Rabu, 13 Juli 2011

Bahasa Arab Dasar 1: Nahwu Shorof

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.55
Bahasa Arab Dasar 1: Nahwu Shorof



Nahwu adalah ilmu untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.
Contoh: 
Artinya
1.       Telah datang seorang laki-laki
2.       Aku melihat seorang laki-laki
3.       Aku berjumpa dengan seorang laki-laki
Rojulun : seorang laki-laki
1.       1. Huruf akhir kata “lam” berharakat dhummah
2.       2. Harokat Fathah
3.      3.  Harokat kasrah

Shorof adalah ilmu tentang perubahan suatu kata. Sebelum masuk ke dalam suatu kalimat. Bisa dengan menambah huruf atau menghilangkannya.
Contoh:  

Artinya
1.       Menolong
2.       Penolong
3.       Seorang yang ditolong

Manusia dan agama

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.41
JUDUL : Manusia dan agama
WAKTU : 12 July 2011’



1.    Manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang berpotensi. Manusia dianugerahkan potensi :
·         Potensi Akal
Manusia memiliki potensi akal yang dapat menyusun konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan. Dengan potensi ini, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi. Namun, faktor subjektivitas manusia dapat mengarahkan manusia pada kesalahan dan kebenaran.
·         Potensi Ruh
Manusia memiliki ruh. Banyak pendapat para ahli tentang ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada manusia dalah nyawa. Sementara sebagian yang lain memahami ruh pada manusia sebagai dukungan dan peneguhan kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan manusia karena manusia memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Biarlah urusan ruh menjadi urusan Tuhan.
Allah swt berfirman: Katakanlah, “Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit”. (QS. Al-Isra: 85)
·         Potensi Qalbu
Qalbu di sini tidak dimaknai sekadar ‘hati’ yang ada pada manusia. Qalbu lebih mengarah pada aktivitas rasa yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah. Kadang setuju kadang menolak.
Qalbu berhubungan dengan keimanan. Qalbu merupakan wadah dari rasa takut, cinta, kasih sayang, dan keimanan. Karena qalbu ibarat sebuah wadah, ia berpotensi menjadi kotor atau tetap bersih.
·         Potensi Fitrah
Manusia pada saat lahir memiliki potensi fitrah. Fitrah tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu yang suci. Fitrah di sini adalah bawaan sejak lahir. Fitrah manusia sejak lahir adalah membawa agama yang lurus. Namun, kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang lain dalam proses perkembangannya.
·         Potensi Nafs
Dalam bahasa Indonesia, nafs diserap menjadi nafsu yang berarti 'dorongan kuat untuk berbuat kurang baik'. Sementara nafs yang ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk, tetapi berpotensi berbuat baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan negatif.
Hakikatnya, nafs pada diri manusia cenderung berpotensi positif. Namun, potensi negatif daya tariknya lebih kuat daripada potensi positif. Oleh karena itu, manusia diminta untuk menjaga kesucian nafsnya agar tidak kotor.
Dalam Surah Al-Hijr Ayat 28-29 Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr (15) : 28-29)

2.    Asal usul Manusia
   Proses penciptaan manusia telah dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun, 23 ayat 12-14:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami balut dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Q.S. Al-Mu’minun, 23: 12-14)
3.    Agama

·      Agama dalam bahasa arab ialah DIN, yang artinya:Taat, takut dan setia, paksaan, tekanan, penghambatan, perendahan diri,pemerintahan, kekuasaans, Siasat, Balasan, Adat, pengalaman hidup,perhitungan amal, hujan yang tidak tetap turunnya
·      Agama menurut kamus besar Bahasa Indonesia: adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

4.    Unsur-unsur yang ada dalam agama
·         Adanya keyakinan pada yang gaib
·         Adanya kitab suci sebagai pedoman
·         Adanya Rasul pembawanya
·         Adanya ajaran yang bisa dipatuhi
·         Adanya upacara ibadah yang standar
5.    Klasifikasi agama
a)      Ditinjau dari sumbernya, agama dibagi 2 yaitu:
·         Agama samawi : agama yang bersumber kepada Allah SWT dan para utusannya
·         Agama ardhi : agama yang tidak jelas sumbernya (nabinya) tapi pencetusnya dikenal.
b)      agama ditinjau dari keesaan tuhan, maka ada dua bagian :
·         Monoteisme : agama yang menganut satu tuhan
·         Politeisme : agama yang menganut banyak tuhan
c)       Agama ditinjau dari kepercayaan penganutnya, di bagi menjadi 2, yaitu:
·         Kepercayaan animisme : kepercayaan kepada makhluk halus dan roh yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animism mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua,pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.
·         Kepercayaan dinamisme : kepercayaan keagamaan premitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut jugapreanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai kekuatan dan percaya yang maha yang berada dimana-mana.

6.    Mengapa manusia membutuhkan agama
Agama sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain karena agama merupakan
·           Agama sumber moral
Dapat disimpulkan, bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, padahal moral bersumber dari agama. Agama menjadi sumber moral, karena agama mengajarkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, serta karena adanya perintah dan larangan dalam agama.
·           Agama Petunjuk Kebenaran
Sekarang bagaimana manusia mesti mencapai kebenaran? Sebagai jawaban atas pertanyaan ini Allah SWT telah mengutus para Nabi dan Rasul di berbagai masa dan tempat, sejak Nabi pertama yaitu Adam sampai dengan Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Para nabi dan Rasul ini diberi wahyu atau agama untuk disampaikan kepada manusia. Wahyu atau agama inilah agama Islam, dan ini pula sesungguhnya kebenaran yang dicari-cari oleh manusia sejak dulu kala, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal.
Dapat disimpulkan, bahwa agama sangat penting dalam kehidupan karena kebenaran yang gagal dicari-carioleh manusia sejak dulu kala dengan ilmu dan filsafatnya, ternyata apa yang dicarinya itu terdapat dalam agama. Agama adalah petunjuk kebenaran. Bahkan agama itulah kebenaran, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal. Itulah agama islam!
·           Agama Sumber Informasi Metafisika
Sesungguhnya persoalan metafisika sudah masuk wilayah agama tau iman, dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Dan Allah Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib ini dalam batas-batas yang dianggap perlu telah menerangkan perkara yang gaib tersebut melalui wahyu atau agama-Nya. Dengan demikian agama adalah sumber infromasi tentang metafisika, dan karena itu pula hanya dengan agama manusia dapat mengetahui persoalan metafisika. Dengan agamalah dapat diketahui hal-hal yang berkaitan dengan alam barzah, alam akhirat, surga dan neraka, Tuhan dan sifat-sifat-Nya, dan hal-hal gaib lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa agama sangat penting bagi manusia (dan karena itu sangat dibutuhkan), karena manusia dengan akal, dengan ilmu atau filsafatnya tidak sanggup menyingkap rahasia metafisika. Hal itu hanya dapat diketahui dengan agama, sebab agama adalah sumber informasi tentang metafisika.
·           Agama pembimbing rohani bagi manusia
Dengan sabdanya ini Nabi mengajarkan, hendaknya orang beriman bersyukur kepada Allah pada waktu memperoleh sesuatu yang menggembirakan dan tabah atau sabar pada waktu ditimpa sesuatu yang menyedihkan. Bersyukur di kala sukadan sabar di kala duka inilah sikap mental yang hendaknya selalu dimiliki oleh orang beriman. Dengan begitu hidup orang beriman selalu stabil, tidak ada goncangan-goncangan, bahkan tenteram dan bahagia, inilah hal yang menakjubkan dari orang beriman seperti yang dikatakan oleh Nabi. Keadaan hidup seluruhnya serba baik.
Bagaiman tidak serba baik, kalau di kala suka orang beriman itu bersyukur, padahal “ Jika engkau bersyukur akan Aku tambahi” , kata Allah sendiri berjanji (Ibrahim ayat 7). Sebaliknya, orang beriman tabah atau sabar di kala duka, padahal dengan tabah di kala duka ia memperoleh berbagai keutamaan, seperti pengampunan dari dosa-dosanya(H.R Bukhari dan Muslim), atau bahkan mendapat surga (H.R Bukhari), dan sebagainya. Bahkan ada pula keuntungan lain sebagai akibat dari kepatuhan menjalankan agama, seperti yang dikatakan oleh seorang psikiater, Dr. A.A. Brill, “Setiap orang yang betul-betul menjalankan agama, tidak bisa terkena penyakit syaraf. Yaitu penyakit karena gelisah rsau yang terus-menerus.

7.    Manfaat agama bagi manusia
·         Dapat mendidik jiwa manusia menjadi tenteram, sabar, tawakkal dan sebagainya. Lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan.
·         Dapat memberi modal kepada manusia untuk menjadi manusia yang berjiwa besar, kuat dan tidak mudah ditundukkan oleh siapapun.
·         Dapat mendidik manusia berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan.
·         Dapat memberi sugesti kepada manusia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat utama seperti rendah hati, sopan santun, hormat-menghormati dan sebagainya. Agama melarang orang untuk tidak bersifat sombong, dengki, riya dan sebagainya.

8.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kebutuhan duniawi seperti makan, minum, harta, perutnya kenyang, kebutuhan biologisnya terpenuhi, dan harta yang melimpah. Tetapi juga memerlukan sisi agung yang dapat mendidik jiwa manusia menjadi tenteram, sabar, tawakkal dan dapat memberikan petunjuk dan menjelaskan tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga kehidupan manusia lebih terarah.

Makkah, Asia

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.29
     MAKKAH



LETAK GEOGRAFIS
Makkah merupakan kota suci umat Islam. Terletak di daerah Hijaz, Saudi Arabia, ±75 km dari kota pelabuhan Jeddah. Di kota inilah Nabi Muhammad saw. Dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah {20 April 571 M}.

KA’BAH


Dalam bahasa Arab, Ka’bah berarti kubus. Karenanya, bentuk Ka’bah seperti kubus. Letaknya tepat di tengah-tengah Masjidil Haram. Bangunan ini berukuran : panjang dinding muka dan dinding belakang masing-masing ±12 m, lebar kedua belah sisinya masing-masing ±10,1 m, dan tingginya secara keseluruhan ±16 m.
       Di bagian muka terdapat pintu. Pintu ini terletak kira-kira 2 meter di atas tanah. Untuk masuk ke dalam Ka’bah, digunakan tangga yang terbuat dari kayu berlapis perak.
       Bangunan Ka’bah ditutup oleh Kiswah, yaitu kain hitam berhias  surat-surat Al-Quran dengan torehan emas dan perak. Setiap tahun Kiswah selalu diganti dengan yang baru.

SIAPA YANG MEMBANGUN KA’BAH
Ka’bah dibangun oleh Nabi Adam a.s., sebagai tempat ibadah pertama di muka bumi. Tetapi, karena keberadaannya telah lenyap oleh banjir besar, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. bersama putranya Nabi Ismail a.s. untuk membangun kembali bangunan suci itu.
       Ketika meninggikan bangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim a.s. berpijak pada sebongkah batu, sampai-sampai telapak kaki beliau membekas di batu tersebut. Batu ini masih ada sampai sekarang dan diberi nama Maqam Ibrahim.
KIBLAT UMAT ISLAM
Pada mulanya, kiblat umat Islam adalah Baitul Maqdis di Palestina. Namun atas perintah Allah, kiblat kemudian dialihkan ke Ka’bah.
       Setiap tahun, berjuta-juta kaum muslimin mengunjungi Ka’bah untuk beribadah hai atau umrah. Di sana mereka melakukan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

HAJAR ASWAD


Hajar aswad artinya batu hitam. Bentuknya seperti bulat telur. Lingkarannya sekitar 30 cm, dengan garis tengah sekitar 10 cm. Warnanya hitam kemerah-merahan. Letaknya di sudut tenggara Ka’bah, setinggi 1,5 m di atas tanah.
Dalam agama Islam, batu ini dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkannya adalah Nabi Ibrahim a.s.

NAMA LAIN KA’BAH
Ka’bah disebut juga Baitullah {rumah Allah}, Baitul Haram {rumah suci}, atau Baitul ‘Atiq {rumah tua}.

JABAL NUR DAN GUA HIRA’


Jabal Nur artinya gunung cahaya. Gunung ini terletak di sebelah timur laut kota Makkah ± 6 km dari Ka’bah. Di puncaknya, agak menurun sedikit, terdapat sebuah gua yang hanya cukup untuk duduk 4 orang, dengan tinggi di dalamnya setinggi orang berdiri. Itulah Gua Hira’.
       Jabal Nur dan Gua Hira’ mempunyai makna yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena di gua inilah Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu yang pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.

RUKUN IMAN

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.08
JUDUL :  RUKUN IMAN
Waktu : 12 July 2011

MediaMuslim.Info – Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu
mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya:”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
·         Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
·         Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada Daud alaihi sallam.
·         Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
·         Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
·         Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala  turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad  shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1.    ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2.    Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3.    Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4.    Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:  ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’alasendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Hari Raya para Malaikat

Diposting oleh Rahmi Andriyani Syam di 13.05
JUDUL : Hari Raya para Malaikat
Waktu : 12 July 2011


Diriwayatkan dari Abi Umamah Al-Bahili dia berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Apabila datang bulan Syaaban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu didalamnya.
Hadith dari Usamah ra: Aku berkata; Ya Rasulullah SAW aku tidak pernah melihatmu berpuasa satu bulan dari bulan bulan ini seperti puasa dalam bulan Syaaban. Sabda Rasulullah SAW: Wahai Usamah, itu adalah satu bulan yang kebiasaannya manusia lengah darinya antara Rejab dan Ramadan. Syaaban adalah satu bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal ini kepada Tuhan seru sekalian alam, maka sebab itu aku suka kalau amalku diangkat sedang aku dalam keadaan puasa.
Dikatakan bahawa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua hari raya. Hari raya bagi para malaikat ialah pada malam Baraah iaitu malam nisfu Syaaban dan malam lailatul Qadar, dan raya bagi orang-orang Islam di bumi ialah pada han raya Aidil Fitri dan Aidil Adha.
As-Subki dalam tafsirnya menyatakan: Sesungguhnya malam Nisfu Syaaban itu menutup dosa-dosa setahun, malam jumaat menutup dosa seminggu dan malam Lailatul Qadar menutupkan dosa seumur hidup.

Rabu, 13 Juli 2011

Bahasa Arab Dasar 1: Nahwu Shorof

Bahasa Arab Dasar 1: Nahwu Shorof



Nahwu adalah ilmu untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.
Contoh: 
Artinya
1.       Telah datang seorang laki-laki
2.       Aku melihat seorang laki-laki
3.       Aku berjumpa dengan seorang laki-laki
Rojulun : seorang laki-laki
1.       1. Huruf akhir kata “lam” berharakat dhummah
2.       2. Harokat Fathah
3.      3.  Harokat kasrah

Shorof adalah ilmu tentang perubahan suatu kata. Sebelum masuk ke dalam suatu kalimat. Bisa dengan menambah huruf atau menghilangkannya.
Contoh:  

Artinya
1.       Menolong
2.       Penolong
3.       Seorang yang ditolong

Manusia dan agama

JUDUL : Manusia dan agama
WAKTU : 12 July 2011’



1.    Manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang berpotensi. Manusia dianugerahkan potensi :
·         Potensi Akal
Manusia memiliki potensi akal yang dapat menyusun konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan. Dengan potensi ini, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi. Namun, faktor subjektivitas manusia dapat mengarahkan manusia pada kesalahan dan kebenaran.
·         Potensi Ruh
Manusia memiliki ruh. Banyak pendapat para ahli tentang ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada manusia dalah nyawa. Sementara sebagian yang lain memahami ruh pada manusia sebagai dukungan dan peneguhan kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan manusia karena manusia memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Biarlah urusan ruh menjadi urusan Tuhan.
Allah swt berfirman: Katakanlah, “Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit”. (QS. Al-Isra: 85)
·         Potensi Qalbu
Qalbu di sini tidak dimaknai sekadar ‘hati’ yang ada pada manusia. Qalbu lebih mengarah pada aktivitas rasa yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah. Kadang setuju kadang menolak.
Qalbu berhubungan dengan keimanan. Qalbu merupakan wadah dari rasa takut, cinta, kasih sayang, dan keimanan. Karena qalbu ibarat sebuah wadah, ia berpotensi menjadi kotor atau tetap bersih.
·         Potensi Fitrah
Manusia pada saat lahir memiliki potensi fitrah. Fitrah tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu yang suci. Fitrah di sini adalah bawaan sejak lahir. Fitrah manusia sejak lahir adalah membawa agama yang lurus. Namun, kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang lain dalam proses perkembangannya.
·         Potensi Nafs
Dalam bahasa Indonesia, nafs diserap menjadi nafsu yang berarti 'dorongan kuat untuk berbuat kurang baik'. Sementara nafs yang ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk, tetapi berpotensi berbuat baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan negatif.
Hakikatnya, nafs pada diri manusia cenderung berpotensi positif. Namun, potensi negatif daya tariknya lebih kuat daripada potensi positif. Oleh karena itu, manusia diminta untuk menjaga kesucian nafsnya agar tidak kotor.
Dalam Surah Al-Hijr Ayat 28-29 Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr (15) : 28-29)

2.    Asal usul Manusia
   Proses penciptaan manusia telah dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun, 23 ayat 12-14:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami balut dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Q.S. Al-Mu’minun, 23: 12-14)
3.    Agama

·      Agama dalam bahasa arab ialah DIN, yang artinya:Taat, takut dan setia, paksaan, tekanan, penghambatan, perendahan diri,pemerintahan, kekuasaans, Siasat, Balasan, Adat, pengalaman hidup,perhitungan amal, hujan yang tidak tetap turunnya
·      Agama menurut kamus besar Bahasa Indonesia: adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

4.    Unsur-unsur yang ada dalam agama
·         Adanya keyakinan pada yang gaib
·         Adanya kitab suci sebagai pedoman
·         Adanya Rasul pembawanya
·         Adanya ajaran yang bisa dipatuhi
·         Adanya upacara ibadah yang standar
5.    Klasifikasi agama
a)      Ditinjau dari sumbernya, agama dibagi 2 yaitu:
·         Agama samawi : agama yang bersumber kepada Allah SWT dan para utusannya
·         Agama ardhi : agama yang tidak jelas sumbernya (nabinya) tapi pencetusnya dikenal.
b)      agama ditinjau dari keesaan tuhan, maka ada dua bagian :
·         Monoteisme : agama yang menganut satu tuhan
·         Politeisme : agama yang menganut banyak tuhan
c)       Agama ditinjau dari kepercayaan penganutnya, di bagi menjadi 2, yaitu:
·         Kepercayaan animisme : kepercayaan kepada makhluk halus dan roh yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animism mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua,pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.
·         Kepercayaan dinamisme : kepercayaan keagamaan premitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut jugapreanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai kekuatan dan percaya yang maha yang berada dimana-mana.

6.    Mengapa manusia membutuhkan agama
Agama sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain karena agama merupakan
·           Agama sumber moral
Dapat disimpulkan, bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, padahal moral bersumber dari agama. Agama menjadi sumber moral, karena agama mengajarkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, serta karena adanya perintah dan larangan dalam agama.
·           Agama Petunjuk Kebenaran
Sekarang bagaimana manusia mesti mencapai kebenaran? Sebagai jawaban atas pertanyaan ini Allah SWT telah mengutus para Nabi dan Rasul di berbagai masa dan tempat, sejak Nabi pertama yaitu Adam sampai dengan Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Para nabi dan Rasul ini diberi wahyu atau agama untuk disampaikan kepada manusia. Wahyu atau agama inilah agama Islam, dan ini pula sesungguhnya kebenaran yang dicari-cari oleh manusia sejak dulu kala, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal.
Dapat disimpulkan, bahwa agama sangat penting dalam kehidupan karena kebenaran yang gagal dicari-carioleh manusia sejak dulu kala dengan ilmu dan filsafatnya, ternyata apa yang dicarinya itu terdapat dalam agama. Agama adalah petunjuk kebenaran. Bahkan agama itulah kebenaran, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal. Itulah agama islam!
·           Agama Sumber Informasi Metafisika
Sesungguhnya persoalan metafisika sudah masuk wilayah agama tau iman, dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Dan Allah Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib ini dalam batas-batas yang dianggap perlu telah menerangkan perkara yang gaib tersebut melalui wahyu atau agama-Nya. Dengan demikian agama adalah sumber infromasi tentang metafisika, dan karena itu pula hanya dengan agama manusia dapat mengetahui persoalan metafisika. Dengan agamalah dapat diketahui hal-hal yang berkaitan dengan alam barzah, alam akhirat, surga dan neraka, Tuhan dan sifat-sifat-Nya, dan hal-hal gaib lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa agama sangat penting bagi manusia (dan karena itu sangat dibutuhkan), karena manusia dengan akal, dengan ilmu atau filsafatnya tidak sanggup menyingkap rahasia metafisika. Hal itu hanya dapat diketahui dengan agama, sebab agama adalah sumber informasi tentang metafisika.
·           Agama pembimbing rohani bagi manusia
Dengan sabdanya ini Nabi mengajarkan, hendaknya orang beriman bersyukur kepada Allah pada waktu memperoleh sesuatu yang menggembirakan dan tabah atau sabar pada waktu ditimpa sesuatu yang menyedihkan. Bersyukur di kala sukadan sabar di kala duka inilah sikap mental yang hendaknya selalu dimiliki oleh orang beriman. Dengan begitu hidup orang beriman selalu stabil, tidak ada goncangan-goncangan, bahkan tenteram dan bahagia, inilah hal yang menakjubkan dari orang beriman seperti yang dikatakan oleh Nabi. Keadaan hidup seluruhnya serba baik.
Bagaiman tidak serba baik, kalau di kala suka orang beriman itu bersyukur, padahal “ Jika engkau bersyukur akan Aku tambahi” , kata Allah sendiri berjanji (Ibrahim ayat 7). Sebaliknya, orang beriman tabah atau sabar di kala duka, padahal dengan tabah di kala duka ia memperoleh berbagai keutamaan, seperti pengampunan dari dosa-dosanya(H.R Bukhari dan Muslim), atau bahkan mendapat surga (H.R Bukhari), dan sebagainya. Bahkan ada pula keuntungan lain sebagai akibat dari kepatuhan menjalankan agama, seperti yang dikatakan oleh seorang psikiater, Dr. A.A. Brill, “Setiap orang yang betul-betul menjalankan agama, tidak bisa terkena penyakit syaraf. Yaitu penyakit karena gelisah rsau yang terus-menerus.

7.    Manfaat agama bagi manusia
·         Dapat mendidik jiwa manusia menjadi tenteram, sabar, tawakkal dan sebagainya. Lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan.
·         Dapat memberi modal kepada manusia untuk menjadi manusia yang berjiwa besar, kuat dan tidak mudah ditundukkan oleh siapapun.
·         Dapat mendidik manusia berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan.
·         Dapat memberi sugesti kepada manusia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat utama seperti rendah hati, sopan santun, hormat-menghormati dan sebagainya. Agama melarang orang untuk tidak bersifat sombong, dengki, riya dan sebagainya.

8.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kebutuhan duniawi seperti makan, minum, harta, perutnya kenyang, kebutuhan biologisnya terpenuhi, dan harta yang melimpah. Tetapi juga memerlukan sisi agung yang dapat mendidik jiwa manusia menjadi tenteram, sabar, tawakkal dan dapat memberikan petunjuk dan menjelaskan tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga kehidupan manusia lebih terarah.

Makkah, Asia

     MAKKAH



LETAK GEOGRAFIS
Makkah merupakan kota suci umat Islam. Terletak di daerah Hijaz, Saudi Arabia, ±75 km dari kota pelabuhan Jeddah. Di kota inilah Nabi Muhammad saw. Dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah {20 April 571 M}.

KA’BAH


Dalam bahasa Arab, Ka’bah berarti kubus. Karenanya, bentuk Ka’bah seperti kubus. Letaknya tepat di tengah-tengah Masjidil Haram. Bangunan ini berukuran : panjang dinding muka dan dinding belakang masing-masing ±12 m, lebar kedua belah sisinya masing-masing ±10,1 m, dan tingginya secara keseluruhan ±16 m.
       Di bagian muka terdapat pintu. Pintu ini terletak kira-kira 2 meter di atas tanah. Untuk masuk ke dalam Ka’bah, digunakan tangga yang terbuat dari kayu berlapis perak.
       Bangunan Ka’bah ditutup oleh Kiswah, yaitu kain hitam berhias  surat-surat Al-Quran dengan torehan emas dan perak. Setiap tahun Kiswah selalu diganti dengan yang baru.

SIAPA YANG MEMBANGUN KA’BAH
Ka’bah dibangun oleh Nabi Adam a.s., sebagai tempat ibadah pertama di muka bumi. Tetapi, karena keberadaannya telah lenyap oleh banjir besar, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. bersama putranya Nabi Ismail a.s. untuk membangun kembali bangunan suci itu.
       Ketika meninggikan bangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim a.s. berpijak pada sebongkah batu, sampai-sampai telapak kaki beliau membekas di batu tersebut. Batu ini masih ada sampai sekarang dan diberi nama Maqam Ibrahim.
KIBLAT UMAT ISLAM
Pada mulanya, kiblat umat Islam adalah Baitul Maqdis di Palestina. Namun atas perintah Allah, kiblat kemudian dialihkan ke Ka’bah.
       Setiap tahun, berjuta-juta kaum muslimin mengunjungi Ka’bah untuk beribadah hai atau umrah. Di sana mereka melakukan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

HAJAR ASWAD


Hajar aswad artinya batu hitam. Bentuknya seperti bulat telur. Lingkarannya sekitar 30 cm, dengan garis tengah sekitar 10 cm. Warnanya hitam kemerah-merahan. Letaknya di sudut tenggara Ka’bah, setinggi 1,5 m di atas tanah.
Dalam agama Islam, batu ini dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkannya adalah Nabi Ibrahim a.s.

NAMA LAIN KA’BAH
Ka’bah disebut juga Baitullah {rumah Allah}, Baitul Haram {rumah suci}, atau Baitul ‘Atiq {rumah tua}.

JABAL NUR DAN GUA HIRA’


Jabal Nur artinya gunung cahaya. Gunung ini terletak di sebelah timur laut kota Makkah ± 6 km dari Ka’bah. Di puncaknya, agak menurun sedikit, terdapat sebuah gua yang hanya cukup untuk duduk 4 orang, dengan tinggi di dalamnya setinggi orang berdiri. Itulah Gua Hira’.
       Jabal Nur dan Gua Hira’ mempunyai makna yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena di gua inilah Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu yang pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.

RUKUN IMAN

JUDUL :  RUKUN IMAN
Waktu : 12 July 2011

MediaMuslim.Info – Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu
mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya:”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
·         Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
·         Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada Daud alaihi sallam.
·         Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
·         Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
·         Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala  turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad  shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1.    ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2.    Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3.    Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4.    Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:  ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’alasendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Hari Raya para Malaikat

JUDUL : Hari Raya para Malaikat
Waktu : 12 July 2011


Diriwayatkan dari Abi Umamah Al-Bahili dia berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Apabila datang bulan Syaaban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu didalamnya.
Hadith dari Usamah ra: Aku berkata; Ya Rasulullah SAW aku tidak pernah melihatmu berpuasa satu bulan dari bulan bulan ini seperti puasa dalam bulan Syaaban. Sabda Rasulullah SAW: Wahai Usamah, itu adalah satu bulan yang kebiasaannya manusia lengah darinya antara Rejab dan Ramadan. Syaaban adalah satu bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal ini kepada Tuhan seru sekalian alam, maka sebab itu aku suka kalau amalku diangkat sedang aku dalam keadaan puasa.
Dikatakan bahawa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua hari raya. Hari raya bagi para malaikat ialah pada malam Baraah iaitu malam nisfu Syaaban dan malam lailatul Qadar, dan raya bagi orang-orang Islam di bumi ialah pada han raya Aidil Fitri dan Aidil Adha.
As-Subki dalam tafsirnya menyatakan: Sesungguhnya malam Nisfu Syaaban itu menutup dosa-dosa setahun, malam jumaat menutup dosa seminggu dan malam Lailatul Qadar menutupkan dosa seumur hidup.
 

Thinkmii Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez