Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

KEHIDUPAN SETELAH MATI

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 12.56
(Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)

Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

1.Alam Barzakh 

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur 
(barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, 
bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli 
bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia 
baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan 
Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah 
SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, 
diantaranya mereka yang 

a. Suka mengadu domba 
b. Suka berbuat ghulul 
c. Berbuat kebohongan 
d. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang 
dilarang dalam Al’Qur’an 
e. Melakukan zina 
f. Memakan riba 
g. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak 
masuk surga karena hutangnya) 
h. Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis 
Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, 
shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung 
silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , 
juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur. 


2. Peniupan Sangkakala 
Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu 
kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan 
membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :


“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, 
kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ). 


Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat 
sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung 
menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah 
cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta 
kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana 
firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya 
kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). 
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua 
wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan 
segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal 
sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al 
Hajj:1-2). 


Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan 
seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar 
dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).

Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak 
seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan 
hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian 
sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan 
berdiri”.(HR. Muslim). 


3.Hari Berbangkit 
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya 
kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) 
perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan 
segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6). 


4.Padang Mahsyar 
“(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian 
pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke 
hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48). 


Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan 
diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang 
berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman: 
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang 
kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4). 
Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya 
seperti satu jam saja.

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka 
merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali 
hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45). 


“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa 
mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara 
dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin 
seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, 
dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di 
dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan 
itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14). 

5. Syafaat 
Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik 
besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan 
munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah 
SWT). 

6. Hisab 
Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan 
ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia 
baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran. 

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat 
dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi 
balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang 
terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak 
Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili 
diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu 
pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. 
Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi. 


Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : 
“Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan 
mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93). 


Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan 
amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati. 

7. Pembagian catatan amal
Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab 
(amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang 
telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang 
ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT. 

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari 
sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan 
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah 
berikut ini: 

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan 
diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya 
(yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya 
dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke 
dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia 
berkata:"wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), 
dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian 
itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi 
manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku" (Allah berfirman): "Peganglah 
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya", kemudian masukkanlah dia ke dalam 
api neraka yang menyala-nyala".(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan 
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan 
hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat 
pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika 
(amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan 
cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47) 

Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan 
syirik akan masuk neraka.

Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga 


9. Telaga 
Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari 
telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga 
masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas 
dari yang lain, sebagaimana sabdanya : 


Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba 
untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya 
Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. 
Bukhari Muslim). 


Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian 
Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat 
syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas). 

10.Ujian Keimanan Seseorang
Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka 
menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan 
diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud 
sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini 
merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena 
saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada 
tubuh mereka. 

Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan 
perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat 
mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu 
ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka 
dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah 
luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13). 

Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, 
akan melalui Shirat. 


11. Shirat 
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk 
diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga). 


Beberapa Hadits tentang Shirath 


Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata 
: 
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan 
berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di 
Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim) 


“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih 
tajam dari pedang”. (HR. Muslim) 


“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada 
yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang 
menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada 
yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. 
Bukhari Muslim) 


Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para 
pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang 
diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, 
kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, 
selamatkanlah.(HRBukhari). 


Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap 
selanjutnya jembatan 


12. Jembatan 
Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan 
ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di 
atas neraka jahannam. 


Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu 
mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka 
akan saling diqhisash antata satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di 
dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka 
diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang 
diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat 
tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari). 


Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga. 


Kesimpulan : 
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu..., apa yang akan kita alami 
di hari akhir nanti..., tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia 
ini…. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap 
istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari 
siksa neraka-Mu ya Allah…….karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya 
Allah…… 


Sumber : 
1. Poster ‘Hidup Sesudah Mati” (berupa diagram tahapan dan penjelasan setiap 
tahapan) 
2. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi 
3. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar 
4. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin 
5. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi 
6. Tadzkirah, Imam Qurthubi 
7. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali 
8. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah 
9. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir 
10. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib. 
(Disalin/ diketik pada tgl : 17 Ramadhan 1428 H, pkl 8 pagi).

sumber : 
http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg18949.html

GAMBARAN KEHIDUPAN MANUSIA SETELAH MATI

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 07.45

Sahabat Ma'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah...terangkan kepadaku 
tentang makna firman Allah "ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok". 
Lalu menangislah Rasulullah SAW.  Cucuran air matanya membasahi pakaiannya. Engkau telah 
menanyakan sesuatu yang dahsyat. Umatku  akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12 
kelompok-kelompok tabiat. 
• Kelompok pertama : Dibangkitkan tanpa kaki dan tangan, seraya terdengar suara dari sisiNya, 
"Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan 
nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi, seraya terdengar suara dari sisiNya, 
"Inilah balasan bagi orang-orang yang bermalas-malasan melakukan sholat dan nerakalah 
tempatnya". 
• Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya besar menggunung 
yang dipenuhi ular dan kalajengking, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
orang-orang yang menahan zakat dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut, 
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang berdusta dalam 
perkara jual beli dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bau busuk, lebih busuk dari 
bau bangkai. seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran  bagi orang-orang yang 
melakukan maksiat (perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam) secara sembunyi 
karena takut terlihat orang tapi tidak takut dari pengawasan Allah dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam  keadaan terputus lehernya, seraya 
terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memberikan kesaksian 
palsu dan nerakalah tempatnya". 
• kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah dan dari mulutnya keluar 
darah dan nanah. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang 
tidak mau memberikan kesaksian dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya  dalam keadaan tertunduk dan kedua 
kakinya berada diatas kepala, seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orangorang yang suka melakukan zina dan terlanjur mati sebelum bertobat dan nerakalah 
tempatnya". 
• Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam dan 
matanya biru serta perutnya penuh api, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
bagi orang-orang yang memakan harta dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim dan 
nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak, 
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang mendurhakai 
orang tuanya dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata. 
Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut dan 
paha. Dan dari perutnya keluar kotoran. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
bagi orang-orang yang meminum khamr (yang memabukan/alkohol) dan nerakalah 
tempatnya". • Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajah bercahaya, seperti 
bulan purnama. Melewati Shirath Al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Seraya 
terdengar suara dari sisiNya "Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal sholeh 
kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah 
bertobat. Maka ganjaran mereka adalah Pengampunan, Rahmat, dan Ridho serta Surga dari 
ALLAH SWT". 
"Ya Alllah,,, masukanlah hambaMU ini ke dalam golongan orang-orang  yang selalu beriman 
kepadaMu ya Allah,,, jauhkan panas api neraka dari kami ya Allah....." 
(Sumber : Artikel Islami, 14 Mei 2006 - 22:57)

Rabu, 13 Juli 2011

RUKUN IMAN

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.08
JUDUL :  RUKUN IMAN
Waktu : 12 July 2011

MediaMuslim.Info – Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu
mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya:”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
·         Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
·         Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada Daud alaihi sallam.
·         Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
·         Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
·         Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala  turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad  shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1.    ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2.    Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3.    Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4.    Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:  ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’alasendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Selasa, 12 Juli 2011

Ciri-ciri penduduk surga

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 18.49
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.
Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan surga beserta segala kenikmatan yang ada di dalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara penduduk surga-Nya.
1. Beriman dan beramal salih
Allah ta’ala berfirman,
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs. al-Baqarah: 25)
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan,
“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 47)
al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa yang dimaksud amal salih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya’. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu mengatakan, “Amal salih adalah yang di dalamnya terdapat empat unsur: ilmu, niat yang benar, sabar, dan ikhlas.” (Ma’alim at-Tanzil [1/73] as-Syamilah)
2. Bertakwa
Allah ta’ala berfirman,
“Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 15)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar al-’Aqidah 1423 H).
Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu ‘Affan 1424 H)
an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh al-Arba’in, yang dicetak dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 142 cet Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj al-I’lami)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imron: 130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan ar-Rahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/164] cet Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Mu’adz ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Maka beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah.” al-Hasan mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (dinukil dari Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketakwaan anggota tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.” (Qs. al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian.” (Qs. al-Hajj: 37). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketakwaan itu sumbernya di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).” (al-Fawa’id, hal. 136 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berjihad di jalan Allah. Beliau pun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang beliau lakukan. Allah ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari’at-syari’at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai dengan ‘teman’ dan pasangannya…” (al-Fawa’id, hal. 137 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah ta’ala berfirman,
“Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (Qs. an-Nisa’: 13)
Allah ta’ala berfirman tentang mereka,
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, ‘Kami dengar dan kami taati’. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur: 51)
Allah ta’ala menyatakan,
“Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (Qs. An-Nisaa’ : 80)
Allah ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.” (Qs. al-Anfal: 24)
Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Fawa’id, hal. 85-86 cet. Dar al-’Aqidah)
4. Cinta dan Benci karena Allah
Allah ta’ala berfirman,
“Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. al-Mujadalah: 22)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)
5. Berinfak di kala senang maupun susah
Allah ta’ala berfirman,
“Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di kala senang maupun di kala susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya.” (Qs. Ali Imron: 133-135)
Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,
“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. al-Baqarah: 1-3)
Syaikh as-Sa’di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/30] cet. Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
6. Memiliki hati yang selamat
Allah ta’ala berfirman,
“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (Qs. as-Syu’ara: 88-89)
Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah.” (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah)
Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Ma’alim at-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah)
Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan.” (Ruh al-Ma’ani [14/260] as-Syamilah)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu’assasah ar-Risalah)
Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, “… apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini. Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang menyebarkannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Yogyakarta, 21 Sya’ban 1430 H
Hamba yang sangat membutuhkan Rabbnya
Abu Mushlih Ari Wahyudi
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

KEHIDUPAN SETELAH MATI

(Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)

Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

1.Alam Barzakh 

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur 
(barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, 
bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli 
bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia 
baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan 
Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah 
SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, 
diantaranya mereka yang 

a. Suka mengadu domba 
b. Suka berbuat ghulul 
c. Berbuat kebohongan 
d. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang 
dilarang dalam Al’Qur’an 
e. Melakukan zina 
f. Memakan riba 
g. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak 
masuk surga karena hutangnya) 
h. Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis 
Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, 
shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung 
silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , 
juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur. 


2. Peniupan Sangkakala 
Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu 
kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan 
membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :


“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, 
kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ). 


Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat 
sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung 
menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah 
cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta 
kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana 
firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya 
kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). 
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua 
wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan 
segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal 
sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al 
Hajj:1-2). 


Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan 
seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar 
dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).

Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak 
seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan 
hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian 
sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan 
berdiri”.(HR. Muslim). 


3.Hari Berbangkit 
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya 
kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) 
perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan 
segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6). 


4.Padang Mahsyar 
“(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian 
pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke 
hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48). 


Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan 
diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang 
berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman: 
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang 
kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4). 
Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya 
seperti satu jam saja.

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka 
merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali 
hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45). 


“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa 
mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara 
dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin 
seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, 
dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di 
dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan 
itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14). 

5. Syafaat 
Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik 
besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan 
munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah 
SWT). 

6. Hisab 
Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan 
ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia 
baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran. 

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat 
dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi 
balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang 
terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak 
Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili 
diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu 
pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. 
Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi. 


Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : 
“Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan 
mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93). 


Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan 
amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati. 

7. Pembagian catatan amal
Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab 
(amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang 
telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang 
ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT. 

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari 
sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan 
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah 
berikut ini: 

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan 
diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya 
(yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya 
dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke 
dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia 
berkata:"wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), 
dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian 
itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi 
manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku" (Allah berfirman): "Peganglah 
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya", kemudian masukkanlah dia ke dalam 
api neraka yang menyala-nyala".(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan 
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan 
hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat 
pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika 
(amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan 
cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47) 

Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan 
syirik akan masuk neraka.

Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga 


9. Telaga 
Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari 
telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga 
masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas 
dari yang lain, sebagaimana sabdanya : 


Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba 
untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya 
Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. 
Bukhari Muslim). 


Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian 
Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat 
syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas). 

10.Ujian Keimanan Seseorang
Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka 
menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan 
diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud 
sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini 
merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena 
saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada 
tubuh mereka. 

Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan 
perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat 
mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu 
ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka 
dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah 
luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13). 

Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, 
akan melalui Shirat. 


11. Shirat 
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk 
diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga). 


Beberapa Hadits tentang Shirath 


Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata 
: 
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan 
berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di 
Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim) 


“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih 
tajam dari pedang”. (HR. Muslim) 


“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada 
yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang 
menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada 
yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. 
Bukhari Muslim) 


Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para 
pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang 
diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, 
kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, 
selamatkanlah.(HRBukhari). 


Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap 
selanjutnya jembatan 


12. Jembatan 
Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan 
ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di 
atas neraka jahannam. 


Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu 
mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka 
akan saling diqhisash antata satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di 
dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka 
diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang 
diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat 
tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari). 


Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga. 


Kesimpulan : 
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu..., apa yang akan kita alami 
di hari akhir nanti..., tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia 
ini…. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap 
istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari 
siksa neraka-Mu ya Allah…….karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya 
Allah…… 


Sumber : 
1. Poster ‘Hidup Sesudah Mati” (berupa diagram tahapan dan penjelasan setiap 
tahapan) 
2. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi 
3. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar 
4. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin 
5. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi 
6. Tadzkirah, Imam Qurthubi 
7. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali 
8. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah 
9. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir 
10. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib. 
(Disalin/ diketik pada tgl : 17 Ramadhan 1428 H, pkl 8 pagi).

sumber : 
http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg18949.html

GAMBARAN KEHIDUPAN MANUSIA SETELAH MATI


Sahabat Ma'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah...terangkan kepadaku 
tentang makna firman Allah "ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok". 
Lalu menangislah Rasulullah SAW.  Cucuran air matanya membasahi pakaiannya. Engkau telah 
menanyakan sesuatu yang dahsyat. Umatku  akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12 
kelompok-kelompok tabiat. 
• Kelompok pertama : Dibangkitkan tanpa kaki dan tangan, seraya terdengar suara dari sisiNya, 
"Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan 
nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi, seraya terdengar suara dari sisiNya, 
"Inilah balasan bagi orang-orang yang bermalas-malasan melakukan sholat dan nerakalah 
tempatnya". 
• Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya besar menggunung 
yang dipenuhi ular dan kalajengking, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
orang-orang yang menahan zakat dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut, 
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang berdusta dalam 
perkara jual beli dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bau busuk, lebih busuk dari 
bau bangkai. seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran  bagi orang-orang yang 
melakukan maksiat (perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam) secara sembunyi 
karena takut terlihat orang tapi tidak takut dari pengawasan Allah dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam  keadaan terputus lehernya, seraya 
terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memberikan kesaksian 
palsu dan nerakalah tempatnya". 
• kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah dan dari mulutnya keluar 
darah dan nanah. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang 
tidak mau memberikan kesaksian dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya  dalam keadaan tertunduk dan kedua 
kakinya berada diatas kepala, seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orangorang yang suka melakukan zina dan terlanjur mati sebelum bertobat dan nerakalah 
tempatnya". 
• Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam dan 
matanya biru serta perutnya penuh api, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
bagi orang-orang yang memakan harta dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim dan 
nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak, 
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang mendurhakai 
orang tuanya dan nerakalah tempatnya". 
• Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata. 
Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut dan 
paha. Dan dari perutnya keluar kotoran. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran 
bagi orang-orang yang meminum khamr (yang memabukan/alkohol) dan nerakalah 
tempatnya". • Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajah bercahaya, seperti 
bulan purnama. Melewati Shirath Al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Seraya 
terdengar suara dari sisiNya "Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal sholeh 
kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah 
bertobat. Maka ganjaran mereka adalah Pengampunan, Rahmat, dan Ridho serta Surga dari 
ALLAH SWT". 
"Ya Alllah,,, masukanlah hambaMU ini ke dalam golongan orang-orang  yang selalu beriman 
kepadaMu ya Allah,,, jauhkan panas api neraka dari kami ya Allah....." 
(Sumber : Artikel Islami, 14 Mei 2006 - 22:57)

Rabu, 13 Juli 2011

RUKUN IMAN

JUDUL :  RUKUN IMAN
Waktu : 12 July 2011

MediaMuslim.Info – Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu
mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya:”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
·         Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
·         Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada Daud alaihi sallam.
·         Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
·         Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
·         Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala  turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad  shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1.    ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2.    Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3.    Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4.    Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:  ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’alasendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Selasa, 12 Juli 2011

Ciri-ciri penduduk surga

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.
Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan surga beserta segala kenikmatan yang ada di dalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara penduduk surga-Nya.
1. Beriman dan beramal salih
Allah ta’ala berfirman,
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs. al-Baqarah: 25)
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan,
“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 47)
al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa yang dimaksud amal salih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya’. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu mengatakan, “Amal salih adalah yang di dalamnya terdapat empat unsur: ilmu, niat yang benar, sabar, dan ikhlas.” (Ma’alim at-Tanzil [1/73] as-Syamilah)
2. Bertakwa
Allah ta’ala berfirman,
“Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 15)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar al-’Aqidah 1423 H).
Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu ‘Affan 1424 H)
an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh al-Arba’in, yang dicetak dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 142 cet Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj al-I’lami)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imron: 130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan ar-Rahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/164] cet Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Mu’adz ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Maka beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah.” al-Hasan mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (dinukil dari Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketakwaan anggota tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.” (Qs. al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian.” (Qs. al-Hajj: 37). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketakwaan itu sumbernya di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).” (al-Fawa’id, hal. 136 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berjihad di jalan Allah. Beliau pun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang beliau lakukan. Allah ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari’at-syari’at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai dengan ‘teman’ dan pasangannya…” (al-Fawa’id, hal. 137 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah ta’ala berfirman,
“Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (Qs. an-Nisa’: 13)
Allah ta’ala berfirman tentang mereka,
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, ‘Kami dengar dan kami taati’. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur: 51)
Allah ta’ala menyatakan,
“Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (Qs. An-Nisaa’ : 80)
Allah ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.” (Qs. al-Anfal: 24)
Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Fawa’id, hal. 85-86 cet. Dar al-’Aqidah)
4. Cinta dan Benci karena Allah
Allah ta’ala berfirman,
“Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. al-Mujadalah: 22)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)
5. Berinfak di kala senang maupun susah
Allah ta’ala berfirman,
“Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di kala senang maupun di kala susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya.” (Qs. Ali Imron: 133-135)
Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,
“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. al-Baqarah: 1-3)
Syaikh as-Sa’di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/30] cet. Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
6. Memiliki hati yang selamat
Allah ta’ala berfirman,
“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (Qs. as-Syu’ara: 88-89)
Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah.” (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah)
Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Ma’alim at-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah)
Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan.” (Ruh al-Ma’ani [14/260] as-Syamilah)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu’assasah ar-Risalah)
Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, “… apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini. Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang menyebarkannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Yogyakarta, 21 Sya’ban 1430 H
Hamba yang sangat membutuhkan Rabbnya
Abu Mushlih Ari Wahyudi
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez