau mengajar, atau mendengarkan. Janganlah engkau menjadi orang yang keempat (orang yang bodoh), karena engkau akan binasa. Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, “Masjid-masjid adalah rumah orang yang bertakwa.” Allah kmenjanjikan kelonggaran dan rahmat kepada orang-orang yang menajdikan masjid sebagai rumah, dan juga akan memudahkan mereka untuk melewati shirotol mustaqim menuju ridl  Allah k.
****
Pada suatu hari ada sekelompok pemuda yang duduk-duduk di jalan. Mereka berbincang-bincang sembari menyaksikan orang-orang yang berjalan. Abu Darda’ menemui mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya tempat ibadah bagi seorang muslim adalah rumahnya. Karena di dalam rumah dapat menahan dirinya dan menahan pandangannya. Janganlah kalian duduk-duduk di pasar, karena hal itu akan melalaikan kalian dan membuat kalian melakukan hal yang sia-sia.
****
Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, gubernurnya yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan. mengutus utusan untuk melamar putri Abi Darda’ untuk anaknya yang bernama Yazid. Namun Abu Darda’ tidak mau menikahkan putrinya dengan Yazid. Abu Darda’ justru menikahkannya dengan orang biasa yang beragama dan berakhlak baik.
Hal itu ternyata menjadi pembicaraan manusia. Mereka mengatakan, “Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan meminang putri Abu Darda’ namun Abu Darda’ menolak pinangannya malah menikahkan putrinya dengan laki-laki biasa dari kalangan kaum muslimin. “
Ada salah seorang yang bertanya kepada Abu Darda’ tentang alasannya. Abu Darda’ menjawab, “Aku melakukan perbuatanku itu karena aku lebih mementingkan kemaslahatan Darda’.”
Penanya itu bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”
Abu Darda’ menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika Darda’ kelak mempunyai budak-budak yang melayaninya. Darda’ akan terlenakan dengan megahnya istana yang dia tinggali. Pada waktu itu dimanakah dia meletakkan agamanya?”
****
Ketika Abu Darda’ masih tinggal di Damaskus, datanglah khalifah Umar untuk mencari tahu keadaannya. Umar mengunjungi rumah sahabatnya, Abu Darda’ di malam hari. Umar mendorong pintunya, ternyata pintu rumahnya tidak ada gemboknya. Akhirnya Umar masuk ke dalam rumahnya yang sangat gelap dan tidak ada cahayanya sedikitpun. Ketika Abu Darda’ mendengar suara orang yang datang kepadanya, dia langsung bangun. Dia menyambutnya dan mempersilahkannya duduk.
Keduanya saling berbincang dan bertukar pengalaman. Sedangkan gelapnya malam kala itu menghalangi pandangan kedua mata mereka. Umar meraba bantal Abu Darda’ ternyata bantalnya hanyalah kain tipis yang biasa dipakai di atas kendaraan. Ketika Umar meraba kasurnya, ternyata hanya tumpukan kerikil. Ketika Umar meraba selimutnya, ternyata selimutnya hanyalah kain tipis yang  tidak sedikitpun dapat menahan cuaca dingin di Damaskus.
Umar bertanya kepada Abu Darda’, “Semoga Allah menyayangimu, bukankah aku telah mengirimkan harta untukmu?”
Abu Darda’ menjawab, “Wahai Umar, tidakkah engkau ingat hadis Rasulullah kepada kita?”
Umar bertanya, “Apa itu?”
Abu Darda’ menjawab, “Hendaklah harta seseorang di dunia hanyalah seperti perbekalan seorang musafir.”
Umar menjawab, “Iya, aku ingat.”
Abu Darda’ menjawab, “Lalu apa yang harus kita lakukan setelah kita mendengar hadis itu?”
Akhirnya Umar dan Abu Darda’ menangis bersam-sama. Keduanya menangis hingga tiba waktu subuh.
****
Selama tinggal di Damaskus Abu Darda’ selalu memberikan nasehat  pada penduduk Damaskus. Mengajari mereka al-Qur’an dan hikmah hingga ajal datang menjemputnya. Ketika Abu Darda’  menderita sakit yang menghantarkannya pada kematian para sahabatnya menemuinya.
Mereka bertanya, “Apa yang engkau keluhkan?”
Abu Darda’ menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosaku.”
Mereka bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”
Abu Darda’ menjawab, “Yang aku inginkan adalah ampunan Tuhanku.”
Lalu Abu Darda’ berkata kepada orang yang disampingnya, “Talkinlah aku kalimat Lâ ilâha illallah Muhammadur Rasulullah.” Abu Darda’ terus mengulang-ulang kalimat itu hingga ajal datang menjemputnya.
Ketika Abu Darda’ meninggal Auf bin Abdul Malik al-Asyja’i melihat tanah lapang yang hijau, sangat luas dan bertumbuh-tumbuhan hijau. Di dalam tanah tersebut terdapat tenda besar dari kulit, di sekelilingnya terdapat kambing-kambing yang sedang menderum. Pemandangannya sama sekali belum pernah terlihat mata.”
Auf bin Abdul Malik bertanya, “Milik siapakah ini?” lalu ada orang yang berkata, “Itu milik Abdurrahman bin Auf.”
Lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari tendan dan berkata, “Wahai Ibnu Malik, ini adalah pemberian Allah kepada kami karena al-Qur’an. Jika engkau menghadapkan ini ke jalan pasti engkau akan melihat sesuatu yang belum terlihat oleh mata, engkau akan mendengar apa yang belum pernah engkau dengar, engkau akan menemukan sesuatu  yang belum pernah terlintas dalam hatimu.”
Ibnu Malik bertanya, “Untuk siapakah itu semua wahai Abdurrahman bin Auf?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Allah menyiapkannya untuk Abu Darda’ karena dia menolak dunia dengan dua telapak tangan dan dadanya.”[1]

[1] Untuk lebih jelas mengetahui sejarah Abu Darda’ silahkan baca kitab,

-          al-Ishabah at-Tarjamah
-          al-Istî’ab juz 3 halaman 15 dan juz 4 halaman 159
-          Usdul Ghabah juz 4 halaman 159
-          Hilyatul Auliya’ juz 1 halaman 308
-          Husnus Shahabah halaman 218
-          Sifatus Shafwah juz 1 halaman 257
-          Târikhul Islam karya adz-Dzahabi juz 2 halaman 107
-          Hayâtus Shahabah lihat daftar isi
-          Al-Kawâkib ad-Duriyyah juz 1 halaman 45
-          Al-A’lam karya az-Zarakli juz 5 halaman 281

 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez